
"Ngomong-ngomong kenapa tidak naik taksi atau minta antar sama Bintang saja? Kenapa malah lari-lari begini?"
"Mas Bintang sudah berangkat pagi-pagi sekali Pa. Lagipula saya juga ingin mengurangi berat badan agar tidak gemuk." Alasan Mentari semata padahal lari dari kejaran Katrina.
"Memang berat badanmu naik?" tanya Tuan Winata heran sebab tidak kelihatan bahwa Mentari gemukan.
"Cuma tiga kilo saja sih Pa, tapi kalau sampai terus-menerus naik nantinya malah kegemukan lagi."
"Hem, kalau menurut papa sih kamu masih wajar bentuk tubuhnya belum gemuk. Sepertinya sekarang sudah proporsional sih, tapi terserah kamu juga gimana enaknya. Kalau kamu tambah gemuk berarti suami kamu sukses bisa memenuhi kebutuhanmu dan membuat pikiranmu tenang dan senang."
"Iya Pa."
"Bukannya Mentari tidak ingin gemuk Pa, tapi gemuk itu berat. Hidupku saja sudah berat malah ditambah membawa berat badan, nggak kuat aku Pa," lirih Mentari.
"Maaf, apa kamu bilang Nak? Papa tidak mendengar.
"Ah tidak ada kok Pa, Mentari tidak berkata apa-apa."
Tuan Winata mengernyit, sudah jelas-jelas tadi dia mendengar suara Mentari kok menantunya itu malah mengatakan tidak bicara apa-apa.
Sepertinya pendengaranku mulai terganggu. Tuan Winata menarik kesimpulan sendiri.
"Oh ya Pa sampai di depan Mentari turun saja sebab tujuan kita sudah tidak searah."
"Biar papa antar, belok kiri atau kanan?" Karena kalau lurus ke depan berarti searah.
"Ke kiri Pa."
"Oke." Tuan Winata langsung berbelok. "Kalau boleh tahu nama tokonya apa ya?"
"Elmeira Abqary cake and bakery shop."
"Oh kalau yang itu papa tahu. Biasanya kalau di kantor ada acara papa pesannya di toko itu."
"Oh ya Pa? Papa serius?"
"Iya papa serius. Selain rasanya lebih enak dari toko lain harganya juga lumayan murah dibandingkan di tempat yang lain."
"Papa ternyata cari yang murah juga," goda Mentari.
"Kalau ada yang enak dan murah ngapain cari yang mahal? Tapi sekali-kali bolehlah. Kalau Papa sebenarnya mengutamakan rasa dan selera. Kalau cocok ya sudah pesan saja. Mau mahal mau nggak yang penting enak.
"Oh ya kapan kamu mau tinggal di rumah? Kamu kan sudah janji sama papa untuk tinggal di rumah papa biar bisa dekat dengan Mama Arumi." Tuan Winata berharap kalau tahu bagaimana sebenarnya Mentari, Arumi bisa menyukai menantunya itu.
"Mungkin lain kali Pa, saya lupa belum menyampaikan pada Mas Bintang."
"Oke terserah kamu, tapi kalau bisa secepatnya ya, kamu pindah ke rumah. Rumah papa sepi tidak ada keluarga, hanya ada mama dan papa. Selebihnya hanya para pembantu saja."
__ADS_1
"Iya Pa. Kami nanti akan berembug dulu."
Bilang saja nanti, nantinya kapan nggak tahu juga.
"Ini kan tokonya?" Tuan Winata mengerem mobilnya.
"Iya Pa, terimakasih ya Pa sudah mengantar." Mentari turun dari mobil dan menutup kembali pintunya.
"Sama-sama dan hati-hati. Papa pergi ya?"
"Iya Pa."
Mentari melangkah ke dalam toko. Penampilannya yang tidak membawa apa-apa menjadi pertanyaan di hati Nanik.
"Tumben nggak bawa tas?"
"Jangankan bawa tas ponsel saja ketinggalan, Mbak."
"Loh kok bisa?"
"Bisa lah orang Mentari terburu-buru tadi, jadi nggak sempat ambil tas."
"Masih pagi juga, mau ngejar apa hingga harus terburu-buru begitu?"
"Ngejar waktu kerja Mbak biar cepat kaya." Mentari terkekeh.
"Mana bisa kaya kalau hanya menjadi karyawan seperti kita. Yang ada Bu Sarah tuh yang makin kaya."
"Amin," jawab keduanya serentak.
"By the way, kenapa pakaianmu basah begitu Kak?" tanya Sarah penasaran.
"Sebab lari-lari tadi sebelum naik mobil."
"Lari dari apa?"
"Kejaran kuntilanak," jawab Mentari seenaknya.
"Ada kuntilanak pagi-pagi begini?" tanya Sarah lagi.
"Ada lah kan kuntilanaknya kesiangan. Kalau tidak percaya silahkan lihat saja di apartemenku," ucap Mentari santai.
"Kok aku jadi kepo ya," kelakar Nanik.
"Bolehlah tengok Mbak. Kalau masih tidak percaya juga lihat nih rambutku yang di depan sebelah kiri malah lebih pendek dari yang sebelah kanan."
Reflek keempat netra orang di depannya langsung menatap ke arah rambut Mentari. Nanik tampak kaget, tetapi malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Mentari! Mentari! Mau membuat tren rambut baru apa?" Nanik tertawa lagi, Sarah pun ikutan tertawa tapi langsung menutup mulutnya.
"Cekk, sudah kubilang ini mahakarya kuntilanak. Dia tuh yang mau viral." Mentari berucap dengan nada datar.
"Ya sudah Kak, Kak Mentari ganti baju dulu ke belakang. Ada seragam kaos tuh di laci kamar belakang. Kalau mau mandi dulu juga nggak apa-apa."
"Iya Sarah terima kasih. Aku mandi dulu deh biar tidak bau." Mentari beranjak pergi.
"Jangan lupa mandi kembang tujuh rupa agar kuntilanaknya kabur!" seru Nanik menggoda Mentari.
"Bukan tambah nempel ya Mbak Nanik kalau mandi kembang tujuh rupa?"
"Tidak tahu Bu Sarah saya kan hanya bercanda."
***
"Itu bukannya Bintang ya?" Tuan Winata mengikuti mobil Bintang. Ternyata masuk ke area rumah sakit.
"Siapa yang sakit? Bukannya Mentari tadi bersamaku?" Tuan Winata bertanya-tanya pada diri sendiri melihat Bintang menggendong tubuh seorang wanita di parkiran. Sudah dipastikan itu bukan Mentari karena wanita itu baru saja diantarkannya ke tempat yang lain.
Tuan Winata menepi, mengawasi pergerakan Bintang dari dalam mobil.
"Siapa yang dia bawa ke rumah sakit? Apa atas perintah Gala?" Tuan Winata langsung menelpon Gala untuk memastikan bahwa Bintang tidak diberikan tugas mengantar salah satu karyawan di perusahaan Galaksi.
"Kata Gala tidak, terus wanita tadi siapa?" Tuan Winata memutuskan untuk menunda kepergiannya ke kantor. Dia malah ingin menunggu Bintang hingga keluar lagi. Tuan Winata pun langsung menghubungi asistennya di kantor untuk memberitahukan bahwa dirinya akan datang lebih siang lagi ke kantornya.
Beberapa saat kemudian Bintang keluar masih dengan menggendong wanita tadi. Karena jarak antara mobil Tuan Wanita yang ada di luar area rumah sakit dan mobil Bintang yang terpikir depan rumah sakit, Tuan Winata tidak dapat melihat secara jelas siapa wanita itu. Tuan Winata pun sengaja menjauh agar tidak diketahui oleh Bintang.
Setelah mobil Bintang keluar dari perkiraan Tuan Winata mengikuti mobil tersebut tetapi masih menjaga jarak.
Sampai di depan apartemen Tuan Winata turun dan menyuruh seseorang untuk mengambil foto wanita yang ada dalam gendongan putranya. Tidak ingin membuang-buang waktu, tetapi juga tidak ingin putranya tahu bahwa dirinya diikuti.
"Ini Tuan foto wanita itu." Seorang suruhannya tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan foto Katrina.
"Dia masih berhubungan dengan wanita ini?" Tuan Winata tersentak kaget, Bintang ternyata ingkar janji.
"Shi*t!" Tuan Winata merobek foto tersebut dan melempar ke udara. Tidak mau foto tersebut dilihat menantunya nanti.
"Kenapa Tuan?"
"Tidak apa-apa. Ini bayaranmu dan kamu boleh pergi."
"Baik Tuan terima kasih banyak. Senang bekerjasama dengan Tuan."
"Iya, pergilah!"
"Baik." Pria itu melenggang pergi dengan beberapa lembar uang warna merah di tangan.
__ADS_1
"Apakah Mentari sudah tahu semuanya?" Tuan Winata bertanya-tanya dalam hati dan berharap banyak menantunya belum tahu akan ulah Bintang sampai Bintang bisa berubah.
Bersambung....