
"Tapi Dok istri saya tidak mau makan. Apa yang dimakan selalu dimuntahkan semua. Bagaimana saya bisa mencukupi gizi untuk anak saya, Dok?" Tiba-tiba Bintang murung mengingat sejak semalam Mentari sudah tidak mau makan."
"Duduk dulu Tuan, saya akan mengambilkan obat pereda mual. Semoga saja dengan obat ini istri Tuan bisa enak makan kembali."
Bintang mengangguk dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi dokter.
Dokter tersebut memberikan nasehat kepada sepasang suami istri itu sebelumnya akhirnya memberikan obat.
"Terima kasih Dok atas semuanya," ucap Bintang sebelum meninggalkan ruangan dokter.
"Sama-sama Tuan."
Bintang lalu membawa Mentari ke hotel tempat mereka menginap dan meminta Mentari langsung meminum obatnya.
"Mas Izzam sedang apa ya sekarang?" tanya Mentari saat akan merebahkan tubuhnya.
"Sudah jangan memikirkan Izzam dulu, sekarang kamu istirahat saja!" perintah Bintang.
"Mas Bintang mentang-mentang mau punya anak sendiri, kayak nggak perduli lagi sama Izzam," ujar Mentari dengan ekspresi cemberut.
"Astaghfirullah Me, kenapa kamu kepikiran begitu?" Bintang benar-benar bingung dengan pemikiran Mentari.
"Buktinya tadi nyuruh aku nggak boleh memikirkan Izzam."
Bintang menggaruk kepalanya.
"Bukan begitu Me maksudku, aku hanya ingin kamu beristirahat dengan tenang. Perkara Izzam aku sudah menitipkannya pada Gala. Kakakmu pasti akan bertanggung jawab untuk menjaga putra kita dan insyaallah dia akan baik-baik saja. Kau tenang saja aku akan tetap menyayangi putra kita meskipun sudah punya anak sendiri. Kau boleh protes nanti apabila aku mengingkari janji," ucap Bintang dengan mantap.
"Janji ya Mas, awas kalau bohong!"
"Iya-iya pakai mengancam segala. Sudah istirahat saja, atau mau makan lagi?"
Mentari menggeleng dengan ekspresi tidak senang. Sepertinya dia ngeri jika membayangkan makanan.
"Kenapa sih ekspresimu begitu?"
"Nggak tahu Mas, tiap kali aku membayangkan makanan kok rasanya kayak jijik gitu padahal pas hamil Izzam aku malah doyan makan."
"Mungkin pembawaan setiap janin berbeda-beda Me, sudahlah istirahat saja dulu siapa tahu setelah bangun tidur nanti selera makanmu kembali lagi. Semalam kamu gelisah dan tidak nyenyak tidur jadi hari ini kau harus beristirahat!" titah Bintang tak ingin dibantah lagi. Namun, sang istri tidak perduli dengan perintah sang suami.
"Aku tidak bisa nyenyak kalau tidak melihat Izzam terlebih dahulu. Aku masih khawatir."
"Ah baiklah, aku akan menghubungi Gala dulu," ucap Bintang lalu melakukan video call dengan Gala.
"Ada apa?" tanya Gala bingung sebab tidak biasanya Bintang melakukan panggilan itu.
"Izzam mana? Nih adikmu mau ngomong," kata Bintang lalu terkekeh.
"Adikmu-adikmu, dia istrimu Bintang!" protes Gala.
"Mana Izzam?"
"Bentar aku panggil dulu!"
__ADS_1
"Izzam nih papi nelpon!" teriak Gala dan Izzam pun berlari ke arah Gala.
"Iya, Om?"
"Nih, ummi sama papi kamu mau ngomong." Gala menyerahkan ponselnya pada Izzam.
"Halo Papi!" sapa Izzam melalui sambungan video call.
"Hei! Izzam baik-baik ya, di sana?"
"Iya Papi di sini seru, tadi Izzam habis naik ke atas menara yang ada jam besarnya itu." Izzam mengarahkan kameranya pada gedung besar yang ada di belakangnya berdiri.
"Oh, ya? Sayang papi nggak bisa ikut."
"Ummi masih sakit?" tanya anak itu dengan ekspresi sedih.
"Sudah enggak lagi, kata dokter Ummi hanya harus banyak-banyak istirahat karena diperutnya sudah ada dedek bayinya," ucap Bintang dengan suara lirih.
"Izzam mau punya adik lagi?" Anak itu terlihat antusias.
Bintang mengangguk.
"Hore bentar lagi Izzam punya dua dedek. Dedek Gaffi sama dedek ... siapa papi?"
"Nanti papi pikiran dulu, belum buat nama soalnya."
"Siapa yang hamil?" tanya Sarah ikut nimbrung pembicaraan lalu menghadapkan wajahnya ke arah layar ponsel melalui belakang tubuh Izzam.
"Kakakmu, eh adikmu. Entahlah aku bingung Meme tuh siapa mu," ucap Bintang lalu terkekeh.
"Hmm, dasar! Tapi kakak iparmu sekarang lagi hamil dan nggak mau makan Sarah, ada saran?" tanya Bintang lalu mengarahkan kameranya ke arah Mentari.
"Hmm, belikan aja kue atau roti siapa tahu mau."
"Roti? Kue? Sepertinya lezat," ucap Mentari sambil menelan ludah.
"Kau bicaralah dengan Sarah biar aku carikan kue untukmu," ujar Bintang lalu melangkah pergi. Sampai di pintu pria itu berhenti.
"Kue apa Me?"
"Sembarang lah Mas, kue tart, kue bolu juga boleh. Aku ingin yang manis-manis saat ini."
"Oke baiklah, aku keluar sebentar. Kamu jaga diri baik-baik ya Me!"
"Iya Mas."
Sepeninggal Bintang, Mentari fokus mengobrol dengan Sarah dan Izzam. Perbincangan mereka terdengar heboh walaupun hanya melalui video call. Bahkan Sarah tidak mematikan ponselnya meskipun mereka sambil berjalan.
"Awas kebentur bule kalau jalan nggak lihat ke depan kayak gitu," protes Gala dan Sarah hanya terkekeh.
"Yasudah ya Kak, kita udahan dulu video callnya, nanti Sarah malah nabrak tembok. Kalau nabrak bule sih nggak apa-apa kalau bulenya cakep," ujar Sarah sambil memutus sambungan telepon dan langsung mendapat pelototan dari Gala.
Sarah malah tertawa lebar melihat ekspresi sang suami.
__ADS_1
Gala kemudian tersenyum jahil.
"Oh ya Sarah ternyata cewek-cewek bule selain cantik-cantik juga seksi ya," ucap Gala membalas Sarah sambil melirik wanita dengan dress di atas lutut yang lewat di samping mereka Sarah langsung bereaksi ditutup matanya oleh Sarah.
Sarah lalu mendorong pria itu menuju mobil tanpa melepaskan tangannya di mata Gala.
"Sarah buka dong, aku bisa jatuh ini!" perintah Gala.
"Biarin suruh siapa lirik cewek lain. Jaga pandangan!" perintah Sarah.
"Lah kan kamu yang ngajarin?"
Di hotel Bintang kembali setelah memesan kue di toko roti terdekat.
"Assalamualaikum Me," ucap Bintang sambil masuk ke dalam kamar.
"Ini kue tart nya dan ini ada roti juga lengkap dengan selai dan teh hangat," ucap Bintang sambil menata kue-kue itu di atas meja.
Mentari yang sedang berbaring langsung bangkit dan melihat kue-kue yang dibeli oleh Bintang.
"Mas Bintang kok beli kue tart yang hiasannya kayak gini sih?" protes Mentari sambil memandang cemberut ke arah kue tart di depannya.
"Memang ada yang salah? Apa aku perlu pesan yang hiasannya Hello Kitty?" tanya Bintang lalu cekikikan.
"Nggak lucu," ketus Mentari.
"Aih kenapa marah sih? Kamu 'kan tidak request tadi mau yang hiasan yang berbentuk apa jadi saya tinggal pilih saja yang ada di sana," jelas Bintang. Dia sama sekali tidak merasa berbuat kesalahan.
"Mas Bintang ingat nggak kue tart yang berhiaskan bunga-bunga dihinggapi kupu-kupu ini seperti apa?"
"Seperti bunga-bunga di taman," jawab Bintang sekenanya.
"Singkirkan! Itu seperti kue yang dipesan Mas Bintang di toko Sarah buat Katrina pas dia ultah!" perintah Mentari.
Bintang langsung menggaruk kepalanya. "Kok kamu ingat sih? Aku aja sudah lupa."
"Tentu saja ingat Mas, itu momen yang sangat menyakiti hatiku. HBD My Wife. I Love You Always," ucap Mentari mengingat tulisan yang dibubuhkan di atas kue tart pesanan Bintang untuk merayakan ulang tahun Katrina yang ke 26 beberapa tahun yang lalu."
"Sorry sayang dulu aku memang sering menyakiti hatimu, tapi sekarang aku sudah sadar kok dan nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama." Bintang mengusap punggung Mentari.
"Padahal di hari yang sama aku juga berulang tahun. Jangankan memberikan kue padaku, mengucapkan selamat saja Mas Bintang tidak melakukanya."
"Maaf Me." Bintang semakin erat memeluk Mentari.
"Kate kau cinta pertamaku dan sampai kapanpun cinta ini tidak akan pernah berakhir." Mentari menirukan ucapan Bintang pada Katrina saat beberapa hari setelah momen ulang tahun."
"Me sudah cukup jangan pernah mengingat masa lalu. Perlu kau tahu aku hanya mencintaimu. Kalau aku masih mencintai Katrina kenapa harus susah-susah mengejar cintamu selama ini. Oh ya aku bawakan roti paling populer di Swiss. Roti ini teksturnya lembut dan bentuknya unik seperti rambut dikepang. Aku juga membelikan selai strawberry untuk olesannya," ucap Bintang sambil memotong kue Zopf dengan pisau lalu mengolesnya dengan selai strawberry.
Sebenarnya Bintang sedikit senang jika Mentari cemburu dengan Katrina, itu tandanya perasaan cinta di hati Mentari mulai tumbuh kembali.
Namun, dia tidak ingin merusak mood Mentari karena tidak ingin wanitanya itu larut dalam kesedihan dan rasa sakit hati. Apalagi Mentari saat ini sedang hamil muda. Bintang harus pandai-pandai menjaga perasaannya agar istri dan calon bayinya baik-baik saja. Cukup sekali Bintang kehilangan Mentari dan setelah itu hanya maut yang mampu memisahkan mereka.
__ADS_1
Bersambung.