HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 23. Nasehat Gala


__ADS_3

Sementara Mentari, setelah melihat Bintang menyelesaikan makannya, dia langsung pamit pulang.


"Ya udah aku pamit pulang ya Mas. Kutunggu di apartemen," ucapnya pada Bintang sambil bangkit dari duduknya.


"Langsung pulang?" tanya Bintang heran.


"Iya katanya Mas Bintang sebentar lagi ada meeting di luar, jadi Mentari tidak ingin Mas Bintang kepikiran dengan adanya Mentari di tempat ini."


"Katanya mau lihat-lihat di sekitar kantor? Nggak apa-apa kamu di sini dulu, entar aku juga balik ke kantor kok."


Mentari menggeleng, dia sudah tidak bersemangat melihat-lihat di sekeliling kantor tempat suaminya bekerja itu akibat kejadian tadi. Meskipun para karyawati yang hampir berbuat kasar pada dirinya tadi sudah diancam oleh Gala, bisa saja mereka berulah kembali saat tidak ada Gala di kantor. Mungkin saja kan mereka dendam dan melukai dirinya akibat dimarahi Gala tadi. Bukannya Mentari berpikiran buruk terhadap orang-orang di kantor Gala, tetapi kemungkinan terburuk pun harus dia pikirkan agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan dirinya. Apalagi tidak ada satupun di kantor itu yang Mentari kenal selain Gala dan Bintang.


Selain itu dia juga tidak bergairah setela mengetahui kantor tempat Bintang bekerja juga merupakan tempat Katrina bekerja.


"Baiklah kalau kamu ingin pulang sekarang, tapi langsung pulang saja ke apartemen ya. Jangan keluyuran kemana-mana dulu sebab kamu tidak hafal daerah sini, takutnya nanti tersesat."


"Iya Mas kamu tenang saja, aku langsung pulang kok."


Lagian mau keluyuran kemana lagi toh aku tidak kenal sama siapa-siapa di sini kecuali Sarah dan keluarga kita.


"Ya sudah kalau begitu hati-hati."


"Iya Mas." Mentari menyalami tangan Bintang dan berlalu pergi.


"Bintang!" panggil Gala sambil melangkah ke arah pria itu.


"Ada apa Pak?"


"Kamu antarkan istrimu sampai dapat taksi setelah itu langsung bersiap-siap untuk acara nanti."


Bintang mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya hendak menyusul Mentari.


"Atau kamu bisa suruh sopir pribadiku untuk mengantar Mentari pulang. Nanti kita bisa pakai mobilmu, kan?"


"Iya Pak," sahut Bintang lalu bergegas pergi.


"Kate kamu juga siap-siap!" perintah Gala.


"Baik Pak," jawab Katrina. Setelah memandang kepergian Bintang dia lalu menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya nanti sedangkan Gala kembali ke dalam ruangannya sendiri. Dia duduk sambil menyandarkan bahunya pada kursi lalu memejamkan mata sebentar.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Bintang kembali dan mereka bertiga langsung bersiap-siap untuk berangkat.


Bintang, Gala, dan Katrina berangkat dalam satu mobil dengan Bintang sebagai sopirnya. Gala duduk di depan di samping Bintang sedangkan Katrina duduk di belakang seorang diri.


"Pokoknya kita harus menang lagi," ucap Gala pada keduanya dengan penuh semangat sedangkan kedua orang yang di ajak bicara terlihat tidak bergairah. Mereka hanya mengangguk saja.


Gala melihat wajah kedua bawahannya itu satu persatu. "Apa kalian sama-sama ada masalah?"


"Oh tidak ada Pak," jawab Katrina berbohong padahal ucapan Gala tadi pagi masih mengganggu pikirannya.


"Terus kenapa diam saja?" tanya Gala lagi padahal pria itu sebenarnya sudah tahu alasannya.


"Oh itu, saya hanya sedang grogi saja Pak. Khawatir nanti tidak bisa memenangkan tender lagi," jawab Katrina lagi.


"Harus optimis dong, kenapa jadi pesimis begitu?"


"Ah iya Pak pasti, tapi tetap saja saya masih merasa ketar-ketir."


"Itu wajar mengingat saingan kita adalah perusahaan besar semua tapi kalau saya sih yakin saja kita bakal menang lagi."


"Iya Pak semoga saja," sahut Katrina.


Tidak butuh waktu lama, Lima belas menit mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Mereka kini memasuki ruangan perusahaan penyelenggara. Setelah duduk sebentar acara langsung dimulai.


Mereka pun berkolaborasi menjadi tim solid sehingga bisa memenangkan tender lagi. Itulah alasan mengapa Gala tidak ingin memecat Katrina meskipun tahu wanita itu diam-diam telah menikah dengan Bintang. Mereka bertiga jika bersatu menjadi kuat dan selalu bisa mencapai tujuan bersama. Katrina dan Bintang memang sama-sama bisa diandalkan dalam perusahaan.


Setelah meeting dengan para pemimpin perusahaan itu selesai dan mereka hendak kembali ke kantor, Katrina terlihat mual-mual sambil menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu langsung berlari ke toilet.


"Apa dia hamil Bintang?" tanya Gala curiga melihat wajah Katrina mendadak pucat dan muntah-muntah.


Bintang hanya menjawab dengan anggukan.


"Kau sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Apa kau tahu bagaimana perasaan Mentari kalau mengetahui bahwa Katrina hamil? Saya harap kamu tidak pilih kasih padanya. Nanti mentang-mentang Katrina hamil kau sampai mengacuhkan Mentari."


Bintang bungkam, tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak mau menjawab. Dalam hati keberatan Gala selalu ikut campur atas hubungannya dengan Mentari. Toh Mentari baik-baik saja tetapi Gala yang malah sewot. Kalau masalah pekerjaan sih dia siap saja diatur-atur, tetapi kalau masalah keluarga terserah Bintang mau berbuat apa saja. Toh dirinya adalah pemimpin dalam rumah tangganya sendiri.


Tanpa bicara sepatah katapun Bintang berlari menyusul Katrina ke toilet.


"Aku tunggu di mobil!" seru Gala. Bintang hanya menoleh dan mengangguk lalu kembali berlari lagi menyusul Katrina.

__ADS_1


"Bintang kenapa kamu ke sini?" protes Katrina saat Bintang membantu memijit lehernya.


"Hoek ... hoek ... hoek." Katrina masih belum selesai muntah.


"Sudah jangan banyak bicara dulu," saran Bintang sambil terus memijit pundak dan sesekali meniup pelipis Katrina. Wanita itupun terus saja muntah.


Beberapa saat kemudian Katrina berkumur-kumur dan membasuh wajahnya.


"Bagaimana sudah enakan?" tanya Bintang.


Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan.


"Ayo kita kembali ke mobil," ajak Bintang sambil menggenggam tangan Katrina.


Mereka pun berjalan keluar dari perusahaan. Ketika jarak mereka hampir sampai ke dekat Gala, Katrina melepaskan genggaman tangan Bintang.


Bintang mengernyit tidak mengerti mengapa Katrina melepaskan pegangan tangannya. Namun, Bintang tidak ingin bertanya lebih jauh karena kini mereka sampai di samping mobil.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Ke tempat mereka semula duduk sedang Gala sudah nampak duduk terlebih dahulu dan bersandar.


"Tidak mampir kemana-mana dulu? Mau ke restoran untuk makan siang atau langsung ke kantor?" tanya Bintang pada Gala.


"Tidak perlu saya makan di kantor saja nanti. Sekarang kita antarkan Kate pulang dulu, sepertinya dia sedang tidak enak badan," ujar Gala.


Bintang melirik Katrina dari kaca spion. Wanita itu tak bergeming tampak menyandarkan kepalanya di kursi sambil memejamkan mata.


"Baiklah," sahut Bintang lalu melajukan mobilnya ke arah apartemen Katrina berada.


Sampai di depan apartemen Bintang ikut turun dari mobil dan hendak mengantarkan Katrina sampai ke depan unit apartemennya, tetapi wanita itu menolak dan membiarkan Bintang hanya mengantarkan sampai lobi apartemen saja. Dia tidak ingin Gala curiga bahwa hubungan mereka masih bertahan setelah Bintang menikah dengan Mentari. Yang Katrina tahu Gala tahunya mereka putus setelah Bintang memutuskan menikahi Mentari.


"Kau langsung kembali saja ke kantor, kasihan Pak Gala menunggu di mobil." Setelah mengatakan itu Katrina langsung berlari meninggalkan Bintang.


"Kate hati-hati, ingat kandunganmu!" teriak Gala.


Katrina menoleh dan berkata, "Aku tidak apa-apa. Kembalilah ke samping pak Gala dan kerjakan tugasmu dengan baik."


"Baiklah aku pergi, kamu hati-hati," ucap Bintang. Setelah melihat anggukan dari Katrina Bintang pun berbalik dan kembali ke mobil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2