HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW 205. Pengkhianatan Di Depan Mata


__ADS_3

"Sarah!" panggil Gala saat melihat Sarah masuk ke dalam ruangannya di kantor. Sarah hanya menoleh, tetapi terus melangkah masuk.


"Sarah!" Gala terus masuk ke dalam ruangan Sarah.


"Ada yang perlu saya kerjakan Pak?" tanya Sarah.


"Tidak ada."


"Lalu?"


"Saya ingin bicara berdua denganmu."


Bersamaan dengan itu ada Diandra yang melintas di hadapan mereka membuat Sarah langsung mengingat saja siapa Gala yang sebenarnya.


"Bicaralah bukankah masih belum ada orang lain di sini?"


Gala menggaruk kepalanya, bingung harus memulai darimana. "Nggak jadi deh, lain kali saja."


Sarah mengernyit, mengapa tiba-tiba Gala seperti orang bodoh saja.


"Sudah ya aku mau kembali ke ruanganku."


Sarah mengangguk, Gala meninggal ruangan tempat Sarah bernaung.


"Aneh." Sarah langsung duduk menunggu teman-teman yang lainnya datang.


Beberapa hari kemudian Gala sudah mantap ingin mengungkapkan perasaannya pada Sarah.


"Kiki panggil Sarah ke ruanganku atau atur agar aku bisa makan siang dengannya!"


"Loh Bapak tidak tahu Sarah kan sudah tidak magang lagi Pak?"


"Loh iyakah? Kalau begitu jam makan siang antar aku ke kampusnya!"


"Sorry Pak tidak bisa."


"Kau menolak ku ya?" Gala menatap tajam Kiki.


"Bukan begitu Pak tapi Sarah tidak berada di kota ini lagi."


"Maksudmu?"


"Kemarin dia bilang sudah ada di Mataram."


"Ngapain dia di sana?"


"Katanya sih mengikuti pertukaran mahasiswa begitu."


"Berapa bulan?"


Katanya sih 3 bulan begitu, tapi nggak tahu juga ya mungkin ada perubahan. Memang adik dan adik ipar Bapak tidak mengatakan?"


"Nggak, sudahlah mereka sedang sibuk dengan persiapan umrah."

__ADS_1


"Umrah?"


"Iya, bukankah adik Bapak sedang hamil? Apa tidak sebaiknya ditunda sampai melahirkan?" tanya Kiki.


"Nggak baik Ki menunda hal baik lagipula itu juga katanya ngidamnya bayi dalam kandungan Cahaya."


"Oh begitu ya Pak?"


"Iya, sudahlah kembali pada pekerjaanmu sana!"


"Siap Pak. Oh ya Pak kalau Pak Gala kangen bisa langsung telepon dia atau video call-an."


"Cahaya?"


"Bukan, Sarah." Kiki langsung menutup mulut.


Gala menggeleng sambil tersenyum membuat Kiki curiga sang bos sudah benar-benar menyukai gadis itu.


Sepertinya lain hari aku mau menyusul dia.


"Pak Gala, ada telepon dari perusahaan cabang yang ada di luar negeri. Katanya mereka menginginkan Bapak datang langsung ke sana." Tiba-tiba Diandra berjalan mendekat ke arah Gala dengan membawa informasi penting.


"Ada masalah?" tanya Gala kaget.


Diandra pun menjelaskan apa ya terjadi.


"Kalau Bapak ingin lebih jelas, silahkan hubungi langsung pimpinan yang bertugas di sana."


"Baiklah, kau boleh keluar."


"Ekhem."


"Apa Ki? Sana keluar!"


"Iya Pak ,iya."


"Dasar."


Di perusahaan lain.


"Arka nanti kau ikut denganku!"


"Baik Bu, tapi suami ibu sudah kembali, kah?"


"Kalau dia belum kembali mana mungkin aku berani bermain-main denganmu."


"Baik Bu."


"Nanti sore kau bisa menungguku atau bisa langsung menunggu di apartemen seperti biasa!"


"Siap."


Sore hari pun menjelang, Katrina yang bosan berada di apartemen akhirnya keluar dan ingin menghampiri Arka di kantornya.

__ADS_1


Namun, saat dia ingin menemui Arka dia mendengar suara wanita yang pernah menjadi bos-nya dulu.


"Sebaiknya kau pergi duluan Arka dan tunggu aku di tempat biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan."


Deg.


Hati Katrina mendadak menjadi tidak enak.


"Apa maksud wanita itu? Apa yang membuat mereka takut dicurigai? Dan tempat biasa itu apa?"


Katrina segera bersembunyi dibalik tembok saat melihat wanita itu keluar dari ruangan Arka.


Setelah wanita itu jauh Katrina urung untuk menemui Arka dan memilih untuk menyelidiki keduanya.


Sepuluh menit berlalu Arka keluar dari ruangan dan berjalan tergesa-gesa menunju mobil.


Katrina pun mengikuti Arka dengan mobil, tetapi menjaga jarak sebab takut ketahuan oleh pria itu.


"Ngapain Arka ke apartemen ini? Mengapa dia tidak bercerita kalau sudah membeli apartemen padaku?" Katrina langsung menelpon Arka saat melihat pria itu keluar dari mobil.


"Halo Kate!"


"Arka, kamu ada dimana?"


"Sorry Kate malam ini aku tidak menginap di apartemenmu karena harus lembur."


"Lembur? Di kantor atau ketemu klien?"


"Di kantor lah masa ketemu klien. Kau pikir aku Presdir atau Asisten apa." Padahal jawaban yang dinginkan Katrina adalah Arka mengaku diajak sang bos untuk bertemu klien.


"Yasudah kalau begitu, met kerja." Katrina langsung menutup panggung telepon.


Arka berjalan masuk ke dalam gedung apartemen diikuti Katrina di belakangnya. Saat Arka menoleh Katrina selalu dapat bersembunyi. Wanita itu mengendap-endap masuk ke unit apartemen dimana Arka terlihat masuk.


"Maaf, Ibu sudah lama menunggu?" Arka berjalan masuk ke dalam sebuah kamar yang pintunya terbuka.


"Baru lima menit yang lalu Sayang." Katrina mendengar melihat wanita tersebut memanggil Arka dengan sebutan sayang. Apalagi saat melihat pakaian wanita itu yang sangat seksi dan menggoda. Dirinya bahkan kalah dengan wanita itu dalam memilih lingerie.


"Arka apa yang ingin kau lakukan ditempat ini?" Katrina ketar-ketir sendiri. Semoga saja kecurigaannya tidak benar.


"Aku sudah lama merindukan tubuhmu Arka." Wanita itu berjalan ke arah Arka dan memeluknya dengan posesif seakan tidak mau melepaskan Arka.


Katrina terbelalak apalagi tidak ada inisiatif sama sekali dari Arka untuk menolak perempuan tersebut.


Katrina mengepalkan tangan dan hendak melabrak keduanya.


"Tahan Kate kau tidak boleh gegabah, kau harus tahu sebesar apa cinta Arka padamu." Katrina menahan diri. Hingga pintu itupun tertutup Katrina masih tidak bergerak dari tempatnya.


Beberapa menit kemudian.


"Ini saatnya." Katrina menuju pintu dan mengintip dari lubang kunci. Tidak disangka pintu yang tidak tertutup rapat langsung terbuka begitu saja saat tidak sengaja kepala Kartina bersandar pada daun pintu. Rupanya kedua insan di dalam sana terlalu terburu-buru sehingga melupakan untuk mengunci pintu.


"Arka!" teriak Katrina saat melihat Arka malah benar-benar bergumul dengan wanita jablay itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2