HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 24. Katrina Sakit


__ADS_3

"Baiklah aku pergi, kamu hati-hati," ucap Bintang. Setelah melihat anggukan dari Katrina Bintang pun berbalik dan kembali ke mobil.


Setelah duduk di dalam mobil Bintang kembali menyetir mobilnya menuju perusahaan Pradiatama.


Di dalam mobil Bintang menyetir sambil melamun. Perasaannya tidak enak kala mengingat sikap Katrina yang seolah berubah padanya. Biasanya wanita itu tidak pernah ingin jauh darinya meski Bintang kadang menjaga jarak mengingat ada Mentari yang juga harus dijaga perasaannya. Namun, kali ini Katrina malah tidak ingin dekat-dekat dengannya. Dalam hati Bintang bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat Katrina seperti itu.


Ciiiit!


Bintang segera membanting setir dan mengerem mendadak membuat mobil hampir saja oleng.


"Ya ampun Bintang!" Gala protes karena Bintang tidak fokus menyetir hingga hampir saja menabrak seorang wanita separuh baya yang sedang menyebrang jalan. Pria itu sama sekali tidak melihat lampu lalu lintas yang telah berubah merah.


"Sorry," ucap Bintang penuh sesal.


"Hampir saja satu nyawa melayang olehmu. Sini biar aku yang nyetir saja kalau kamu tidak bisa fokus!"


Bintang mengangguk lalu melepas sabuk pengaman dan turun sedangkan Gala berpindah ke tempat Bintang dan siap mengambil kendali, menyetir mobil menggantikan Gala.


"Ayo masuk!" perintah Gala yang melihat Bintang masih berdiri di luar mobil.


Pria itu mengangguk lalu masuk ke dalam mobil dan duduk. Setelah lampu lalu lintas berubah hijau Gala pun menjalankan mesin mobilnya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Gala pun membawa mobil kembali ke perusahaan sambil menebak-nebak apa sekiranya yang membuat Bintang menjadi pendiam dan tidak fokus seperti itu.


"Sudah sampai," ucap Gala pada Bintang saat mobil sudah memasuki area kantor.


Bintang pun masih saja merespon dengan anggukan membuat Gala malas berbicara pada pria tersebut.


Gala turun dari mobil dan berjalan ke arah pak satpam. "Pak tolong parkir kan mobil ini!" Perintah Gala sambil melempar kunci mobil pada pak Satpam.


"Oke siap Pak Bos," sahut pak satpam sambil menangkap kunci mobil yang Gala lemparkan.


Setelah itu Gala langsung masuk ke dalam kantor dan menuju kantin sedang Bintang langsung naik ke ruangannya.


Sampai di dalam ruangan Bintang terlihat gelisah. Entah apa yang terjadi Bintang begitu khawatir terhadap Katrina. Pria itu langsung meraih handphone dan menelpon istrinya itu.


"Cck, kenapa nggak diangkat sih." Perasaan Bintang semakin tidak karuan saja. Namun, dia masih saja berusaha menghubungi Katrina.


Tiga kali Bintang menghubungi wanita itu, tetapi tetap tak ada jawaban.

__ADS_1


Bintang bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


"Katakan pada Pak Gala saya pamit pulang duluan karena ada kepentingan mendesak," ucap Bintang pada karyawan yang melintas di hadapannya.


"Baik Pak nanti saya sampaikan," sahut karyawan tersebut.


"Terima kasih," ujar Bintang sambil berjalan tergesa-gesa menuju pintu lift.


Setelah turun ke lantai bawah, Bintang segera berlari menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya lagi. Dia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Katrina.


Setelah sampai di parkiran apartemen, Bintang bergegas masuk ke dalam lift dan langsung memencet tombol angka dimana lantai unit apartemen Katrina berada.


Setelah pintu lift terbuka Bintang langsung berlari lagi ke unit apartemen Katrina. Karena dia sudah tahu password pintunya dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu atau memencet bel terlebih dahulu.


Sampai di dalam saat Bintang membuka pintu kamar, ia melihat Katrina meringkuk di ranjang sambil meringis kesakitan.


"Kate kamu kenapa?" tanya Bintang sambil beranjak ke arah ranjang dan duduk di dekat Katrina.


"Perutku sakit," ucap Katrina dengan bibir yang gemetar.


Bintang menyentuh perut Katrina dengan lembut lalu memegang kening istrinya itu karena wajahnya masih terlihat pucat.


Setelah menaruh tubuh Katrina dalam mobil Bintang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lagi dan kali ini tentu saja menuju rumah sakit.


"Cepat tangani istri saya Dok," ucap Bintang pada dokter yang menghampiri dirinya.


"Baiklah letakkan istri anda di sana!" perintah dokter sambil menunjuk sebuah brankar.


Bintang pun melakukan yang diperintahkan dan dokter tersebut langsung memeriksa Katrina.


"Apa keluhannya?" tanya dokter tersebut sambil terus memeriksa Katrina.


"Dia tadi muntah-muntah dan sekarang malah sakit perut Dok," jelas Bintang.


"Oh oke."


"Bagaimana Dokter?" tanya Bintang saat dokter usai memeriksa sang istri.

__ADS_1


"Sebenarnya mual atau muntah-muntah itu wajar untuk ibu hamil ...."


"Terus sakit perutnya Dok?" tanya Bintang tidak sabaran padahal sang dokter belum selesai menjelaskan.


"Mules atau sakit perut juga bisa dikatakan normal untuk ibu hamil. Penyebabnya adalah meningkatnya hormon progesteron dan relaksin yang membuat sambungan-sambungan tulang di sekeliling rahim merenggang."


"Maksudnya Dokter?" tanya Bintang belum paham. Sebenarnya bukan belum paham hanya tidak fokus pada penjelasan dokter.


"Maksud saya hal ini disebabkan karena perkembangan bayi dan ukuran rahim yang semakin bertambah. Penyebab kram atau nyeri perut saat hamil antara lain: Tekanan pada otot, sendi dan pembuluh darah. Peregangan ligamen untuk mendukung perkembangan bayi."


"Iya Dok saya paham tetapi kenapa istri saya juga panas?"


"Nah itu dia masalahnya istri anda demamnya tinggi jadi saya sarankan dia diopname dulu untuk beberapa hari biar demamnya lekas turun. Takutnya nanti kalau ibunya tidak sehat akan berimbas pada perkembangan janin dalam perut."


"Baik saya ikut saran dokter agar bayi dan ibunya baik-baik saja.


"Bagus, kalau begitu saya permisi dulu."


***


Di tempat lain setelah sampai di apartemen Mentari langsung beristirahat sebentar. Saat ingat dia belum sarapan, dia beranjak ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong. Mentari baru ingat bahwa banyak barang-barang kebutuhan sehari yang sudah habis.


"Ini gimana stok bahan-bahan di dapur sudah habis, sabun dan perlengkapan di kamar mandi lainnya juga habis. Kalau tahu begini aku tidak langsung pulang tadi. Ah mengapa tadi pagi aku lupa mengecek sebelum pergi ke kantor Mas Bintang," sesal Mentari.


Wanita itu meraih ponselnya dan langsung menelpon Bintang untuk meminta izin keluar. Namun sayang teleponnya tidak masuk, mungkin karena saat Mentari menelpon Bintang, pria itu masih menghubungi Katrina.


Mentari tidak putus asa, dia tetap berusaha menelpon Bintang. Namun sayang kali ini ponsel Bintang sudah tidak aktif.


Mentari duduk sebentar dan berpikir apakah akan menunggu Bintang pulang dan meminta pria itu mengantarnya ke supermarket ataukah dia pergi sekarang meskipun tanpa izin Bintang.


"Kalau menunggu Mas Bintang kelamaan, lagipula dia kan baru pulang kerja pasti akan lelah. Lebih baik aku pergi sendiri saja sekarang, toh aku sudah mau izin sama Mas Bintang tetapi dianya yang nggak angkat telepon aku. Jadi anggap saja saya sudah izin. Lagipula ini darurat. Kalau tidak belanja sekarang, nanti Mas Bintang saat pulang mau kasih makan apa? Nanti jangan-jangan aku dianggap istri yang tidak becus lagi." Mentari mengoceh sendiri.


"Ya sudahlah aku berangkat sekarang."


Mentari pun bersiap-siap untuk pergi ke supermarket. Sebelum pergi dia menulis pesan pada Bintang bahwa dirinya pergi untuk berbelanja.


Pesan tersebut dia taruh di meja ruang tamu tempat dimana Bintang sering beristirahat saat sepulang kerja sebelum masuk kamar.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2