HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 193. Sukses


__ADS_3

"Boleh kalau begitu kita langsung ke meeting room sekarang," sahut Gala.


Kedua pria itu mengangguk.


"Sebentar!"


Gala melambaikan tangan ke arah waitress tadi yang kebetulan selesai meletakkan makanan di meja pengunjung lain.


Wanita yang menyadari Gala memanggil dirinya langsung berlari ke arah Sarah dan Gala.


"Ini uangnya dan kembaliannya ambil saja." Gala meletakkan beberapa lembar uang di atas meja saat waitress itu hampir sampai di posisi mereka.


"Baik Mas, terima kasih."


Gala mengangguk lalu bergerak menuju meeting room yang sudah dipesan sebelumnya oleh Kiki.


"Silahkan duduk Pak," ujar Gala mempersilahkan kedua orang pria di depannya untuk duduk saat mereka telah sampai di meja yang ada di ruangan meeting room hotel tersebut.


Kedua orang tersebut mengangguk. Namun, sebelum duduk pria yang satunya mengulurkan tangan ke arah Gala dan memperkenalkan diri.


"Selamat pagi Pak, sebelumnya perkenalkan nama saya Harlan dari PT Bumi Abadi dan ini adalah Wawan, asisten saya."


Gala pun menerima uluran tangan pria tersebut dan juga memperkenalkan diri.


"Saya Galaksi Pradiatama dari perusahaan Pradiatama dan ini sekretaris saya, namanya Sarah."


Mereka berdua mengangguk dan saling bersalaman. Namun, saat mereka berdua mengulurkan tangannya ke arah Sarah, gadis itu hanya menangkupkan tangan di depan dada sambil menyebut namanya sendiri.


"Sarah Almeira."


"Nama yang cantik, sama seperti orangnya," puji Harlan. Gala menatap pria itu tidak percaya.


"Baru kenal sudah menggombal," ucap Gala dalam hati.


"Terima kasih atas pujiannya dan silahkan duduk," ujar Sarah.


Kedua klien Gala itu hanya mengangguk dan langsung duduk.


"Mau pesan minum dulu apa langsung saja?" tanya Gala sedikit berbasa-basi siapa tahu juga kedua orang tersebut masih ingin berbicara ringan sebentar sebelum membahas topik yang lebih berat.


"Tidak perlu, langsung saja. Ini kan ada air putih. Pesan minumnya nanti saja setelah diskusi kita selesai."


"Baik," ujar Gala dan pria itu membuka percakapan sebelum akhirnya mempersilahkan Sarah untuk melakukan presentasi.

__ADS_1


"Untuk lebih jelasnya biar sekretaris saya yang menjelaskan semuanya," ujar Gala. Kedua orang yang duduk berhadapan dengannya mengangguk setuju.


"Silahkan Sarah presentasinya, waktu dan tempat saya persilahkan!"


"Baik Pak."


Sarah membuka laptopnya dan mengarahkan kepada kedua klien Gala agar bisa melihat slide presentasi dari layar laptopnya.


"Maaf sebelumnya, dari laptop saja apakah terlihat jelas gambarnya? Kalau tidak biar saya pakai proyektor saja," ujar Sarah sebelum memulai persentasinya.


"Sepertinya tidak perlu, ini sudah cukup jelas," ujar Harlan.


"Baik terima kasih. Kalau begitu saya akan mulai menjelaskan."


Kedua pria itu mengangguk tidak terkecuali Gala yang akhirnya turut mengangguk.


Sarah menarik nafas panjang sebelum menjelaskan. Dalam hati dia berdoa agar suaranya tidak keceklik nanti saat berbicara. Kalau sampai itu terjadi dia pasti akan sangat malu.


Dengan intonasi yang begitu jelas Sarah melakukan presentasi di depan ketiga orang pria. Ada sedikit rasa canggung saat menyampaikan pesan presentasinya. Namun, saat mengingat hukuman yang akan diberikan Gala, gadis itu termotivasi lagi untuk mendapatkan kesuksesan dalam meyakinkan kedua orang yang saat ini begitu fokus menatap ke arahnya dan mendengarkan setiap penjelasan yang keluar dari mulutnya.


Sarah terlihat antusiasme menjelaskan. Dia sangat menguasai intonasi saat berbicara. Dia tahu dimana dia harus mengatur tinggi rendahnya suara, cepat lambatnya bicara, juga keras lemahnya suara saat menjelaskan. Bahasa tubuhnya saat menjelaskan pesan demi pesan juga begitu membuat kedua orang yang mendengar terlihat antusias dan tertarik dengan apa yang Sarah sampaikan.


Kedua orang tersebut terlihat terpukau dengan Sarah, bukan hanya dengan pesan yang dia sampaikan, melainkan dengan gaya bicara Sarah yang begitu meyakinkan, bahkan Gala pun mengakui kehebatan Sarah. Untuk orang yang pertama kali melakukan presentasi di depan klien itu, yang dilakukan Sarah begitu sempurna.


Gala melirik kedua orang tersebut yang terlihat tersenyum. Sepertinya kedua orang tersebut tertarik dengan apa yang dibicarakan Sarah sedari tadi.


"Bagaimana Pak, ada yang tidak dimengerti? Silahkan ditanyakan kalau ada," ujar Sarah saat sudah menyelesaikan presentasinya.


Harlan tampak berbisik di telinga Wawan dan sang asisten itu terlihat mengangguk.


"Semua yang dijelaskan sudah sangat jelas, cuma ada beberapa poin yang ingin kami tanyakan sebelum menanda tangani surat perjanjian kerjasama ini," ujar Wawan.


"Baik Pak silahkan ditanyakan," ujar Sarah. "Nanti kalau saya tidak bisa menjelaskan mungkin Pak Gala bisa mengambil alih," imbuhnya.


"Baik." Wawan pun menanyakan beberapa pertanyaan dan berhasil dijawab Sarah dengan jawaban yang memuaskan bagi mereka.


"Hebat sekretaris Pak Gala. Mana surat perjanjian kerjasama yang harus kami tanda tangani?" tanya Wawan pada Gala.


"Terima kasih atas pujiannya," ujar Gala sambil mengulurkan berkas yang harus di tanda tangani ke arah Wawan. Meskipun dia tidak senang sebab yang dipuji bukanlah dirinya ataupun perusahaannya melainkan Sarah saja. Namun, dia harus senang sebab perusahaannya berhasil menggaet kerjasama dengan perusahaan besar lagi.


"Ini Pak, tanda tangani di sini!" Wawan mendekatkan berkas itu ke hadapan Harlan dan pria itu langsung membubuhkan tanda tangan.


Seorang pelayan masuk dan mengantarkan minuman.

__ADS_1


"Bagaimana kalau untuk merayakan keberadaan kerjasama kita, kita makan-makan dulu," ujar Harlan sebelum mereka memutuskan untuk kembali ke perusahaan masing-masing.


"Silahkan kalian memesan makanan biar kami yang membayarnya, tapi mohon maaf kami sudah makan di lantai bawah tadi," ujar Gala.


"Tidak masalah, Pak Gala sama Bu Sarah bisa minum saja sambil menemani kami makan," ujar Harlan lagi.


"Baiklah, kami sebagai mitra yang baik akan menemani kalian makan," ujar Gala lalu meneguk minumannya. Rasanya tenggorokan Gala begitu kering padahal yang banyak bicara sedari tadi hanya Sarah bukanlah dirinya sendiri.


Selama menunggu pesanan makan mereka datang, Harlan dan Wawan menatap Sarah tidak berkedip sehingga membuat Gala yang menyadari hal itu langsung mengajak kedua orang itu berbicara untuk mengalihkan perhatian mereka dari Sarah.


Sayangnya setiap kali mengajak berbicara kedua pria itu merespon tanpa mau mengalihkan pandangannya mereka dari Sarah. Gala pun menatap tubuh Sarah dengan seksama, mungkin ada hal aneh di sana sehingga membuatnya kedua orang di sisinya seperti tertarik magnet untuk menatap gadis itu.


Sarah sendiri menjadi salah tingkah saat ditatap ketiga pria yang ada dalam ruangan itu. Dalam hati bertanya apakah ada yang aneh pada dirinya saat ini. Gadis itu hanya menunduk saja.


"Ekhem." Gala bredeham melihat kedua orang itu tidak ada niatan untuk mengalihkan perhatiannya dari Sarah padahal seorang pelayan sudah menata menu di hadapannya.


Tidak adakah menu yang menarik di sana dibandingkan dengan menatap wajah Sarah?


"Akh, ada apa Pak Gala?" tanya Harlan saat mendengar Gala berdeham.


"Tidak, hanya sakit tenggorokan saja," ujar Gala. Sarah mendongak dan menatap Gala tak percaya.


"Perbanyak minum air air hangat atau air hangat yang dicampur madu, bisa juga minum air kelapa muda Pak Gala kalau tidak ingin minum obat," saran Harlan.


"Terima kasih sarannya, tapi boleh saya bertanya sesuatu pada kalian berdua?"


"Boleh Pak Gala tanyakan saja apa yang ingin Pak Gala tanyakan," jawab Harlan.


"Baiklah kalau boleh, tapi saya mohon Bapak menjawab dengan jujur dan jangan tersinggung."


Harlan mengernyit dan saling tatap dengan sang asisten. Mereka menebak-nebak sekiranya apa yang ingin ditanyakan Gala.


"Tanyakanlah," lanjutnya.


"Maaf kalau pertanyaan saya tidak kalian suka, tapi saya hanya ingin bertanya, sebenarnya kalian tadi tertarik dengan pesan presentasi yang disampaikan Sarah sekretaris saya, ataukah hanya tertarik dengan orangnya?" tanya Gala memastikan. Dia sedikit curiga melihat kedua pria itu menatap Sarah tidak berkedip sedari tadi. Untung saja pakaian Sarah tertutup, kalau gadis itu memakai baju seksi mungkin kedua bola mata pria itu memompa keluar.


"Pak Gala!" Sarah tidak suka dengan pertanyaan Gala. Gadis itu menjadi merasakan tidak enak pada dua pria di hadapannya itu. Sarah juga berpikir pasti pria itu sedang mencari cara agar lepas dari hukuman yang sudah menjadi perjanjian keduanya.


"Dua-duanya, iya nggak Wan?" tanya Harlan pada sang asisten.


"Benar Pak," ujar Wawan dan tersenyum ke arah Sarah sedangkan Sarah sama sekali tidak menanggapinya.


"Kami tidak pernah main-main dengan yang namanya tugas dari perusahaan, tetapi kami akui Bu Sarah tidak hanya pandai tetapi juga sangat manis. Namun, sejujurnya kami memang tertarik dengan tawaran kerjasama dari perusahaan Bapak yang bisa membuat perusahaan kita berdua akan semakin maju dengan kerjasama ini."

__ADS_1


Jawaban Wawan membuat Sarah merasa puas. Gala tidak akan mampu lagi untuk mengelak kekalahan dirinya dan harus mau mengakui kehebatan dirinya yang kata Gala hanya bisa pegang oven dan mixer saja.


Bersambung.


__ADS_2