HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
Part 97. Tuduhan


__ADS_3

Bintang menggeleng mencoba menepis pemikirannya sendiri, tetapi tidak bisa, dirinya sudah dikuasai amarah. Saat ini yang diinginkan hanyalah memukul pria itu sampai babak belur karena telah berani menyentuh istrinya.


Bintang bangkit dari duduknya dengan amarah yang masih menggebu-gebu. Dia langsung berjalan keluar bengkel.


"Mas ini belum selesai, mungkin sebentar lagi!" seru karyawan bengkel tadi karena melihat Bintang seolah terburu-buru.


"Tidak masalah nanti saya akan kembali untuk menjemputnya," jawab Bintang tanpa menoleh sedikitpun dan sampai di luar tangannya langsung menyetop taksi yang melintas di depannya.


"Ke jalan Hayam Wuruk Pak!" seru Bintang.


"Siap Mas," jawab pak sopir kemudian menyetir mobilnya menuju tempat yang disebutkan oleh Bintang.


Tujuan Bintang sekarang hanyalah toko Sarah karena dia tidak tahu saudara laki-laki Sarah itu tinggal dimana. Kalau mencari di apartemen tidak mungkin karena Bintang tidak melihat keberadaan Sarah ataupun lelaki itu di sana saat dirinya keluar dari apartemen tadi pagi.


Mobil berjalan mulus di jalanan dengan santai.


"Percepat Pak laju mobilnya. Lelet banget sih, bisa nyetir nggak?!" teriak Bintang.


Pak sopir hanya menggeleng mendengar nada suara Bintang yang meninggi. Dia hanya bisa mengurut dada. Pak sopir mengerti pria itu dalam keadaan marah jadi dia mengalah dan menurut saja. Pak sopir mempercepat laju mobilnya.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke toko Sarah karena pak sopir tadi mengendarai mobilnya dengan mengebut di jalanan.


Bintang turun dari taksi dan membayar ongkos sesuai yang tertera di taksi meter. Ia kemudian berjalan cepat ke arah Mentari yang sedang berdiri di belakang etalase kue sambil membicarakan tentang pesanan kue seseorang bersama ustadz Alzam. Kebetulan saat itu pihak madrasah tempat ustadz Alzam mengajar ingin mengadakan acara dan berencana memesan kue dari toko Sarah.


Sebenarnya, awalnya ustadz Alzam ingin memberi tahu Nanik, tetapi karena wanita itu sedang sakit perut dan tidak tahan ingin buang air besar, Nanik berbicara sambil berlari ke toilet dengan mengatakan, "Sampaikan pada Mentari saja ustadz."


Ustadz Alzam yang sedang terburu-buru pun memilih menyampaikan kepada Mentari dibandingkan menunggu Nanik yang akan banyak menyita waktunya.


Plak.


Saat sedang serius mengobrol tiba-tiba saja ada yang memukul bahu ustadz Alzam dengan keras.


"Astaghfirullah hal adzim." Sontak ustadz Alzam mengelus punggungnya dan menoleh ke belakang.


"Ada apa?" tanya ustadz Alzam dengan suara lembut. Dia masih bersikap tenang.


Mentari menoleh dan kaget melihat keberadaan Bintang dan bahkan memukul ustadz Alzam.


Bug! Bug! Bug!

__ADS_1


Bintang langsung menghajar ustadz Alzam tanpa ampun.


"Mas hentikan!" teriak Mentari melihat Bintang memukul ustadz Alzam tanpa jeda sehingga membuat pria itu tidak berdaya untuk melawan.


"Kalau ada masalah tolong sampaikan dengan baik. Kita musyarawahkan bersama," ujar ustadz Alzam. Meski sudah terlihat babak belur pria itu masih belum terpancing amarah.


"Masalahnya tidak bisa diselesaikan karena masalahnya kamu sendiri!" tuding Bintang pada wajah ustadz Alzam.


Mentari dan ustadz Alzam sama-sama tidak mengerti dengan perkataan Bintang. Begitupun dengan Mega yang sedang menata kue ke dalam etalase. Mega segera menghentikan pekerjaannya.


"Mas ada apa ini?" Mentari tidak tahan dengan asumsinya sendiri. Dia ingin Bintang menjelaskan masalahnya agar dia tidak berpikir macam-macam.


"Kupikir kau setia Me, ternyata kau berselingkuh dengan lelaki sok alim ini." Sontak saja mata Mentari terbelalak mendengar tuduhan Bintang begituan dengan ustadz Alzam.


"Itu sama sekali tidak benar Mas, itu fitnah," sanggah Mentari.


"Fitnah kamu bilang? Sekarang ngapain kalian berduaan seperti ini kalau tidak sedang pacaran hah?!" bentak Bintang.


"Dengarkan aku dulu Mas kami sedang membahas pesanan ...."


"Kau pikir aku percaya?" Bintang masih tampak emosi.


Ustadz Alzam bangkit dari lantai, mengusap darah yang mengalir dari ujung bibirnya dengan sorban. Hari ini sebenarnya dia ingin mengisi ceramah di suatu tempat.


Bintang tidak perduli, sekarang amarahnya sudah memuncak.


Bug! Bug! Bug!


Bintang melakukan serangan mendadak lagi hingga membuat ustadz Alzam kini tersungkur di lantai.


"Hentikan!" Mentari berteriak dengan lebih keras lagi hingga Nanik yang berada dalam toilet pun mendengar dan langsung cebokan lalu berlari keluar.


"Ada apa?" Nanik malah ikut mematung melihat ada Bintang dan ustadz Alzam yang tampak sudah kacau penampilannya.


Mentari menghalangi tubuh ustadz Alzam yang tampak tidak berdaya. Mentari tidak ingin pria itu terkena pukulan Bintang lagi.


"Mas kumohon hentikan!"


Bintang semakin benci karena Mentari memilih melindungi pria itu.

__ADS_1


"Waw ternyata kau rela mati untuk dia ya!"


Mentari semakin bingung dengan kekonyolan Bintang.


"Aku hanya tidak ingin kau membunuh orang Mas. Aku tidak ingin kau masuk penjara," bantah Mentari.


"Kau berbohong."


"Kau berbohong Me!" Bintang menaikkan oktaf suaranya.


"Dengar Mas, apa yang kau tuduhkan kepada kami itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah berselingkuh. Aku hanya mencintai Mas Bintang, tidak ada yang lain Mas. Kau pikir aku bertahan dengan pernikahan kita karena apa? Karena aku benar-benar mencintai Mas Bintang. Kalau tidak, mungkin aku sudah menyerah dan pergi dari kehidupan Mas Bintang," jelas Mentari. Dia sudah tidak kuasa, air matanya berjatuhan.


"Omong kosong." Bintang menarik tubuh Mentari agar tidak menutupi penglihatannya pada tubuh ustadz Alzam dan pria itu masih menendang tubuh ustadz Alzam.


"Mas!" Mentari memeluk erat tubuh Bintang agar tidak bisa memukul ustadz Alzam lagi. Bisa mati pria itu kalau Bintang memukul membabi buta.


"Lepaskan Me!"


"Pukul saja aku Mas, jangan dia! Dia benar-benar tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa. Jangan pernah libatkan orang lain dalam rumah tangga kita."


"Dia yang bikin masalah." Bintang mendorong tubuh Mentari hingga hampir terjatuh. Dia hendak memulai aksinya memukul kembali.


"Ustadz kenapa kau tidak melawan sih?" Mentari kesal melihat ustadz Alzam menerima saja pukulan dari Bintang tanpa berinisiatif sedikitpun untuk melawan.


"Kita tidak bersalah, kita tidak ada hubungan apa-apa. Kalau ustadz diam seperti itu sama halnya ustad membenarkan tuduhan Mas Bintang," imbuh Mentari, dia sangat kesal dan kecewa.


"Tidak itu tidak benar, tuduhan suamimu itu tidak beralasan. Api itu tidak perlu dilawan dengan api Mentari, sebab bisa mengakibatkan kebakaran."


"Cih munafik loh." Bintang hendak memukul ustadz Alzam lagi. Namun, kali ini ustadz Alzam menepisnya dan memelintir tangan Bintang dengan keras.


"Dengar! Saya bisa mematahkan tanganmu ini kalau saya mau, tapi saya tidak akan melakukannya." Ustadz Alzam melepaskan tangan Bintang.


Api kemarahan semakin berkobar di mata Bintang.


"Dengar ya! Kamu tidak tahu berurusan dengan siapa sekarang. Aku, Bintang Andreas Winata akan memberikan pelajaran lebih dari ini. Tunggulah kehancuranmu," ancam Bintang.


"Aku hanya percaya pada Allah. Kalau dia memang menghendaki kehancuranku maka tidak ada satupun manusia yang bisa menghalanginya begitupun sebaliknya. Kalau Allah tidak menginginkan itu maka dia akan melindungiku."


"Cih tunggulah, Tuhan tidak akan berpihak pada pria yang suka merebut istri orang." Bintang mengepalkan tangan dan langsung meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Mas Bintang!" teriak Mentari dan langsung berlari mengejar Bintang.


Bersambung.


__ADS_2