HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 58. Mencari Bukti (1)


__ADS_3

"Kamu yakin Nak Me mereka akan menginap di rumah kita?" tanya Warni setelah kembali dari luar usai mengantar Tama dan Gala pada Pak RT dan ketiganya sudah pergi dari rumah sakit.


"Yakin Bu, memangnya kenapa?" Mentari mengernyit mengapa ibunya kini menjadi ragu. Bukankah saat memberikan kunci rumahnya tadi kepada Gala, Warni tidak begitu berpikir panjang.


"Ah, tidak apa-apa sih cuma ...." Warni tidak melanjutkan ucapannya. Dia tidak mungkin mengatakan mencurigai Tama sebagai orang jahat di depan Mentari karena mengingat kedua orang itu adalah kerabat dari Bintang, menantunya. Dia juga tidak ingin Mentari berpikiran lebih jauh, atau bahkan timbul kecurigaan di hati anak perempuannya itu.


Yang dikhawatirkan Warni sekarang adalah takut Tama dan Gala masuk ke semua kamar yang ada di rumahnya dan mengetahui siapa sebenarnya Mentari. Bodohnya dia tadi tidak memisahkan kunci rumah dan kamarnya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada Gala. Kunci rumah dan masing-masing kamar Warni satukan dalam satu ikatan.


"Ibu tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan mencuri barang-barang kita di rumah. Mereka orang kaya Bu, mana mungkin melakukan itu," jelas Mentari seolah tahu akan kekhawatiran Warni, sayangnya kekhawatiran yang ada dalam hati Warni dan pemikiran Mentari tidaklah sama.


"Iya ibu tahu, ya sudahlah kamu istirahat saja dulu. Pasti capek kan melakukan perjalanan jauh." Warni mengalihkan pembicaraan, tidak ingin Mentari berpikir macam-macam.


"Mentari ingin menemani Pandu saja hingga dia tidur Bu. Ibu tidurlah dulu kita gantian menjaga Pandu," saran Mentari.


"Kalau begitu kamu bujuk lah adik kamu dulu siapa tahu dia mau makan sama kamu. Tadi dia cuma makan sedikit dan itupun karena ibu benar-benar memaksa karena dia harus minum obat."


"Pandu!" panggil Mentari.


"Iya Kak?" Pandu yang sedang memencet tombol remote sambil melihat mobil-mobilan yang berjalan di lantai depan ranjangnya menoleh pada sang kakak.


"Makan lagi yuk!" ajak Mentari. Warni memberikan satu kotak styrofoam kepada Mentari.


"Ini ibu sudah belikan kamu ayam goreng kok tidak dimakan?"


"Pandu nggak nafsu makan Kak, rasanya semua makanan pahit." Pandu berkata apa adanya.


"Bukannya dulu ini makanan kesukaan kamu ya? Sekarang setelah kehidupan kita berubah kamu malah mengabaikan makanan ini. Padahal dulu saat hidup keluarga kita susah, mau beli ini aja dulu kita tidak mampu Dek. Pandu kita harus menghargai makanan, jangan sampai membuang-buang makanan. Jadi karena ini sudah dibeli kamu habiskan ya!"


"Iya Kak." Pandu memang selalu menurut pada Mentari.


"Bagus, biar kakak yang suapi." Mentari menyendok makanan lalu menyuapi Pandu. Anak itu terpaksa mengunyah meski rasa makanannya yang terasa pahit membuatnya ingin muntah saja. Namun, Pandu berusaha menelan makanan itu karena tidak mau sang kakak kecewa. Apalagi Mentari sudah jauh-jauh datang ke rumah sakit ini hanya karena ingin menemani dirinya.


"Sudah Kak Pandu sudah kenyang," bohong Pandu. Dia merasa tidak akan mampu menghabiskan semuanya. Rasa makanan di lidahnya memang benar-benar berubah. Tak ada makanan apapun yang terasa enak saat ini di lidahnya.


"Ayolah satu sendok lagi." Mentari masih merayu Pandu untuk menghabiskan makanannya dengan cara mengatakan satu sendok lagi, satu sendok lagi hingga makanan dalam kotak spon itu habis.


"Bagus ini namanya baru adik Kak Meme." Mentari mencubit pipi Pandu gemes setelah anak itu meneguk air putih. Pandu terlihat cemberut. Dia memang paling tidak suka dicubit di daerah pipi. Namun, Mentari selalu melakukan hal yang tidak disukai adiknya ini sejak dulu. Bagi Pandu kalau pipinya dicubit terus akan terlihat seperti membengkak bukan tembem lagi.


"Sudah jangan cemberut saja. Hentikan main mobil-mobilannya dulu dan tidur. Kamu tidak boleh banyak bergerak dulu, nanti infusnya terlepas," nasehat Mentari.


"Ah kakak aku kan mainnya tetap duduk di ranjang tidak bergerak," protes Pandu.


"Takutnya pas kamu fokus sama remote lenganmu yang ada infusnya nanti terbentur, Pandu. Istirahatlah, nanti kalau sudah benar-benar sembuh kamu bisa main sepuasnya."

__ADS_1


"Iya Kak." Pandu menaruh remote mobil-mobilan di samping bantal dan dirinya langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. "Kakak nggak istirahat juga?" tanya Pandu dengan menatap wajah kakaknya yang sebenarnya terlihat lelah itu.


"Nanti kalau kamu sudah tidur baru kakak ikut tidur."


Pandu mengangguk dan langsung memejamkan mata. Berharap dirinya bisa cepat tertidur agar sang kakak bisa segera beristirahat.


***


Di tempat lain, di rumah Warni.


"Ini Pak, rumahnya Warni atau Mentari." Pak RT mengantarkan Tama, Gala dan kedua pekerjanya sampai di depan pintu rumah Mentari.


"Iya terima kasih ya Pak sudah mengantar kami."


"Sama-sama Pak. Boleh dicoba dulu, buka pintunya. Takutnya salah kunci lagi," ucap Pak RT sambil tersenyum ramah.


Gala mengangguk. Dia mencari-cari kunci rumah Mentari di tangannya. "Yang mana ya kira-kira kunci rumahnya?" Gala mencoba satu persatu dari kelima kunci yang ada di tangannya.


Setelah mencoba semua, akhirnya Gala menemukan kunci yang cocok dengan pintu masuk.


"Berhasil Pa, yuk kita masuk!" ajak Gala.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak," ucap Pak RT. Gala mengangguk dan Pak RT berlalu pergi.


Sampai pada jarak tiga meter Pak RT menoleh. "Eh Pak Kalau ada sesuatu atau butuh bantuan datanglah ke rumahku. Oh ya rumahku yang di situ, yang ada di belakang masjid," tunjuk Pak RT pada arah rumahnya.


Pak RT terlihat mengangguk dan langsung meneruskan langkahnya.


Gala dan Tama pun melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah diikuti pak sopir dan si bibi di belakangnya.


Gala langsung memilih sofa untuk menghempaskan tubuhnya. Dia berpikir dimana papanya akan tidur nanti sedang dia merasa tidak berhak menggunakan kamar sembarangan. Yang dia pikirkan hanya papanya karena baik dirinya maupun kedua pembantunya itu bisa tidur dimana saja. Di sofa atau di lantai pun jadi.


Saat kebingungan terdengar ponselnya berbunyi. Gala memeriksa ternyata dari nomor tak dikenal.


"Siapa sih nih orang mengganggu. Sudah malam juga," keluh Gala. Namun, dia tetap mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo Pak."


Gala mengernyit.


Seperti suara Mentari.


"Halo Pak ini Mentari."

__ADS_1


Ternyata benar dia Mentari. Darimana dia tahu nomor ponselku? Ah, Mungkin dari Bintang atau Paman Winata.


Bertanya sendiri menyimpulkan sendiri.


"Iya Mentari ada apa?"


"Bapak sudah sampai ke rumah?"


"Iya ini baru sampai. Ada apa ya?Pandu masih baik-baik saja, kan?" Gala khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Pandu saat dirinya meninggalkan rumah sakit tadi.


"Syukurlah kalau sudah sampai di rumah. Pandu baik-baik saja kok. Mentari hanya ingin menyampaikan supaya Bapak dan yang lainnya bisa beristirahat saja di kamar. Semua kamar bisa dipakai semua kecuali yang ada di dekat mushalla itu. Itu kamar ibu. Ibu tidak suka ada yang menggunakan kamarnya," jelas Mentari.


"Baiklah terima kasih banyak."


Mentari mematikan sambungan telepon.


"Gala ...." Tama ingin bertanya siapa yang menelpon Gala dan ada apa.


"Dari Mentari. Dia memperbolehkan kita semua untuk tidur di kamar."


Tama mengulas senyum.


"Tapi kamar ibunya tidak boleh dipakai," jelas Gala membuat Tama menjadi curiga.


"Oleh karena itu kita tidur satu kamar dan pak sopir serta bibi dalam dua kamar yang berbeda."


Tama diam mendengarkan penjelasan sang putra.


"Sebentar aku cek kamar-kamarnya dulu." Gala bangkit dari duduknya dan berjalan memeriksa kamar.


"Ini kamar Mentari, yang ini kamar Pandu." Gala menyimpulkan karena melihat ada nama yang terpampang di atas masing-masing pintu menggunakan huruf-huruf yang terbuat dari kayu.


Dia kembali ke ruang tamu. "Bibik tidur di kamar Mentari, Pak sopir di kamar tamu dan aku sama Papa di kamar Pandu saja. Di atas pintu sudah ada nama pemilik kamar jadi tidak perlu diantar satu-satu. Ingat jangan mengotak-atik barang-barang yang ada dalam kamar agar Mentari tidak menilai jelek kita semua. Apalagi kalau sampai ada barang yang hilang. Kalau itu sampai terjadi maka aku tidak akan segan-segan memecat kalian."


"Iya Den tenang saja, kami berdua amanah kok tidak akan mengambil barang-barang yang ada di tempat ini sekalipun kami melihat ada barang mewah."


"Bagus." Gala percaya keduanya memang bisa dipercaya. Dia hanya mengingatkan saja agar mereka tidak alfa.


"Sudah ayo masuk ke masing-masing kamar dan beristirahat. Besok kita akan melakukan perjalanan kembali untuk pulang."


Mereka berdua mengangguk dan pergi ke kamar masing-masing.


"Papa ke kamar Pandu duluan ya, Gala mau mengunci pintu rumah dulu."

__ADS_1


Tama mengangguk dan langsung bergegas ke kamar. Namun bukan kamar Pandu yang di datangi melainkan kamar Warni.


Bersambung....


__ADS_2