HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW 226. Salah Sasaran (1)


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Kiki dan Diandra juga sedang menyudahi pembicaraan dengan klien mereka.


"Oh ya Pak silahkan diminum dulu minumannya. Kita terlalu serius sedari tadi dengan pembahasan kita sehingga tidak ada waktu walau hanya sekedar minum-minum."


"Iya Pak Kiki terima kasih," ujar pria itu dan langsung meraih gelas berisi minuman yang sebelumnya sudah mereka pesan sebelum membahas proyek kerjasama.


"Mari Pak Kiki dan Bu Diandra." Mereka mengangkat gelas masing-masing dan bersulam.


Saat hendak minum, ponsel Kiki bergetar.


"Maaf Anda minum duluan saja dan saya mau mengangkat telepon dulu," pamit Kiki.


"Oke, Pak Kiki santai saja kan kita sudah menyelesaikan diskusi kita," jawab kliennya itu membuat Kiki mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari Diandra dan Kiki.


Sepuluh menit kemudian Kiki belum kembali juga ke sisi Diandra.


"Kemana sih Pak Kiki? Dia sedang teleponan atau tidur sih? Lama amat," keluh Diandra. Dia langsung menelpon Kiki, tetapi tidak masuk karena berada dalam panggilan lain.


Diandra menyadarkan tubuhnya tatkala merasakan keanehan yang mendera pada tubuhnya saat setelah dirinya menghabiskan minuman dalam gelas. Dia seperti orang kepanasan padahal AC di tempat itu benar-benar sudah bekerja ekstra.


Diandra gelisah.


"Bu Diandra kenapa?" tanya kliennya itu dan mendekati Diandra bermaksud untuk menolong.


"Tidak tahu Pak, tiba-tiba saja tubuhku tidak nyaman. Kepalaku berdenyut sakit sekali."


"Kalau begitu saya antar Bu Diandra ke rumah sakit." Pria itu menawarkan diri.


"Tidak perlu, Bapak bisa pergi saya akan menunggu atasan saya saja. Paling sebentar lagi Pak Kiki datang," Tolak Diandra.


"Bagaimana mungkin saya meninggalkan Bu Diandra seorang diri dalam keadaan seperti ini?" Pria itu menolak saran Diandra.


"Biar saya bantu pijitkan kepalanya!" Pria itu hendak menyentuh kepala Diandra, tetapi wanita itu malah mengangkat tangan agar tidak menyentuh dirinya.


"Baiklah." Akhirnya pria tadi kembali ke kursinya dan duduk menatap Diandra yang semakin lama semakin gelisah.


"Dia kenapa sih? Pak Kiki lama amat," gumam pria tersebut dalam hati. Mau meninggalkan Diandra kasihan, kalau tidak meninggalkan dia bisa terlambat untuk bertemu klien lain.


Jadi sekarang mereka berdua sama-sama gelisah. Yang satu gelisah karena tidak tahu penyebabnya dan yang satunya gelisah memikirkan waktu yang terus bergulir.


"Aduh sakit banget." Diandra memijit pelipisnya dengan kuat.


"Mbak bawakan aku minuman yang dingin-dingin!" perintah Diandra sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan.


"Kalau sakit kepala jangan minum es," larang pria yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


Diandra tidak perduli.


"Mbak banyakin es batunya!"


"Ya ampun Bu Diandra mending saya antar pulang saja kalau tidak mau ke rumah sakit."


Diandra tidak menjawab karena terus saja gelisah. Pelayan datang membawakan segelas minuman dan sebuah mangkok yang berisi es batu.


Diandra langsung meneguk minumannya sedangkan es batu dia balurkan ke tubuhnya. Mulai dari lengan, kaki, leher bahkan wajah dan kepalanya.


Pria yang duduk di hadapannya langsung berdiri dan menarik Diandra serta membawa wanita itu keluar sebab kasihan melihat Diandra yang menjadi tontonan orang-orang yang merasa aneh dengan sikap wanita itu.


"Bapak mau membawa saya kemana?" tanya Diandra.


"Ke rumah sakit, atau kalau tidak mau ke rumah sakit jiwa," ujar pria itu kesal sebab sedari tadi niat baiknya untuk membawa wanita itu ke rumah sakit diabaikan.


Diandra langsung menarik tangan dari pria itu mendengar perkataannya yang akan membawanya ke rumah sakit jiwa.


"Tenanglah saya hanya bercanda. Saya akan membawamu pulang agar tidak mempermalukan diri sendiri di tempat ramai seperti ini."


Akhirnya Diandra mengalah sebab tubuhnya semakin terasa tidak nyaman.


Diandra menurut saja saat pria itu membawa dirinya ke dalam mobil.


Sampai di dalam mobil pria yang tidak mengetahui alamat rumah Diandra itu langsung mengarahkan mobilnya ke rumah sakit dan Diandra yang sibuk dengan tubuhnya sendiri tidak sadar bahwa mobil itu bergerak berlawanan dari arah rumahnya.


"Lebih baik ke rumah sakit."


"Pak Gala!" Entah mengapa pria yang menyetir mobil di sampingnya itu berubah menjadi Gala dalam penglihatan Diandra. Padahal sudah jelas-jelas pria itu adalah bule.


"Pria yang menatap ke depan itu mengalihkan pandangannya lagi ke atas Diandra dan mengernyit.


"I Love you Pak Gala." Diandra nyosor dan melakukan hal-hal yang memancing gairah pria bule itu.


Tak tahan pria itupun membalas perlakuan Diandra sehingga keduanya sama-sama lupa daratan.


Pria bule itu menyetir mobilnya lebih kencang dan memarkirkannya mobilnya di tempat sepi.


Mereka berdua pun melakukan hal-hal yang lebih jauh hingga saat keduanya hendak melakukan penyatuan terdengar kaca mobil diketuk dari luar.


Tok-tok-tok.


"Buka mobilnya."


Keduanya yang sedang asyik langsung kaget.

__ADS_1


"Buka kalau tidak ingin kami congkel mobil ini."


"Gawat ini Indonesia." Pria itu langsung tersadar dan hendak tancap gas, tetapi ternyata mobilnya sudah dikepung oleh orang-orang.


"Oh God." Segera pria itu membenahi pakaiannya.


"Bu Diandra sadar Bu."


Diandra yang masih dalam pengaruh obat tetap saja merasa tersiksa dan tidak perduli sekitar.


"Bu Diandra benahi pakaianmu!"


Tetap saja wanita itu diam, tubuhnya tersiksa sekali sebab tidak berhasil mendapatkan penyaluran.


Tok-tok-tok.


"Cepat buka pintunya! Kami tahu kalian melakukan hal tidak senonoh di dalam sana!"


"Bu!"


Terpaksa pria itu yang membenahi pakaian Diandra laku membuka pintu mobil.


"Ikut kami ke kantor polisi!" perintah orang-orang.


Pria itu terhenyak.


"Apa salah saya?"


"Ini Indonesia Mr. Budaya timur tidak memperbolehkan kita melakukan **** bebas apalagi di tempat umum," ujar seseorang menyadari pria yang mengendarai mobil itu adalah seorang bule.


"Tapi kami punya video Anda. Kalau Mr. tidak mau ke kantor polisi, berarti harus rela kami arak. Atau ada pilihan ke 3. Video syur Mr. dan Nona ini akan beredar di dunia maya," ancam orang-orang.


"Dan anda akan dihukum karena telah menyebarkan video tidak baik," sahut pria bule itu.


"Biar kita dihukum sama-sama." Masyarakat seolah menantang.


Pria bule itu tidak masalah kalau mengenai dirinya sendiri, tapi dia iba kepada Diandra kalau sampai video wanita itu beredar di dunia maya.


"Baiklah kami ke kantor polisi dan saya minta video itu di hapus!"


"Saya akan menghapusnya di kantor polisi nanti. Turunlah!" perintah seorang pria.


"Baiklah."


Akhirnya pria itu turun dari mobil dan dibawa dengan mobil lain ke kantor polisi begitupun dengan Diandra yang masih merasakan tubuhnya yang tersiksa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2