HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 172. Kegalauan Katrina


__ADS_3

Sarah langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju mall dimana kedua sahabatnya dia tinggalkan tadi.


"Sarah!" Kedua teman-temannya itu terlihat merajuk.


"Mana belanjaan kalian?" tanya Sarah dengan ekspresi tenang membuat kedua sahabatnya itu berpikir bahwa Sarah memang sengaja meninggalkan diri mereka sejak tadi.


"Tuh di depan kasir!" tunjuk Maila masih dengan muka cemberut.


"Oke." Sarah pun mendekat ke arah kasir dan meminta petugas kasir untuk menotal belanjaan Maila dan Rita.


"Maaf ya Mbak, teman-teman saya tidak bermaksud mencuri, dia mungkin hanya menunggu saya dan kebetulan saya tadi pergi sebentar karena ada kepentingan mendesak," jelas Sarah agar tidak ada kesalah pahaman antara kedua sahabatnya dengan petugas mall tersebut.


"Bagaimana saya tidak curiga Mbak, teman-teman Mbak terlihat mengendap-endap sambil mendorong troli. Setelah kami bawa ke kasir mereka malah mengatakan tidak ada uang. Mana mungkin orang mau belanja kalau tidak ada uang? Jadi kami pikir mereka itu hanya mau mencuri," terang petugas kasir tersebut.


"Kami bukan mengendap-endap Mbak, tapi kami tadi bersembunyi dari kejaran musuh kami," jelas Rita.


Sarah mengernyit. "Sejak kapan mereka mempunyai musuh?" tanyanya dalam hati.


"Tapi kami, kan tidak tahu Mbak," protes petugas kasir tersebut.


"Mana bisa tahu kalau setiap kali kami mau menjelaskan si Mbaknya selalu memotong perkataan kami," protes Maila dengan suara ketus sebab teramat kesal dengan penjaga kasir tersebut yang sedari tadi bicaranya ngotot terus.


"Sudah-sudah tidak usah berebut menang. Kalian sama Mbak kasir ini sama-sama salah," ujar Sarah.


"Sekali lagi mohon maaf ya Mbak," ucap petugas kasir tersebut.


"Iya Mbak tapi lain kali sebaiknya jangan menuduh orang sembarangan kalau tidak ada bukti, sebab Mbak bisa dituntut atas pencemaran nama baik. Bukankah teman saya ini tidak membawa kabur barang belanjaannya sebelum membayar?"


"Iya Mbak, maaf."


"Maaf-maaf, kamu pikir kami tidak malu apa tadi sama pengunjung yang lain," kesal Rita.

__ADS_1


"Ya sudah, jadikan pelajaran saja buat kalian semua. Si Mbak dan juga kalian berdua.


"Loh malah kami juga disebut Sarah. Kami, kan nggak salah," protes Maila.


"Tetap aja salah karena telah menimbulkan kecurigaan pada pegawai mall," bantah Sarah.


"Cih, itu gara-gara kamu." Maila memberengut kesal.


"Betul, coba saja kamu nggak menghilang begini. Pasti kami tidak akan sampai dituduh macam-macam," timpal Rita.


"Sorry tadi saya harus ke rumah sakit karena kakak ipar saya masuk rumah sakit," jelas Sarah.


"Cih alasan, tiada maaf bagimu," ujar Rita.


"Ya sudah, tiada maaf berarti tidak ada belanjaan. Aku bagi-bagi aja deh belanjaan ini pada orang-orang yang melintas saja," kelakar Sarah.


"Eh, eh jangan! Sayang," ucap keduanya malah mengubah ekspresi kesal mereka menjadi memelas.


"Aku pulang." Sarah berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari area mall tersebut.


"Sarah tunggu!" Keduanya mengejar Sarah sampai di parkiran rumah sakit dan setelah sampai di sana mereka malah tidak menemukan keberadaan Sarah. Tentu saja sebab Sarah sudah berlalu pergi dengan secepat kilat.


***


"Kate, sebaiknya kamu tidak usah bekerja saja," saran Arka saat Katrina meminta bantuan Arka untuk mencarikan pekerjaan dirinya di perusahaan lain.


"Terus aku dapat uang darimana Arka kalau tidak bekerja? Kamu pikir uang bisa jatuh dari langit begitu saja? Kau tahu bukan bahwa Bintang sudah tidak bisa diandalkan?"


"Kalau sudah tahu tidak bisa diandalkan kenapa masih dipertahankan?" tanya Arka sangat heran dengan pemikiran Katrina. Kalau bertahan karena cinta terhadap Bintang tidaklah benar mengingat Katrina masih saja berselingkuh dengannya di belakang Bintang itu.


"Karena aku masih berharap. Bukankah aku adalah istri satu-satunya dari Bintang?"

__ADS_1


Arka menggelengkan kepala sebab merasa Katrina masih saja tidak berubah. Bagi perempuan itu yang terpenting dalam hidupnya adalah harta dan jabatan. Namun, Arka masih saja perduli dan sangat mencintai perempuan itu. Entahlah Arka tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya sendiri. Pria itu masih saja berharap Katrina lepas dari kehidupan Bintang seperti yang terjadi pada Mentari.


"Aku yang akan menanggung semua kebutuhanmu," ucap Arka dengan begitu yakin.


"Benarkah?" tanya Katrina tidak percaya.


"Iya, kamu harus percaya padaku karena aku tidak pernah berbohong padamu," ucap Arka begitu meyakinkan.


"Janji?" tanya Katrina memastikan.


"Janji," sahut Arka mantap.


"Baik aku pegang kata-katamu," ucap Katrina.


"Siap," ucap Arka.


Setelah menutup panggilan telepon dari Arka, Katrina berjalan ke arah mobil untuk mencari keberadaan Bintang sebab sejak semalam pria itu tidak pulang ke apartemen.


Tempat pertama yang Katrina datangi adalah kediaman Tuan Winata. Namun, tenyata Bintang tidak ada di sana dan dia malah disambut dengan ekspresi kecut oleh Arumi.


"Bintang tidak ada di sini. Apa kerjamu sehingga sampai tidak tahu suami sendiri ada dimana," protes Arumi.


"Saya, kan seharian kerja Ma, jadi tidak tahu Bintang itu kemana. Dia tidak pernah izin juga." Katrina tidak ingin disalahkan.


"Ah, sudahlah saya malas bicara denganmu." Arumi langsung meninggal Katrina seorang diri.


"Mengapa Mama malah berubah seperti ini?" Katrina kecewa Arumi tidak sayang lagi padanya.


"Akh, rasanya semakin berat untuk bisa melegalkan hubungan kami. Apakah aku harus bertahan ataukah mundur perlahan dan menerima tawaran Arka untuk hidup dengannya saja? Mengapa aku mulai ragu?" Hati Katrina berperang sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2