
"Iya Pa terima kasih. Saya pergi semuanya, assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap semua orang yang berada di tempat itu serempak.
Gala mengangguk lalu berjalan keluar. Saat berjalan menuju mobil pria itu berpapasan dengan Pandu.
"Mas Gala sudah mau berangkat kerja?" sapa Pandu.
"Iya nanti sore setelah pekerjaan Mas Gala kelar, kita jalan-jalan bareng lagi ya," ujar Gala.
"Oke Mas, siap," sahut Pandu antusias.
"Sudah ya, Mas Gala pergi dulu dan doakan sukses ya!"
"Oke Mas Gala itu sudah pasti."
Gala mengangguk lalu melanjutkan lagi langkahnya menuju mobil.
Saat sudah duduk di kursi kemudi, Gala melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 lewat lima belas menit. Berarti hanya ada sisa waktu empat puluh lima menit untuk dia menyiapkan segalanya sebelum bertemu klien termasuk mengatur waktu berkendara agar bisa sampai lebih cepat. Hari ini dia memilih berkendara sendiri dibandingkan meminta sopir untuk mengantarkan dirinya.
Gala langsung mengebut sebab perjalanan tidak hanya memakan waktu untuk pergi ke kantor saja. Ke hotel tempat dia harus bertemu klien pun memakan waktu juga. Dasar Kiki dia baru mengabarkan tadi pagi bahwa tempat bertemu klien adalah hotel bukan restoran seperti penjelasannya kemarin dan tentu saja jarak ke hotel dari kantor lebih jauh daripada jarak kantor ke restoran.
Sampai di depan perusahaan, Gala memarkirkan mobilnya di tepi jalan, tidak membawa masuk mobil ke dalam perusahaan untuk menghemat waktu. Setelah memarkirkan mobilnya pria itu langsung berlari menuju pintu masuk bangunan perusahaan.
Bug!
Plak!
Tak sengaja Gala menabrak tubuh seseorang saat dirinya sampai di depan pintu masuk sebab dia yang sangat terburu-buru, berlari tidak melihat kanan kiri.
"Maaf saya terburu-buru," ujar Gala sambil meraih laptop orang yang ditabraknya tadi di mana jatuh ke lantai.
"Kalau rusak nanti bisa minta ganti ke administrasi kantor ya," lanjut Gala lagi merasa tidak enak telah menjatuhkan laptop orang walaupun orang tersebut kemungkinan adalah karyawannya sendiri.
"Tidak perlu saya masih cukup punya uang untuk sekedar membeli laptop lagi."
Gala mendongak mendengar suara wanita yang sangat dia hafal. Wanita barbar yang sejak kemarin membuatnya selalu risau.
"Awas kalau aku tidak bisa membuka file yang ada di dalam laptop sini. Aku tidak mau melaksanakan hukuman yang kau berikan karena kau sendiri yang sengaja merusak laptop ini." Sarah menarik laptop dari tangan Gala lalu mengusap-usapnya.
"Cih atau mungkin kamu yang sengaja menabrakku tadi sebab ingin mengelak dari hukuman yang aku berikan. Atau jangan-jangan sengaja kamu membawa laptop mati untuk dijadikan sebagai alasan nantinya."
"Cih aku bukan wanita pengecut ya Pak Gala yang terhormat. Mau berangkat nggak? Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 ini. Kalau perjalanan jauh, kita bisa telat dan tanpa aku presentasi pun klienmu itu akan menolak bekerja sama dengan perusahaan Pradiatama sebab menilai CEO nya yang tidak disiplin. Bagaimana mau meyakinkan mereka dengan performa perusahaan kalau performa pemilik perusahaannya kacau.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara kamu! Ayo cepat!" Gala menarik tangan Sarah menuju mobil.
"Lepaskan Pak Gala! Jangan begini dong, kau pikir aku kambing apa main tarik-tarik segala!" protes Sarah dengan suara yang keras tidak perduli beberapa karyawan memandang aneh dirinya dan Gala.
"Jangan berisik! Ayo cepetan kalau tidak mau terlambat atau kau yang akan menerima hukuman atas kekalahanmu itu karena mengulur-ulur waktu." Gala melepaskannya pegangan di tangan Sarah.
"Iya-iya." Sarah pun berjalan dengan setengah berlari menuju tempat motornya terparkir.
"Mau kemana kamu?" Gala mencekal lengan Sarah.
"Mau mengambil motor lah," sahut Sarah santai.
"Ngapain?"
"Mau dijual," ketus Sarah.
"Ya mau dipakai untuk berkendara lah, katanya mau menemui klien."
Ingin rasanya Gala memegang kepala Sarah lalu menekannya kuat-kuat. Sudah tahu terburu-buru masih saja membuat ulah.
"Tidak perlu, kau naik mobilku saja. Mana ada sekretaris naik motor untuk bertemu klien. Tidak lucu dan tidak elegan sama sekali," geram Gala.
"Ah, baiklah. Walaupun aku bukan sekretaris aku akan menjadi sekretaris sehari ini," ujar Sarah tersenyum sumringah.
"Semoga saja gadis ini tidak ngamuk-ngamuk di depan klien nanti," gumam Gala.
"Kau pikir aku ketempelan apa," protes Sarah.
"Kali aja," ujar Gala lalu terkekeh.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat masuk mobil!" Mereka berdua kini sudah keluar dari area perusahaan dan berdiri di pinggir jalan di dekat mobil Gala.
Sarah menengok ke dalam mobil Gala.
"Tidak ada sopir? Kita hanya akan pergi berdua saja?" tanyanya ragu.
Gala mengernyit. "Emang kenapa?"
"Bukan muhrim," kesal Sarah. "Masa tidak ada orang lain lagi dalam mobil," lanjutnya.
"Jam 7 kurang dua puluh menit. waktu kita sudah mepet atau kau tidak perlu ikut saja biar saya yang meyakinkan klien dan kamu mengaku kalah. Lagian siapa juga yang akan memperkosa kamu, menyentuh kulitmu pun aku ogah."
"Hmm, baiklah." Sarah langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Semua berkas-berkas yang diperlukan sudah dibawa juga kah?" tanya Gala memastikan persiapan dari pihak dirinya.
"Sudah semua Pak Gala," ujar Sarah dengan nada suara yang serius membuat Gala yang mendengarnya merasa geli sehingga malah tertawa.
"Malah tertawa," protes Sarah tapi matanya fokus menatap laptop yang kini sedang diperiksanya. Dia membuka laptop dan mencoba untuk menghidupkan kembali, berharap laptopnya masih baik-baik saja.
"Apakah kamu tidak punya backup data?" tanya Gala saat Sarah terlihat khawatir.
Sarah tidak menjawab, gadis itu terlihat mengetikkan sesuatu dan fokus menatap layar laptopnya itu.
"Kalau ada bisa pakai laptopku nanti," ujar Gala lagi. Namun, dalam hati dia berharap Sarah tidak memback-up data yang dia punya dan laptopnya benar-benar rusak agar wanita itu menyerah.
Tenang saja jika Sarah tidak bisa melakukan presentasi nanti, dia yang akan turun tangan sendiri. Menjelaskan kepada kliennya tentang kerjasama dan segala benefitnya nanti agar klien tersebut bisa tertarik dan mau bekerjasama dengan perusahaan miliknya. Gala sudah menyiapkan semalam sewaktu orang dalam rumahnya tertidur setelah selesai merayakan ulang tahun Mentari. Ya Gala harus mengantisipasi sebab Sarah bisa saja mundur dalam tugasnya itu.
"Alhamdulillah ternyata tidak ada masalah." Gala melihat dari kaca spion, Sarah menutup laptopnya dengan senyuman lega.
Sebenarnya dari ucapan syukur yang dikatakan Sarah tadi, Gala sudah tahu bahwa pasti tidak akan ada masalah dengan laptop Sarah.
"Pak pelan-pelan kenapa sih Pak, jantungku bisa copot nanti kalau bapak mengendari mobilnya ngebut-ngebutan seperti ini!" protes Sarah.
"Waktu tersisa sepuluh menit." Gala menirukan gaya suara seseorang yang biasanya digunakan untuk pemberitahuan seperti di film-film.
"Terserah deh," ucap Sarah pasrah. "Balapan sekalian boleh juga, tantangnya.
"Oke boleh saja," ujar Gala semakin mempercepat laju mobilnya tanpa memperdulikan jalanan yang sedang ramai hingga mobil mereka hampir menabrak mobil yang berhenti mendadak di depannya.
Ciitt!
Gala langsung mengerem mendadak, ternyata mobil di depannya berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah.
"Beneran copot nih jantungku kalau begini." Sarah mengelus dadanya yang berdegup kencang.
"Tenang Sarah kan aku sudah pernah mengatakan stok donor jantung itu aku punya banyak."
"Cih." Sarah memalingkan muka, kesal dengan orang yang ada di hadapannya.
"Jantung pisang," ujar Gala kemudian lalu terkekeh.
"Ih benar-benar ya." Sarah melempar bantal leher ke arah Gala dan Gala semakin tertawa.
Beberapa saat kemudian teringat dengan dirinya yang diburu waktu sedangkan lampu lalu lintas belum berubah hijau juga.
"Duh kalau begini bakal benar-benar telat kita," ujar Gala sambil mengetuk-ngetukkan jari tangannya pada setir.
__ADS_1
Bersambung.