
"Sudah aku mandi dulu, keringetan ini." Mentari mengurai pelukannya dan membiarkan Bintang untuk membersihkan diri.
"Aku siapkan air panasnya dulu," ujar Mentari sambil berlari ke kamar mandi.
"Jangan lari-lari entar kamu jatuh," nasehat Bintang.
"Sudah siap Mas," ujar Mentari dari dalam kamar mandi.
"Terima kasih kau memang istri terbaik." Meski tahu perkataan Bintang tidak benar tetapi Mentari tetap merasa senang. Memang cinta kadang membuat manusia buta dan tuli.
Setelah selesai membersihkan diri mereka berdua makan malam. Setelah selesai makan mereka duduk-duduk di sofa kamar sambil bercanda ria.
Bintang menarik tubuh Mentari ke dalam pangkuannya. Sesaat Mentari melupakan segala keluh kesahnya. Dia seakan lupa kalau Bintang menduakannya. Seolah Bintang hanya milik dia satu-satunya.
Belaian demi belaian Bintang membuat Mentari larut ke dalam sesuatu yang membuatnya ketagihan dan akhirnya malam itu berakhir dengan sesi percintaan keduanya yang panas karena dibalut rindu yang begitu menggebu.
Namun, ketika mereka menyelesaikan ritual mereka dan Bintang tertidur pulas Mentari menangis. Dia memukul-mukul tubuhnya sendiri seakan benci dengan tubuhnya itu. Mengapa tubuhnya begitu mudah merespon sentuhan Bintang. Padahal sebelumnya dia sudah berniat akan menolak ajakan Bintang untuk melakukan hubungan suami-istri.
"Ah, aku benci tubuhku. Aku benci hidupku."
Terdengar ketukan pintu dari arah luar. Mentari memungut pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak perduli dengan tamunya. Kalau memang ada keperluan biarlah menunggu saja.
Setelah selesai mandi barulah Mentari membuka pintunya. Dari balik pintu berdiri sosok pria berkulit putih dengan hidung mancung. Postur tubuh yang tegap dan sikapnya yang tegas menambah aura ketampanan pria tersebut.
__ADS_1
"Cari siapa ya?" tanya Mentari.
"Bintang, ada?" tanya pria tersebut.
"Ada, tetapi masih tidur. Silahkan masuk biar saya panggilkan dulu!"
Pria itu hanya mengangguk dan masuk. Lalu duduk di sofa ruang tamu.
Mentari kembali ke kamar, mengguncang-guncang tubuh Bintang agar terbangun.
Bintang tampak menggeliat. "Ada apa?"
"Ada tamu di luar."
"Kenapa harus menyebut nama dia lagi di depanku? Pernah nggak sih saat bersamanya kau menyebut namaku?" Mentari nampak cemberut.
"Maaf sayang aku reflek tadi." Bintang bangkit dari posisi tidurnya dan memakai bajunya kembali.
"Jadi tamunya siapa?"
"Nggak tahu, tapi laki-laki."
"Ya sudah aku temui dia dulu barangkali ada yang penting."
__ADS_1
Mentari mengangguk, membiarkan Bintang menemui tamunya sedang dirinya sendiri pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Dia istrimu?" tanya Gala saat melihat Mentari menyuguhkan kopi di hadapannya. Ya, yang datang saat itu adalah Galaksi Pradiatama, atasan sekaligus pemilik perusahaan tempat Bintang bekerja.
"Iya," jawab Bintang singkat.
"Maaf saya tidak tahu karena saat pernikahan kalian, saya tidak bisa hadir karena saking sibuknya. Kamu juga Bintang mengapa tidak pernah mengenalkan dia padaku. Padahal selain atasanmu aku juga sepupumu."
Mentari mengangguk ke arah Gala sambil tersenyum ramah. Pria itupun membalas dengan senyuman. Mentari pamit pergi sedang keduanya serius membahas pekerjaan kantor.
"Pokoknya aku tunggu kamu secepatnya di kantor. Pekerjaan ini harus beres sebelum jam 11 siang."
"Baik Pak Gala, saya segera bersiap."
"Satu lagi."
"Apa?"
"Istrimu sangat cantik bahkan lebih cantik dari Katrina. Kalau kamu sekiranya tidak bisa membahagiakan dia, maka izinkan aku yang akan membahagiakannya."
Bintang menelan ludah mendengar perkataan Galaksi padahal sebelumnya pria itu sama sekali tidak pernah tertarik pada seorang wanita.
Bersambung.....
__ADS_1