HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 209. Melahirkan


__ADS_3

"Sabar Ummiku sayang. Rasa sakit yang kau rasakan sedari pagi akan terbayarkan apabila kau bisa memandang bayi imut kita yang tersenyum padamu."


"Iya Abi. Aduh Dok rasanya sudah sakit sekali. Dok saya ingin buang air besar dulu." Mentari berjalan kesakitan ke kamar mandi.


"Sepertinya Ibu Cahaya sudah siap melahirkan," ucap dokter.


"Apa sih maksud dokter, orang dari tadi saya sudah siap juga," ujar Mentari tidak fokus, peluh bercucuran dari keningnya. Ustadz Alzam membantu menyeka dengan tangannya.


"Maksud saya bayinya sudah siap keluar, jadi Bu Cahaya bukannya mau buang air besar tapi mau keluar anak. Ayo saya periksa lagi!"


Ustadz Alzam menuntun sang istri naik kembali ke atas ranjang sedangkan dokter langsung menelpon suster untuk kembali ke dalam ruang persalinan.


Setelah memeriksa dokter memutuskan bahwa pembukaannya sudah sempurna.


"Sekarang Bu Cahaya boleh mengejan, tapi sebelumnya tarik nafas dan hembusan secara perlahan untuk beberapa kali untuk menambah kekuatan."


"Baik Dok."


Mentari melakukan apa yang disarankan dokter.


Ustadz Alzam duduk di dekat kepala Menteri sedangkan kedua ibunya mendampingi di samping Mentari.


"Sepertinya sudah mau keluar Dok!"


"Iya ayo, kumpulkan tenaga lalu mengejan!"


"Huuufft." Mentari menarik nafas panjang kemudian menatap Warni dan mertuanya yang mengangguk sambil tersenyum memberikan semangat.


"Arrrgh!" Mentari mengejan dengan tangan yang menggenggam tangan Warni. Berharap dengan begitu tenaganya akan bertambah kuat.


"Ayo sekali lagi Bu, yang lebih kuat lagi mengejannya Bu!"


"I-ya Dok."


Mentari menarik nafas panjang dan membuang secara perlahan.


"Arrrghh!"


Mentari menggeleng merasakan tenaganya kurang kuat. Peluh semakin mengucur dari pelipis bahkan dari semua tubuhnya.


Ustadz Alzam mengelus rambut Mentari dan sesekali meniup ubun-ubunnya sambil membacakan doa.


"Tolong ambilkan tisu Bu!"


Warni meraih kotak tisu dan memberikan pada ustadz Alzam.


Ustadz Alzam pun menyeka keringat di wajah sang istri.


"Yang kuat ya Ummi," bisiknya. Dari raut wajahnya tersirat rasa tak tega melihat keadaan istrinya seperti ini.


Mentari hanya bisa mengangguk. Rasanya tidak sanggup untuk berkata-kata.


Ibu ustadz Alzam pun ikut membantu mengusap keringat di bagian lengan dan bahu Mentari sang mertua juga mengusap-usap perut Mentari seakan merayu janin di dalam sana agar tidak menyusahkan ibunya. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Bagaimana sudah siap mengejan lagi?"


"Tu-ng-gu Dok, se-ben-tar." Bicara dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


Ustadz Alzam meraih tangan Mentari yang menggenggam tangan Warni dan mengalungkan kedua tangan istrinya di lehernya sendiri.


"Barangkali dengan posisi begini Ummi akan lebih bertenaga. Tariklah sekencang mungkin leherku jika diperlukan!"


Mentari hanya mengangguk. Dalam suasana genting seperti ini cara apapun patut dicoba asal tidak dilarang oleh dokter kandungan.


"Ayo Ibu jangan biarkan bayinya kelamaan di dalam, kasihan dia."


Mentari mengangguk dan mengejan lagi.


"Arrrgggh!"


"Ayo, ayo bayinya sudah terlihat!" Sang mertua heboh saat melihat rambut bayinya sudah ada di jalan lahir. Sayangnya bayinya masuk lagi karena Mentari kurang panjang mengejan.


"Ayo Nak kuatkan dirimu demi keselamatan bayinya," pintanya memelas.


Mentari mengangguk dan mencoba mengejan lagi dengan lebih kuat. Tangannya mencengkram kuat leher ustadz Alzam sampai tubuh pria itu ikut ke depan.


"Arrrghhhh!"


"Jangan diangkat bokongnya!"


"Oeek, oeek, oeeek."


"Hah." Mentari bernafas lega setelah mendengar tangisan bayi dan beban di perutnya tidak sakit lagi. Sebenarnya masih sakit hanya saja sakitnya hanya tinggal sedikit saja.


"Alhamdulillah." Semua orang yang berada di dalam ruangan bersalin mengucapakan hamdalah sebagai rasa syukur sebab Allah SWT melancarkan persalinan Mentari.


Bukan hanya yang ada di dalam ruangan, Tama dan Gala ya menunggu di luar pun sama, bahkan Tama terlihat melakukan sujud syukur atas kelahiran cucu Pertamanya.


"Suster, gunting sus!"


Suster yang sedari tadi hanya diam dan mengawasi dengan sigap memberikan gunting pada dokter kandungan.


"Bayinya laki-laki Bu Cahaya, Ustad." Dokter mengangkat bayi tersebut ke atas.


"Alhamdulillah Dokter."


"Sudah ya Dok?"


"Mengejan lagi Bu, kan plasentanya belum keluar."


"Oh ya?"


Mentari pikir tadi plasentanya keluar berbarengan dengan keluarnya bayi. Ternyata keluar belakangan.


"Iya sedikit saja tidak harus kuat seperti tadi."


Mentari mengangguk dan mengejan sedikit.


"Sudah!" perintah sang dokter sebab plasentanya sudah keluar.


Dokter menyerahkan bayinya pada suster untuk dibersihkan sebentar. Setelah selesai kemudian diberikan kepada ustadz Alzam untuk diadzani.


"Kenapa kamu malah menangis?" tanya ustadz Alzam setelah bayinya diambil kembali oleh suster.


"Tidak apa-apa saya hanya terharu saja. Suara adzan Abi sangat menyentuh hati. Saya harap putra kita juga takwa dan memiliki suara merdu seperti Abi." Mentari ingat ketika berada di rumah sang suami tidak pernah lupa mengaji surat Maryam dan surat Yusuf untuk bayinya saat malam menjelang dan dirinya hampir saja memejamkan mata dan Mentari selalu terpukau dengan suara sang suami.

__ADS_1


"Aamiin."


"Oh ya sekarang di IMD dulu ya bayinya Bu."


"Iya Sus."


Suster pun meletakkan bayi tersebut di perut Mentari agar berjuang sendiri mendapatkan asi pertamanya.


Ustadz Alzam tersenyum melihat bayinya kesusahan menemukan ****** susu ibunya. Bayi tersebut malah menjilat-jilat perut Mentari.


"Ya ampun jagoan Abi kenapa malah menjilat bekas keringat mami. Apa perlu Abi ajarin caranya untuk ...."


"Abi!" Mentari protes sambil menunjuk dokter dengan ekor matanya.


"Ah iya, lupa di sini banyak orang."


Kenapa ustadz Alzam menjadi tulalit seperti ini?


"Tidak apa Ustadz, kami di sini sudah biasa mendengar kalimat absurd seperti ustadz ucapkan tadi." Suster berbicara sambil tersenyum membuat ustadz Alzam langsung garuk-garuk kepala.


"Jangan bergerak dulu ya Bu Cahaya, sebab saya akan menjahit di bagian intim Ibu dulu ibu. Makanya saya tadi melarang ibu untuk mengangkat bokongnya, ya ini alasannya takut robek."


"Maaf Dok, saya tidak tahu."


"Ya sudah tidak apa-apa, sudah terlambat juga. Yang penting sekarang Ibu Cahaya jangan bergerak dulu biar jahitan rapi."


"Baik Dok."


Sembari menunggu dokter selesai menjahit, Mentari mendiskusikan tentang pemberian nama untuk putranya.


"Abi akan kasih nama putra kita siapa?"


"Ummi lah yang kasih nama."


"Jangan Abi saja. Abi kan lebih tahu tentang nama-nama yang memiliki arti bagus."


"Siapa ya?" Tampak mengingat-ingat. Sebenarnya dia sudah menyiapkan beberapa nama untuk putranya, tetapi saat ini tidak ingat.


"Bagaimana kalau kita kasih nama Abrisam Abqary."


"Boleh tuh, artinya?


"Kalau Abrisam itu artinya anak laki-laki yang lembut dan tampan sedangkan Abqary pintar dan kuat imannya. Jadi bisa diartikan anak laki-laki yang tampan dan lembut hatinya juga pintar dan kuat imannya. Bagaimana?"


"Wah bagus Abi, baru tahu kalau nama kepanjangan Abi, Abqary artinya seperti itu."


"Ya begitulah. Bagaimana kalau menurut ibu?" Beralih bertanya pada sang ibu.


"Abrisam Abqary putra dari Alzam Abqary, bagus."


"Terima kasih. Eh sayang ternyata dia berhasil sekarang. Benar-benar anak yang pintar nggak perlu diajarin." Ustadz Alzam menunjuk putranya yang kini sudah berhasil mengisap sumber makanannya.


"Geli Abi." Mentari tersenyum sambil mengelus punggung sang putra.


Akhirnya kita sudah jadi orang tua.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2