HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 150. Marah


__ADS_3

Tok, tok, tok.


Terdengar ketukan pintu di depan kamar Mentari padahal pintunya sedang terbuka.


Tama menoleh ke arah pintu dan mendapati si bibi yang berdiri di sana.


"Ada apa Bi?" tanya Tama.


"Ada Den Alzam di luar," lapor sang bibi.


Tama dan Mentari saling berpandangan.


"Abi?" Mentari jadi teringat lagi akan kesedihannya.


"Kenapa tidak disuruh masuk?" tanya Gala.


"Sudah Den, beliau sekarang menunggu di ruang tamu."


"Cahaya!" Tama seolah menyuruh Mentari untuk menemui suaminya itu.


Mentari hanya menggeleng mendengar perintah sang papa.


"Baiklah kalau begitu papa yang akan menemuinya." Tanpa mendengarkan persetujuan Mentari terlebih dahulu Tama bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kamar. Mentari hanya terpaku di tempat tidak ingin melarang ataupun menyuruh sang papa. Gala duduk di samping Mentari menggantikan posisi papanya tadi.


"Kenapa kamu tidak mau menemuinya?" tanya Gala heran. Mentari hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Gala.


"Kailan ada masalah?" tanyanya lagi karena tidak mendengar jawaban dari sang adik.


Mentari hanya menggeleng.


"Heran aku sama kamu, biasanya nempel kayak perangko." Gala tidak habis pikir dengan adiknya itu. Biasanya kalau mendengar suaminya datang Mentari akan langsung berlari menemui ustadz Alzam.


Di luar sana ustadz Alzam bangkit dari duduknya tatkala melihat mertuanya berjalan mendekat.


"Assalamualaikum Pa," sapa ustad Alzam sambil mengulurkan tangan untuk menyalami mertuanya itu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, duduklah!" perintah Tama setelah ustadz Alzam mencium tangannya dengan takzim.


Ustadz Alzam mengangguk dan duduk.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Tama to the poin. Sama seperti ustadz Alzam Tama tidak suka berbelit-belit jika berbicara dengan orang lain terkecuali pada Gala maupun Mentari.


"Iya Pa, ada yang ingin saya luruskan, sepertinya Mentari, eh Cahaya salah paham sama saya," jelas ustadz Alzam.


Tama terlihat bernafas lega sebab dugaannya benar yaitu putrinya hanya salah paham saja.


"Temuilah dia di kamarnya!" Tama menepuk pundak ustadz Alzam sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih Pa."


Tama mengangguk sedangkan ustadz Alzam langsung menaiki tangga menuju kamar Mentari.


"Assalamualaikum, Ummi." Ustadz Alzam mengucapkan salam sambil tersenyum saat berdiri di depan pintu kamar Mentari yang masih terbuka pintunya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi," jawab Gala sedangkan Mentari hanya menjawab dalam hati. Dia masih kesal dengan suaminya itu.


"Ummi tidak menjawab salam?" tanya ustadz Alzam yang sebenarnya hanya ingin mengajak Mentari agar mau berbicara padanya.

__ADS_1


Gala melirik sang adik yang mukanya tampak cemberut dengan mulut sedikit monyong dan pipi menggembung layaknya sedang menahan nafas di dalam air.


"Masuklah!" perintah Gala lalu dirinya berjalan keluar meninggalkan sang adik agar berdua saja dengan suaminya di kamar.


"Kok nggak dijawab salamnya?"


"Sudah dalam hati," ketus Mentari.


Ustadz Alzam mengangguk kemudian duduk di samping Mentari dan merangkul bahu istrinya itu.


"Sebaiknya dijawab dengan mulut biar orang yang mengucapkan salam senang salamnya ada yang jawab."


"Jangan pegang-pegang!" Mentari mendorong tubuh ustadz Alzam agar menjauh darinya.


"Kenapa tidak mau dipegang? Biasanya selalu minta dipeluk." Ustadz Alzam menggoda Mentari dengan bibir yang tak lepas dari senyuman.


Pipi Mentari memerah mendengar perkataan ustadz Alzam.


"Sekarang tidak lagi aku lagi marah," ketus Mentari. Sepertinya dia lupa dengan nasehat yang baru disampaikan oleh Tama.


Ustadz Alzam hanya terkekeh melihat sikap istrinya. Menurutnya Mentari itu lucu jika sedang marah seperti ini.


"Marah kenapa? Apa Abi berbuat salah kepada Ummi?" Sepertinya ustadz Alzam memang sengaja, pura-pura tidak tahu.


"Lebih dari itu," ketus Mentari lagi.


"Abi itu tega php-in Meme padahal Abi tidak cinta, kan sama Meme?" Mentari mulai terlihat emosi. Yang biasanya menyebut dirinya Ummi di depan sang suami kini berubah menyebut panggilan nama kecilnya.


"Siapa yang bilang?" tanya ustadz Alzam dengan ekspresi tenang.


"Aku yang bilang!" teriak Mentari.


Ustadz Alzam menghembuskan nafas berat. "Benar dugaanku dia telah mendengar perkataan Bintang tadi," batin ustadz Alzam.


"Abi kalau tidak menginginkan Mentari bisa menceraikan Mentari sekarang juga dan aku tidak akan pernah kembali pada Mas Bintang," ucap Mentari masih dengan ekspresi yang menggebu-gebu.


"Persetan dengan perjanjian Abi dengan Mas Bintang. Aku manusia, bukan barang mainan yang bisa kalian lempar kemanapun yang kalian inginkan. Kalau aku tahu ada perjanjian untuk menjadi muhallil apa itu namanya, aku tidak akan pernah mau menikah dengan Abi. Lebih baik hidup tanpa suami daripada harus tersakiti lagi." Mentari mengusap air matanya yang kembali membanjiri pipi cantiknya. Setelah itu wanita ini diam.


"Sudah marahnya?" tanya ustadz Alzam melihat istrinya yang tadinya menggebu-gebu dan meledak emosinya kini hanya diam.


"Belum," jawab Mentari masih dengan nada suara yang terdengar ketus.


"Ya sudah kalau begitu lanjutkan!"


Mentari terbelalak mendengar saran dari ustadz Alzam. Perempuan ini langsung memalingkan muka.


Untuk sesaat hening, tak ada satupun dari keduanya yang bicara hingga akhirnya ustadz Alzam mengulangi pertanyaannya tadi.


"Sudah marahnya?"


Mentari menjawab dengan anggukan. Namun, tidak berani menatap wajah ustadz Alzam setelah marah-marah.


"Kalau begitu giliran Abi yang bicara," ucap ustadz Alzam dan tidak ada jawaban dari Mentari.


"Ummi!" panggil ustadz Alzam agar Mentari melihat ke arahnya. Namun, Mentari masih enggan untuk menatap wajah suaminya itu. Wajahnya masih memerah, antara marah dan malu setelah memarahi ustadz Alzam.


Melihat Mentari tak jua menoleh dan tak ada jawaban dari istrinya itu, ustadz Alzam menggeser posisi duduknya hingga berdekatan dengan sang istri.

__ADS_1


Dia mengulurkan tangan dan memeluk istrinya dari belakang. "Maafkan Abi Ummi," ucapnya sebelum memulai penjelasan selanjutnya.


Mentari memejamkan mata, kehangatan yang diberikan sang suami selalu membuatnya lebih tenang. Entahlah Mentari tidak tahu, bahkan ketika dirinya dipeluk oleh ustadz Alzam seakan Mentari tidak ingin melepaskan ataupun dilepaskan. Jauh berbeda saat bersama dengan Bintang, pelukan ustadz Alzam seolah membawanya dalam kedamaian hati.


"Jangan goyah! Jangan goyah!" Mentari menasehati dirinya sendiri lewat kata batin.


"Apa yang Ummi dengar tadi tidak lengkap, jadi jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu yang tidak jelas," terang ustadz Alzam. Mentari mendongak dan menatap wajah ustadz Alzam yang berada di atasnya. Laki-laki itu masih saja bersikap tenang sambil mengulas senyum manis.


Ah, dengan begitu saja Mentari sudah luluh. Bagaimana dia bisa marah lebih lanjut?


"Maksud Abi?"


"Saat itu mantan suamimu itu datang ke toko dan mencari keberadaan ku."


"Tuh, kan benar." Masih saja cemberut.


"Aih baru saja ku nasehati tadi supaya mendengar pembicaraan dulu sampai akhir," keluh ustadz Alzam.


"Maaf aku tidak sabaran," sesal Mentari.


"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi. Mendengar cerita, perkataan ataupun berita jangan separuh takutnya kalau di sampaikan pada orang lain jatuhnya fitnah," nasehat ustadz Alzam.


"Iya Abi, maaf."


Ustadz Alzam mengangguk.


"Aku mempersilahkan dia masuk dan menanyakan apa tujuannya datang untuk menemuiku. Dia bilang ingin aku jadi muhallilnya sebab tanpa itu, dia tidak akan pernah bisa kembali padamu." Ustadz Alzam menjeda ucapannya dan tampak menarik nafas panjang.


"Sebenarnya aku kasihan sama dia. Awalnya ingin membantu, tapi setelah aku tanyakan apakah dia akan melepaskan istri pertamanya dia bilang tidak mungkin sebab diantara mereka ada anak yang jadi pengikat. Kalau sampai berpisah dia kasian sama anaknya. Ya sudah aku memohon maaf dan mengatakan tidak bisa.


Dia menawarkan lagi untuk membersikan nama baik kita berdua atas berita yang tidak benar itu asal aku mau, ya jadi muhallil lagi. Aku masih tidak mau. Coba nggak ada ujung-ujungnya itu tanpa ada imbalannya pun aku akan tetap menikahimu."


"Gombal." Mentari mencebik dan memalingkan muka lagi.


"Kenapa gombal? Andai saja aku tidak takut dosa sudah ku rebut kamu dari si Bintang itu. Kesal aku melihat dia membuatmu selalu bersedih."


"Kasihan?"


"Bukan, cinta, tapi sayang cinta sama istri orang." Ustadz Alzam terkekeh sendiri.


"Dan sekarang setelah jadi istri sendiri mau mengembalikan dirimu padanya? Hanya orang bodoh Ummiku sayang yang mau Melakukan itu semua," ucap ustadz Alzam dan langsung mencium bibir istrinya.


"Abi!" protes Mentari karena mendapat serangan mendadak dari sang suami.


"Kamu harus dihukum sebab dari tadi marahi suami terus. Terutama nih bibir yang nggak berhenti nyerocos." ustadz Alzam menyentuh bibir Mentari dengan jari telunjuknya.


"Tunggu dulu jelaskan kenapa Mas Bintang menganggap Abi melakukan perjanjian kalau Abi tidak mengatakan setuju," sanggah Mentari.


"Itu ulah Sarah yang mengatakan setuju kalau Bintang mau membersihkan nama kita, karena kalimat yang ambigu itu Bintang malah menganggap aku setuju dan saat hendak aku jelaskan dia malah pergi terlebih dahulu. Ya sudah biarkan dia pergi dengan keyakinannya sendiri dan itu baik agar Bintang tidak akan menghalangi tujuanku sendiri untuk dapat menikahimu begitu usul Sarah dan ternyata itu berhasil. Tidak ada yang menghalangi ataupun membuat kegaduhan di acara pernikahan kita sehingga acaranya berjalan lancar," pungkas ustadz Alzam mengakhiri penjelasannya.


"Ih cari kesempatan dalam kesempitan," protes Mentari.


"Itu harus, asal jangan cari kesempitan dalam kesempatan," kelakar ustadz Alzam.


"Ya nggak akan dapat lah orang aku sudah tidak ori. Barang seken nih udah," ujar Mentari cemberut.


"Ih mesum, siapa yang arahnya ke situ?" protes ustadz Alzam membuat Mentari tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2