HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 275. Melahirkan


__ADS_3

Mentari mengangguk.


"Tapi singkirkan dulu kue tart itu!"


"Oke-oke." Bintang meletakkan roti di tangannya dan membawa keluar kue tart yang telah membuat istrinya badmood itu.


"Padahal kamu tidak salah apa-apa," ucap Bintang pada kue tart di tangannya.


Sampai di luar pintu, Bintang langsung memanggil petugas kebersihan hotel dan memberikan kue itu padanya. Meskipun pria yang diberikan kue itu bingung, tetapi tetap menerima kue dari tangan Bintang.


"For you," ucap Bintang sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya kembali, meninggalkan petugas kebersihan hotel yang diam termangu.


Bintang kembali ke dalam kamar dan duduk di samping Mentari lalu wanita itu menyandarkan tubuhnya di bahu Bintang.


Bintang mengambil roti yang sudah diolesi selai strawberry tadi kemudian mengarahkan ke mulut Mentari dan wanita itu langsung mengunyahnya.


"Enak?"


Mentari mengangguk antusias.


"Yasudah habiskan kalau begitu biar kenyang," ucap Bintang terus menyuapi sang istri.


"Kalau yang itu apa Mas?" tanya Mentari sambil menunjuk ke sisi piring yang lainnya.


"Oh itu yang namanya Engadiner Nusstorte. Itu kue terbuat dari gula, kacang, tepung, mentega, dan, kenari cincang."



"Astaghfirullahaladzim sampai dijelaskan bahannya dari apa saja." Mentari terkekeh.


"Siapa tahu mau buat nanti di Indonesia ya, hitung-hitung untuk mengisi stok kue baru di toko Sarah." Bintang ikut terkekeh.


"Ckk, kalau itu sih biar menjadi urusan Sarah. Kalau dia tertarik bisa mencari informasi sendiri."


"Mau aku ambilkan?"


"Iya Mas kayaknya menarik, ada isiannya gitu dan luarnya seperti renyah."


"Oke aku potongin sebentar." Bintang lalu memotong dan menaruhnya pada piring lain.


"Aku suapi lagi ya!" Pria itu masih menawarkan diri untuk membantu menyuapi sang istri meskipun posisi duduknya tidak mendukung.


"Nggak usah aku makan sendiri," tolak Mentari kemudian duduk sempurna tanpa bersandar lagi pada bahu Bintang lalu merebut piring dari tangan Bintang dan memakan kue-kue yang ada di hadapannya dengan lahap.


"Bagaimana rasanya?"


"Yummy Mas, Mas Bintang coba ya!" Mentari menyuapi Bintang dengan kue di tangannya.


"Hmm, benar-benar enak," ucap Bintang dan Mentari mulai menguap.


"Kayaknya aku sudah kenyang dan mulai mengantuk."


"Ya sudah minum dulu dan setelahnya istirahat." Bintang menyodorkan segelas air putih ke hadapan Mentari dan wanita itu langsung meneguknya.


Setelah itu Bintang membantu Mentari berbaring dan menarik selimut menutupi tubuh istrinya.


Mentari memejamkan mata.


"Tidurlah Meme, istriku." Bintang mengecup kening istrinya lalu beranjak dari ranjang menuju sebuah sofa.


Di sana dia membuka ponsel dan langsung menelpon asisten di perusahaannya. Meskipun sudah ada Tuan Winata yang menggantikan dirinya bekerja. Namun, Bintang tidak ingin melewatkan perkembangan perusahaan.


Mentari membuka mata dan melihat ke arah Bintang yang begitu serius memberikan saran pada sang asisten.


"Inilah rumah tangga yang aku impikan dulu Mas, tidak ada orang ketiga di dalamnya," gumam Mentari dan langsung menutup matanya lagi.

__ADS_1


Bintang melirik ke arah Mentari lalu mengulas senyuman kemudian melanjutkan pembicaraan dengan asistennya.


Setelah selesai Bintang ikut merebahkan tubuhnya di samping Mentari sambil memeluknya. Tak lama kemudian pria ikut terlelap.


Esok hari Bintang yang merasa cuaca semakin dingin saja takut membuat Mentari tidak bisa beradaptasi dan malah akan menimbulkan bahaya pada tubuh sang istri. Setelah berembug dengan Gala akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tanah air hari itu juga.


Bulan berganti bulan, kandungan Mentari semakin besar saja dan wanita itu sedikit manja dan bergantung pada Bintang. Bintang yang tidak ingin menyia-nyiakan momen kebersamaan dengan sang istri berusaha selalu ada di samping Mentari saat wanita itu membutuhkan.


Tuan Winata mendukung, bahkan kadang meminta Bintang untuk menjaga Mentari saja di dalam rumah sementara yang menghandle pekerjaan kantor adalah dirinya.


Arumi tidak kalah, dia bahkan over protective, ini adalah cucunya yang pertama maka dia harus memastikan keadaan Mentari dan bayinya baik-baik saja.


Mentari menikmati momen-momen kehamilannya ini. Dia sangat bahagia, dia tahu semua orang sangat menyayangi dirinya dan putranya. Meskipun dirinya sedang hamil. Namun, Bintang dan kedua mertuanya tidak melupakan Izzam yang juga membutuhkan kasih sayang.


***


Beberapa bulan kemudian Mentari sedang duduk bersantai dengan Izzam di atas sofa ruang keluarga sedangkan Bintang masih berkutat di kamar mandi. Hari dia adalah hari Minggu, jadi waktunya bersantai bersama anak dan istri.


Tiba-tiba Mentari merasakan sakit perut yang teramat. Dia meringis menahan sakit.


"Ummi itu apa?" tanya Izzam saat melihat cairan merembes ke betis Mentari. Kebetulan dress panjang Mentari sedikit tersingkap.


Wanita itu langsung melirik ke arah betisnya dan wajahnya terlihat pucat.


"Apa ini waktunya aku melahirkan?" tanyanya bingung, seharusnya 3 hari yang lalu dia sudah melahirkan kalau menurut hari taksiran persalinan (HTP) dari dokter.


"Me, kamu kenapa?" tanya Bintang saat turun dari tangga melihat wajah istrinya pucat.


"Papi, Ummi keluar air!" seru Izzam sambil menunjuk ke arah kaki Mentari.


Bintang pun segera berlari ke arah Mentari.


"Mas sepertinya sudah waktunya aku melahirkan," lirih Mentari dan Bintang pun langsung menggendong tubuh istrinya.


"Baik Papi!" teriak Izzam dan langsung bergegas pergi ke kamar Arumi.


"Ada apa Izzam? Kenapa kau berlarian sepagi ini?"


"Oma! Opa! ummi mau melahirkan."


"Benarkah?"


"Iya sekarang dibawa oleh papi keluar."


"Pa–"


"Kita susul sekarang!" potong Tuan Winata dijawab anggukan oleh Arumi.


"Ayo Izzam kita susul Ummi ke rumah sakit!" Arumi langsung menggendong tubuh Izzam agar bisa cepat sampai ke mobil.


Tuan Winata pun langsung tancap gadis. Tanpa harus bertanya, Tuan Winata tahu di rumah sakit mana Mentari akan melahirkan sebab sebelumnya sudah ada planning dari Bintang.


Di dalam mobil Arumi terlihat heboh, dia menelpon Tama dan Gala secara bergantian padahal menelpon satu orang saja sudah cukup.


Sampai di rumah sakit Arumi menitipkan Izzam pada suaminya dan dirinya sendiri masuk ke dalam ruangan bersalin.


Di dalam ruangan Mentari sudah berusaha mengejan.


"Sedikit lagi Sayang!" seru Bintang sambil mengecup kening istrinya.


"Iya Mas, aku ambil nafas dulu," jawab Mentari dengan nafas terengah-engah. Ini adalah kali kedua dia melahirkan. Jadi, dia sedikit banyak sudah tahu bagaimana harus menyiasati keadaan.


"Ayo Nyonya sudah siap?" tanya dokter.


Mentari mengangguk dan untuk sesaat menarik nafas lagi lalu menghembuskan secara perlahan.

__ADS_1


"Arrrggg!" Mentari mengejan.


"Arrggh!" Arumi ikut berteriak membuat Mentari yang tadinya ingin mengejan malah tertawa.


"Ma, jangan meniru!" protesnya. Lalu Mentari mulai mengejan lagi.


"Maaf, mama reflek tadi."


"Mending Mama keluar deh daripada mengacaukan suasana!" protes Bintang sebab keberadaan Arumi takut membuat Mentari tidak konsentrasi.


"Baiklah mama keluar saja," ucap Arumi lalu keluar dari ruangan.


"Oeek... oekk."


"Aih sudah lahir saja," ucap Arumi padahal dirinya baru keluar dari pintu.


"Bayinya perempuan," ucap dokter sambil mengangkat bayi itu di atas perut Mentari.


"Mas, sesuai permintaanmu," ucap Mentari tersenyum senang.


"Alhamdulillah Sayang, sekarang anak kita sudah lengkap. Ada cowok dan ada cewek juga." Bintang pun ikut tersenyum.


Dokter memberikan bayinya pada suster untuk dibersihkan dan dirinya sendiri masih menangani Mentari.


Beberapa saat Bintang pun langsung menyerukan kalimat adzan di telinga putrinya.


"Mas aku takut," ucap Mentari lalu mendekap tubuh Bintang dengan erat.


Bintang mengernyit. "Takut kenapa?" tanyanya sambil mengelus rambut dan kening istrinya yang masih dipenuhi keringat.


"Ada Abi di sana, dia tersenyum padaku. Aku tidak mau ikut Abi. Aku mau sama Mas Bintang dan anak-anak saja," ucap Mentari dengan suara bergetar ketakutan. Dia menunjuk ke sisi pintu dimana para anggota keluarganya menatap ke dalam ruangan.


Mentari mengingat saat Sarah melahirkan bermimpi diajak ustadz Alzam dan dia tidak mau. Sementara Mentari mengharapkan dirinya yang diajak. Jadi, sekarang dia berpikir ustadz Alzam datang untuk mengabulkan permintaannya.


"Mana? Tidak ada, kau hanya berhalusinasi Sayang," ucap Bintang sambil mengelus punggung Mentari untuk menyalurkan ketenangan.


"Ada di samping Sarah." Mentari masih ngotot, tapi matanya tidak ingin melihat ke arah pintu.


"Coba kau lihat lagi, mungkin kau salah lihat, itu paman Tama."


Mentari mencoba menoleh, ternyata benar apa yang dikatakan Bintang.


"Lagipula kalau memang benar ustadz Alzam ada di sini, dia hanya ingin menyaksikan kebahagiaan kita. Dia ikut bahagia dengan kebahagiaan kita Me, kebahagiaan anak-anak kita juga. Dia tidak akan tega mengajakmu pergi sedangkan Izzam dan putri kita masih membutuhkanmu," jelas Bintang.


"Akhirnya aku mendapatkan dirimu seutuhnya Me. Hatiku sudah kembali padaku," batin Bintang.


"Yeh, aku punya dedek!" seru Izzam sambil berlari ke dalam ruangan diikuti Gaffi di belakangnya.


"Mau lihat?" Suster menyodorkan bayi mungil di tangannya.


"Ini dedek Abang," ucap Izzam seolah ingin pamer.


Gaffi cemberut dan langsung berlari keluar.


"Papi! Mami! Gaffi ingin adek," rengeknya sambil bergelayut manja di lengan Sarah. Apa yang Izzam miliki dia juga harus memilikinya.


"Nanti aku belikan ya di toko mainan," bujuk Sarah.


"Tidak! Gaffi ingin adik yang asli kayak itu!" Gaffi menyeret Sarah ke dalam ruangan agar melihat bayi yang dipegang oleh suster.


Sontak saja kelakuan Gaffi itu mengundang tawa dari semua orang yang melihatnya.


"Anak itu pikir untuk mendapatkan adik semudah membuat kue apa?" Gala hanya bisa menggelengkan kepala mendengar permintaan putranya.


---------------*TAMAT*--------------

__ADS_1


__ADS_2