
"Sebentar Mas aku buka pintu dulu," ujar Mentari sambil melepaskan pegangan tangan Bintang. Pria itupun mengangguk dan membiarkan sang istri berjalan lebih dulu menuju pintu.
Mentari memutar handle, pintu terbuka. Tampak seorang gadis berdiri di luar pintu.
"Sarah!"
"Mbak Meme kita berangkat bareng la ...." Belum sempat Sarah melanjutkan bicaranya ia melihat Bintang ada di belakang Mentari.
"Siapa sayang?" tanya Bintang.
"Suamimu?" tanya Sarah. Beberapa waktu kenal dengan Mentari tak pernah sekalipun bertemu langsung dengan Bintang. Sarah hanya tahu wajah Bintang dari foto yang ditunjukkan Mentari saat wanita curhat dan menyerah untuk merahasiakan kehidupan keluarganya.
"Iya Sarah. Kenalkan Mas, ini Sarah temanku sekaligus pemilik toko tempatku bekerja, dan ini Mas Bintang Sarah, suamiku."
Baru saja Bintang mengulurkan tangan hendak bersalaman untuk memperkenalkan diri, Sarah langsung berucap salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum," ucap Sarah sambil mengatupkan tangan di depan dadanya.
"Waalaikum salam," sahut Bintang dan tangannya kini juga ikut mengatup di depan dada.
"Hari ini aku nggak bareng kamu dulu ya Sarah sebab Mas Bintang mau mengantar saya."
"Ah nggak Kak, Sarah ke sini cuma ingin memberitahukan bahwa hari ini toko saya tutup. Jadi Kak Sarah tidak usah kerja dulu."
"Loh bagaimana mungkin?" tanya Mentari tak mengerti.
"Bukankah kemarin jelas-jelas ada beberapa pelanggan yang menelpon langsung pada Nanik dan Mentari mendengarnya.
"Bukankah pesanan untuk hari ini sudah ada ya?" tanyanya tak percaya.
"Semua pelanggan membatalkan pesanannya dan kebetulan Mbak Nanik ada kepentingan mendadak jadi terpaksa toko saya tutup dulu Kak," terang Sarah.
"Tidak ada masalah kan dengan tokonya Sarah? Kenapa tiba-tiba semua orang membatalkan pesanan?" tanya Mentari khawatir.
"Nggak Kak. Kebetulan aja acara mereka ditunda lusa. Jadi pesanan diundur."
"Aneh bisa bersamaan gitu," ucap Mentari.
"Kebetulan saja Kak," kata Sarah.
"Kamu sendiri mau kemana? Tadi kok ngajak berangkat bareng?" tanya Mentari curiga. Jangan-jangan Sarah berbohong. Mungkin saja pekerjaan dirinya tidak cocok bagi Sarah dan gadis itu tidak enak kalau bicara to the point bahwa dirinya dipecat.
__ADS_1
"Tadinya mau ngajak Kak Meme jalan-jalan bareng tapi karena ada suami kakak nggak jadi deh. Ya sudah ya Kak aku pergi dulu," pamit Sarah. Tanpa menunggu jawaban Mentari, Sarah buru-buru pergi.
Mentari beralih memandang Meminta saran Pria itu. "Janggal nggak sih menurut Mas Bintang?"
Bintang tersenyum. "Nggak usah dipikirin. Bagus dong kalau akhirnya kamu libur hari ini."
Mentari mengernyit tidak mengerti.
"Ya sudah kita jalan-jalan saja," ajak Bintang.
Kini giliran Mentari yang tersenyum senang. "Oke siap."
"Yuk!"
"Mas Bintang mau jalan-jalan dengan pakaian seperti itu?"
"Iya memang kenapa?"
"Nggak apa-apa sih, cuma siapa tahu mau ganti baju dulu."
"Nggak usah."
Keduanya pun pergi menghabiskan waktu seharian berdua. Hal yang jarang dilakukan saat setelah Mentari tahu bahwa di hati Bintang juga ada Katrina.
Sore hari setelah Mentari dan Bintang pulang dari jalan-jalan mereka langsung duduk sebentar di atas sofa sambil menyandarkan bahunya pada sandaran sofa.
"Capek?" tanya Bintang pada Mentari dan wanita itu mengangguk.
Setelah keliling seharian membuat Mentari benar-benar kelelahan padahal dulu dia sudah biasa berjalan kaki menerobos hutan, tetapi sekarang berkeliling dengan mobil saja dan hanya sesekali berjalan kaki malah tulang-tulangnya serasa akan copot.
"Tapi aku bahagia." Mentari tersenyum manis. Bintang merasa bersyukur telah dapat mengembalikan keceriaan wanita itu seperti dulu lagi.
"Sebentar ya Mas, aku mau ngasih ini dulu pada Sarah." Mentari menjinjing tas plastik yang berisi oleh-oleh khusus Sarah.
"Silahkan, aku mau mandi saja."
Mentari mengangguk lalu berjalan ke luar apartemen menuju kamar Sarah.
"Wah senangnya Bintang sudah kembali," goda Sarah melihat wajah Mentari yang berseri-seri. Ini adalah hal yang memang dinginkan Sarah. Dia ingin Mentari menghabiskan waktu sepanjang hari ini bersama suaminya karena momen seperti ini sepertinya langka terjadi menurut Sarah. Jadi saat tadi melihat Bintang ada di apartemennya dengan pakaian santai Sarah paham pria itu tidak akan pergi ke kantor.
Mentari hanya tersenyum menanggapi candaan Sarah.
__ADS_1
"Ini untukmu." Mentari menyodorkan bingkisan tersebut pada Sarah.
"Wah terima kasih nih aku dikasih oleh-oleh. Nggak salah aku meliburkan mu." Sarah langsung menutup mulutnya yang nyerocos bicara.
"Jadi hanya aku yang libur? Yang lain tidak?" tanya Mentari heran.
"Ah nggak kok Sarah hanya salah bicara kok Kak."
"Kamu tidak ingin memecat saya kan Sarah?" tanya Mentari masih penasaran.
"Tidak Kak, Sarah kan tadi cuma bilang meliburkan tidak memecat."
"Iya juga sih."
"Cuma tadi aku lihat Kak Meme bahagia ada Bintang jadi Sarah tidak ingin membiarkan waktu itu berlalu begitu saja. Kak Meme perlu waktu untuk berdua bersama suami. Takutnya pas suami pulang begini Kak Meme tinggal pergi ke toko eh si suami malah pergi lagi."
"Ada-ada saja kamu Sarah, tapi apapun itu terima kasih. Ngomong-ngomong gimana Mbak Nanik? Dia pasti kewalahan membuat kue sendirian sekaligus melayani pelanggan. Padahal aku sudah janji bakal datang pagi, eh malah nggak masuk kerja." Mentari merasa tidak enak pada Nanik.
"Tidak Kak, hari ini kan aku tidak ada kuliah. Jadi seharian aku yang melayani pembeli, cuma aku pulang duluan ini. Lagian Mbak Nanik sekarang juga sudah ada yang bantu buat kuenya."
"Iya kah?"
"Iya Kak, sepertinya kalau dua orang saja di toko akan kewalahan melayani pesanan yang hari demi hari makin bertambah pesat saja. Jadi aku tambahin saja satu karyawan. Nanti kalau berkembang lagi Sarah tambah lagi karyawannya."
"Iya Sarah, itu bagus. Semoga tokomu semakin laris dan semakin besar kalau bisa berkembang membuka beberapa cabang."
"Amin. Semoga saja Kak," ucap Sarah.
"Ya sudah aku kembali ke kamarku takutnya Mas Bintang menunggu."
"Iya Kak."
Mentari keluar dari kamar Sarah dan berjalan menuju unit apartemennya sendiri.
"Wanita memang aneh, kalau sudah cinta disakitin bagaimanapun tetap akan memaafkan," ucap Sarah sambil menggeleng melihat sikap Mentari yang langsung bisa memaafkan Bintang begitu saja.
"Kayaknya kalau aku yang jadi Mentari, kemarin langsung aku ambil tuh kue dan langsung kuhempaskan ke tanah." Sarah cekikikan sendiri dalam kamar membayangkan dirinya yang jadi Mentari.
"Dengan begitu pasti Bintang akan langsung mengucap talak dan akhirnya aku bisa bebas deh. Yang jelas itu tidak melanggar perjanjian yang tertulis dengan papanya Bintang. Toh bukan aku yang minta cerai tapi Bintang sendiri yang menceraikan. " Sarah masih membayangkan menjadi Mentari.
"Ah apa yang aku pikirkan dari tadi?" Sarah memukul kepalanya sendiri karena pikirannya yang ngelantur.
__ADS_1
Bersambung ....