HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 73. Memata-matai Tuan Winata(1)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bintang sudah terbangun dari tidurnya bahkan mendahului dari ayam yang biasanya berkokok lebih awal.


Ayam jago peliharaan Tuan Winata saja masih pada tidur semua, Bintang sudah bangun terlebih dahulu.


Demi apa Bintang melakukan itu? Tentunya demi untuk bertemu Mentari. Sengaja Bintang bangun lebih awal untuk memata-matai sang papa. Ya sebelum Tuan Winata terbangun dari tidurnya. Bintang sudah harus bersiap terlebih dahulu agar nanti tidak kehilangan jejak.


Bintang masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri dengan air hangat karena cuaca di luar masih cukup dingin untuk tubuhnya.


Setelah mandi dia langsung memakai pakaian kerjanya agar nanti ketika sukses mengikuti papanya ke tempat tinggal terbaru Mentari, Bintang bisa langsung pergi bekerja ke kantor. Dia tidak mau Gala protes nantinya kalau sampai datang terlambat.


Siap dengan pakaiannya Bintang langsung turun ke dapur. Nampak bik Jum dan beberapa pembantu bagian dapur masih berkutat dengan bahan-bahan yang ingin dimasak.


Karena melihat Bintang berdiri di pintu, pembantu yang ada di dapur saling senggol.


"Apa sih, aku sibuk ini, kenapa malah main senggol-senggolan?" protes salah satu temannya.


"Ini jam berapa sih? Ini bukannya belum subuh ya, kenapa Den Bintang sudah ada di sini? Apa jam di kamarku tidak cocok ya?" bisik pembantu yang menyinggol temannya tadi.


Pembantu yang disenggol menoleh dan memang melihat Bintang sudah berdiri di depan pintu.


"Ada yang bisa kami bantu Den? Mohon maaf sarapan belum masak ini," ketir pembantu tadi dan langsung menyingkap gorden dapur yang mengarah ke lingkungan luar. Dia sangat khawatir kalau masakan belum ada yang matang saat penghuni rumah sudah ingin makan dan jam yang sudah ditentukan oleh nyonya rumah sudah terlewat, alhasil semua akan kena semprot oleh Arumi.


"Masih gelap," batin pembantu tadi. Dia bernafas lega. Berarti bukan mereka yang bangun kesiangan melainkan Bintang yang terlalu awal bangun.


"Buatkan sandwich aja bik buatku!" perintah Bintang. Setelah mengatakan itu Bintang kembali pergi. Laki-laki itu berjalan menuju ruang keluarga dan memilih duduk di sana.


Pembantu di dapur pun ada yang beralih membuatkan pesanan Bintang sedangkan yang lain memilih melanjutkan pekerjaannya membuat menu yang sudah menjadi daftar makanan dari nyonya rumah.


Beberapa saat kemudian pesanan bintang pun selesai dibuat. Salah satu pembantu itu bertanya pada Bik Jum apakah akan meletakkan makanan pesanan Bintang itu di meja makan atau akan mengantarnya langsung ke kamar anak majikannya itu.


"Biar saya tanyakan dulu pada Den Bintang," ucap Bik Jum lalu meninggalkan dapur dan rekan-rekannya menuju kamar Bintang.


Namun, ketika hendak menaiki tangga Bik Jum melihat Bintang sedang bekerja di depan laptopnya di ruang keluarga.


"Den, sandwich-nya sudah selesai dibuat Den. Mau ditaruh dimana, di meja makan, di kamar Den Bintang atau akan bibi bawa ke sini saja?"


"Ke sini saja Bik," sahut Bintang tanpa menoleh. Dia menjawab sambil terus mengetik di laptop.


"Baiklah Den akan bibi ambil." Setelah mengatakan itu bibi berlalu pergi.


"Eh Bik Jum, tunggu!" panggil Bintang sebelum bik Jum hilang dari pandangan.


"Iya Den, ada apa?" Bik Jum kembali ke dekat Bintang.


"Sekalian bawakan kopi panas ya, seperti biasa gulanya sedikit saja."

__ADS_1


"Iya Den." Bik Jum hendak melanjutkan langkahnya kembali.


"Eh Bik!"


Bik Jum urung lagi untuk melangkah.


"Iya Den?"


"Kalau papa keluar beritahu Bintang ya barangkali Bintang tidak melihat."


"Oke siap Den."


"Baik Bik Jum boleh pergi."


"Terima kasih Den." Bik Jum pun berlalu pergi tanpa ditahan lagi oleh Bintang. Beberapa saat kemudian kembali dengan sandwich dan segelas kopi panas di atas nampan.


"Silahkan dinikmati Den," ujar Bik Jum setelah meletakkan sandwich dan kopi di atas meja.


"Papa belum bangun Bik?" tanya Bintang penasaran. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 5, tetapi papanya belum terlihat juga batang hidungnya.


"Belum Den, Nyonya juga belum bangun." Bintang heran mendengar jawaban dari Bik Jum.


"Apa memang akhir-akhir ini mereka bangunnya lebih siangan ya Bik Jum?"


"Biasanya tidak sih Den. Biasanya jam 4 mereka sudah bangun, tetapi tidak tahu yang sekarang kok lebih lambat."


"Tidak kok Den pasti bibi ingat," ucap Bik Jum begitu bersemangat meskipun tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Bintang ketika melihat papanya pergi.


"Bagus bibi memang bisa diandalkan," ucap Bintang terlihat bangga si bibik bisa dimintai tolong meskipun bukan tugasnya.


Bik Jum mengernyit dia bingung Bintang mengatakan dirinya bisa diandalkan. Memang dirinya melakukan apa? Bik Jum kan hanya melakukan tugas seperti biasa, memasak dan juga membersihkan kamar Bintang saja.


"Ah sudah ya Den saya harus kembali ke dapur." Bintang mengangguk dan Bik Jum langsung meninggalkan Bintang sendirian untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda dengan tanda tanya yang besar dalam hati. Bik Jum merasa curiga Bintang ingin memata-matai sang papa.


Cukup lama Bintang menunggu papanya turun. Hingga jam 6 pagi barulah Tuan Winara turun dari kamarnya diikuti sang istri dibelakangnya. Mereka langsung berjalan ke arah meja makan untuk sarapan pagi.


"Bintang sudah pergi Bik?" tanya Tuan Winata kepada Bik Jum. Sebenarnya dari tadi dia melihat Bintang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Namun, Tuan Winata kembali ke kamar dan berniat akan keluar ketika Bintang sudah pergi dari rumah saja.


Sekarang dia pikir Bintang sudah pergi. Makanya dia sudah keluar karena dia ada keinginan untuk mengambil baju-baju Mentari dulu setelah makan dan akan mengantarnya ke rumah Gala sebelum pergi ke kantor


"Belum Tuan, Den Bintang masih berkutat dengan laptopnya," sahut Bik Jum.


"Oh belum pergi rupanya," batin Tuan Winata.


Sudahlah daripada repot mendingan Mentari kusuruh beli baju baru saja.

__ADS_1


"Panggi dia Bik, katakan sekarang waktunya makan!"


"Den Bintang sudah sarapan sandwich tadi Nya, katanya dia tidak mau sarapan lagi."


"Oh begitu ya Bik. Ya sudah bibik bisa beristirahat."


"Iya Nya, bibik pamit pergi ya."


Tuan Winata dan Arumi sama-sama mengangguk.


"Kasihan Bintang Pa, sepertinya sibuk banget hingga pagi-pagi sudah berkutat dengan pekerjaannya," ucap Arumi sambil mengambilkan nasi dan beberapa lauk kesukaan suaminya.


"Biarkan saja Ma suruh siapa menikahi wanita itu."


"Tapi Pa dia bekerja keras karena sebentar lagi Katrina akan lahiran. Kasihan dia Pa pasti butuh banyak uang untuk biaya lahiran cucu kita."


"Dia itu cucu Mama bukan cucu papa. Kalau anak yang lahir dari perut Mentari nanti itu baru cucu papa dan anak itulah yang akan mewariskan perusahaan dan aset-aset milik papa lainnya. Jadi mama berbaiklah dengan Mentari," tekan Tuan Winata tak ingin terbantahkan.


"Pa ...."


"Sudah makan saja papa tidak ingin berdebat!"


"Apa sih yang membuat papa menyukai wanita itu? Apa sih istimewanya si Mentari sampai-sampai cucu sendiri tidak papa anggap dan masih menunggu bayi dari perut wanita itu yang masih belum jelas ada? Apa karena wajahnya mirip dengan Rosa sehingga papa sangat menyayanginya? Ternyata papa masih mencintai dia ya. Jadi mama hanya pelarian bagi papa," berondol Arumi, dia berbicara dengan suara yang lantang hingga membuat Bintang yang ada di ruang keluarga mendengar.


Bintang menutup laptopnya dan bangkit berdiri. Berjalan lebih mendekat agar bisa mendengar lebih jelas perdebatan keduanya.


Arumi terlihat kesal pada Tuan Winata. Wajahnya terlihat marah bercampur sedih


"Apa maksud Mama? Bagaimana bisa mama cemburu kepada wanita yang bahkan telah tiada?" Tuan Winata meraup wajahnya kasar. Bagaimana mungkin istrinya bisa berpikiran seperti itu. Kenapa pula pembicaraan yang tadi merambat ke masa lalu yang sudah dia lupakan.


"Aku tahu papa masih belum bisa melupakan Rosa, itu mengapa papa membawa Mentari ke rumah ini." Pembicaraan Arumi semakin melantur membuat Tuan Winata Bingung dengan pemikiran istrinya.


"Itu tidak seperti yang kau bayangkan Ma. Kau salah paham."


"Iya aku salah paham, selalu saja salah paham. Saat aku menemukan kalian berdua dalam satu kamar dan tidur seranjang pun aku salah paham. Mama memang selalu salah. Salahkah aku, jika sampai saat ini masih membencinya?"


Bintang menganga mendengar pengakuan Arumi. Jadi itulah alasan mengapa mamanya lebih mendukukung Katrina dibandingkan Mentari yang menjadi istrinya berbanding terbalik dengan sang papa.


Apakah yang dikatakan Arumi itu semua benar? Sekotor itukah papanya? Benarkah berselingkuh dengan ipar sendiri? Bintang pusing dibuatnya. Kalau memang demikian mengapa papanya menentang hubungan dirinya dengan Katrina padahal hubungan mereka sudah sah sebagai suami istri. Ataukah memang benar yang dikatakan mamanya bahwa papanya ingin dekat dengan Mentari karena wajah perempuan itu mirip dengan bibinya. Namun, Mengapa Bintang sendiri tidak bisa melihat kemiripan itu? Bagi Bintang Rosa dan Mentari tidak ada mirip-miripnya, berbeda dengan pandangan yang lainnya.


"Sudah berapa kali kujelaskan padamu Arumi. Semua itu tidak benar. Semua itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rosa. Sejak aku menikahimu aku sudah melupakan perasaanku padanya bahkan jauh sebelum itu," jelas Tuan Winata.


Arumi menggeleng tidak percaya. Kejadian beberapa tahun yang lalu baginya cukup untuk membuat dirinya paham dengan keadaan. Namun, bagaimanapun sakit yang dirasakan hatinya saat itu Arumi tidak akan bisa jauh dari Tuan Winata. Wanita ini begitu sangat mencintai laki-laki ini. Cinta yang terlalu posesif sehingga dia tidak mau ada wanita lain yang dekat dengan suaminya itu.


Tuan Winata pun selalu menjaga dirinya agar tidak membuat istrinya cemburu dengan tidak cara tidak terlalu dekat dengan perempuan manapun bahkan dengan teman dan kliennya pun dia tidak mau jika harus berbicara berdua. Harus ada asisten atau orang lain yang ikut nimbrung bersama.

__ADS_1


Namun, nyatanya yang membuat Arumi cemburu adalah dari masa lalunya padahal Tuan Winata baru sadar bahwa Mentari memang mirip dengan Rosa. Pantas saja saat pertama kali menemui Mentari Tuan Winata merasa pernah melihat Mentari.


Bersambung


__ADS_2