HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 74. Memata-matai Tuan Winata(2)


__ADS_3

"Tidak Papa bohong, kan?" tanya Arumi masih tidak percaya. "Papa mengatakan itu hanya untuk menghiburku, kan Pa?" lanjut Arumi.


"Terserah kalau Mama masih tetap tidak percaya. Yang jelas papa tidak akan menikahi wanita kalau tidak papa cintai. Kau tahu sendiri, kan Ma dulu banyak wanita yang mengejar-ngejar papa? Kalau aku tidak mencintai Mama kenapa tidak pilih diantara mereka saja?"


Setelah mengatakan itu Tuan Winata meninggalkan meja makan. Bahkan nasinya belum sempat ia sentuh sedikit pun. Baru hendak menyendok, istrinya malah mengajak berdebat. Dia jadi tidak selera untuk melanjutkan makannya.


"Bik Jum bawakan tasku ke mobil!" perintah Tuan Winata dengan berteriak.


Bik Jum pun berlari menghampiri Tuan Winata. "Dimana Tuan?" tanyanya bingung karena tidak melihat keberadaan tas di sana bahkan di tangan Tuan Winata pun tidak ada. Laki-laki itu berjalan keluar dengan tangan kosong.


"Di ruang kerja Bik, cepat bawa ke mobil. Aura rumah ini sudah tidak bersahabat. Aku harus pergi dari sini."


"Baik Tuan." Bik Jum yang mengerti bahwa tuannya sedang marah langsung bergegas menuju ruang kerja majikannya. Setelah mendapatkan tas Tuan Winata Bik Jum pun berlari lagi menuju garasi mobil.


Tuan Winata sudah duduk anteng di dalam mobil sedangkan yang menerima tas dari tangan Bik Jum adalah sopirnya.


"Jalan Pak!" perintah Tuan Winata setelah tas sudah ada di dalam mobil dan pak sopir sudah duduk di belakang kemudi.


"Siap Tuan," jawab pak sopir.


Melihat papanya pergi Bintang pun bergegas berlari keluar dan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Bintang mengikuti kemana arah mobil itu melaju.


Sedangkan Arumi yang ditinggal oleh suami dan anaknya begitu saja, tergugu di dalam rumah. Dia merasa tidak ada yang perduli padanya. Nyatanya, Bintang bukan tidak perduli melainkan takut kehilangan jejak, siapa tahu papanya hari ini akan menemui Mentari.


"Belok kanan Pak!" perintah Tuan Winata pada sopir pribadinya itu.


"Loh kok belok Tuan, bukannya jalan menuju kantor itu masih lurus ya? Nanti dipertigaan lagi baru belok kanan." Pak sopir mengingatkan barangkali Tuannya lupa.


"Susah sekali ya, kamu menurut. Kalau kataku belok ya belok saja. aku masih belum pikun," kesal Tuan Winata. Itulah kekurangan Tuan Winata, kalau ia merasa kesal dengan seseorang dia akan marah pada orang yang banyak tanya padanya.


"I ... iya Tuan," ucap pak sopir gugup. Dia yang melihat tuannya jarang marah akan merasa ngeri jika melihat raut wajah tuannya dalam keadaan marah seperti ini.


Tanpa banyak bicara lagi sopir itu membelokkan mobil ke arah yang sudah ditentukan oleh Tuan Winata. Meskipun dia belum tahu tuannya akan kemana, pak sopir terus mengemudi ke arah depan tanpa tahu arah tujuan dan tidak mau bertanya. Biasanya kalau sudah seperti itu maka Tuan Winata akan mengatakan stop apabila sudah sampai pada tujuan.

__ADS_1


Benar saja beberapa saat kemudian Tuan Winata menyuruhnya berhenti di depan sebuah gedung.


Bintang yang melihat papanya berhenti pada sebuah gedung mengernyit lalu menepikan mobilnya dengan menjaga jarak. Untunglah tempat menepikan mobil bukanlah area dilarang parkir, jadi Bintang merasa tenang.


"Tempat bilyard," batin Bintang tak percaya.


"Apakah Mentari sudah pindah


bekerja di tempat ini?" tanya Bintang dalam hati.


"Bisa jadi," jawabnya sendiri sambil terus melangkah mendekat ke arah sang papa.


"Aden ngapain juga ke sini?" tanya pak sopir bingung mengapa tuannya dan putranya malah kompak datang ke tempat ini. Bukankah mereka harus bekerja pagi ini? Apa di tempat ini ada pertemuan para pengusaha?


"Dulu-dulu pengusaha kalau rapat itu di kafe atau restoran, kalau tidak ya di hotel. Ini mah aneh malah di tempat bermain bilyard. Mungkin gaya pengusaha jaman now kali ya." Pak sopir bingung dengan asumsinya sendiri. Dia sampai menggaruk kepalanya sendiri karena tidak mengerti.


"Sst, Jangan keras-keras Pak," ucap Bintang sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya.


Nah pak sopir jadi tambah bingung. Namun, dia tidak mau protes karena takut suaranya terdengar oleh Tuan Winata sedangkan Bintang mewanti-wanti dirinya tadi agar tidak berisik.


"Stres aku Bram makanya ingin main saja. Kalau masuk kantor pasti tidak akan konsentrasi bekerja."


"Kenapa, istrimu ngamuk lagi? Perempuan mana yang sudah kamu dekati?" Sudah jadi rahasia umum di kalangan para sahabat Tuan Winata bahwa Tuan Winata memiliki istri yang pencemburu.


"Boro-boro aku dekat dengan wanita, dia malah cemburu dengan masa lalu."


"Masa lalu yang mana?"


"Itu tahu sendiri, kan aku pernah dijebak oleh seseorang sehingga sekamar dengan Rosa. Dia mengungkit itu lagi. Sampai saat ini masih belum percaya padaku."


Lelaki yang dipanggil Bram itu menepuk bahu Tuan Winata. "Wanita mana yang akan percaya kalau tidak ada bukti. Ada bukti saja kadang mereka tidak percaya. Wanita itu kebanyakan lebih menekankan pada perasaan daripada logika," jelas pria itu.


"Kamu benar, bahkan Rosa pun sudah tiada dia masih tidak percaya padaku. Sudah, ah kita mulai main yuk! Kenapa tempatnya sepi?"

__ADS_1


"Ini Pagi Winata, memang biasa sepi di jam-jam seperti ini. Kebanyakan pengunjung yang datang ke sini itu bekerja di pagi hari, ada juga pelajar yang masih bersekolah saat ini. Kalau mau yang ramai itu sore. Kalau sore baru tempat ini ramai."


"Sudahlah aku tidak mencari keramaian juga. aku lagi sumpek ini Bram. Aku hanya ingin ada lawan main."


"Baiklah aku temani," ucap Bram lalu bergegas ke belakang.


"Masih mau kemana?" tanya Tuan Winata tidak mengerti. Tadi Bram sanggup menemani dirinya, tetapi sekarang malah berlalu pergi.


"Mau memanggil pekerjaku sebagai penyusun bola bilyard."


"Tidak usah," tolak Tuan Winata. Dia tahu para pekerja di tempat itu adalah perempuan. Tuan Winata tak ingin menambah masalah.


"Baiklah," ujar Bram sambil berjalan ke arah Tuan Winata kembali.


"Biar aku yang menyusun sendiri." Tuan Winata mulai membenahi letak bola-bola bilyard ke tempatnya masing-masing.


"Kau sudah menghubungi asistenmu? Kasian dia menunggumu di kantor." Bram mengingatkan.


"Oh ya aku lupa, aku telepon Tegar dulu ya!" Tuan Winata meraih ponsel di saku jasnya.


"Halo Tegar hari ini aku tidak masuk kantor. Kalau ada berkas yang perlu ditanda tangani sekarang kamu antar ke sini ya. Ke tempat bilyard, kamu tahu kan alamatnya?"


"Baik Tuan. Iya Tuan saya tahu alamatnya."


Setelah mendapat jawaban dari Tegar Tuan Winata langsung memutus sambungan teleponnya.


"Wah hebat! Begitu ya enaknya jadi bos," goda Bram.


"Dikit-dikit perintah, tahunya bosnya lagi santai ini," imbuhnya sambil terkekeh.


Perkataan Bram mengingatkan Bintang akan Gala yang sedikit-sedikit memberikan perintah. Mungkin saja Gala sama dengan papanya kini yang hanya bermain-main di tempat billiard.


Ponsel Bintang berbunyi dia menjauh dari tempat papanya berdiri.

__ADS_1


"Pak Gala maaf aku datang telat sekarang ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Pak Gala tenang saja tugas dari pak Gala tempo hari itu sudah selesai, nanti saya kirim online," ujar Bintang dan langsung menutup panggilan telepon Gala.


Bersambung.


__ADS_2