HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 44. Rumah Mertua


__ADS_3

"Apakah Mentari sudah tahu semuanya?" Tuan Winata bertanya-tanya dalam hati dan berharap banyak menantunya belum tahu akan ulah Bintang sampai Bintang bisa berubah.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tuan Winata nampak berpikir antara ingin melabrak keduanya langsung atau pura-pura tidak tahu dan memikirkan cara halus agar mereka bisa berpisah tanpa terkesan Tuan Winata yang merencanakan semuanya. Kalau caranya kasar dia takut Bintang malah akan memilih wanita itu dibandingkan dirinya maupun Mentari dan harapannya akan pupus sudah.


"Hmm, sepertinya aku memang harus secepatnya membawa Mentari untuk tinggal di rumah biar Bintang bisa aku awasi." Tuan Winata menyunggingkan senyum lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya kembali dan keluar dari area apartemen kemudian melajukan mobilnya ke kantor.


Sore hari sepulang dari kantor Tuan Winata langsung menjemput Mentari di toko milik Sarah.


"Papa ngapain ke sini? Mau pesan kue?" tebak Mentari mengingat katanya Tuan Winata sering memesan kue ke tempat itu.


"Dia siapa kamu Me?" tanya Nanik berbisik di telinga Mentari.


"Papa mertua," jawab Mentari.


"Waw." Nanik terlihat kaget mengetahui bahwa pria yang sering datang sendiri ke toko itu adalah mertua Mentari. Nanik bukannya tidak tahu bahwa Tuan Winata adalah salah satu pemilik perusahaan terbesar di kota tersebut.


Hidupmu sebenarnya sempurna Mentari jika saja Bintang adalah suami yang setia.


"Tidak. Hanya ingin menjemputmu pulang," jawab Tuan Winata dengan suara datar.


"Mentari bisa balik sendiri kok Pa. Papa tidak usah repot-repot menjemput Mentari. Lagipula jam kerja Mentari belum usai Pa."


"Mentari kamu itu wanita Nak, tidak baik pulang malam. Apalagi kamu juga sudah bersuami, tidak baik meninggalkan suamimu sendiri di rumah. Bintang butuh kamu ketika pulang dari kantor. Kalau dia pulang tidak mendapatimu di sana takutnya tidak akan ada penawar untuk lelahnya sehabis bekerja. Saya takut Bintang malah mencari perhatian wanita lain."


"Iya Pa, maafkan Mentari."


"Iya tidak apa-apa. Maaf Papa hanya ingin rumah tangga kalian bertahan. Saya tidak ingin ada orang ketiga yang masuk ke dalam rumah tangga kalian karena merasa ada celah saat kau juga sibuk dalam pekerjaanmu dan mengabaikan Bintang. Mentari, Saya sangat berharap padamu agar terus berada di samping Bintang."


"Iya Pa." Mentari menunduk, malu menatap wajah Tuan Winata. Dalam hati berpikir pasti papa mertuanya itu memandang dirinya tidak becus mengurus suami.


"Sudah ayo pulang! Mana bosmu, biar papa yang ngomong?"


"Saya Tuan, ada apa?" Sarah berjalan ke arah Tuan Winata.


"Kalau Mentari kerjanya sampai sore bagaimana, apakah boleh? Kalau tidak saya tidak akan mengizinkan dia untuk bekerja lagi." Tuan Winata langsung mengancam.


Sarah mengernyitkan dahi, bingung dengan perkataan Tuan Winata. Dalam hati berkata bukannya selama ini memang dia yang menganjurkan Mentari untuk pulang sore saja. Bahkan Sarah meminta Mentari pulang sebelum jam pulang Bintang dari kantor.


Eh tapi kenapa sekarang Mentari belum pulang juga ya? Mentari kan biasanya sudah pulang jam segini. Apakah dia takut kembali ke apartemen?


Tiba-tiba Sarah mengingat perkataan Mentari tadi pagi yang mengatakan ada kuntilanak di apartemennya.


Mungkin dia enggan pulang.

__ADS_1


"Tentu saja boleh Tuan. Di sini saya memang menganjurkan untuk pulang terlebih dahulu bagi para karyawan yang sudah memiliki suami."


Ya dari dulu memang begitu, dua orang yang pernah bekerja pada Sarah sebelumnya memang pulang sore sebelum akhirnya karyawannya itu mengundurkan diri, berhenti bekerja dan ikut suami mereka ke tempat kerja baru suaminya masing-masing setelah dimutasi. Kemudian masuk Nanik dan satu orang lagi. Nah, mereka yang sama-sama tidak punya suami memang mengambil pesanan lebih, sehingga harus kerja sampai larut malam. Mereka berdua juga tinggal di toko tersebut. Ternyata kegigihan mereka membuat toko Sarah semakin berkembang dan banyak pelanggan. Namun, sayangnya satu orang karyawan lainnya harus berhenti karena ada hal yang mendesak dan Mentari yang menggantikan peran karyawan tersebut saat ini.


"Kalau begitu bagus. Sekarang saya akan membawa menantu saya pulang. Terima kasih atas kebijaksanaannya."


"Iya Tuan, silahkan."


"Ayo Mentari! Mari semuanya!"


Sarah dan Nanik hanya mengangguk sopan.


"Baiklah Pa." Mentari mengikuti langkah Tuan Winata menuju mobil.


"Sekarang kamu harus tinggal di rumah papa," ucap Tuan Winata langsung tanpa basa-basi.


Sontak saja Mentari terlihat kaget. Bagaimana mungkin Tuan Winata mengambil keputusan sendiri tanpa memberikan waktu dirinya untuk berbicara pada Bintang.


"Soal Bintang nanti papa langsung ngomong sendiri saja." Tuan Winata seolah paham dengan apa yang ada dalam otak Mentari sekarang.


Mentari mengangguk. "Baik Pa." Urusan izin Bintang memang seharusnya menjadi tanggung jawab Tuan Winata. Lagipula Mentari lebih senang apabila dirinya tidak kembali ke apartemen itu lagi. Tadi rencananya dia tidak ingin pulang ke apartemen, tetapi ingin meminta Sarah agar dia mengizinkan dirinya tinggal bersama Nanik di toko.


Mentari pikir ikut Tuan Winata akan lebih baik daripada harus tinggal di toko. Jadi Bintang tidak akan bisa menyalahkan dirinya dengan alasan Mentari yang kabur dari rumah.


Tiga puluh menit di jalanan akhirnya mobil sudah memasuki area perumahan yang dari luar saja sudah nampak begitu besar. Seperti orang desa yang tidak pernah melihat rumah besar Mentari terlihat kaget bercampur kagum.


"Kenapa bengong? Ayo turun!"


"Iya Pa." Seperti kambing congek Mentari turun dari mobil dan diam berdiri, tidak bergeming selangkah pun. Dia tidak tahu akan kemana langkahnya berjalan.


Dalam hati bertanya-tanya apakah yang akan dilakukan di rumah sebesar itu?


"Selamat sore Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sapaan seorang wanita membuat Mentari menoleh.


"Bik Jum tolong antarkan Mentari ke kamar Bintang!" perintah Tuan Winata kepada orang yang menawarkan bantuan tadi.


"Baik Tuan, tapi ...." Bik Jum terlihat ragu untuk bertanya.


"Dia? Bik Jum ingin menanyakan siapa dia?" Tuan Winata sudah menduga bahwa pembantunya itu akan bertanya tentang siapa itu Mentari. Dasar Bintang beberapa bulan menikah tak pernah sekalipun mengajak Mentari ke rumah orang tuanya sendiri walaupun hanya sekali saja.


"Dia mantuku Bik, istrinya Bintang," jelas Tuan Winata dan Mentari mengangguk ke arah Bik Jum dan memberikan senyuman termanisnya.


"Owalah dia toh istrinya Den Bintang. Cantik sekali bahkan saya tidak pernah melihat wajah seorang wanita secantik dirimu. Benar-benar cocok sama Den Bintang," ucap Bik Jum sambil memandang ke arah wajah Mentari sambil terkagum-kagum. Pipi bulat, kulit kuning Langsat dan mata lebar dengan bulu mata yang lentik membuat wajah Mentari bersinar seperti bulan purnama saja. Apalagi senyuman yang menghias di bibirnya menambah kesan manis di wajah Mentari.

__ADS_1


"Sempurna seperti bidadari," imbuh bik Jum.


"Terima kasih Bik atas pujiannya, tetapi Mentari tidak secantik yang bibik katakan," ucap Mentari tersipu malu karena bik Jum terlalu berlebihan dalam memuji dirinya.


"Saya serius loh Non," kata Bik Jum lagi, meyakinkan Mentari bahwa dirinya tidak hanya basa-basi saja.


"Terima kasih, itu mungkin karena Bik Jum baru melihat Mentari. Namun, lama-kelamaan mungkin akan bosan juga sehingga Mentari tidak akan terlihat cantik lagi di mata Bik Jum."


"Sepertinya Bibik tidak akan bosan deh Non melihat wajah Nona Mentari. Apalagi Nona Mentari juga ramah nggak kayak ...." Belum sempat melanjutkan ucapannya Bik Jum mendapat pelototan dari Tuan Winata. Bik Jum mengerti Tuan Winata tidak suka, dia pun tidak melanjutkan ucapannya.


"Maaf Tuan."


"Nyonya Arumi sudah kembali?"


"Belum Tuan."


"Ya sudah antarkan saja dia ke kamarnya biar istirahat dulu. Besok perkenalkan dia dengan semua pembantu yang ada di sini biar tidak canggung nanti saat membutuhkan sesuatu."


"Baik Tuan."


"Hmm, baiklah saya ke kamar dulu. Jangan lupa perkenalkan dirimu juga."


"Siap Tuan."


Tuan Winata pun meninggalkan keduanya.


"Nona Mentari perkenalkan saya Jumiati yang biasa dipanggil Bik Jum. Tugas saya di dapur bersama beberapa orang lainnya. Jadi kalau urusan perut atau Nona Mentari lapar dan ingin request makanan langsung saja hubungi Bik Jum." Bik Jum memperkenalkan diri dengan gaya seperti seorang kapten saja.


Mentari tertawa-tawa melihat tingkah Bik Jum. "Bik Jum ada-ada saja. Oke nanti Mentari akan mendatangi Bik Jum di dapur untuk meminta makanan sekaligus bantu-bantu lah dikit kalau boleh."


"Boleh dong kenapa tidak? Bik Jum malah senang kalau yang bantu pekerjaan tambah banyak, asal tidak dilarang sih sama Tuan Winata. Sudah yuk masuk dulu!"


Baru saja berjalan ada seseorang yang menghentikan langkah kaki mereka.


"Siapa dia Bik Jum?"


Mentari dan Bik Jum menoleh bersamaan.


"Nyonya?"


"Mama?" Mentari mencoba tersenyum ramah.


"Ku kira siapa ternyata dia." Ekspresi Arumi sudah dapat ditebak. Bik Jum pun tahu bahwa majikannya ini tidak menyukai Mentari.

__ADS_1


"Huh, seorang wanita kampung yang bermimpi menjadi Cinderella dalam kehidupan putraku," ucap Arumi dengan senyum mengejek lalu meninggalkan keduanya begitu saja. Tubuh Mentari membatu seketika. Ucapan Arumi benar-benar membuatnya beku.


Bersambung ....


__ADS_2