HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 37. Siasat Katrina


__ADS_3

Sontak pernyataan itu membuat Bintang dan Mentari syok.


"Apa?"


"Ya mulai saat ini aku juga akan tinggal di sini," tegas Katrina.


"Mana boleh Kate?" protes Bintang.


"Aku juga istrimu Bin, jadi aku juga berhak atas apartemen ini. Kalau aku tidak boleh tinggal di sini berarti dia juga tidak boleh ada di sini," kekeh Katrina.


"Tapi kamu kan sudah ada apartemen sendiri? Untuk apa masih ingin tinggal di sini juga?" Bintang bingung dengan pemikiran Katrina. Seharusnya perempuan itu sadar diri telah dibelikan apartemen oleh Bintang sedangkan Mentari hanya tinggal di apartemen milik Bintang saja.


"Pokoknya aku akan tetap di sini kalau kamu tidak mau tinggal di apartemenku, titik." Katrina masih saja ngotot.


Bintang langsung menarik tubuh Katrina menjauh dari Mentari. "Kamu boleh tinggal di sini tapi apartemen itu akan saya jual," ancam Bintang berbisik di telinga Katrina.


Katrina tersenyum licik. "Mana bisa? Apartemen itu kan sudah atas namaku, apa kamu amnesia?"


Bintang terdiam. Benar kata Katrina Bintang sudah tidak berhak atas apartemen itu. Laki-laki itu memang bodoh, dulu saat Katrina merayunya dia langsung mengabulkan permintaannya itu.


Dulu rasa cinta Bintang memang teramat dalam terhadap wanita itu. Saat sedih ketika mendapat penolakan oleh Tuan Winata Katrina terlihat stres dan akhirnya Bintang menghiburnya dengan membelikan apartemen untuknya. Awalnya masih atas nama Bintang, tetapi akhirnya Katrina berhasil mempengaruhi Bintang agar mengubah kepemilikan apartemen tersebut menjadi miliknya sendiri.


"Seharusnya kamu bersyukur aku sudah membelikan mu apartemen sedangkan Mentari tidak. Kamu itu lebih beruntung daripada dia. Kurang apa sih aku sama kamu? Berbagi waktu saja kenapa kamu permasalahkan? Toh di kantor kita lebih sering bertemu?"


"Pokoknya aku mau kamu tinggal di apartemenku. Kalau tidak ya sudah aku tinggal di sini saja. Enak aja bilang aku yang lebih beruntung daripada pada dia. Lupa ya kamu dia telah dibelikan rumah di kampung, juga dijamin keluarganya. Aku mana ada seperti itu?"


"Tapi itu bukan aku yang belikan tapi Papa dan aku tidak tahu-menahu soal itu," jelas Bintang.


"Alah sama saja."


"Kate lebih baik kamu pulang!" perintah Bintang. Katrina menggeleng.


"Ayo aku antar!" Bintang menarik tubuh Katrina agar keluar dari apartemen.

__ADS_1


"Sudah kukatakan aku tidak mau Bin. Aku mau di sini." Katrina masih saja ngotot.


"Tidak boleh Kate. Dua istri tidak boleh tinggal dalam satu rumah ataupun apartemen," jelas Bintang.


"Aku tidak perduli." Katrina masih saja bersikukuh.


"Ayolah Kate kamu tidak boleh tinggal di sini kalau papa lihat bisa kacau," mohon Bintang. Mentari hanya menatap keduanya tanpa mau ikut campur.


"Aku tidak mau. Anak kita tidak bisa berjauhan denganmu. Kau tahu tiap malam aku tidak bisa tidur karena tidak ada kamu di sampingku," ucap Katrina memelas.


"Lama-lama aku bisa insomnia," lanjut Katrina.


"Nggak perlu beralasan. Kamu jangan bawa-bawa anak kita sebagai alasan agar aku tinggal bersamamu terus dan meninggalkan Mentari," ucap Bintang. Sebenarnya memang itu yang dinginkan Katrina. Bintang mengabaikan Mentari dan wanita itu akan menyerah dan memilih mundur dari pernikahannya dengan Bintang.


"Oh jadi kamu nggak percaya lagi sama aku gara-gara wanita itu?" tunjuk Katrina ke arah Mentari.


"Apa istimewanya dia dibandingkan aku?" tanyanya lagi.


"Bukan masalah istimewa atau tidak Kate, tetapi tentang tanggung jawabku sebagai suaminya."


Bintang terdiam, tidak menjawab pertanyaan Katrina itu. Ingin mengatakan iya dia tidak mau Katrina tambah marah. Ingin menjawab tidak, dia takut Mentari pasti akan kecewa.


"Bintang, jawab!" bentak Katrina.


"Iya." Akhirnya Bintang memilih jujur.


"Hah berarti benar kau mempermainkan aku. Kamu bilang akan selalu mencintaiku. Mana janjimu itu Bin?" Katrina terlihat tak bergairah.


"Aku mencintainya tapi tetap mencintaimu kok Kate."


"Bohong! Kau berbohong Bin. Cintamu padaku telah pergi. Kalau begitu untuk apa lagi aku hidup di dunia ini. Hidupku tidak ada artinya lagi Bin." Katrina melirik pisau yang berada di atas piring buah.


"Kau mau apa Kate?" tanya Bintang khawatir sambil merebut pisau di tangan Katrina.

__ADS_1


"Lepaskan Bin! Kau sudah tidak sayang lagi padaku. Lebih baik aku pergi dengan membawa bayi ini." Katrina terlihat gusar sambil mendorong Bintang ke belakang.


"Lebih baik aku mati," ancam Katrina. Tangannya hendak menghunus perutnya sendiri.


"Jangan Kate!" teriak Bintang sambil terus berusaha mengambil pisau tersebut. Katrina terus menggerakkan tangan berusaha menghindar dari tangan Bintang yang ingin merebut pisau hingga akhirnya tak sengaja pisau itu menggores pergelangan tangan kirinya.


"Aaakh." Katrina mengaduh kesakitan. Pisau dari tangannya terlepas ke lantai.


"Tolong Bin!" Suaranya terdengar lemah dan hampir tak terdengar.


"Kate!" teriak Bintang lalu menangkap tubuh Katrina sebelum tersungkur ke lantai.


"Mas dia tidak apa-apa?" tanya Mentari sambil berjalan mendekat.


"Bantu aku Me!" pinta Bintang. Wajan pria itu terlihat pucat.


"Iya Mas, kita bawa dia ke rumah sakit secepatnya," ucap Mentari sambil bergegas membuka pintu apartemen.


Bintang menggendong Katrina keluar. "Me tolong kunci mobilku diambilkan!" perintah Bintang sambil terus menggotong tubuh Katrina ke arah lift.


Mentari berlari masuk kamar dan mengambil kunci mobil Bintang. Setelah itu dia pun berlari kembali menyusul Bintang. Tidak lupa dia mengunci pintu apartemen terlebih dahulu.


"Cepat Me buka pintu mobilnya!" perintah Bintang panik. Selama menjalani hubungan bersama Katrina wanita itu tidak pernah senekat itu.


Setelah pintu mobil terbuka Bintang langsung meletakkan tubuh Katrina di kursi depan. Tempat di sebelah dirinya menyetir sedangkan Mentari memilih duduk di kursi belakang mobil.


"Apa yang kau lakukan Kate? Mengapa kau senekat ini?" Bintang melirik Katrina yang matanya masih terpejam dengan tubuh yang tidak berdaya.


"Semoga tidak terjadi apa-apa sama bayi kita. Bertahanlah Kate, jangan pernah tinggalkan aku. Maafkan aku Kate seharusnya aku lebih mengutamakan kamu daripada yang lainnnya. Kamu benar dalam dirimu ada dua orang yang harus aku perhatikan." Wajah Bintang terlihat penuh sesal.


"Kate kau cinta pertamaku dan sampai kapanpun cinta ini tidak akan pernah berakhir. Kau salah jika mengatakan aku sudah tidak mencintaimu." Bintang berkata dengan air mata yang meleleh.


Mentari yang mendengar perkataan Bintang memalingkan muka. Dia yang tadinya memandang ke arah depan beralih melihat ke samping melihat ke luar kaca mobil. Rasanya begitu sakit mendengar Bintang mengakui cintanya pada orang lain di hadapannya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin ini yang dirasakan Katrina tadi, memang begitu sakit," kata Mentari dalam hati. Namun, dia sadar inilah resiko menikah dengan pria yang sudah beristri. Semua harus dibagi dua.


Bersambung....


__ADS_2