HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW 177. Sensitif


__ADS_3

Arumi turun dari atas tangga dan berjalan menuju ketiga pria yang masih tampak berbincang-bincang, meskipun Bintang masih terlihat kaku untuk menyambung pembicaraan antara ustadz Alzam dan Gala.


"Ya sudah kalau begitu kita pamit saja Mas," saran ustadz Alzam pada Gala.


"Jangan pulang dulu Nak Alzam biar bibi buatkan minuman dulu," cegah Arumi agar Gala dan ustadz Alzam tidak pergi sebelum disuguhkan minuman. Gara-gara tegang Arumi sampai lupa untuk memanggil Bik Jum guna membuatkan Gala dan ustadz Alzam minuman.


"Tidak usah repot-repot Bi," tolak ustadz Alzam.


"Sebentar Nak Alzam, lagipula Gala sudah jarang ke sini. Masa sekalinya ke sini langsung pulang," cegah Arumi.


"Kita minum-minum dulu aja sebentar Dik. Bibi benar, aku sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini. Kemarin cuma ke sini pas Aldan meninggal." Ustadz Alzam mengangguk mendengarkan perkataan Gala.


"Sebentar." Arumi melangkah ke dapur dan memerintahkan asisten rumah tangganya yang bernama Jumiati itu guna membuatkan minuman untuk Gala dan ustadz Alzam.


Setelah Bik Jum selesai membuatkan minuman, Arumi mengambil alih untuk membawa minuman tersebut ke ruang tamu.


"Bibi siapkan camilannya dan biarkan saya yang mengantarkan minumannya!"


"Baik Nyonya."


Setelah menaruh gelas-gelas berisi minuman itu di atas meja, Arumi ikut nimbrung diantara ketiga pria itu.


"Terima kasih ya Nak Alzam dan juga kamu Gala untuk pengertiannya."


"Sama-sama Bi, yang penting Bintang sudah sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang salah."


Arumi mengangguk dan tersenyum mendengar pernyataan dari ustadz Alzam sedangkan Bintang memandang mamanya tanpa kata. Sementara Gala malah asyik meneguk minumannya sendiri.


"Silahkan diminum Nak Alzam!"


"Terima kasih Bi." Ustadz Alzam pun meneguk minumannya seperti Gala.


"Aku senang jika melihat kalian bertiga akur seperti ini. Kalian bertiga ini sepupuan, jangan sampai terpecah belah lagi."


"Tergantung Bintang nya Bi, kalau Gala mah ngikut saja. Dia menganggap saya saudara ya dia saudara bagi saya, sebaliknya kalau dia menganggap Gala ini musuh, ya saya bisa menjadi musuh juga," ujar Gala dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu tenang.


Ustadz Alzam menggeleng mendengar kalimat yang diucapkan oleh Gala.


"Kenapa, ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Gala pada ustadz Alzam yang ekspresinya terlihat seperti tidak setujui dengan pemikiran Gala.


"Bukan salah, tapi kurang tepat saja," sahut ustadz Alzam.


"Sama juga bohong," ujar Gala. Bersamaan dengan itu Bik Jum datang mengantarkan camilan untuk mereka semua.


"Ini Nyonya."

__ADS_1


"Taruh saja di atas meja Bi!"


Bik Jum mengangguk dan melakukan sesuai dengan yang diperintahkan oleh majikannya.


"Silahkan nikmati camilannya juga Nak Alzam, Gala!"


Gala mengangguk dan mengambil camilan di atas meja sedangkan ustadz Alzam tampak merogoh sakunya sebab ponselnya terdengar berdering.


"Gala, makan ya biar bibi siapkan makan ." Arumi menawarkan agar Gala dan ustadz Alzam makan siang di rumahnya ini.


"Maaf saya terima telepon dulu!" Ustadz Alzam langsung berdiri dan menjauh dari semua orang.


"Ya Sarah?"


"Kak Alzam cepat pulang! Kak Meme mimpi buruk dan sekarang menangis seperti orang ketakutan," lapor Sarah dari balik telepon.


"Kamu tenangkan dia dulu Sarah! Kakak akan segera pulang."


"Baik Kak."


"Mas Gala kita pulang sekarang sebab Mentari mimpi buruk dan katanya sekarang ketakutan."


"Baik. Bi Gala sama dia balik dulu ya Bi," pamit Gala. Setelah melihat anggukan dari Arumi mereka berdua pun berlari keluar rumah menuju tempat mobil Gala terparkir.


Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Gala langsung membawa mobilnya membelah jalanan dengan kencang. Tak membutuhkan waktu lama mereka berdua kini sampai di kediaman ustadz Alzam.


"Kamu kenapa sih Ummi?" Ustadz Alzam berjalan mendekati sang istri.


"Abi jangan tinggalkan Ummi!" Mentari terlihat sedih.


"Hei siapa yang meninggalkanmu? Aku hanya keluar sebentar dengan Mas Gala karena ada sesuatu yang harus diurus."


"Pokoknya apapun yang terjadi Abi tidak boleh meninggalkan Ummi!" Mentari merajuk.


"Iya-iya," ucap ustadz Alzam sambil mengusap air mata di sudut bola mata dan pipi sang istri.


Ustadz Alzam memeluk erat Mentari. "Abi janji tidak akan kemana-mana lagi."


"Janji?"


"Iya, janji pokoknya."


"Okey." Mentari tersenyum senang.


"Kenapa dia malah jadi manja seperti ini?" tanya Gala dalam hati sambil menggeleng tidak percaya.

__ADS_1


Ibu dari ustadz Alzam mengusap bahu putranya. "Kamu yang sabar ya Nak, wanita hamil memang terkadang manja dan sensitif."


"Iya Bu, insyaAllah saya paham," jawab ustadz Alzam.


"Oh karena hamil? Ya-ya mungkin saja," gumam Gala.


Sejak kehamilan dan peristiwa penculikan oleh Bintang, perasaan Mentari menjadi lebih sensitif dan melow. Mentari juga tidak ingin jauh-jauh dari sang suami dan akan menangis ketika tidak mendapati ustadz Alzam berada di sisinya.


Oleh karena itu untuk sementara waktu ustadz Alzam vakum dulu dari pekerjaannya. Dia memutuskan untuk tidak menerima tawaran mengisi ceramah di berbagai tempat dalam kurun waktu yang tidak dapat ditentukan. Mungkin sampai Mentari bisa ditinggalkan lagi.


***


Setelah beberapa hari berdiam diri di rumah orang tuanya akhirnya Bintang pulang juga ke apartemen.


"Darimana saja kau Bin? Kamu lupa ya bahwa kamu masih punya istri," protes Katrina sebab Bintang Beberapa hari ini seperti lupa pulang.


"Aku ada di rumah Mama, memang apa pedulimu?" tanya Bintang cuek dan langsung masuk ke dalam kamar serta membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu seakan tidak pernah bosan untuk tiduran padahal di rumah orang tuanya sudah banyak menghabiskan waktu untuk tidur.


"Ya jelas lah aku perduli. Kau pikir aku tidak mencarimu apa?"


"Untuk apa Kate kau mencariku? Aku yakin kalau aku pulang ke sini kamu tidak akan mengurusku. Beberapa hari ini aku sakit Kate," ujar Bintang.


"Kau pasti tidak akan mau mengurusku," imbuhnya.


"Siapa juga yang mau mengurus orang yang sakit hati? Yang ada aku malah ikutan sakit hati," ketus Katrina.


"Apa maksudmu Kate?"


"Aku tahu kamu sakit karena memikirkan kegagalan dirimu menculik Mentari. Kau sakit karena tidak bisa mengembalikan dia di sisimu. Apakah kamu tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaanku Bin? Apa sekarang kamu menganggap aku adalah orang lain, bukan istrimu?"


"Jangan katakan itu Kate. Kaulah yang tidak menganggapku sebagai suami. Kau pulang-pergi begitu saja tanpa pamit padaku seakan aku tidak ada di sisimu dan kau sama sekali tidak mau mengurusi kebutuhanku. Aku punya istri kenapa harus pulang ke rumah Mama hanya untuk sekedar makan. Bukankah lebih baik aku tinggal di sana sekalian?!"


"Aku kerja Bin, capek kalau di apartemen juga harus ngurusin rumah, ngurusin dapur. Kau 'kan bisa beli. Toh dulu saat kita masih berpacaran kamu fine-fine aja makan di luar."


Bintang menggeleng mendengar perkataan dari Katrina.


"Jadi apa gunanya aku menikah? Kau berbeda dengan Mentari, meskipun dia sering kusakiti dia tetap melayani setiap kebutuhanku dan kau malah sebaliknya. Itulah mengapa aku masih tidak rela dia lepas dariku. Coba kamu tiru sikap dia, aku mungkin akan bisa melupakan dirinya dengan cepat."


"Cih, ogah ya. Meskipun dia keturunan orang kaya, tapi dia mental babu. Sorry aku tidak bisa karena mentalku mental orang kaya."


"Terserah kamulah Kate, aku pulang ke sini tidak ingin berdebat. Kalau kamu ingin berdebat sebaiknya kamu diam saja karena aku sedang malas untuk melayaninya."


"Nih orang ya sama dengan ibunya, sama-sama mengesalkan," geram Katrina mengingat Arumi telah membohongi dirinya dengan mengatakan Bintang tidak ada di rumahnya waktu itu


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2