HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 217. Saat Terakhir


__ADS_3

Mentari tidak kuat lagi hingga akhirnya ia pingsan dengan mendekap erat sang suami.


Gala dan Bintang segera memindahkan tubuh Mentari ke tempat lain. Sarah hanya bisa menangis tanpa suara. Pipinya sudah basah dengan air mata.


Ibu dari ustadz Alzam sendiri mencoba untuk menguatkan diri. Beliau juga hanya bisa menangis dalam hati mengingat dirinya saja masih hidup sedangkan putranya malah meninggalkan dunia terlebih dahulu. Kalau saja hidup dan mati seseorang bisa ditawar ingin rasanya wanita itu menggantikan sang putra menghadap ilahi.


"Jangan menangis saja, antar jenazah ustad Alzam dengan lantunan surat yasin agar mendapatkan rahmah dari Allah SWT." Tama mengingatkan semua orang yang larut dalam kesedihannya sampai melupakan hal penting itu.


Warni mengambil baby Izzam dari tangan Tuan Winata dan mencium pipi bayi itu sambil meneteskan air mata.


"Cucu nenek harus sabar ya Nak, meskipun kamu menjadi anak yatim, tetapi yang menyayangimu masih banyak."


Sarah bangkit dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu menuju ke arah suster dan kembali dengan Al-Qur'an di tangannya. Dia juga memberikan satu kepada mertua perempuannya dan juga Tama.


Gala dan Bintang hanya mengaji menggunakan ponsel, begitupun dengan Tuan Winata. Pandu dan Warni duduk di samping Mentari yang masih tidak sadarkan diri. Arumi yang baru datang pun membalurkan minyak kayu putih pada tubuh dan kening Mentari, berharap dengan melakukan hal itu Mentari akan segera tersadar.


Selesai mengaji, Tuan Winata sibuk mengurusi kepulangan jenazah ustad Alzam sedangkan Gala dan Bintang sibuk menyadarkan Mentari membantu Arumi.


"Ca, bangun Ca. Apakah kamu tidak ingin melihat acara pemakaman suamimu sendiri?" Gala menepuk-nepuk pipi Mentari. Namun, wanita itu masih saja tidak berkutik.


"Dokter tolong adik saya!"


Dokter pun memeriksa keadaan Mentari.


"Bagaimana Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Gala panik.


"Hanya pingsan saja, mungkin karena syok. Sebentar lagi juga pasti sadar."


"Baik terima kasih Dok."


"Sama-sama."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Mentari tersadar dan kembali ke sisi ustadz Alzam. Dia membuka kain jarik yang menutupi wajah ustadz Alzam lalu mencium kembali wajah sang suami seolah tidak mau kehilangan.


"Nak jenazah ustad Alzam akan kita bawa pulang," ujar Tama sambil berjalan ke arah Mentari.


"Pa–"


"Sudahlah, ikhlaskan dia pergi agar tidak memberatkan langkahnya." Tama menepuk pundak Mentari.


Mentari berusaha mengangguk meskipun dalam hati terasa sulit untuk melepaskan.


"Sabar, dan papa yakin kamu kuat. Tuhan tidak akan menguji hambanya melampaui batas kemampuan manusia itu sendiri. Papa pernah merasakan apa yang kamu rasakan karena papa pernah berada di posisimu. Sulit memang, tapi dunia ini akan terus berputar, meskipun orang yang kita sayangi meninggalkan kita untuk selamanya. Namun, apapun yang terjadi kita harus tetap bertahan demi orang-orang yang masih membutuhkan kita. Lihatlah baby Izzam, kau harus semangat demi dia."


"Iya Pa." Mentari mengusap air matanya.


"Kita pulang sekarang!"


Jenasah ustadz Alzam pun dibawa pulang dengan mobil pribadi menuju rumah ibunya. Sebenarnya Tama meminta untuk dibawa pulang ke rumahnya, tetapi sang ibu tidak menyetujuinya.


"Menyingkir sedikit, tolong beri jalan!" perintah Tama sebab pekarangan rumah menantunya itu seolah penuh dengan lautan manusia.


Mereka langsung memberi jalan untuk para keluarga dan jenazah ustad Alzam agar bisa masuk ke dalam rumah.


Setelah tubuh ustadz Alzam dibaringkan di dalam rumah, orang-orang langsung kompak mengaji.


"Kau lihatlah Abi, orang-orang sangat mencintaimu, tetapi kenapa kau tinggalkan kami semua?" Tangis Mentari pecah.


"Sudahlah Me jangan menangis terus, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Saya tidak mau kamu drob, kasihan baby Izzam kalau begitu." Nanik mencoba menenangkan Mentari.


"Abi orang baik Mbak Nanik, tapi kenapa Tuhan memanggilnya begitu cepat?" Mentari menyandarkan tubuhnya pada bahu Nanik.


"Karena ustadz Alzam baik makanya Tuhan memanggilnya terlebih dahulu Me. Tuhan sayang pada beliau," timpal Reni.

__ADS_1


"Sabar ya Me, aku doakan kamu mendapatkan yang lebih baik lagi dari ustadz Alzam."


Plak.


Kepala Mega langsung mendapat jitakan dari Nanik dan Mega.


"Kenapa kalian suka main keroyokan sih? Memang apa salahku?" tanya Mega tidak mengerti.


"Masih belum mengerti juga? Ini kifayah, Mentari tidak sedang mencari jodoh," bisik Nanik di telinga Mega dengan suara ketus.


"Lah salahku dimana?" gumam Mega membuat Nanik dan Reni geleng-geleng kepala.


"Tidak akan ada yang lebih baik dari dia Mega. Dia adalah suami yang sangat sempurna bagiku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan dia di hatiku."


Setelah orang-orang selesai mengaji, jenazah pun dimandikan dan di shalatkan di sebuah Masjid yang dekat dengan rumah ustadz Alzam.


"Me kau mau ikut ke pemakaman? Kalau tidak kuat mending kamu tunggu di rumah saja," saran Nanik.


"InsyaAllah kuat Mbak, saya tidak mau melewatkan semua prosedur pemakaman suamiku karena setelah hari ini aku tidak akan pernah melihat dirinya lagi, hiks."


"Ayo Kak!" ajak Sarah. Perempuan itu sudah nampak tegar setelah wajahnya memerah karena tidak mau berhenti menangis.


Mereka semua bangkit dari duduknya dan mengantar jasad ustadz Alzam ke peristirahatan terakhir.


Mentari meneteskan air matanya kembali saat jenazah ustad Alzam dimasukkan ke liang lahat. Tubuhnya yang terasa lemah ia sandarkan pada bahu Reni.


"Abi, kenapa dadaku sesak menghadapi kenyataan ini." Mentari menghela nafas berat.


"Selamat tinggal suamiku semoga kau mendapatkan kebahagiaan di alam sana. Maafkan diriku jika selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku sadar diri ini bukanlah wanita yang sempurna. Engkau memang bukan cinta pertamaku juga mungkin saja bukan yang terakhir karena aku tidak pernah tahu Tuhan menakdirkan cintaku berlabuh di dermaga ini untuk terakhir kali ataukah dia akan menyeretku untuk berlayar kembali ke lain hati. Namun, apapun yang terjadi kelak, kau adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Ragamu memang sudah pergi, tapi nama dan cintamu akan tetap bersemayam di sini." Mentari menyentuh dadanya sambil memejamkan mata menahan isak tangis yang belum juga mau reda. Air matanya menetes kembali.


"Abi aku merindukanmu. Aku mencintaimu karena Allah maka ku lepaskan kau pun karena Allah. Semoga aku bisa ikhlas dan bisa mendidik putra kita meskipun seorang diri. Doakan aku mampu ya Abi melewati masa-masa tanpa dirimu lagi." Mentari menghela nafas panjang untuk mengurangi sesak yang semakin menghimpit dadanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2