HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 121. Pendekatan


__ADS_3

Setiap pagi, setelah Mentari resmi bercerai dari Bintang ustadz Alzam senantiasa mengawasi Mentari dari jauh. Pria itu nampak bahagia saat melihat Mentari lebih ceria dari biasanya. Mentari lebih terlihat banyak tersenyum dibandingkan sebelum-sebelumnya yang tampak lebih banyak termenung.


"Kak kenapa tidak kita lamar saja sekarang?" tanya Sarah pada sang kakak yang menepikan mobilnya di pinggir jalan, tetapi karena terhalang oleh mobil lain, posisi mobil mereka tidak terlihat dari toko bangunan.


"Apa tidak kecepatan Sarah?" tanya ustadz Alzam meminta pertimbangan sang adik.


"Aku takut Mentari malah tidak suka. Kau tahu sendiri kan dia baru pisah dengan Bintang," ucap ustadz Alzam lagi. Dia benar-benar takut membuat Mentari merasa syok jika melamar mendadak dan bukannya berbuah manis malah mendapat penolakan.


"Aku hanya khawatir kalau sampai Pak Gala menemukan Kak Mentari terlebih dulu," ujar Sarah sambil nampak berpikir bagaimana baiknya bertindak.


"Insyaallah dia tidak akan menikah dengan siapapun kalau Allah sudah menakdirkan Mentari sebagai jodohku," ucap ustadz Alzam menyerahkan semuanya pada Tuhan.


"Kakak benar, tetapi kita itu tidak bisa berdiam diri saja seperti ini. Usaha kek gimana biar bisa dekat dengan Kak Mentari. Biar nanti kalau Kak Alzam melamar, dia tidak kaget," usul Sarah.


"Usulmu boleh juga." Ustadz Alzam menyambut dengan baik usul Sarah.


"Jadi apa yang akan Kak Alzam lakukan saat ini?" tanya Sarah penasaran dengan tindakan yang akan diambil kakaknya. Dari senyum sang kakak Sarah mengerti pria itu pasti menemukan ide.


"Aku akan ikut bekerja di toko bangunan," sahut ustadz Alzam begitu yakin.


"Boleh juga," ucap Sarah.


Ustadz Alzam turun dari mobil dan berkata, "Kau urus ya semuanya, telepon pak mandor dan katakan apa yang harus dia lakukan!"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu ustadz Alzam berjalan menjauh dari Sarah menuju toko tersebut dengan berjalan kaki.


"Ckk, terburu-buru banget sih. Bertindak tanpa perhitungan. Jadinya aku kan yang repot." Sementara Sarah mengeluh ustadz Alzam sudah sampai di depan toko.


"Ustadz, ada apa datang langsung ke toko?" tanya pak mandor heran. Biasanya kalau mau datang ke toko terlebih dahulu ustadz Alzam menelpon pak mandor.


Tampak Mentari yang ingin keluar dengan membawa semen di tangannya berhenti karena melihat ustadz Alzam berada di toko tersebut.


"Saya ingin melamar kerja di sini," jawab ustadz Alzam membuat mata pak mandor terbelalak tak percaya.


Bersamaan dengan itu ponsel pak mandor berdering. Pria itu segera merogoh ponsel di saku celana training dan segera mengangkat. Menyadari panggilan telepon itu dari Sarah segera pak mandor menepi. "Permisi Ustadz saya terima telepon dulu."


"Silahkan."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah kabarku baik. Bagaimana denganmu?"


"Alhamdulillah juga baik Ustadz. Permisi saya mau mengangkut barang ini ke mobil."


Ustadz Alzam mengangguk kemudian menepi, memberi jalan bagi Mentari untuk lewat. Sementara di sudut toko sana pak mandor tampak mengangguk mendengarkan instruksi dari Sarah. Setelah selesai pria itu berbisik kepada teman-temannya untuk memberitahukan keinginan ustadz Alzam.


"Bagaimana Pak ada lowongan nggak di sini? Boleh tidak saya ikut bekerja dengan kalian semua?" tanya ustadz Alzam lagi setelah pak mandor kembali ke samping mereka.


"Saya sudah menghubungi pemilik toko tadi, katanya Ustadz diterima kerja di sini, tapi ya ini cuma sebagai kuli pengangkut barang-barang bangunan saja. Kalau Ustadz berkenan dengan pekerjaan seperti itu silahkan bergabung dengan kami semua," jelas pak mandor.

__ADS_1


Ustadz Alzam salut dengan akting pak mandornya itu.


"Ustadz juga mau bekerja di sini? Jadi ustadz sudah tidak mengisi ceramah lagi?" Mentari yang kembali masuk ke dalam toko kaget kala mengatakan ustadz Alzam ingin bekerja di tempat seperti itu.


"Iya kenapa Mentari?" tanya ustadz Alzam tenang.


"Ini pekerjaan kasar ustadz, ustadz tidak pantas bekerja di tempat seperti ini," jawab Mentari.


"Kenapa tidak pantas? Saya pikir semua pekerjaan asal halal pantas dikerjakan."


"Maaf ustadz bukan maksudku menyepelekan sebuah pekerjaan, toh ini juga pekerjaanku. Namun, melihat keadaan Sarah yang lumayan berada kenapa ustadz tidak meminta bantuan padanya saja untuk memberikan ustadz pekerjaan," ujar Mentari.


"Saya tidak ingin merepotkan adik saya apalagi dia seorang perempuan. Seharusnya saya yang membantunya bukan malah merepotkan dia."


Mentari mengangguk. "Maaf ya Ustadz pasti gara-gara saya Ustadz sudah tidak ada yang mengundang untuk berceramah lagi." Mentari merasa bersalah.


"Tidak usah dipikirkan, itu bukan karena dirimu, tetapi karena sudah menjadi kehendak dari Tuhan. Insyaallah saya ikhlas kok. Daun yang jatuh saja itu sudah diatur dan menjadi ketetapan dari Tuhan apalagi kehidupan kita Mentari. Apapun itu tidak perlu disesali," ucap ustadz Alzam dibenarkan dengan anggukan oleh Mentari.


Mereka akhirnya menghentikan percakapan mereka tatkala melihat ada pembeli yang datang. Segera ustadz Alzam berbaur dengan para karyawan mengangkut barang-barang pesanan pelanggan.


Sarah yang melihat sang kakak bekerja keras tersenyum lucu. "Selamat bekerja keras kak, cinta itu butuh perjuangan," ucap Sarah lalu menyetir mobilnya kembali meninggalkan toko bangunan menuju tokonya sendiri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2