
"Ah, ada-ada saja tuh Diandra," kesal Gala.
"Ada apa?" tanya Sarah melihat sang suami kesal.
"Itu Diandra masa jadwal ketemu klien benturan. Pantas saja Kiki sedari tadi neror aku terus. Telepon terus-terusan. Aku pikir dia sengaja mau ganggu kita."
Sarah mengangguk.
"Malah jam nya nggak ada yang mau diundur lagi," lanjut Gala sambil mengacak rambutnya frustrasi.
"Ya sudah bagi tugas saja sama Pak Kiki. Kenapa mesti bingung sih?"
"Ini masih dalam suasana pernikahan Sarah, masa aku ninggalin kamu kerja sih?"
"Emang kenapa, orang kita nggak ngapa-ngapain juga di rumah?"
"Ckk, tetap saja aku mau berduaan sama kamu."
"Ya sudah aku ikut saja, beres, kan?"
"Beneran kamu mau ikut?" Gala terlihat antusias.
Sarah mengangguk.
"Ya sudah sana bersiap-siap! Kita harus menyiapkan berkas sebelum berangkat ke restoran tempat kita bertemu klien."
"Oke siap," sahut Sarah membuat Gala mengangguk senang.
Mereka berdua pun berlomba-lomba untuk berdandan.
Aku keluar dulu ya Sarah, mau minum kopi sebentar," pamit Gala setelah pria itu sudah rapi dengan setelan jas nya.
"Eh Pak saya belum buat kopinya," ujar Sarah panik dan langsung berdiri padahal jilbabnya belum terpasang di kepala.
"Sudah nggak usah, biasanya bibi sudah membuatkan. Kamu teruskan saja berdandan biar kita bisa cepat pergi!"
"Baiklah," sahut Sarah dan duduk kembali di depan meja rias.
Gala keluar dan menemui bibi di dapur.
"Apa perlu saya bawakan ke kamar Den?" Padahal biasanya memang bibi mengantarkan minuman Gala ke dalam kamarnya. Namun, karena sekarang sudah ada Sarah bibi merasa perlu pamit terlebih dahulu.
"Tidak usah Bik, saya sudah mau berangkat juga ke kantor," jawab Gala sambil menyeruput kopinya. Setelah selesai pria itu berbalik dan melangkah menuju kamar kembali.
Gala meraih laptop dan memasukkan pada tas kerjanya. Saat dia hendak menenteng tas tersebut, Gala urung melihat Sarah belum selesai juga memakai jilbab.
"Mau kau apakan tuh kain Sarah? Awas dia menjerit kesakitan karena kau tarik sana-sini," protes Gala sambil terkekeh melihat Sarah masih belibet dengan jilbabnya.
"Sebentar lagi Pak, apakah waktunya mepet?"
"Ah nggak lanjutkan saja." Gala duduk di tepian ranjang sambil melihat pergerakan Sarah lewat kaca.
"Tumben pakai jilbab seperti itu, biasanya pakai jilbab yang simpel-simpel saja."
"Bapak nggak suka?"
"Suka kok Sarah, kamu tambah cantik kalau seperti ini."
__ADS_1
Wajah Sarah langsung bersemu merah mendengar pujian yang dilontarkan Gala untuknya. Maklumlah, Sarah juga gugup jika Gala yang biasanya meledek dirinya kini berbalik memuji. Rasanya aneh saja di telinga Sarah.
"Terima kasih atas pujiannya," ujar Sarah lalu menutup wajah.
"Aku dandan seperti ini biar tidak malu-maluin bapak," jelas Sarah kemudian.
"Ya, ya bagus kalau begitu. Tapi saya lebih tenang kalau kamu dandan seperti biasa."
"Loh kok begitu?" tanya Sarah bingung. Tadi Gala mengatakan suka dengan dandanan Sarah sekarang malah mengatakan tidak tenang jika Sarah berdandan seperti itu.
"Saya tidak mau kamu dilirik orang kalau cantik begini," ujar Gala membuat Sarah langsung tepuk jidat.
"Ya sudah kalau begitu aku pakai cadar saja." Sarah berjalan ke arah kopernya yang belum sempat ia masukkan ke dalam lemari.
"Eh, eh, jangan! Sudah yuk kita berangkat saja." Gala menggenggam tangan Sarah dan menggandengnya menuju mobil.
Sampai di perusahaan terlihat Kiki sudah bersiap-siap begitupun dengan Diandra. Sarah tidak ikut ke ruangan kerja sang suami tetapi lebih memilih menunggu di mobil.
"Bagaimana Ki sudah siap?"
"Sudah Pak." Untuk klien yang dari Amerika biar saya yang tangani. Bapak tangani saja klien yang dari Jepang. Saya akan pergi sendiri sedangkan Pak Gala akan ditemani oleh Diandra," papar Kiki.
Diandra tersenyum senang, idenya disetujui oleh Kiki. Wanita itu berniat licik, ingin menjebak Gala agar jatuh ke pangkuannya dan Sarah akan melepaskan diri tanpa diminta.
"Tidak perlu, biar Diantara sama kamu saja," tolak Gala.
"Tapi yang saya tahu Pak, klien yang dari Jepang itu ribet banget Pak. Dia tidak akan puas dengan jawaban yang kurang mendetail. Biar Bapak tidak capek untuk menjelaskan biar Diandra yang bantu."
"Tidak perlu Ki, kau jangan khawatirkan aku. Aku ada Sarah yang akan membantu. Kau tahu sendiri kan kemampuan dia?"
"Oh kalau begitu bagus dong Pak, jadi kita sama-sama ada yang mendampingi," ujar Kiki antusias.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tahu kemampuan istriku," ucap Gala membuat Diandra geram dalam hati.
"Mana berkas yang harus saya bawa!" pinta Gala pada Kiki dan Kiki segera mengambil dan menyerahkan pada Gala.
"Kalau begitu saya berangkat duluan. Semoga kalian sukses!" Gala pun meninggalkan ruangan kerjanya dan menemui istrinya kembali di mobil.
"Bagaimana sudah siap?" tanya Sarah.
Gala mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
"Coba lihat berkasnya!" pinta Sarah.
Gala pun memberikan berkas ke tangan Sarah dan dirinya fokus menyetir.
Selama perjalanan tidak ada yang berbicara. Gala fokus menatap jalanan yang ramai sambil menyetir dan Sarah fokus mempelajari berkas yang ada di tangannya.
"Astaga, aku melupakan sesuatu!"
"Ada apa Pak?" Sarah menutup berkas dan menaruh di pangkuannya.
"Sarah tolong telepon Kiki tanyakan tempat pertemuannya dimana!"
Sarah mengangguk dan langsung menghubungi Kiki.
"Bagaimana?" tanya Gala saat melihat Sarah menutup panggilan telponnya.
__ADS_1
"Bentar!"
Gala mengangguk.
Sarah memperlihatkan chat Kiki yang memberitahukan posisi kliennya berada sekarang.
"Oke."
"Katanya mereka sudah menunggu Pak," lapor Sarah.
"Kamu tidak apa-apa ya kalau aku mengebut?"
"Iya Pak nggak apa-apa. Sarah malam suka kebut-kebutan." Sarah cengengesan.
"Dasar cewek aneh."
"Bapak lebih aneh karena suka pada cewek aneh," balas Sarah.
Mereka berdua saling tatap kemudian tertawa saat mengingat momen-momen dimana mereka selalu berdebat layaknya seorang musuh.
"Sudah sampai," ujar Gala lalu memarkirkan mobilnya.
Setelah masuk ke dalam restoran ternyata kliennya itu baru menyelesaikan makan.
"Good morning Sir!" sapa Gala.
Pria yang sedang meminum air putih itu pun kaget lalu berdiri menyalami tangan Gala. Begitupun dengan pria yang berada di sampingnya.
"Morning too. Sorry kami makan duluan karena lapar, baru dari bandara."
"Never mind! Silahkan duduk kembali. Kalau sarapannya belum selesai biar kami tunggu," ujar Gala.
"Oh no, kami sudah selesai."
Gala mengangguk.
Klien yang duduk di depannya menjentikkan jari kepada pelayan agar mendekat.
"Bereskan!"
Pelayan pun membereskan makanan yang ada di atas meja.
"Bisa dimulai?" tanya Gala saat meja sudah dalam keadaan bersih.
Kliennya itu mengangguk.
Mereka bertiga pun melakukan diskusi. Sarah hanya menyela saat merasa dibutuhkan saja dan seperti biasa penjelasan Sarah meskipun simpel selalu membuat lawan bicaranya cepat mengerti. Mungkin karena wanita itu selalu memilih kalimat efektif saat menjelaskan sehingga tidak bertele-tele.
"Dia sekretaris Anda?" tanya klien tesebut pada Gala.
"Dia sekretaris sekaligus istri saya," jawab Gala bangga dan juga agar pria itu tidak berharap banyak pada Sarah. Gala tahu lelaki di depannya menyukai sang istri.
"Wah bisa berkolaborasi dengan istri sendiri itu luar biasa," ujar klien tersebut.
"Awalnya kupikir dia bukan istri Bapak." Klien itu malah tertawa.
"Lain kali kamu nggak usah ikut lagi saat aku bertemu klien," bisik Gala di telinga Sarah.
__ADS_1
"Lah memang kenapa? Apa salahku?" batin Sarah.
Bersambung