
"Izzam!" teriak Bintang saat melihat anak itu tergelincir di tangga. Bintang segera berlari dan menangkap anak itu sebelum terguling ke bawah.
Gala dan Sarah pun yang tidak menyadari keponakannya akan terjadi langsung kaget mendengar Bintang berteriak. Keduanya langsung berdiri.
"Astaghfirullah haladzim, kenapa sih berlari seperti itu?" tanya Bintang heran sebab Izzam tidak biasa berlari kencang seperti itu. Bintang langsung menggendong tubuh Izzam.
Izzam tidak menjawab, anak itu terlihat menberengut sambil mengucek netranya yang sudah berlinang air mata.
"Sakit?" tanya Bintang memastikan keadaan anak tersebut. Pria itu mengusap-usap kepala Izzam kemudian beralih ke bahu.
Izzam terlihat menggeleng.
Mentari yang melihat putranya hampir jatuh terlihat syok. Melihat Bintang menangkap Izzam dia diam di atas lalu mengelus dada sebelum akhirnya menghembuskan nafas lega.
"Terus kenapa nangis?" tanya Bintang.
"Dimarahi Ummi," jawab Izzam lalu cemberut. Sontak saja Bintang langsung menatap ke arah Mentari sedangkan Mentari masih saja terdiam di tempatnya. Wanita itu membeku seperti patung es tanpa ekspresi.
"Oh, pasti karena Izzam nakal ya?" tanya Bintang sambil tersenyum.
"Makanya jangan nakal-nakal, ummi udah lelah jagain Izzam jangan dibuat lebih lelah lagi," tambahnya. Bintang melirik Mentari yang masih berdiri dengan posisi yang belum berubah.
Izzam menggeleng.
"Terus kalau enggak nakal kenapa dimarahin?"
"Apa memanggil seseorang 'Abi' itu adalah sebuah kenakalan?"
"Maksudmu?" tanya Bintang tidak paham arah pembicaraan Izzam karena tadi saat bicara dengan anak itu dia tidak sadar Izzam memanggil dirinya dengan sebutan apa. Bintang lebih fokus pada orangnya dan juga ekspresi Izzam yang nampak sumringah menyambut kedatangannya.
"Ummi tidak suka kalau Izzam memanggil Om Bintang Abi," ucapnya lalu terisak.
"Oh, memang kenapa katanya?" Bintang sengaja menanyai Izzam sebab ingin melihat ekspresi wanita itu. Namun, tidak ada yang berubah dengan ekspresi Mentari.
"Abi Izzam bukan Om Bintang tapi Abi Alzam dan Izzam harus manggil Om Bintang Om kata Ummi."
"Ya sudah ikuti aja apa kata Ummi, toh mau dipanggil apapun Om Bintang akan tetap sayang sama Izzam."
"Tapi Izzam juga ingin punya Abi kayak dedek Gaffi." Anak itu merajuk mendengar Bintang setuju dengan umminya."
"Benar kata Ummi, Abi Izzam memang hanya Ustadz Alzam bukan yang lain dan sampai kapanpun tidak akan tergantikan."
"Tapi Abi tidak pernah datang pada Izzam, apakah Abi sayang pada Izzam?"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Mentari menitikkan air mata mendengar pertanyaan putranya pada Bintang. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa lagi pada anak itu. Namun, jika dibiarkan begitu saja, Izzam bisa berasumsi buruk terhadap ayah kandungnya sendiri.
"Siapapun orang tua pasti sangat menyayangi anaknya termasuk abimu, Abi Alzam. Hanya saja dia tidak bisa menemani Izzam karena sudah dipanggil Tuhan ke alam yang berbeda. Percayalah, abimu di sana sangat merindukanmu, tapi tidak bisa menemuimu secara langsung. Hanya saja, bisa melihat Izzam dari jauh tapi Izzam tidak bisa melihatnya."
"Abi melihat Izzam?" tanya anak itu antusias.
"Ya abimu selalu mengawasimu. Jadi dia tahu kalau Izzam nakal atau tidak. Kalau Izzam menangis seperti sekarang pasti abimu ikut sedih, begitupun sebaliknya. Kalau Izzam bahagia abi juga ikut bahagia. Kalau Izzam mengecewakan Ummi, abi di sana juga ikut kecewa."
Izzam melihat ke arah Mentari dengan rasa bersalah.
"Jadi jangan pernah nakal dan mengecewakan ummi ya! Jangan bikin Ummi nangis! Nurut sama ummi karena apa yang dia katakan, apa yang dia kerjakan semua untuk kebaikan Izzam."
"Jadi Izzam tidak boleh memanggil Om Bintang Abi?"
"Tidak boleh."
Anak itu mengangguk lemah.
"Izzam sedih?"
Anak itu menggeleng meskipun raut kesedihan masih kentara di wajahnya.
"Meskipun tidak boleh memanggil 'Abi' tapi Izzam boleh panggil Om Bintang dengan sebutan 'papi'. Bukankah dedek Gaffi juga memanggil seperti itu kepada Om Gala?"
Barulah anak itu antusias kembali.
"Tentu saja boleh, siapa yang bisa melarang?" Bintang melirik Mentari yang sekarang terlihat memejamkan mata sambil menghembuskan nafas berat lalu meninggalkan tempatnya berdiri dan masuk ke dalam kamar.
"Semoga Mas Bintang tidak mempengaruhi Izzam," ucap Mentari penuh harap lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menatap langit-langit kamar.
"Abi aku kangen, rasanya susah membimbing Izzam tanpa Abi. Apa aku mampu?"
"Sekarang Izzam senang?" tanya Bintang dan anak itu mengangguk mantap.
"Kalau begitu mari kita bermain!' Sekali lagi Izzam mengangguk.
Bintang melangkah ke arah Gala dan Sarah lalu mendudukkan Izzam di samping Gala.
"Duduk dulu ya biar papi siapkah mainannya dulu."
"Oke papi," jawab Izzam dengan senyum yang terus saja mengembang saat menatap ke arah Bintang yang sedang membenahi kotak mandi bola yang baru dibelinya itu.
"Ayo sini kita main!" ajak Bintang setelah bola-bola sudah ditabur di dalamnya.
__ADS_1
Izzam langsung mengulurkan tangan minta digendong oleh Bintang.
Bintang pun berdiri lalu menggendong Izzam sebelum memasukkan ke dalam kotak mainan itu.
"Seperti hanya Bintanglah yang bisa menjadi ayah yang baik untuk Izzam," bisik Gala di telinga Sarah dan wanita itu menganggap setuju.
"Sepertinya Bintang benar-benar tulus pada Izzam. Kalau tidak, setelah beberapa kali ditolak oleh Kak Mentari dia pasti sudah menjauhi Izzam," lirih Sarah.
"Bin!" panggi Gala.
"Ya ada apa?"
"Bagaimana sih perasaanmu pada Izzam?" tanya Gala penasaran sebab Izzam bukanlah putra Bintang tetapi keduanya terlalu akrab dan sepertinya saling menyayangi.
"Mungkin tidak sedalam perasaanmu pada Gaffi. Yang aku tahu aku sangat menyayanginya. Entahlah mungkin karena aku tidak punya anak atau mungkin karena alasan lainnya. Aku tidak tahu alasannya apa yang pasti aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja."
"Bagaimana kalau Cahaya masih menolakmu juga?" tanya Gala lagi.
Bintang tersenyum ke arah Gala.
"Perasaanku pada Izzam berbeda dengan perasaanku pada Mentari. Jadi, walaupun seumur hidupku tidak berjodoh dengan Mentari tidak masalah. Kasih sayangku akan tetap besar pada anak ini.
Terlepas dari Izzam adalah putra Mentari, dia juga adalah keponakannku. Jadi aku tidak merasa rugi menyayanginya. Mungkin pemikiran Mentari sama dengan kalian, aku mendekati Izzam hanya untuk mendapat Mentari. Biarkanlah kalian berasumsi apapun. Hanya Tuhan yang tahu segalanya, termasuk perasaanku pada anak ini."
"Maaf," ucap Gala.
"Tidak apa-apa."
"Tapi Gaffi, kan juga keponakanmu? Kenapa sepertinya kau lebih care pada Izzam?" kelakar Gala.
"Kau pasti sudah tahu jawabannya. Gaffi mendapatkan kasih sayang darimu, tapi Izzam? Dia hampir tidak pernah mendapati kasih saya seorang ayah," jelas Bintang membuat Sarah dan Gala langsung mengangguk setuju.
"Izzam anak yatim, jika kau ikhlas kau akan mendapatkan pahala yang besar," ujar Sarah.
"Aamiin," ujar Bintang.
"Yuk Gaffi main bareng yuk!" Bintang mengambil Gaffi dari pangkuan Gala lalu memasukkan balita itu ke dalam kotak yang sekarang ada Izzam di dalamnya.
"Main berdua, yang akur ya," ujar Bintang lalu dirinya mengobrol bersama Gala sambil sesekali mengawasi kedua balita yang ada di depannya itu.
"Oh ya kenapa kepikiran beli mainan itu?" tanya Gala.
"Tadi bertemu klien di luar dan kebetulan melihat mainan itu di tempat kami bertemu. Aku langsung kepikiran Izzam, jadi langsung belikan saja. Soalnya kalau dipending dulu bisa lupa."
__ADS_1
"Oh."
Bersambung.