HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
Bab 237. Kemarahan Gala


__ADS_3

Setelah hari itu, setiap sore setelah pulang dari kantor Gala selalu menyempatkan diri untuk mampir ke makam ustadz Alzam untuk menyicil hutang push up nya.


"Kok malam Pak?" tanya Sarah sambil mengambil tas kerja dari tangan Gala lalu menyalami tangan sang suami. Setelahnya meletakkan tas tadi pada tempatnya.


"Biasa aku mampir dulu ke makam ustad Alzam untuk bayar cicilan hukumanku," jelas Gala.


Sarah hanya mengangguk.


"Mandi dulu, saya sudah menyiapkan air hangat. Habis shalat magrib kita langsung makan malam. Saya sudah menyiapkan makanan."


"Kamu masak sendiri?"


"Nggak juga cuma bantu bibi saja."


"Oh."


"Lain kali deh Sarah masakin Pak Gala khusus. Kayaknya masih harus banyak belajar lagi, takut nggak enak, tapi kalau buat kue saja Sarah jago." Wanita itu tersenyum malu.


"Nggak apa-apa, nggak usah dipikirkan. Lagipula sudah ada si bibi yang masakin kita."


"Tetap saja Sarah pengen masakin suami tercinta. Pak besok saya kembali kuliah ya?"


"Jangan dululah minggu depan saja. Kalau perlu genapin sebulan dulu."


"Baiklah. Mandi gih nanti airnya keburu dingin!"


Gala mengangguk, membuka dasi dan meraih handuk lalu melangkah ke arah kamar mandi.


Sarah pun menyiapkan sarung dan baju koko untuk sang suami karena sebentar lagi tiba waktunya shalat Maghrib.


Setelah melakukan shalat Maghrib berjamaah mereka pun langsung berjalan ke meja makan.


"Tumben makan terlalu awal biasanya habis Isya' kamu baru mau makan."


"Nggak tahu Pak, lapar banget rasanya sekarang."


"Tadi siang nggak makan?"


"Sudah, tapi nggak tahu kenapa beberapa hari ini saya suka sering lapar Pak."


"Sudah nggak apa-apa makan saja kalo sudah lapar tidak perlu ditahan. Kalau misal saya belum pulang dan kamu sudah lapar tidak usah menunggu. Tidak perlu diet-diet kayak dulu!"


"Ckk, bisa melar nih badan kalau selera makan dituruti terus-menerus."


"Nggak apa-apa Sarah, siapa tahu juga kamu sedang isi makanya suka lapar. Waktu Cahaya hamil sih katanya gitu."


"Bapak terlalu jauh mikirnya, saya nggak mungkin hamil lah," ujar Sarah.


"Siapa tahu memang begitu, kamu pernah periksa? Tidak, bukan? Saya minta untuk beberapa hari jangan olahraga dulu."


Bukan tanpa alasan Gala mengatakan hal itu sebab semenjak beberapa hari ini Sarah memiliki kebiasaan berolahraga berat setelah bangun tidur di pagi hari.

__ADS_1


Gala hanya tidak ingin kalau Sarah melakukan olahraga seperti itu sementara bisa saja di dalam perutnya ada janin yang tumbuh. Pria itu menginginkan cepat punya anak mengingat umurnya yang beberapa tahun lagi akan memasuki angka 30.


"Kenapa sih Pak? Dengan olahraga tubuh saya menjadi lebih sehat."


"Ya sudah besok periksa ke dokter kandungan saja, kalau tidak ada bayinya berarti kamu bisa berolahraga dan begitu sebaliknya."


"Nggak usah deh Pak. Nggak perlu ke dokter, kalau begitu saya berhenti olahraga saja."


"Nah gitu dong, sekarang kamu sudah berstatus istriku jadi harus nurut nggak boleh kayak dulu yang suka membangkang."


"Bisa nggak, nggak perlu mengingat masa lalu?" protes Sarah.


"Sudah, sudah! Kalau makan jangan bicara dulu, tidak baik," ujar Tama mengingatkan.


"Papa seperti ustadz Alzam saja," ujar Gala.


"Karena kalau kamu tidak diingatkan kadang tidak tahu waktu. Sudah ayo makan!"


Mereka pun makan tanpa ada yang bicara lagi. Setelahnya kedua pasangan itu pamit masuk kamar.


Sampai di kamar Gala menerima telepon dari Kiki sedangkan Sarah akhirnya juga menelpon Nanik untuk menanyakan keadaan tokonya.


"Sarah kamu punya stok obat sakit kepala tidak? Kok tiba-tiba kepalaku pening begini ya."


"Ada Pak di laci obat, biar saya ambil dulu." Sarah hendak bangkit dari ranjang. Namun, segera ditahan oleh Gala.


"Biar saya saja kamu bicaralah dengan Nanik." Gala bangkit dari duduknya dan berjalan menuju laci. Sarah yang hendak bangkit pun akhirnya urung dan melanjutkan pembicaraannya dengan Nanik.


Gala memijit pelipisnya lalu menarik laci dan mencari keberadaan obat sakit kepala. Namun, yang dia temukan malah obat lain.


Tidak ingin penasaran Gala langsung melakukan penelusuran lewat ponselnya. Setelah mengetikkan nama obat itu akhirnya keluarlah informasi yang Gala inginkan.


"Obat penunda kehamilan?" Mata Gala terbelalak, kepalanya menggeleng. Dia tidak percaya Sarah meminum pil KB tanpa meminta persetujuan padanya terlebih dahulu.


"Sarah!" panggil Gala dengan raut wajah menahan amarah.


Mendengar sang suami memanggil namanya segera Sarah memutuskan sambungan telepon kemudian berjalan ke arah Gala.


"Belum ketemu juga Pak? Biar saya yang cari saja." Sarah menawarkan diri.


"Tidak perlu, ini apa?" Gala menyodorkan pil KB ke hadapan Sarah.


"Itu ... i–tu ....?" Sarah terlihat gugup.


"Apa?"


"Obat sakit pinggang, ya sakit pinggang," ujar Sarah sambil mengambil obat tersebut dari tangan Gala.


"Kamu sakit pinggang?" Gala memiringkan wajahnya di depan wajah Sarah.


"Iya sejak push up ditambah lagi Pak Gala juga sering menggempur Sarah habis-habisan."

__ADS_1


"Ya sudah mulai saat ini saya tidak akan menyentuhmu," ujar Gala ketus.


Sontak saja Sarah bingung dengan sikap sang suami.


"Bercanda Pak, nggak bisa diajak bercanda nih orang," protes Sarah.


"Saya tidak suka dibohongi, kau pikir aku bodoh, sehingga tidak tahu obat apa itu."


Sarah geram dalam hati. "Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?" Ingin rasanya Sarah melemparkan kalimat itu. Namun, diurungkannya tatkala melihat Gala keluar dari dalam kamar begitu saja.


"Pak!" teriak Sarah, tetapi Gala mengacuhkannya.


Sarah hanya menghembuskan nafas berat lalu menjatuhkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


"Dia marah karena aku berbohong atau karena aku menkonsumsi obat itu? Oh Tuhan." Sarah menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Aku harus minta maaf." Sarah keluar dan menyusul Gala.


"Mau kemana Nak Sarah?" sapa Tama saat melihat Sarah menuruni tangga.


"Mau me–"


"Mencari Gala?"


"Iya Pa."


"Dia sedang keluar, katanya ada urusan."


"Oh begitu ya Pa?"


"Iya kamu tunggu sajalah dia pasti tidak akan pulang larut malam, tapi kalau misalnya nanti Nak Sarah mengantuk duluan lebih baik tidur duluan saja. Gala pasti mengerti kok."


"Baik Pa, kalau begitu Sarah kembali ke kamar saja."


Tama mengangguk dan Sarah berbalik.


Sampai di dalam kamar Sarah duduk dengan gelisah.


"Semoga apa yang papa katakan benar, Pak Gala pergi karena ada urusan bukan karena marah pada Sarah." Wanita itu lalu membaringkan tubuhnya.


Sebentar kemudian suara adzan berkumandang pertanda sudah memasuki waktu shalat Isya'. Sarah langsung masuk ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian shalat Isya sendirian. Dia tidak mungkin menunggu Gala yang tidak tahu kapan pulang.


Selesai shalat, Sarah berdoa dan meminta kepada Tuhan agar Gala tidak marah padanya. Setelah itu barulah wanita itu membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi Gala belum kembali juga. Sarah yang belum tidur mondar-mandir di samping ranjang. Merasa tidak tenang dia turun ke bawah.


"Menunggu Den Gala Non?"


"Iya Bi."


"Kata Tuan Tama malam ini Den Gala tidak akan pulang. Beliau ingin menyampaikan pada Non Sarah katanya sudah tidur. Jadi Tuan Tama berpesan saja pada bibi untuk menyampaikan pada Non Sarah bila sudah bangun."

__ADS_1


"Baik Bi, terima kasih." Sarah kembali ke kamar, berbaring dan mencoba memejamkan mata. Namun, wanita itu tidak bisa terlelap. Pikirannya gelisah dan tidak tenang, rasanya dia tidak akan bisa tidur sampai Gala berada di sisinya.


Bersambung.


__ADS_2