HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 95. Menantu Tidak Berguna


__ADS_3

"Ngapain kamu ke sini? Tidak takut ketularan orang tidak waras?" Gala langsung menyerang Bintang dengan perkataannya.


"Aku hanya mengantarkan Mentari bertemu Paman Tama, kalau tidak mana mungkin aku datang ke tempat ini. Malas," jawab Bintang ketus.


"Mentari?" Mendengar nama Mentari di sebut Gala nampak tersenyum dan langsung bergegas menaiki tangga menuju kamar papanya.


"Hei mau kemana?" Bintang yang tidak terima Gala akan menemui Mentari di kamar Tama akhirnya menyusul naik ke atas.


Gala membuka pintu dan Mendapati Tama sedang memeluk Mentari dengan bercucuran air mata karena terharu akhirnya bisa bertemu Mentari lagi. Sudah lama Tama meminta Gala untuk membawa Mentari ke rumah ini. Namun, Gala selalu saja menolak dan meminta sang papa setelah Tuan Winata kembali dari luar negeri saja. Hal itulah yang membuat Tama merajuk pada Gala dan tidak mau keluar kamar lagi.


Tama juga sempat meminta Gala mengantar dirinya ke toko Sarah, tetapi saat tiba di sana ternyata teman-teman Mentari mengatakan Mentari sudah tidak masuk beberapa hari. Akhirnya Tama pulang dengan perasaan kecewa. Meminta Gala untuk mengantarnya ke apartemen Bintang lelaki itu nenolak dengan keras sehingga membuat Tama semakin kesal saja.


"Akhirnya kau mau menemui papa juga," ucap Gala pada Mentari lalu duduk pada sebuah kursi.


"Maafkan saya Pak," ucap Mentari.


"Tidak usah panggil Pak. Panggil Gala saja. Dia bukan bosku lagi," perintah Bintang pada Mentari.


Mentari dan Tama menoleh secara bersamaan pada Bintang yang nampak berdiri di depan pintu.


"Kau bersamanya?" tanya Tama sambil menunjuk ke arah Bintang. Mentari mengangguk. "Iya, Mas Bintang yang mengantarkan ku."


Mendengar jawaban Mentari Tama yang awalnya kesal pada Bintang akhirnya luluh. "Bintang, izinkan kami untuk bertemu setiap hari. Dia seperti putriku yang hilang, dia yang menjadi penawar rinduku pada Cahaya dan juga almarhumah Rosa," pinta Tama penuh harap.


"Boleh," jawab Bintang membuat semua orang menatap Bintang tidak percaya terlebih Gala.


"Terima kasih," ucap Tama dengan hati yang bahagia.


"Tapi ada syaratnya," lanjut Bintang.


Gala tampak mengerutkan dahi, dia pikir Bintang akan neko-neko.


"Apa itu? Pasti akan aku kabulkan," jawab Tama.


Gala mulai curiga mengingat Bintang sekarang bekerja sebagai karyawan biasa saja gara-gara ulah dirinya dan Tuan Winata yang menelpon dan meminta beberapa rekan bisnisnya untuk menolak lamaran kerja Bintang.


"Kau mau uang?" tebak Gala.


"Cih, aku tidak sudi lagi dengan uangmu," ejek Bintang.


"Jabatan? Harta?" tanya Gala lagi.


"Najis dengan semuanya." Bintang benci dengan pertanyaan Gala yang seolah menghina dirinya.


"Terus apa?" tanya Gala bingung.


"Paman Tama boleh menemui Mentari di apartemen atau toko Sarah asalkan tidak membawa dirimu ikut bersamanya."


"Hahaha kau masih cemburu rupanya." Gala tertawa keras. "Maka jagalah Mentari dengan baik agar tidak jatuh dalam pelukan orang lain. Ingat jika kau menyakitinya akan ada pria lain yang bisa membahagiakannya."


"Kurang ajar kamu ya!" Bintang mulai terpancing emosi.


"Sudah-sudah aku akan menemui Mentari dengan pak sopir saja," ucap Tama.


"Bagus paman karena kalau sampai paman menemui Mentari bersama Gala maka Bintang pastikan Paman tidak akan bertemu Mentari lagi," ancam Bintang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku janji akan menemui Mentari sendiri saja," ujar Tama lagi dan Bintang terlihat mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar dan menarik kursi serta duduk di hadapan Gala.


"Cih kenapa tidak kau karungi saja si Mentari kalau tidak boleh dilihat orang lain," protes Gala. Dalam hati berpikiran mentang-mentang sudah tidak bekerja pada dirinya lagi Bintang menjadi tidak sopan.


Bintang tidak menjawab dan memilih diam begitupun dengan Gala yang juga ikut diam sambil memandang ke arah mentari dan Tama yang saling bercengkrama.


Sampai-sampai kedua orang yang dipandanginya itu tertawa kecil melihat Bintang dan Gala yang seperti patung manekin saja.


"Sudah cukup kita pulang," ajak Bintang pada Mentari.


Mentari nampak cemberut, tetapi tetap saja dia harus menurut agar Bintang tidak menarik izinnya tadi.


"Ya sudah Pa aku pamit ya, besok kita akan bertemu lagi," pamit Mentari pada Tama.


"Iya Nak hati-hati," ujar Tama.


Bintang pun menarik tangan Mentari dan membawanya keluar dari kamar Tama.


"Loh Non Mentari, Den Bintang, sudah mau kemana? Ini bibi bawakan minuman dan camilan. Duduk dulu gih."


"Tidak usah Bik terima kasih," tolak Bintang.


"Ya percuma dong bibi buatin kalau nggak dicicipin dulu."


"Kelamaan Bik, tamunya sudah keburu kenyang."


Mentari hanya menggeleng mendengar ucapan Bintang yang dari tadi hanya membuat orang yang mendengarnya kesal saja.


"Ya sudah bik aku ambil satu ya." Mentari mengambil potongan kue bolu dan mengunyahnya sambil berjalan karena satu tangannya di genggam Bintang yang berjalan cepat.


Si bibi hanya mengangguk. Mentari menoleh dan memberikan jempol pertanda bolu buatan si bibi enak sedangkan mulutnya masih saja mengunyah. Bibi hanya tersenyum menanggapi sikap Mentari.


"Ngapain, ini kan hari libur?" tanya Bintang heran.


"Mana ada toko kue libur. Tiap hari itu buka, lagian kamu sampai di rumah paling ditungguin Katrina untuk jalan-jalan. Aku akan


sendirian nantinya.


"Ikut aja," usul Bintang.


"Ogah ah." Mentari malas kalau harus berjalan-jalan bertiga. Yang ada kalau bertemu temannya atau teman Bintang nantinya wanita itu akan mengatakan dirinya istri pertama dan Mentari istri kedua jika orang-orang bertanya. Hanya akan menyakiti hatinya saja.


"Baiklah sekarang aku antar ke toko Sarah." Bintang langsung memutar kemudi kemudian melajukan mobilnya ke jalanan menuju toko Sarah.


Sampai di depan toko Sarah Mentari turun.


"Hati-hati Me nanti pulangnya telepon ya biar aku jemput."


"Iya. Mas Bintang juga hati-hati ya," jawab Mentari singkat.


Bintang mengangguk dan melambaikan tangan lalu menyetir mobilnya kembali menuju apartemen.


Mentari pun membalas lambaian tangan Bintang dan setelah mobil bintang hilang dalam pandangan ia langsung berjalan ke toko Sarah.


"Hei Mentari!" Belum saja menginjak lantai bangunan toko terdengar sebuah suara memanggilnya.

__ADS_1


Mentari menoleh ternyata sudah ada Arumi di belakangnya.


"Mama!" kaget Mentari tetapi langsung menyalami tangan Arumi meski tahu wanita ini sama sekali tidak menyukainya.


Arumi tidak menolak membiarkan mentari mencium tangannya.


"Ada apa Ma, tumben Mama ke sini?" tanya mentari penasaran.


"Tanda tangani ini!" Tanpa berbasa-basi Arumi langsung menaruh kertas di atas tangan Mentari.


"Apa ini Ma?" Mentari meraih kertas itu dan membacanya.


"Oh ini?" Wajah Mentari tampak tak bergairah.


"Kenapa kamu tidak mau menandatangani ini? Apakah kamu ingin menguasai Bintang hah? Ingat, bayi yang ada dalam kandungan Katrina itu cucu saya dan saya tidak terima kamu mempersulit hidup cucu saya nantinya."


Mentari terlihat syok mendapat serangan kata secara mendadak.


"Aku tahu taktik kamu. Kamu tidak mau menandatangani surat ini karena kamu ingin suatu saat nanti anakmu yang akan mewarisi kekayaan kami. dasar cewek matre. Kalau dari awal memang menikah karena uang ya tetap saja mengincar uang. Dasar wanita kampung. Cepat tanda tangani ini!"


Mentari tampak menggeleng.


"Kau butuh berapa? Seratus juta? Dua ratus juta? Akan aku berikan kalau kamu menandatangani surat ini."


"Ma, aku tidak mau melakukan itu bukan karena pertimbangan uang atau harta yang akan anak-anakku nanti dapatkan tapi ...."


"Anak? Saya pikir kamu tidak akan bisa memberikan anak untuk Bintang."


"Astaghfirullah hal adzim Ma, mengapa Mama bicara seperti itu?"


"Ya jelas sajalah lah aku ngomong begitu. Hampir sembilan bulan menikah tidak ada tanda-tanda kehamilan darimu sedangkan Katrina sudah hampir melahirkan. Palingan kamu itu mandul," cerca Arumi.


"Ma!" Mentari tidak terima dikatakan mandul.


"Apa, masih mau mengelak?"


"Terserah Mama mau bicara apa. Kalau masalah keturunan saya hanya pasrahkan kepada Allah SWT. Dia yang mengatur segalanya. Lagipula pernikahan Katrina dan Mas Bintang jauh lebih lama daripada pernikahanku dengan Mas Bintang," bela Mentari akan dirinya sendiri.


"Cih sok alim, dasar menantu tidak berguna. Apa katamu tadi? Jarak pernikahan kalian jauh? Kau salah Mentari, Bintang menikahi Katrina bahkan pada malam dimana esoknya Bintang menikahi dirimu."


"Apa?" Mentari tampak membulatkan mata karena kaget.


"Tidak usah pura-pura kamu."


Mentari menekan dadanya yang amat terasa sakit. Dalam hati berkata teganya Bintang melakukan itu semua. Mentari pikir sebelumnya apa yang dikatakan Katrina benar bahwa Bintang menikahi dirinya sudah setahun lebih saat pertama kali Mentari bertemu dengan Katrina.


Namun, bisa saja kan Arumi yang malah mengarang mengenai hal itu. Mentari mencoba menguatkan hati, toh semuanya sudah terlanjur terjadi.


"Ma dengar dulu sebelum mama lebih jauh menilai Mentari, izinkan Mentari menjelaskan sesuatu dulu," mohon Mentari.


"Apa ya akan kau jelaskan?"


Mentari mengambil ponselnya dan membuka video lalu memberikan pada Arumi.


"Mama lihat itu, Katrina malah makan siang dengan seorang pria dan orang itu bukan teman sekantornya. Saya curiga dia adalah selingkuhan Katrina dan sebenarnya anak yang dikandung Katrina itu adalah anak pria itu. Makanya Mentari tidak ingin buru-buru mengambil keputusan untuk menandatangani surat ini." Mentari menyampaikan dugaannya saja.

__ADS_1


"Alasan," ucap Arumi. Namun, tangannya langsung memencet ponsel Mentari dan mengirimkan video itu ke nomor ponselnya sendiri.


Bersambung.


__ADS_2