HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
Bab 236. Cinta Sendirian


__ADS_3

Bintang menggeleng, dia tidak mau pekerjaannya mengambil gambar keduanya sia-sia.


Gala mencoba merebut ponsel dari tangan Bintang, tetapi Bintang berkelit sehingga ponselnya tidak bisa diraih oleh Gala.


Gala terus saja berusaha dengan mengunci tubuh Bintang. Namun, tetap tidak berhasil juga.


"Apa-apaan sih kalian," protes Sarah.


"Kayak anak kecil saja yang sedang berebut mainan, malu nih diketawain sama Izzam," lanjutnya.


Kedua pria itu tidak menggubris perkataan Sarah. Saat Gala hampir meraih ponsel di tangan Bintang, pria itu langsung berlari menjauh dari Gala.


"Bintang, awas ya kamu!" Gala pun mengejar Bintang.


"Ya Tuhan! Mereka pikir ini lapangan bola apa? Bisa-bisa penghuni kubur menyangka gempa bumi atau bahkan kiamat sudah tiba," ujar Mentari sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Sarah yang sedang menggendong putranya.


"Kak Mentari juga aneh, memang penghuni kubur merasakan juga ya kalau di dunia sedang di landa gempa bumi?"


"Tidak tahu juga," sahut Mentari sambil meraih Izzam.


Izzam yang berada dalam gendongan Mentari malah makin menjadi tertawanya melihat Bintang dan Gala berkejar-kejaran di area pekuburan.


"Mas Bintang, Mas Gala hentikan!" teriak Mentari.


Tidak ada yang mendengar sehingga membuat Mentari berteriak sekali lagi.


"Hentikan! Kalian pikir ini lapangan bola apa main lari-larian seenaknya? Kalian seperti tidak menghargai para penghuni di makam ini tahu!"


Mendengar ucapan Mentari Bintang langsung berhenti. Selain sadar bahwa tidak etis berlari-larian di lahan pemakaman juga tidak ingin Mentari bersedih karena menganggap Bintang dan Gala tidak menghormati ustaz Alzam sebagai salah satu penghuni kuburan di pemakaman itu.


Sontak saja aksi Bintang yang berhenti secara mendadak membuat Gala berhasil merebut ponsel di tangan pria itu.


Setelah mendapatkan ponsel tersebut, Gala langsung membawa kabur ponsel Bintang dan kali ini Bintang tidak mengejar melainkan kembali ke sisi Mentari dan Sarah.


Melihat Bintang sudah tidak mengejar, akhirnya Gala berjalan seperti biasa. Dia langsung mengirimkan video yang berhasil Bintang ambil tadi ke ponselnya sendiri. Setelah itu langsung menghapus video yang ada di galeri ponsel Bintang.


"Huffth!" Gala menghembuskan nafas panjang. Dia sudah lelah tadi melakukan push up berkali-kali sampai kram dan sekarang harus mengejar Bintang juga.


"Lumayan dapat video kenang-kenangan," ucapnya setelah mendengar notifikasi masuk ke dalam ponselnya.


Gala lalu berjalan menuju Bintang berdiri saat ini.


"Ini ponselnya aku kembalikan padamu dan terima kasih banyak," ujar Gala sambil mengulurkan ponselnya ke tangan Bintang.


"Terima kasih?" Bintang menerima kembali ponselnya dengan mengerutkan kening. Dia bingung mengapa Gala mengucapkan terima kasih. Bukankah apa yang dilakukannya tadi tidak di sukai oleh Gala?


"Terima kasih telah membuatku tambah lelah," ucap Gala kemudian.

__ADS_1


"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Bintang.


"Kita kembali ke rumah ibu!" ajak Gala.


"Oke ayo," sahut semua orang serentak.


Mereka pun kembali ke mobil. Mentari dan Sarah ikut mobil Gala dan Bintang kembali seorang diri.


"Begini nasib jadi jomblo," gumam Bintang lalu menggelengkan kepala. Dia lalu menyetir mobilnya di belakang mobil Gala.


"Makan dulu Nak, saya sudah menyiapkan makan," ujar ibu dari Sarah saat mereka semua masuk ke dalam rumah.


"Waduh kami sudah makan loh Bu," ujar Gala.


"Saya juga Bu," sambung Bintang.


"Tidak apa-apa makan sedikit saja."


"Makan aja Mas, pasti kamu butuh tenaga untuk mengembalikan tenagamu yang terkuras tadi," ledek Mentari.


"Memangnya Nak Gala ngapain tadi?" tanya sang mertua penasaran.


"Biasa Bu dulu sok benci mereka berdua, sekarang malah saling jatuh cinta. Ya bayar janji lah sama Abi," sahut Mentari.


"Bayar Janji?"


Ibu dari Sarah itu pun mengernyit lalu melihat Sarah dan Gala secara bergantian.


"Pantas saja mereka berdua sempat menolak saat ingin dijodohkan. Bagaimana siku dan pinggang kalian aman?"


"Aman Bu, Sarah hanya seratus saja jadi enteng."


"Masih aman kok Bu, sebab bayarnya nyicil. Bukan saya Bu yang menolak tapi dia. Sarah tuh malu-malu tapi mau. Pura-pura menolak tetapi di hati memberontak."


Sontak saja Gala langsung mendapatkan pelototan dari Sarah.


"Nggak kebayang ya kalau kalian hanya berdua saja. Kayaknya bakal terjadi perang dunia yang ke 3," ujar Bintang sambil terkekeh.


"Mana ada? Kami biasa saja, iya kan, sayang?" Gala langsung memeluk tubuh Sarah dari belakang dan mengecup kepalanya.


"Sok pamer kemesraan," keluh Bintang.


"Perang dunia ke 3 itu adalah perang dalam kedamaian. Ngerti nggak kamu Bintang?"


"Orang jomblo nggak ngerti," sahut Bintang ketus.


"Makanya cepat cari pengganti Nak Bintang. Arumi kalau ke sini selalu tidak mau melepas Izzam saat dalam gendongannya. Sepertinya beliau sudah sangat menginginkan cucu."

__ADS_1


"Belum ketemu jodohnya Bu."


"Ibu doakan semoga cepat ketemu ya."


"Aamiin Bu," ucap Bintang sambil melirik Mentari dan wanita itu tampak berekspresi biasa saja saat memergoki Bintang melirik dirinya.


"Benarkah sudah tidak ada sisa cinta di hatimu untukku lagi Me?" batin Bintang.


"Mungkin inilah rasanya mencintai sendirian, rasanya sakit Me," lanjutnya.


"Ayo semua ke meja makan!"


"Iya Bu."


Mereka serempak mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruang makan.


"Ayo makan tidak usah sungkan-sungkan!"


"Iya Bu pasti," ujar Gala sambil mengambil nasi dan beberapa lauk yang ada.


"Katanya kenyang baru makan, tapi kok rakus," ledek Mentari menggoda Gala.


"Hemm, kamu sendiri yang bilang harus makan lagi karena aku sudah banyak kehilangan tenaga." Gala tidak mau kalah.


"Sudah ah makan jangan bicara saja!" protes Sarah. "Mau saya ambilkan sayur ini?" Sarah menunjuk sayur lodeh yang ada di mangkok.


"Tidak usah Sarah."


"Ya sudah kalau begitu kita makan saja."


Gala mengangguk dan fokus menyantap makanan di piring sedangkan Bintang malah mengambil sayur yang ditunjuk Sarah tadi.


"Me ini buatanmu?" tanya Bintang. Dulu dirinya sering dibuatkan sayur lodeh isian rebung dan jamur oleh Mentari dan rasanya masih sama sampai sekarang.


Mentari menjawab dengan anggukan.


"Cobalah Mas Bintang, saat abi masih hidup, dia juga menyukai sayur itu. Itu adalah salah satu makanan favoritnya."


Mendengar perkataan Mentari tiba-tiba saja rasa sayur lodeh itu berubah hambar di lidah Bintang.


"Kenapa berhenti? Ayo Bin makan tidak usah malu-malu," ujar Gala sambil mengunyah makanannya.


Bintang mengangguk dan melanjutkan mengunyah makanannya meskipun rasanya sudah berbeda.


"Mas Bintang juga suka makanan ini dulu ya? Tapi sekarang sudah nggak lagi ya Mas?" tanya Mentari melihat Bintang mengunyah dengan tidak berselera.


Bintang tersenyum. "Nggak siapa bilang? Aku masih suka kok," bantah Bintang sambil mengambil sayur lodeh itu lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2