HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 64. Sikap Yang Berubah


__ADS_3

Esok hari Bintang terbangun dengan keadaan rambut yang acak-acakan bahkan bukan cuma rambut saja baju dan wajahnya pun tak kalah kusut.


"Ah, hari ini harus kerja lagi. Kerja, kerja, dan kerja terus, tetapi tetap belum bisa kaya." Bintang lupa kalau dia bisa menurut pada papanya dia akan punya segalanya.


Namun, kini dia harus bekerja keras sendiri karena Tuan Winata memang benar-benar melepasnya. Padahal dia punya dua orang istri yang yang harus dinafkahi.


"Ah papa tega banget, keluarga Mentari saja dijamin biaya hidupnya, padaku dia sama sekali tidak perduli sekarang."


Bintang masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Barangkali setelah mandi tubuh dan pikirannya akan kembali fresh. Apalagi semalam dia lupa mandi dan langsung tidur setelah marah-marah. Tubuhnya terasa gatal-gatal pagi ini.


Selesai mandi Bintang mencari pakaiannya. Dia mendesah kesal, Katrina tidak menyiapkan pakaian yang harus dipakai ke kantor pagi ini. Kalau saja ada Mentari semua pasti sudah siap di atas ranjang.


Selesai memakai pakaiannya Bintang beranjak ke meja makan. Menyingkap tudung saji yang isinya masih menu kemarin pagi, menu yang sempat Mentari masak sebelum meninggalkan apartemen.


Bintang mencium aroma masakan itu, dia mengerutkan hidungnya karena masakan itu sudah basi.


"Apa yang Katrina lakukan seharian kemarin? Kenapa tidak membuang makanan ini dan mencuci semua peralatan makan?" Bintang bertanya pada diri sendiri.


Bintang berjalan ke dapur memeriksa mungkin saja Katrina masih memasak dan belum sempat dihidangkan di atas meja makan. Tidak apa Bintang akan membantunya untuk membawa makanan itu ke meja makan sebab pergerakan tubuh Katrina sudah tidak bisa bebas seperti dulu lagi akibat kehamilannya yang semakin membesar. Apalagi ditambah lengannya yang masih terluka.


Sampai di dapur Bintang terlihat kecewa. Kenyataan tidak sesuai dengan pemikirannya. Katrina tidak ada di dapur. Namun, tetap saja dia memeriksa mungkin saja ada makanan di sana. Barangkali setelah selesai memasak Katrina bergegas ke kamar mandi karena pagi ini akan bekerja.


"Ah tidak ada." Bintang melempar sendok sembarangan. Dia benar-benar merasa stres dengan keadaannya sendiri.


Penasaran dengan apa yang dilakukan Katrina hingga sampai pagi seperti ini belum ada satupun makanan yang tersedia. Bintang memeriksa Katrina di kamarnya.


Bintang membuka pintu kamar Katrina. Wajahnya terlihat kaget. "Ya ampun dia masih saja tidur. Sudah jam berapa ini?"


Dengan tergesa-gesa Bintang menghampiri Katrina dan mengguncang tubuh Katrina.


"Kate! Bangun Kate!"


"Eugh." Katrina hanya melenguh kemudian tidur lagi.


"Kate bangun!" Bintang terus membangunkan Katrina dengan cara mengguncang-guncang tubuhnya.

__ADS_1


"Aku capek Bin, aku belum puas tidur. Semalam kamu marah-marah sih jadi aku nggak bisa tidur semalaman." Katrina berbicara masih dengan mata terpejam.


"Kate bangun! Sekarang kamu harus masuk kerja, kalau tidak siap-siap dipecat oleh Pak Gala."


Mendengar kata dipecat Katrina langsung bangkit dan duduk.


"Ini masih jam berapa," protes Katrina sambil memandang jam weker di atas meja dekat ranjang.


"Masih jam 6," imbuhnya.


"Siapkan sarapan! Aku mau makan, semalam aku sudah lupa makan."


"Kenapa harus menunggu aku sih Bin, kamu kan bisa pesan online?"


"Apa gunanya punya istri kalau setiap makan harus pesan online terus," protes Bintang.


"Ckk, nggak biasanya kamu protes seperti ini. Bukankah sudah biasa ya kita pesan online saat kita makan?"


"Itu dulu sekarang kau harus bisa memasak sendiri. Keuangan kita menipis Kate. Apalagi kita juga harus punya tabungan untuk biaya lahiran anak kita nanti."


"Masih lama Bin, masih beberapa bulan lagi," ujar Katrina tidak perduli.


"Tapi kamu yang bayar ya? Uangku hampir habis."


"Ya ampun Kate aku tidak mengerti denganmu. Aku minta mulai sekarang kamu jangan boros-boros lagi. Aku sebenarnya bingung denganmu Kate, dikemanakan uangku selama ini padahal kamu kan juga kerja."


"Ya habis lah Bin buat beli baju, skincare, dan tas-tas branded. Emang kamu nggak malu apa kalau penampilanku jelek kayak si wanita kampung itu. Kamu itu asisten dan aku sekretaris harus berpenampilan terbaik apalagi anakmu ini permintaannya macam-macam. Ngidam ini lah ngidam itu lah. Mau anak kita ileran nanti?" sarkas Katrina tanpa rasa bersalah.


Bintang menggeleng, bingung harus berkata apa lagi pada istrinya ini.


"Sudahlah aku mau mandi," ujar Katrina sambil melangkah ke arah kamar mandi dengan menggerutu.


"Lagian kalau tidak mampu beristri dua kenapa dipaksakan? Tinggal cerai saja si Mentari beres. Keuangan akan cukup karena tidak harus dibagi dua."


Mendengar perkataan Katrina Bintang menjadi kesal. Padahal jatah Katrina sudah jauh lebih besar daripada jatah bulanan Mentari. Pria itu pergi dari apartemen tanpa menunggu Katrina terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah keluar dari gedung apartemen Bintang tidak langsung melajukan mobilnya ke perusahaan Gala, melainkan


terlebih dahulu berhenti di depan restoran dan masuk ke dalam untuk memesan makanan yang akan ia bawa ke kantor.


Sampai di kantor ternyata Gala memang benar-benar tidak masuk kerja. Dalam hati Bintang berharap agar Gala bukan tidak masuk kerja melainkan hanya telat saja. Dia tidak mau bekerja sendirian di saat hatinya masih gelisah seperti itu.


Bintang melirik jam, ternyata masih ada waktu untuk dirinya sarapan. Bintang lalu membuka bungkusan makanan dan melahap makanan yang tadi ia pesan di restoran.


Beberapa saat Katrina datang dengan sedikit berlari-lari ke arahnya.


Bintang hanya melirik dengan ekor matanya. Sebenarnya dia ngilu melihat perut Katrina yang buncit itu dibawa berlari. Namun, biarlah dia masih kesal pada istrinya itu.


"Bin punyaku mana?" tanya Katrina saat mendekati Bintang. Ia lalu duduk di samping Bintang.


"Apanya?" tanya Bintang tidak mengerti.


"Sarapanku," ucap Katrina sambil menatap makanan yang sedang dilahap oleh Bintang. Wanita itu terlihat menelan ludah.


"Kau pesan saja di kantin bawah sana. Aku hanya membeli satu bungkus saja tadi."


Katrina cemberut, Bintang benar-benar sudah berubah sekarang.


"Ya sudah deh aku tidak usah sarapan saja," ketusnya.


Bintang mendesah kasar melihat istrinya itu yang masih saja bersikap manja padahal sebentar lagi dia akan memiliki seorang anak.


"Ya sudah ini kamu yang makan saja." Bintang menggeser makanannya ke depan Katrina dan dirinya langsung bangkit berdiri dan pergi dari hadapan wanita itu.


Katrina menatap nanar kepergian Bintang.


"Bintang benar-benar sudah berubah," gumamnya seorang diri.


Bintang bergegas turun ke kantin untuk memesan makanan sebelum jam kerja dimulai. Dia tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi karyawan karena tidak bisa disiplin waktu.


Bintang berharap dalam hati

__ADS_1


masakan yang menjadi menu di kantin sudah masak saat pagi seperti ini, karena perutnya sudah benar-benar lapar, dan dia tidak mungkin keluar lagi dari perusahaan hanya karena ingin makan. Menyuruh karyawan untuk membeli makan pun sekarang dia rasanya malas.


Bersambung.


__ADS_2