HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 96. Fitnah


__ADS_3

"Alasan," ucap Arumi. Namun, tangannya langsung memencet ponsel Mentari dan mengirimkan video itu ke nomor ponselnya sendiri. Setelah itu Arumi mengembalikan ponsel Mentari ke tangannya dan langsung bergegas pergi meninggalkan Mentari yang nampak termangu.


Mentari tersadar lalu melanjutkan langkah menuju bangunan toko Sarah sambil memikirkan bagaimana kalau video itu malah tidak ada artinya apa-apa. Bisa saja pria itu hanya kerabat dari Katrina. Pasti Arumi akan semakin membenci dirinya karena berpikir Mentari mencoba memfitnah Katrina agar Arumi membencinya.


Mentari memukul dahinya sendiri karena terlalu terburu-buru memperlihatkan video yang bahkan hubungan keduanya belum sempat dia ketahui kebenarannya. Harusnya kan dia menyelidiki dulu sebelum menunjukkan video itu kepada mertuanya.


"Kenapa sih memukul kepala seperti itu, apa lagi migran?" tanya Mega saat Mentari sampai ke dekatnya.


"Bukan migran tapi pusing," jelas Mentari.


"Sama saja, aku punya obatnya," ucap Mega dan langsung berlari ke belakang untuk mengambil obat.


Beberapa saat kemudian Mega kembali ke depan dan memberikan satu tablet obat kepada Mentari. "Ini, bisanya aku manjur kalau minum obat ini," ucap Mega.


"Mega, aku bukan sakit kepala tapi pusing dengan masalah di dunia nyata," jelas Mentari dan tentu saja Mega terlihat kaget.


"Aku pikir ...."


"Makanya kalau orang ngomong, dengerin sampai tuntas. Jadi salah terka, kan?" goda Nanik disertai dengan senyuman seperti orang mengejek saja.


Mega terlihat menelan ludah lalu mengambil obat dari tangan Mentari kembali.


"Lebih baik ku kembalikan ke tempatnya saja. Buat stok sakit kepalaku kalau harus lembur lagi," ucap Mega lalu berjalan lagi ke arah belakang.


Sarah mana Mbak Nanik?" tanya Mentari karena tidak menangkap keberadaan Sarah di tempat itu.


"Oh dia? Katanya lagi ada tugas kampus bersama


teman-temannya," jawab Nanik.


"Hari Minggu ngampus?"


"Bukan ke kampus sih katanya mau ke rumah temannya gitu. Nggak tahulah aku nggak ngerti juga. Yang pasti hari ini dia tidak ada di toko," beber Nanik.


"Oke baiklah."


Di tempat lain.


Arumi memerintah sopir untuk


mengemudikan mobil menuju apartemen Bintang. Dia ingin menemui Katrina agar menjelaskan tentang video itu.


"Kate ini apa?" Seperti biasa Arumi selalu langsung pada topik pembicaraan karena dia memang tidak suka berbasa-basi.


"Apa itu Tante?" tanya Katrina tidak mengerti.


"Nih!" Arumi menyodorkan ponsel ke hadapan Katrina yang telah memutar video dirinya dan Arka yang sedang makan di sebuah tempat makan pada siang itu.

__ADS_1


Untuk sesaat Katrina terlonjak kaget melihat ada yang telah berani mengambil video dirinya bersama Arka. Namun, Katrina mencoba mengendalikan emosinya agar terlihat tenang.


"Tante dapat darimana rekaman itu?" tanya Katrina penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu aku dapat darimana rekaman ini. Yang terpenting sekarang jelaskan siapa pria ini!" Arumi menunjuk pria dalam video.


"Oh dia? Bukan siapa-siapa. Dia hanya orang yang Katrina suruh untuk membuatkan surat pernyataan yang tadi pagi saya berikan sama Tante."


"Bener begitu? Kamu tidak berselingkuh dari Bintang, bukan?"


"Mana berani saya Tante selingkuh dari Bintang. Lagipula lelaki itu tidak ada seujung kuku pun dari Bintang. Rugi Kate kalau harus berselingkuh dengannya. Ditambah lagi saya kan sedang hamil besar siapa yang mau sama Kate Tante?" Katrina berkilah.


"Baguslah kalau kamu paham, sebab kalau sampai itu terjadi Tante tidak akan pernah memaafkan dirimu."


"Baik Tante, Kate pasti pegang kata-kata Tante."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Satu hal lagi, panggil saya Mama jangan Tante lagi, apalagi sebentar lagi anak kalian akan lahir."


"Baik Tante eh Mama."


Katrina mengantarkan Arumi ke depan pintu. Setelah Arumi pergi barulah Katrina masuk ke dalam apartemen lagi.


Setelah sampai di dalam dia menelpon dan mengadu perihal video tadi kepada Arka.


"Aku tahu Mentari yang merekam semuanya," jawab Arka.


"Ada seseorang yang melihatnya dan memberitahukan padaku."


"Berarti dia curiga dong dengan hubungan kita. Bagaimana ini Arka kalau ketahuan sebelum aku mendapatkan apa-apa."


"Kau tenang saja Kate, sebelum itu terjadi dia akan hancur terlebih dahulu."


"Jangan omong kosong saja kamu Arka, buktikan sana!"


"Bersabarlah saat ini kau hanya perlu duduk manis dan tunggu dengan santai, sebentar lagi bomnya akan meledak. Berikan nomor wa Bintang padaku!"


"Oke." Katrina pun mengirimkan kontak Bintang pada Arka."


"Oke good job." Arka langsung menutup sambungan teleponnya.


***


Setelah mengantar Mentari ke toko Sarah, Bintang mampir ke sebuah cafe dulu mendengar perutnya yang keroncongan. Memang dia tadi tidak sempat mengisi perutnya karena pagi-pagi harus langsung mengantar Mentari ke rumah Gala.


Setelah menikmati makanan yang dipesannya Bintang membayar dan kembali ke dalam mobil. Saat ia melajukan mobilnya kembali di jalanan ternyata bannya terasa kempes dan tidak bisa berjalan lagi. Bintang turun dan memeriksa. Saat menyadari tidak membawa ban serep dia hanya menggaruk kepala bingung.


"Telepon orang bengkel saja," gumam Bintang.

__ADS_1


Namun, saat hendak menelpon dia teringat bahwa posisinya sekarang ini dekat dengan bengkel. Bintang mengurungkan niatnya dan memilih mendorong mobilnya sendiri.


"Kenapa Mas?" sapa seorang karyawan di bengkel saat Bintang telah berhasil mendorong ke depan gedung bengkel.


"Kempes, tolong bereskan!"


"Siap Mas. Masnya tunggu di sofa ruang tunggu saja ya."


"Oke siap."


Bintang beranjak ke tempat yang ditunjuk oleh karyawan tadi. Dia melihat layar televisi yang menunjukkan acara ajang balap MotoGP berlangsung.


Saat serius-seriusnya menonton acara televisi, ponselnya terdengar berdering.


Bintang mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. "Nomor tak dikenal, kira-kira siapa ya?" gumamnya.


Namun, saat telepon itu diangkat panggilannya terputus.


"Siapa sih?" Bintang tidak perduli dan memasukkan ponsel kembali ke kantong celananya.


"Mungkin salah sambung."


Terdengar ponselnya berbunyi lagi dalam kantong celana. Bintang meraih kembali. Namun, saat diangkat mati lagi.


"Siapa sih? Niat banget ngerjain aku. Apa Gala? Ah mana mungkin dia berganti nomor."


Cling.


Terdengar notifikasi dari dalam ponsel pertanda ada chat masuk.


"Apaan sih?" Tangannya lincah bermain ponsel.


"Ini Kan?" Mata Bintang terbelalak. Jantungnya seakan berhenti mendadak lalu dengan cepat berganti dengan detakan yang teramat kencang. Nafasnya memburu karena dikuasai amarah. Apalagi saat membaca chat dari pengirim video.


"Istri Anda telah berselingkuh dengan seorang ustadz dan tidur dengannya."


"Mentari!" Bintang mengepalkan tangannya saat melihat dalam video itu Mentari digendong oleh seorang pria berkalung sorban menuju sebuah kamar.


"Siapa pria ini?" Bintang memperbesar gambar pria tersebut.


"Sepertinya aku pernah melihat pria ini, dan unit apartemen itu?" Bintang tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Bukannya itu tempatnya Sarah?Ya, ya lelaki itu yang kulihat sempat berbincang-bincang dengan Mentari tempo itu saat menemui Sarah di unit apartemennya. Bintang mengingat lelaki yang pernah membuatnya penasaran waktu itu.


"Pantas saja Mentari begitu dekat dengan Sarah, jadi selama ini dia berselingkuh dengan pria tersebut. Apa yang telah mereka lakukan di dalam kamar Sarah?"


Bintang menggeleng mencoba menepis pemikirannya sendiri, tetapi tidak bisa dirinya sudah dikuasai amarah. Saat ini yang diinginkan hanyalah memukul pria itu sampai babak belur karena telah berani menyentuh istrinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2