
"Kau pulang Nak? Ada apa? Kenapa wajahmu tampak tidak bersemangat? Kenapa Katrina tidak dibawa?" sapa mama Arumi saat melihat kedatangan Bintang.
"Sengaja tidak aku bawa Ma, malas berdebat dengan papa."
Mama Arumi mengangguk paham. "Mandilah dulu biar Mama menyuruh bik Jum agar menyiapkan makan."
Bintang mengangguk dan langsung naik ke atas. Sampai di atas dia kembali lagi ketika ingat kunci kamar dia titipkan pada Bik Jum.
"Kok kembali? Ada yang ketinggalan?" tanya Arumi heran putranya berbalik arah dan turun kembali.
"Lupa, kunci kamarku kan aku titipkan sama bik Jum Ma."
"Oh iya ya, bik Jum ada di dapur," beritahu Arumi keberadaan pembantunya sekarang.
Tanpa menjawab atau menimpali perkataan mamanya, Bintang langsung bergegas ke dapur. Tanpa diberitahu pun Bintang tahu harus kemana mencari bibi yang satu itu.
"Eh Den Bintang, apa kabar Den?" tanya Bik Jum basa-basi saat melihat anak majikannya itu berdiri di depan pintu dapur.
"Baik Bik, kunci kamarku mana?"
"Oh sebentar Den." Bik Jum mencuci tangannya lalu mengeringkan dengan lap yang tergantung di dinding.
"Sebentar bibi ambil dulu."
Bintang mengangguk sedangkan Bik Jum langsung bergegas menuju kamarnya sendiri. Sampai di dalam kamar dia menarik laci lemarinya dan mengambil kunci yang diminta oleh Bintang.
"Untung sebelum keluar dari rumah ini Non Mentari memberikan kunci kamarnya padaku, kalau tidak aku pasti kena marah oleh Den Bintang." Bergumam sendiri lalu bergegas kembali ke dapur.
"Ini Den kunci kamarnya." Bik Jum menyerahkan kunci tersebut ke tangan Bintang.
"Sudah dibersihkan kan Bik?"
"Oh sudah Den, setiap hari selalu bibi bersihkan kok malah kadang sampai tiga kali dalam sehari seperti minum obat." Bik Jum terkekeh sedang Bintang hanya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah Bik, Bintang ke kamar dulu ya, terima kasih telah merawat kamar Bintang," ucap Bintang sambil berlalu pergi ke kamarnya.
Dirasa lelah untuk berjalan naik ke atas tangga, Bintang naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift.
__ADS_1
Sampai di dalam Bintang mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia menghidupkan kran air panas dan kran air dingin sekaligus agar memperoleh guyuran air hangat.
Segar, rasanya begitu segar ditubuh Bintang. Dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah fresh bahkan pikirannya sudah sedikit lebih tenang.
Bintang beranjak menuju walk in closet untuk mencari baju ganti. Ia terbelalak melihat ada begitu banyak baju perempuan di kamarnya. Bintang meraih satu dan memeriksa dengan teliti.
"Ini, kan baju Mentari?"
Bintang meraih baju yang lain untuk memastikan. Ternyata benar, ada banyak baju Mentari di tempat itu.
"Rupanya kau ada di sini." Bintang tersenyum senang. Jauh-jauh dia Mencari Mentari ternyata istrinya itu ada di rumahnya sendiri. Bintang memijit pelipisnya lalu tertawa, tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh.
Bintang menciumi baju Mentari sebelum meletakkan kembali ke tempatnya semula. Rasanya dia begitu merindukan istrinya itu meski baru beberapa hari tidak bertemu.
Pria itu lalu menarik pakaiannya sendiri dan mengganti handuk dengan pakaian rumahan. Setelah selesai dia menyisir rambutnya sambil bersiul-siul ria. Selepas itu Bintang turun ke lantai bawah, menghampiri Arumi yang sudah siap di meja makan.
"Wah anak Mama sudah ceria sekarang padahal tadi sebelum mandi terlihat kusut banget seperti baju yang lama tidak disetrika," goda Mama Arumi.
Bintang hanya menimpali perkataan Arumi dengan senyuman.
"Iya ayo, mau mama ambilkan?"
"Tidak usah Ma, Bintang bisa. ambil sendiri," ucap Bintang sambil mengambil centong dan menaruh nasi ke piring kemudian mengambil beberapa lauk dan sayurannya.
"Oke." Arumi pun mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka lalu makan bersama.
"Bagaimana kerjaanmu di kantor?" Disela-sela mengunyah makanan Arumi bertanya.
"Tidak ada masalah Ma, semua pekerjaan bisa Bintang tangani semua. Cuma itu loh yang Bintang tidak suka Gala ...."
"Kenapa dengan Gala? Apa dia memarahi mu?"
"Bukan marah Ma tapi sering seenaknya melimpahkan semua tugas padaku dengan alasan Paman Tama," tutur Bintang.
"Mas Tama kenapa lagi?" tanya Arumi penasaran.
"Nggak tahu Ma beliau sering bikin ulah, sering kabur dari rumah kata Gala. Terkadang ngamuk-ngamuk kalau ingat tante Rosa," jelas Bintang.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti mengapa pamanmu itu masih belum juga bisa melupakan Rosa, apa istimewanya perempuan itu sih hingga semua orang seolah tertarik padanya?"
Arumi mengingat bahkan sebelum menikah dengannya, suaminya -Tuan Winata- pun juga menyukai wanita itu. Makanya Arumi tidak menyukai Mentari karena melihat ada kemiripan di wajah Mentari dengan Rosa. Dia pikir Tuan Winata menjodohkan Bintang dengan Mentari karena berpikir suaminya itu masih belum bisa melupakan dan memiliki rasa pada Rosa, meski wanita itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Namun, tidak dapat dipungkiri kadang Arumi kasihan melihat Mentari meninggalkan dirinya setelah Arumi menghina perempuan itu. Seharusnya dia tidak melibatkan Mentari dalam masa lalunya.
Bagaimanapun dia juga perempuan, dia tahu pasti Mentari akan merasa sedih mendapatkan perlakuan tidak enak dari mertuanya. Sayangnya, saat melihat Mentari di hadapannya selalu saja timbul kesal dalam hatinya.
Ah mengapa begitu sulit menghapus kenangan itu dalam memori otakku.
"Mungkin itulah yang dinamakan cinta sejati Ma, seperti cinta Bintang untuk Katrina. Sekeras apapun papa menolak dia, nyatanya di hati Bintang tetap tidak dapat menolak kehadirannya." Meskipun di hati Bintang juga ada nama lain yaitu Mentari, tetapi Bintang tidak dapat memilih diantara keduanya.
Mungkin benar apa yang dikatakan Bintang, tapi Arumi benci kala mengingat suaminya pernah mencintai Rosa. Dalam hati takut Rosa adalah cinta sejati suaminya juga.
"Sudahlah Ma, kita makan saja. Nanti kita bisa melanjutkan pembicaraan setelah selesai makan."
Arumi pun mengangguk, mereka berdua menyantap menu makan malamnya tanpa ada yang bicara lagi. Arumi berhenti makan terlebih dahulu.
"Mama sudah berhenti?" tanya Bintang heran padahal mamanya hanya makan sedikit, tetapi sudah berhenti duluan.
"Mama tidak boleh makan sampai kenyang, nanti harus menemani papa kamu makan malam. Tahu sendiri kan sikap papa kamu? Kalau makan yang nemani juga harus makan."
Bintang mengangguk paham, dari dulu papanya memang tidak pernah berubah.
"Papa belum pulang juga? Ini sudah jam berapa?" tanya Bintang setelah melihat jam di arloji tangannya.
"Biasa, papa kamu memang sering begitu. Suka menyelesaikan pekerjaan di kantor. Dia malas membawa pekerjaan pulang ke rumah."
"Ya sudah ya Ma, Bintang kembali ke kamar saja mau istirahat, capek. Apa Mama masih ada yang mau dibicarakan dengan Bintang?"
"Tidak ada. Ya sudah sana istirahat."
Bintang bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan. Sampai di ruang tamu dia melihat ke arah luar, berharap Mentari sudah pulang dari pekerjaannya.
"Apa dia lembur lagi karena sudah tidak tinggal bersamaku?" Bergumam sendiri lalu memutuskan untuk pergi dari ruang tamu menuju kamar untuk beristirahat.
Bersambung.
__ADS_1