
"Alhamdulillah, akhirnya Sarah sadar juga," ucap orang-orang yang berada di kamar itu.
Bukan hanya Gala, semua orang juga ikut bernafas lega.
"Mas! Aku tidak mau berpisah dengan kalian berdua," ujar Sarah dengan air mata yang menetes. Wanita itu langsung mendekap tubuh Gala seperti orang ketakutan.
"Hei siapa yang bilang kita akan berpisah?" tanya Gala sambil memberikan Gaffi pada Arumi lalu membalas pelukan Sarah dengan lebih kuat. Pria itu lalu mengusap-usap bahu Sarah kemudian berpindah ke kepala. Setelahnya mengusap air mata Sarah dengan jari telunjuknya.
"Jangan menangis! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Aku belum puas bersama Mas Gala dan putra kita," ucap Sarah sambil mendongak, menatap wajah Gala dalam posisi yang masih belum melepaskan pelukan mereka.
"Kita tidak akan berpisah secepat ini Sayang, perjalanan kita masih panjang Sarah. Kita berdua akan terus bersama dan membersamai putra kita sampai dia tumbuh besar dan dewasa, bahkan sampai Gaffi menemukan jodohnya dan juga menjadi orang tua seperti kita," ucap Gala panjang lebar dengan sudut bibir yang terangkat, melengkungkan senyuman manis.
Sarah hanya mengangguk dan berusaha ikut tersenyum.
"Amin," ucap semua orang.
"Minum Sarah!" sang ibu menyodorkan teh manis yang diambilnya dari atas meja.
"Ibu!" Sarah hanya menatap ibunya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Kamu pasti bermimpi buruk ya, Nak?" tanya sang ibu dan Sarah langsung mengangguk walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya tadi adalah sebuah mimpi ataukah bukan. Namun, memang terasa seperti mimpi dalam ingatan Sarah.
"Sudah minum dulu!" perintah sang ibu lagi.
"Mana Bu!" Gala yang meraih gelas di tangan mertuanya karena melihat tubuh Sarah yang masih bergetar.
"Minum dulu! seru Gala sambil mendekatkan gelas di bibir istrinya dan Sarah langsung meneguk teh manis yang masih terasa hangat di tenggorokannya itu.
Wanita itu sedikit merasa lebih tenang dan lega.
"Ada yang mau membantu saya tidak?" tanya Gala karena tidak terlihat satu pembantu pun di kamarnya saat ini.
"Katakan saja Mas!" perintah Mentari.
"Tolong ambilkan Sarah makanan ya, Ca!"
Mentari mengangguk dan langsung melangkah keluar kamar.
"Sayang!" sapa Sarah pada putranya yang kini anteng dalam gendongan Arumi. Mata Gaffi tampak menatap Sarah dengan tenang lalu tersenyum.
"Kau tahu? Dia sedari tadi menangis terus, mungkin dia tahu kamu sedang bermimpi buruk. Jadi, sebisa mungkin dia menangis kencang agar kamu segera sadar dari pingsanmu," terang Gala.
"Oh ya, Mas?"
Gala mengangguk.
"Kau pintar sekali Sayang, sini minum Asi dulu, kau pasti sudah sangat lapar!" Sarah meminta Gaffi dari gendongan Arumi.
__ADS_1
"Kalau begitu kami keluar dulu," pamit Kiki dan semua orang mengangguk pertanda mereka juga ingin pamit keluar.
"Bersenang-senanglah di luar Ki, nikmati hidangan yang masih ada. Maaf saya tidak bisa menemani kalian semua," ujar Gala merasa tidak enak pada semua orang. Seharusnya ini hari bahagia dan mereka semua berpesta. Namun, keadaan Sarah tidak memungkinkan untuk Gala ikut bersama yang lainnya ke luar.
"Bin, temani mereka semua ya!" pinta Gala pada Bintang untuk mewakilkannya dirinya.
"Baik Gala," sahut Bintang sambil mengangguk.
"Ayo semua kita keluar!" ajak Bintang.
Kini di dalam kamar menyisakan ibu mertua Gala dan Arumi, tentunya selain Gala dan Sarah sendiri, juga bayinya.
Sarah terlihat fokus menyusui Gaffi saat Mentari datang memberikan makanan pada Sarah.
"Ini Mas, kalau Sarah ingin pesan makanan yang lain, katakan saja biar nanti aku carikan." Mentari meletakkan pirang di samping Sarah duduk.
"Tidak usah Kak, ini sudah lebih dari cukup," jawab Sarah dan Mentari mengangguk.
"Kau juga makan ya Sarah," ucap Gala ketika Mentari meletakkan piring di samping mereka.
"Nanti saja Mas," tolak Sarah. Dia tidak ingin makan sebelum menyelesaikan tugasnya dulu menyusui Gaffi.
"Jangan ditunda-tunda, kata dokter kamu pingsan karena sering terlambat makan. Makan ya biar aku suapi! Kamu tidak begitu sehat saat ini dan harus menyusui Gaffi juga, memangnya yakin Gaffi akan mendapatkan ASI terbaik jika kondisimu dalam keadaan kelaparan? Makan sekarang ya," bujuk Gala dan Sarah akhirnya mengangguk setuju.
"Maafkan aku ya Mas, sudah merepotkan dan membuat Mas Gala khawatir tadi, maafkan aku juga belum bisa menjadi ibu terbaik untuk putra kita, Gaffi. Sarah akui sering menunda makan karena terlalu asyik dengan putra kita dan sering langsung tertidur tanpa makan terlebih dahulu padahal si bibi sudah mewanti-wanti agar Sarah banyak makan, bahkan sampai mengantarkan makanan ke kamar juga. Namun, Sarah malah mengabaikan makanan itu karena semakin menunda waktu makan semakin tidak berselera."
"Tidak apa-apa Sarah, aku tidak repot kok hanya saja mulai sekarang perbaiki pola makanmu!Itu bukan hanya demi kesehatan tubuhmu sendiri, tetapi juga menyangkut kesehatan bayi kita. Aku tidak bisa selamanya berada di sisimu, jadi tidak bisa mengingatkan setiap waktu. Makanlah setiap kali kamu merasa lapar dan jangan diet-diet seperti dulu sebab Gaffi hanya mengandalkan ASI sebagai sumber makanan kecuali kamu mengizinkan bayimu diberikan susu formula," nasehat Gala panjang lebar.
"Sudah buka mulutmu!" perintah Gala dan Sarah pun tidak menolak, dia langsung membuka mulut dan Gala langsung menyuapi Sarah.
"Kalau begitu bibi keluar juga ya," pamit Arumi sebab dirinya ingin bergabung dengan semua orang di luar.
"Nak Meme nggak ikut keluar?" tanya Arumi sebelum melangkah ke luar kamar.
"Tidak Ma saya mau menemani Sarah dulu sebentar, mumpung Izzam anteng dalam gendongan opanya," tolak Mentari.
"Ya sudah kalau begitu biarkan saja putramu dengan ayah mertuamu sebab jarang-jarang kan dia menemui cucunya," ujar Arumi.
"Mama ada-ada saja. Nanti Meme menyusul ke lantai bawah."
"Baik, saya duluan ya!"
"Iya Ma."
Setelah Arumi pergi, di dalam kamar tidak ada yang bersuara, baik Mentari maupun mertua perempuannya fokus menatap Gaffi yang menyusu dengan lahap bergantian dengan Sarah yang juga lahap saat disuapi oleh Gala. Sarah terlihat kelaparan seperti orang yang baru saja kehilangan banyak tenaga.
"Sepertinya mamimu sudah mulai manja ya. Jangan-jangan dia akan punya kebiasaan baru, tidak akan makan kalau tidak disuapi papi," kelakar Gala lalu terkekeh.
"Ah Mas Gala gitu amat, sini biar aku makan sendiri!" Sarah merebut sendok dari tangan Gala.
__ADS_1
"Nggak usah Sarah, tuh pegang bayimu saja. Entar jatuh kalau kamu fokus menyendok makanan."
"Mana ada Mas, kalau perempuan itu tidak hanya bisa fokus dalam satu pekerjaan."
"Sudahlah selesaikan makanmu dulu!" Gala terus menyuapi Sarah sampai nasi dan lauk pauk yang ada di piring tandas semua.
"Kalau boleh tahu kamu mimpi apa sih tadi?" tanya Gala tatkala Sarah sudah menyelesaikan makannya sambil menyodorkan segelas air putih pada Sarah. Gala melihat Sarah sudah lebih tenang sehingga berani bertanya.
Sarah tidak menjawab, tetapi malah menatap ragu wajah Gala.
"Minumlah! Kalau kamu tidak ingin bercerita sekarang juga nggak apa-apa. Lain kali saja," ucap Gala karena mungkin saja Sarah tidak mau mengingat hal yang terjadi dalam pingsannya tadi yang bisa saja menakutkan dalam benak Sarah.
"Gaffi sudah tidur, saya letakkan dalam box bayinya dulu." Gala mengambil putranya dalam pangkuan Sarah lalu membawanya ke kamar sebelah.
Setelah meletakkan bayinya Gala kembali ke sisi Sarah.
"Mas!"
"Ya, ada apa?"
Sarah menghela nafas panjang sebelum akhirnya bercerita.
"Sebenernya Sarah tadi bertemu Kak Alzam." Sontak saja sang ibu dan Mentari langsung menatap wajah Sarah.
"Kau tidak bercanda kan Sarah?" Mentari begitu antusias ingin mendengarkan cerita Sarah itu mendengar nama sang suami disebut-sebut.
Sarah mengangguk.
"Bagaimana kehidupan Abi di sana?" tanya Mentari lagi begitu penasaran.
"Hah, aku tidak tahu bagaimana caranya menggambarkan kehidupan dunia lain," ucap Sarah.
"Yang jelas aku masih suka hidup di dunia ini. Kau tahu tidak Kak, Kak Alzam membawaku ke tempat yang rasanya sangat-sangat jauh menurutku dari tempat awal aku berdiri saat di awal-awal pingsanku." Sarah menjeda ucapannya sebentar.
"Kak Alzam memintaku untuk tinggal bersamanya di sebuah rumah yang terlihat seperti istana. Namun terlihat sepi. Awalnya aku hampir mengiyakan, tetapi aku langsung mendengar tangisan Gaffi yang begitu kencang. Aku langsung teringat bahwa itu bukanlah duniaku. Aku menolak keinginan Kak Alzam.
Kak Alzam tidak marah dan menyuruhku segera pergi. Namun, di tengah perjalanan aku dihadang oleh dua orang pria yang bertubuh kokoh, tetapi dipundaknya memukul beban besi dengan bara api yang menyala.
Kedua orang itu hendak memukulkan besi itu padaku sehingga aku berlari sekuat tenaga. Aku berlari begitu lama. Serasa berlari ribuan kilometer, nafasku tersengal-sengal dan tubuh hampir oleng.
Kedua pria itu tetap mengejar hingga akhirnya aku tertangkap. Untung saja Kak Alzam segera datang dan menolongku.
Entah apa yang dibacakan Kak Alzam sehingga saat itu aku melihat bara api di besi pria itu membakar seluruh tubuh kedua pria tersebut.
"Kau tidak tahu arah pulang, kak akan tersesat jika memaksakan diri. Lebih baik ikut denganku saja!" ajak Kak Alzam lalu tersenyum begitu manis, tapi entah kenapa aku malah takut.
"Tidak Kak, Sarah harus kembali pada Gaffi," tolakku dan akhirnya aku sadar aku sudah berada du dalam kamar ini dan dikelilingi oleh orang-orang." Sarah mengakhiri ceritanya.
"Kenapa Abi datang padamu Sarah, kenapa dia tidak mengajakku saja?" tanya Mentari dengan mata yang berkaca-kaca membuat ketiga orang dewasa yang anda dalam kamar itu mengernyit karena tidak mengerti dengan pemikiran Mentari.
__ADS_1
Bersambung.