
"Cahaya, dia itu cahaya, kah?" Tama menunjuk Mentari sambil tersenyum penuh harap.
"Bukan Pa, dia itu Mentari," jelas Gala.
"Tidak Galaksi, dia itu Cahaya." Tama masih saja ngotot.
"Dia itu siapanya Pak Gala, Pa?" tanya Mentari pada Tuan Winata dengan suara lirih.
"Papanya Gala. Tama namanya. Dia sedang mengalami ...."
"Iya Pa, tidak usah dilanjutkan, Mentari sudah tahu kok," ucap Mentari merasa tidak enak kalau Gala sampai mendengar.
"Kamu tahu mengenai Tama? Bagaimana mungkin?"
"Pak Gala sudah menceritakan semuanya."
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Apa kabar kamu Mas Tama?" tanya Tuan Winata sambil duduk di sofa yang bersebelahan dengan Tama.
"Apa kabar, Om?" sapa Mentari juga sambil tangannya terulur untuk menyalami pria setengah baya itu.
Tak ada yang menduga ternyata Tama menerima uluran tangan Mentari. Hal yang tak pernah Gala lihat selama papanya tidak mau bicara dengan siapapun. Jangankan dengan tamu asing dengan dirinya saja Tama hanya menggunakan bahasa tubuh seperti orang bisu saja.
"Duduklah Mentari!" suruh Gala, tetapi sayang tangan Mentari tidak dilepas oleh Tama.
Tama memandang wajah Mentari dengan penuh selidik membuat Mentari ketakutan saja karena tahu bahwa papanya Gala depresi.
Mentari menunduk menahan rasa takutnya. Dia tidak mau Gala akan tersinggung kalau melihat Mentari takut pada papanya. Namun, tetap saja Gala bisa merasakan apa yang Mentari rasakan saat ini.
"Pa, lepaskan pegangan tangan Papa. Lihatlah tubuhnya keringetan karena takut."
"Jangan takut putriku. Papamu ini tidak akan menyakitimu."
Sontak perkataan Tama membuat semua orang menjadi kaget. Jangan tanya Mentari selain terkejut dia juga semakin takut karena bicara Tama sudah melantur.
"Biarkan dia duduk dulu Mas. Dia sedang kelelahan habis bekerja," ujar Tuan Winata karena melihat tangan Mentari belum juga dilepas oleh Tama.
Pria itupun mengangguk dan langsung melepas tangan Mentari.
Mentari menghela nafas lega.
"Mentari, duduk di sini!" Tuan Winata menepuk sofa di sampingnya. Mentari pun menurut duduk di samping Tuan Winata.
"Gala, paman ingin meminta bantuan kamu."
"Apa itu, Paman?"
"Begini, dia kan lagi ada masalah sama Bintang dan saat ini kebetulan dia juga baru mendapat telepon dari ibunya di kampung bahwa adiknya Pandu sakit keras dan selalu mengigau menyebut nama Mentari. Jadi, saya meminta tolong kamu agar mau mengantarkan Mentari ke kampung halamannya." Tuan Winata langsung bicara terus-terang.
"Tapi Paman, apa tidak timbul masalah kalau saya yang mengantarkan Mentari. Bagaimana kalau Bintang salah paham dan marah? Apalagi saat ini Bintang sedang mencari Mentari loh Paman. Apa tidak sebaiknya meminta Bintang saja untuk mengantarkannya?"
__ADS_1
"Biarlah untuk sementara Bintang tidak boleh bertemu Mentari dulu. Aku ingin dia meresapi akan kesalahannya sampai ia sadar telah menyakiti Mentari. Kalau soal salah paham ada paman yang akan menjelaskan. Semua itu biarlah menjadi urusanku.
Paman benar-benar meminta tolong padamu. Kalau saja tidak ada undangan malam ini pasti paman yang akan mengantarnya sendiri. Kamu tahu, kan bagaimana sifat Tantemu itu? Kalau aku tidak datang atau tidak menemaninya pergi ke pesta perjamuan makan malam sesama pengusaha, pasti dia akan ngamuk. Paman lagi malas bertengkar sekarang, paman lelah."
"Bagaimana ya, Paman?" Gala masih terlihat
menimbang-nimbang. Ingin membantu, tetapi tidak ingin meninggalkan sang papa.
"Ayolah Gala, Paman mohon. Sopir paman sedang tidak ada sekarang. Kalau paman tahu Mentari akan pergi ke kampung, pasti tadi siang aku akan menahan sopir itu agar tidak mengambil cuti."
"Pa, Papa bisa Gala tinggal lagi sebentar?"
Tama hanya memandang Gala dengan ekspresi bingung.
"Gala ingin mengantar dia pulang ke kampung karena adiknya sakit keras."
Gala sebenarnya keberatan meninggalkan sang papa lagi setelah seharian ditinggal bekerja. Namun, dia juga merasa tidak enak kalau menolak keinginan pamannya itu setelah apa yang Tuan Winata perbuat untuk membantu keluarganya.
Tama mengangguk. Gala mengembangkan senyum dan langsung memeluk sang papa.
"Terima kasih ya Pa, atas pengertiannya."
"Tapi aku ingin memeluk dia." Tama menunjuk kepada Mentari membuat wanita itu syok dan salah tingkah.
"Pa ...."
Gala ingin melayangkan protes. Namun Tama memotong ucapannya.
Gala diam tidak tahu harus berkata apa. Ternyata papanya itu masih saja menganggap Mentari adalah Cahaya, putrinya yang hilang belasan tahun silam.
"Aku akan melakukannya, Pak." Tanpa diminta Mentari menawarkan diri. Tidak tega melihat Gala yang bingung dan ekspresi Tama yang penuh harap. Walaupun sebenarnya dia masih takut apakah Tama hanya ingin memeluknya saja ataukah ingin yang lainnya. Maklumlah orang yang depresi susah ditebak kelakuannya. Semoga Tama hanya depresi saja bukan gila.
Tuan Winata hanya memandang Mentari seolah bertanya apakah kamu yakin Mentari? Namun, tidak ada kata yang keluar dari mulut pria itu.
Mentari hanya tersenyum ke arah Tuan Winata seolah mengatakan aku akan baik-baik saja. Tuan Winata pun membalas dengan senyum dan anggukan.
Tama merentangkan tangan agar Mentari masuk ke dalam pelukannya. Mentari dengan hati-hati masuk ke dalam pelukan Tama. Pria itu tersenyum senang dan mendekap Mentari dengan erat.
"Aku kangen putriku," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mentari menangis dalam dekapan Tama. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan laki-laki ini. Kehilangan anak dan kemudian istri tercinta, tidaklah mudah. Dia pun pernah berada di posisi Tama, pernah merasakan kehilangan meski kisahnya tak sesesak keluarga ini. Dia pernah kehilangan ayah tercinta.
"Om, aku ingin angkat telepon dulu," pamit Mentari mendengar suara ponselnya yang bergetar.
Tama mengangguk dan melepaskan pelukan.
Mentari menghapus air mata dengan tangannya lalu mengangkat telepon.
"Ada apa Bu?"
"Mentari cepat ke sini Nak adikmu Pandu kejang-kejang. Aku takut terjadi sesuatu sama dia, Mentari."
__ADS_1
"Iya Bu, Mentari segera ke sana."
Mentari menutup telepon. Wajahnya langsung berubah pucat.
"Ada apa, Mentari?" tanya Gala melihat perubahan muka Mentari.
"Pandu kejang-kejang Pak. Saya harus segera pergi." Mentari terlihat gusar.
Gala bangkit dari duduknya. "Baiklah kita pergi sekarang. Sebentar aku mau menitipkan Papa pada bibi agar menjaganya kembali."
"Galaksi, aku mau ikut," ujar Tama membuat semua orang semakin terkejut.
"Jangan Pa, ini sudah malam. Angin malam tidak baik bagi kesehatan. Gala tidak ingin kesehatan papa tambah drop," tolak Gala.
"Aku tidak sakit Gala," jelas Tama. Memang fisik Tama tidak sakit, ia hanya sakit pikiran.
"Bawalah dia Nak Gala barangkali dia bisa refreshing di desa. Kamu jangan langsung pulang. Ajaklah Mas Tama untuk jalan-jalan di sana. Di sana keadaan udara sangat bersih dan segar, barangkali bisa membuat Mas Tama sedikit melupakan pikirannya tentang masa lalu," jelas Tuan Winata.
Gala hanya memandang Mentari untuk meminta persetujuan. Dia merasa tidak enak karena Mentari masih saja terlihat takut.
Mentari mengangguk setuju. "Bawalah Om Tama Pak, benar kata Papa semoga dengan menghirup udara segar bisa menenangkan pikiran Om Tama."
Gala tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah."
Gala segera memanggil pembantu dan juga sopir untuk menyiapkan mobil dan juga kebutuhan dalam perjalanan. Terutama kebutuhan sang papa.
"Kerjakan dengan cepat, saya tidak punya waktu banyak!" perintah Gala dan sopir serta pembantunya pun bergerak dengan cepat.
Beberapa menit kemudian.
"Sudah siap semuanya Den Gala dan pak sopir sudah menunggu di mobil."
"Baiklah, tapi bibi juga harus ikut."
"Baik, Den."
"Ayo Mentari, Pa, kita ke mobil!"
Mentari dan Tama mengangguk.
"Paman, kita tinggal ya."
"Oke, terima kasih ya Nak Gala atas bantuannya."
"Sama-sama Paman." Dalam hati Gala berpikir seharusnya dia yang berterima kasih pada Tuan Winata karena dengan dia membawa Mentari ke rumah Gala telah membuat papanya mau bicara lagi.
"Hati-hati semuanya," ucap Tuan Winata sambil melambaikan tangan kepada orang-orang dalam mobil sementara mobil tersebut bergerak meninggalkan kediaman Pradiatama.
Bersambung....
__ADS_1