HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 41. Kesal


__ADS_3

"Benar-benar aneh," batin Mentari. Setelah melihat Katrina meninggalkan kamar dia membuka matanya kembali.


"Ada rahasia apa dengan perempuan itu? Ah sudahlah lebih baik aku tidur saja." Mentari pun memejamkan mata kembali dan akhirnya bisa ikut menyusul Bintang yang tertidur pulas.


Jam 3 dini hari Mentari terbangun saat tubuhnya terasa sesak karena dihimpit oleh tubuh Bintang. Rupanya Bintang semalaman tidak melepaskan pelukannya. Mentari menyingkirkan tangan Bintang lalu mengguncang-guncang tubuh suaminya agar ikut bangun.


"Mas bangun!" Tidak ada reaksi dari Bintang pria itu malah makin deras mendengkur.


"Mas bangun kita semalam belum sholat isya," ucap Mentari lagi. Namun tetep tidak ada reaksi dari Bintang.


"Ah sudahlah lebih baik aku sholat sendiri aja mumpung masih ada waktu." Mentari bangkit dari ranjang dan segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melakukan shalat isya disambung sholat sunah tahajjud, mumpung dirinya bangun tengah malam.


"Maafkan hamba ya Tuhan. Maghrib hamba ketinggalan semalam dan isya hamba juga diakhir waktu. Rasanya hamba malu meminta pertolonganmu karena terlalu sering melalaikan sholat sedangkan hamba selalu meminta pertolonganmu datang dengan cepat. Namun, bagaimanapun Kau lah satu-satunya Dzat yang bisa menolong hamba kapanpun Engkau berkenan. Hamba mohon lindungilah hamba dari kejahatan yang selalu mengintai di manapun diri hamba berada. Entah mengapa perasaan hamba tidak enak, seolah Katrina itu ingin mencelakai hamba. Semoga saja itu hanya perasaan hamba saja. Lindungilah hambaMu ini dan maafkan atas segala dosa-dosa, amin." Doa Mentari tatkala selesai melaksanakan sholat tahajjud.


Mentari melirik jam yang menempel di dinding ternyata waktu subuh masih agak lama. Mau tidur lagi rasanya tanggung takut kebablasan, akhirnya ia mengambil Alquran dan mengaji untuk mengisi waktu menunggu saat subuh.


Mentari heran saat suaranya yang mengaji dengan keras masih tidak bisa membangunkan Bintang yang sedang tidur padahal dia sengaja mengeraskan suaranya agar pria itu terbangun.


Mentari menghentikan suaranya dan menatap Bintang dengan heran. "Dia tidur atau mati sih? Astaghfirullah hal adzim nih mulut sembarangan bicara." Mentari melanjutkan mengajinya hingga waktu subuh tiba barulah dia berhenti mengaji dan melaksanakan shalat subuh.


Sudah menjadi kebiasaan Mentari saat ada Bintang di apartemen pagi-pagi sekali sudah berkutat dengan acara masak-memasak. Berbeda dengan ketika tidak ada Bintang. Saat tinggal sendiri dia lebih sering membeli karena dia hanya makan pagi di apartemen sedangkan siang dan malam Mentari makan di toko.


"Sudah beres." Mentari menepuk-nepuk tangannya sendiri setelah menyelesaikan masaknya. Dia kemudian beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelahnya ia mengecek Bintang yang masih saja tertidur pulas. Mentari menggeleng melihat kebiasaan Bintang yang tidak pernah berubah.


Mentari lalu beranjak mengecek Katrina di kamarnya. Ternyata tidak ada bedanya dengan Bintang, perempuan itu juga masih tertidur pulas.


"Benar-benar pasangan yang sama-sama tidak tahu waktu." Mentari mendesah kesal. Dalam hati membayangkan bagaimana saat Katrina dan Bintang hidup berdua di dalam apartemen, apakah mereka akan terbangun saat sudah mepet jam kerja. Tanpa sarapan dan langsung berangkat kerja.


"Mas Bintang bangun ah dari tadi dibangunin nggak bangun-bangun," kesal Mentari sambil terus mengguncang tubuh suaminya itu.


"Mas bangun dong sebentar lagi Meme juga mau pergi kerja!"


Karena tidak ada reaksi Mentari mengambil air dengan baskom lalu membasahi tangannya kemudian diraupkan pada wajah Bintang. Ternyata cara itu berhasil, Bintang langsung membuka mata.


"Sayang apa-apaan sih, kamu membuatku basah," protes Bintang sambil menangkap tangan Mentari.


"Biarin suruh siapa nggak bangun-bangun. Tidur kayak mati suri aja," ucap Mentari sambil melepaskan tangannya dari pegangan tangan Bintang lalu mencelupkan tangannya ke dalam baskom lagi dan memercikkan air itu ke wajah Bintang sambil tertawa-tawa.


"Berani ya kamu seperti itu sama aku," goda Bintang dan ikut mencelupkan tangannya ke dalam air tersebut dan membalas kelakuan Mentari.


"Mas aku sudah mandi ini, kok dibasahi lagi sih?" protes Mentari cemberut.


"Kamu yang mulai," sahut Bintang tanpa menghentikan aktivitasnya memercikkan air pada wajah Mentari. Mentari pun terus membalasnya hingga akhirnya momen tersebut berlanjut menjadi sebuah candaan bagi keduanya. Mereka berdua melempar air sambil tertawa-tawa.


"Sudah ah Mas, sudah jam berapa ini. Mas Bintang memangnya tidak mau kerja?"


"Ah iya aku lupa hari ini ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Bisa dimakan nanti aku sama Pak Gala kalau sampai aku telat." Bintang langsung bergegas ke kamar mandi. Mentari menggeleng melihat tingkah sang suami lalu menyiapkan pakaian Bintang dan dirinya pun berganti pakaian karena sudah basah.


Setelah Bintang selesai mandi Mentari langsung mengajak Bintang untuk sarapan terlebih dahulu sebelum sama-sama beraktivitas di tempat kerja masing-masing.

__ADS_1


"Mana Katrina?" tanya Bintang saat sampai di depan meja makan istri pertamanya itu masih tidak tampak batang hidungnya di sana.


"Tadi aku lihat dia belum bangun. Mau aku bangunkan tidak enak. Apa dia akan masuk kerja juga?"


"Tidak biarlah dia di sini dulu karena kesehatannya belum pulih benar. Kamu tolong jagain dia ya."


"Tapi aku kan juga mau pergi kerja Mas," protes Mentari.


"Liburlah barang sehari dua hari. Si Sarah pemilik toko itu kan teman kamu pasti bisa mengerti kalau kamu absen hari ini. Lagipula uang belanja mu kan tidak pernah kurang dariku? Jadi aku mohon ya untuk sementara kamu jaga dia sampai aku menemukan pembantu yang bisa menjaganya. Tolong ya Me." Mentari paling tidak bisa kalau melihat wajah Bintang yang memelas.


"Baiklah Mas tapi sehari dua hari aja ya. Mas janji agar cepat bisa menemukan pembantu yang mau bekerja di sini."


"Nah gitu dong. Itu namanya istri yang baik. Aku janji akan membawa pembantu secepatnya." Mentari mengangguk.


"Sekarang kita makan dulu."


"Katrina Mas?"


"Ya sudah aku panggil dulu." Bintang bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar Katrina. Tak berapa lama kemudian dia kembali seorang diri.


"Mana dia?" tanya Mentari.


"Dia tidak mau makan di sini. Biar nanti aku antar ke kamarnya." Mentari hanya diam tak berkata sepatah pun.


"Kita makan!" ajak Bintang. Mereka berdua pun makan tanpa ada yang bicara.


Selesai makan Bintang mengambil piring dan mengisi dengan nasi dan lauk-pauk untuk Katrina. Baru saja hendak beranjak dari meja makan ponsel Bintang berdering.


"Bintang cepat kemari! Tamu yang dari Jepang sudah ada di jalan."


"Astaga aku kelupaan."


"Kenapa Mas?"


"Baik Pak saya segera ke kantor." Bintang langsung menutup panggilan teleponnya.


"Aku harus pergi ke kantor sekarang. Klien yang dari luar negeri datang sekarang. Tolong kamu berikan ini pada Kate dan pastikan ia makan pagi ini ya. Please!"


"Baik Mas." Mentari mengambil piring dari tangan kanan Bintang sedangkan tangan kiri Bintang masih memegang ponsel.


"Terima kasih ya jangan lupa bawakan juga kuahnya. Aku pergi dulu."


"Iya Mas." Mentari menyalami tangan Bintang setelah itu menuangkan kuah pada mangkok kemudian langsung bergegas mengantar makanan ke kamar yang ditempati Katrina sedangkan Bintang langsung pergi.


Tar!


"Kau mau meracuni diriku ya." Katrina melempar piring ke lantai setelah mencicipi masakan Mentari.


"Maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Berapa kilo cabe yang kamu masukkan ke dalam kuah ini?"


Mentari mengernyit dalam hati heran padahal tak ada sebiji cabe pun dalam masakan itu.


"Barangkali lidahmu lagi tidak normal hingga makanan yang tidak aku kasih cabe saja bikin kamu kepedasan," sahut Mentari.


"Berani ya kamu melawan sama aku? Buatkan makanan yang lain."


"Ogah."


"Eh ingat kamu itu istri ke-dua. Dimana-mana istri kedua harus mengalah sama istri pertama. Sudah dikasih tumpangan suami malah tidak tahu diri."


"Bukankah aku sudah mengalah ya? Aku repot-repot masak sedangkan kamu tinggal menikmatinya saja. Jadi jangan terlalu banyak protes."


"Oh jadi kamu tidak mau melayaniku? Baiklah." Katrina tersenyum licik lalu melakukan panggilan video pada Bintang.


"Ada apa Kate saya lagi nyetir ini?"


"Mas tuh si Mentari melempar piring ke lantai karena kesal. Katanya aku itu manja mau makan saja harus diantar ke kamar." Katrina berkata dengan merengek manja.


"Me?"


"Tidak Mas dia berbohong. Dia yang melempar piring itu sendiri."


"Tuh kan Mas dia nuduh aku sembarangan. Kalau aku yang melempar mana mungkin? Bisa nggak makan aku." Katrina mengarahkan kamera ponsel tersebut pada Mentari.


"Itu tidak benar Mas, itu fitnah."


"Me seharusnya kalau kamu tidak ikhlas kamu bisa menolak tadi saat aku mintai tolong.


"Tapi Mas ...."


"Sudahlah bereskan pecahan beling itu agar tidak melukai Katrina."


"Mas!"


Bintang langsung menutup panggilan teleponnya.


Katrina tertawa puas. "Bagaimana? Belum cukupkah untuk membuktikan bahwa Bintang lebih mempercayai aku ketimbang kamu?" Katrina menunjuk dada Mentari.


"Hah, itu artinya Bintang lebih menyayangi aku ketimbang kamu. Hei sadar dia tidak mencintaimu. Dia hanya butuh dirimu untuk menyalurkan nafsu tidak lebih, titik."


Mentari tidak menjawab tetapi langsung pergi meninggalkan kamar Katrina.


"Hei bereskan ini!"


Bersambung....


Sambil menunggu novel ini up lagi mampir ke sini juga yuk! Dijamin seru abis👍

__ADS_1



__ADS_2