HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 159. Panik


__ADS_3

"Me tunggu!"


Mentari tidak mendengarkan teriakan Bintang, dia terus berlari menuju pagar rumahnya kembali.


Bintang tidak tinggal diam melihat Mentari berlari. Pria itu lebih kencang berlari menyusul Mentari hingga langkahnya menyamai Mentari dan bisa menangkap tangan wanita itu kembali.


"Lepas Mas, lepas! Ngapain sih kamu ngejar-ngejar aku terus? Kamu nggak ada kerjaan apa?"


"Tolonglah Me jangan pergi aku ingin bicara denganmu sebentar saja," mohon Bintang.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita Mas Bintang. Kita ini bukan siapa-siapa lagi, kita bukan suami istri seperti dulu, jadi saya harap Mas Bintang jangan sampai melewati batasan diantara kita. Lepaskan pegangan tangan Mas Bintang pada tanganku!" Mentari berkata masih sambil mengguncang-guncang tangannya agar bisa terlepas dan kabur kembali dari Bintang.


"Maka dari itu Me, aku ingin kau kembali padaku. Kau ceraikan saja ustadz Alzam. Dia sama sekali tidak mencintaimu Me, dia menikahimu hanya karena sudah berjanji padaku untuk menjadi muhallil di antara kita. Dia tidak jadi melepaskanmu karena tahu kamu itu sebenarnya adalah anak orang kaya. Kalau tidak pasti dia sudah menepati janjinya padaku."


"Aku tidak peduli awalnya Abi mempersunting diriku dengan alasan apa. Bagiku yang terpenting dia sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya. Tolong Mas Bintang jangan ganggu kebahagiaan kami. Sudah cukup selama ini kau membuatku selalu menangis, izinkan kali ini aku tersenyum bahagia."


"Tapi Me, tegakah kamu membuatku bersedih karena telah kau tinggalkan? Mengapa kamu begitu mudah melupakan cintamu kepadaku?"


"Bukan aku yang meninggalkanmu tapi kamu yang ingin aku pergi. Cintaku dulu adalah sebuah kebodohan yang pernah aku rasakan dan aku sangat meyesalinya sekarang. Aku mencintai suamiku sekarang dengan tulus karena dia pun mencintaiku dengan tulus, bahkan dia melamar diriku sebelum kami tahu bahwa aku adalah putri dari papa Tama yang hilang. Mas Bintang fokus sajalah pada Katrina. Dia cinta pertama Mas Bintang, bukan? Seharusnya Mas Bintang senang karena duri dalam rumah tangga kalian sudah pergi dan menyerah.


"Jangan mengatakan seperti itu Me semua itu bukan salahmu, tapi salahku. Maafkan aku dan berikan kesempatan kedua untukku. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku rela menceraikan Katrina asalkan kamu mau kembali padaku."


Sebenarnya Mentari iba melihat mata Bintang yang terlihat begitu memelas. Namun, Mentari tidak boleh tergoda sebab dia sudah mempunyai seorang suami.


"Aku harus pergi Mas Bintang dan maaf aku tidak bisa kembali padamu." Mentari langsung menarik tangannya tatkala melihat Bintang sepertinya sudah lengah dan pegangan tangannya melemah. Namun, sayang Bintang sigap. Dia malah semakin mengencangkan pegangannya.


"Tolong!" teriak Mentari.


Tidak ada cara lain kecuali meminta tolong dalam keadaan seperti ini.


Mendengar Mentari berteriak Bintang malah menangkap tubuh Mentari dan menggendong tubuh wanita itu menuju mobil.

__ADS_1


"Tolong!" Mentari berteriak semakin kencang membuat Bintang langsung menutup mulut Mentari dengan tangan yang satunya dan tangan yang lain menahan tubuh Mentari agar tidak bisa terlepas dan akhirnya kabur.


"Le ... pas ... kan!" seru Mentari dalam sekapan tangan Bintang sambil memukul-mukul bahu Bintang.


Meski pukulan Mentari di bahunya terasa sakit karena Mentari memukul dengan begitu keras, Bintang sama sekali tidak mengindahkan.


Mentari menahan tangan Bintang di mulutnya dan menggigit kembali tangan pria itu. Bintang meringis menahan sakit, tetapi tidak mau melepaskan pegangan tangannya di mulut.


Bintang membawa tubuh Mentari dengan berlari menuju mobil. Mentari yang tidak tahu harus berbuat apa lagi tampak meneteskan air mata sambil tak henti-hentinya memukul bahu Bintang. Namun, semakin lama pukulannya semakin lemah. Dia merasa sangat takut sekarang, takut Bintang nekad melakukan kejahatan terhadap dirinya karena telah menolak permintaan pria itu tadi.


"Ya Tuhan selamatkan diriku. Kirimkan siapa saja yang bisa menolongku saat ini." Doa Mentari dalam hati.


Tidak butuh waktu lama, kini Bintang sudah meletakkan tubuh Mentari di dalam mobil dan menguncinya.


Tolong!" Mentari berteriak dalam mobil sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan kasar. Dia beralih menggeser tubuhnya ke kursi kemudi, hendak keluar melalui pintu mobil yang ada di sana. Buru-buru Bintang memutar langkahnya menuju pintu di samping kemudi dan masuk ke dalam lalu tancap gas dan mengemudikan mobilnya dengan kencang.


"Mas Bintang!" Tubuh Mentari gemetar. Dia menatap Bintang tak percaya sebab lelaki ini tega menculik dirinya.


"Mas Bintang dengarlah, meskipun aku bukan istrimu, tapi aku itu adikmu Mas Bintang! Jadi kumohon turunkan aku, papa pasti akan mencariku jika kau bawa diriku begini." Mentari mencoba mengingatkan akan status keduanya saat ini.


Mentari hanya mengangguk, Bintang begitu terlihat menakutkan di matanya.


"Aku maunya kau menjadi istriku bukan adik," tegas Bintang.


"Tapi aku sudah punya suami Mas, apa kamu ingin aku poliandri?"


"Kalau kamu mau boleh."


Mentari menganga mendengar jawaban Bintang. Wanita itu menggeleng tak percaya. Bintang benar-benar stres.


"Ya Allah selamatkan aku. Aku tidak tahu Mas Bintang akan melakukan hal apa padaku." Mentari terlihat getir.

__ADS_1


"Abi maafkan aku, aku tidak bisa menjaga diri," ucap Mentari dengan tangan yang mengusap matanya yang basah.


"Mas Bintang kumohon turunkan aku di sini. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat kita berduaan di dalam mobil seperti ini. Aku tidak mau Abi salah paham padaku."


Mendengar perkataan Mentari yang menyebutkan panggilan untuk suaminya, Bintang bertambah marah. Pria itu semakin mengencangkan laju mobilnya.


"Mas!" Mentari berteriak-teriak dalam mobil merasakan tubuhnya membentur bagian mobil dengan kasar.


"Mas pelan kan laju mobilnya, aku pusing," pinta Mentari sambil memijit pelipisnya yang terasa berat. Penglihatan matanya sudah tampak berkunang-kunang.


Bintang tidak mengindahkan seruan Mentari, pria itu tetap berada pada posisi yang semula yaitu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas!" Mentari menahan perutnya yang terasa mual dengan tangan yang satunya


"Mas ... hoek, hoek, hoek." Mentari yang tidak tahan lagi akhirnya mengeluarkan semua isi perutnya, dan sialnya muntahan Mentari mengenai kemeja dan celana Bintang.


"Hoek, hoek, hoek."


Bintang menoleh mendapati wajah Mentari yang terlihat pucat.


"Me kamu kenapa?" Bintang terlihat panik melihat Mentari muntah-muntah.


Mentari menggeleng. Dia sudah tidak kuat lagi walaupun hanya untuk sekedar berbicara. Kepalanya semakin pusing dan perutnya juga terasa sakit sekali.


Bintang langsung mengerem mendadak mobilnya hingga membuat tubuh Mentari terdorong ke depan dan membentur dashboard mobil.


Mentari meringis lalu beberapa saat memejamkan mata.


"Me, kamu kenapa?" Bintang semakin panik, pria itu langsung bergeser ke arah Mentari dan mencoba membenahi posisi duduk Mentari, menyandarkan tubuh wanita itu pada sandaran sofa seperti semula.


"Me!" Bintang menepuk-nepuk pipi Mentari barangkali dengan begitu Mentari bisa tersadar kembali. Namun, usaha Bintang sia-sia sebab Mentari tidak merespon sentuhan maupun panggilan Bintang.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Aku harus segera membawanya ke rumah sakit." Bintang kembali ke posisi semula kemudian menyetir mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Bersambung.


__ADS_2