HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 189. Emosi


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Bintang dengan ekspresi wajah yang murka.


Mendengar suara teriakan dari arah pintu, kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu segera menghentikan aksi gila mereka.


"Arka, Bintang Ka." Katrina tampak gemetar melihat sorot mata yang memerah di wajah Bintang. Seumur hidup dia tidak pernah melihat wajah Bintang semarah ini termasuk saat Bintang memarahi Mentari waktu dulu.


Arka segera bangkit dan memungut pakaiannya dan segera memakainya kembali sedangkan Katrina menelusup ke dalam selimut dan bersembunyi dibalik selimut tebal itu.


"Apa yang kau lakukan pada istriku!" bentak Bintang dan pria itu berjalan seperti Zombie ke arah Arka.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat Bintang. Katrina tadi pingsan dan aku hanya berusaha untuk memberikan nafas buatan." Arka gusar dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang dia katakan dari mulutnya keluar begitu saja tanpa bisa terkontrol.


"Hei pria setan kamu pikir aku bodoh!" bentak Bintang. "Mana ada memberikan nafas buatan dengan cara melepaskan baju. Yang kau berikan nafas buatan itu mulut yang atas atau yang bawah. Dasar pezina!"


Melihat Bintang fokus pada Arka, Katrina menggulung tubuhnya dengan selimut lalu berlari ke arah kamar mandi. Dia keluar hanya dengan mantel mandi saja.


"Bintang kau salah paham, aku dan Arka ...." Katrina mulai ingin melancarkan kebohongannya lagi.


"Hentikan ocehanmu! Aku sudah tidak bisa percaya lagi padamu. Jangan-jangan Aldan bukan anak hasil diperkosa tapi hasil berzina mu dengan dia!" Bintang menuding Arka.


"Itu tidak benar Bin kau benar-benar salah paham. Izinkan aku menjelaskan semuanya dulu," mohon Katrina sambil berusaha memeluk Bintang.


"Jangan pernah menyentuhku lagi!" bentak Bintang dan langsung mendorong Katrina hingga terjungkal ke belakang.


"Auw!" Katrina memekik kesakitan.


"Bintang jangan kasar sama perempuan!" protes Arka tidak terima Bintang mendorong Katrina sampai jatuh.


"Apa pedulimu? Dia istriku dan sudah merupakan kewajibanku untuk menghukumnya. Sudah untung aku hanya mendorongnya. Seharusnya hukuman untuk pezina seperti kalian adalah dirajam dan dilemparkan batu."


"Hentikan mengatakan kami pezina!" teriak Katrina tak terima.


"Terus kalian mau aku panggil dengan sebutan apa? Penabung dosa, begitukah?"


"Bin, izinkan aku menjelaskan kesalah pahaman ini." Katrina bergelayut di lengan Bintang, tetapi pria itu langsung menghempaskan tangan Katrina.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan menyentuhku, najis!" teriak Bintang.


"Hei Bintang! Kamu tahu tidak, kasar pada istri sendiri itu bisa dikenakan pasal kekerasan dalam rumah tangga?"


"Oh kau mau bermain-main tentang hukum denganku? Kau pikir perbuatan kalian tidak melanggar hukum? Apa perlu aku sebutkan pasalnya?"


"Pantas saja Mentari tidak ingin kembali kepadamu ternyata kau lelaki yang temperamental," ledek Arka.


Mendengar kalimat Arka itu Bintang semakin marah besar. Dia mencengkram kerah baju Arka dan membanting pria itu ke tembok. Arka melawan tetapi tidak bisa unggul dari Bintang. Bintang yang sangat marah, kekuatannya semakin besar.


"Bintang lepaskan!" teriak Katrina.


"Jangan bawa-bawa nama Mentari di sini!"


"Kau tahu Kate kaulah yang membuat aku telah kehilangan Mentari. Katakan apa yang membuatmu berselingkuh dengan dia atau kalau tidak dia akan mati di tanganku!"


Katrina menggeleng, dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Cepat katakan!" bentak Bintang lagi. Tangannya sudah siap untuk membanting tubuh Arka kembali.


"Katakan jangan hanya basa-basi!" pekik Bintang.


Arka memberikan kode pada Katrina agar keluar dari kamar.


"Aku ... a-ku sama Arka ka...." Katrina berjalan menuju pintu hendak melarikan diri dan meminta pertolongan. Namun, Bintang segera menyadarinya dan langsung mengunci pintu dari dalam.


"Bodoh kenapa aku tadi lupa mengunci pintu kamar? Kalau tidak pasti Arka kini sudah aman dalam persembunyian dan perselingkuhan kami tidak akan pernah terendus." Katrina merutuki dirinya sendiri.


"Kau tidak akan bisa lari denganku Kate. Katakan apa yang membuatmu berselingkuh dariku? Kau tahu Kate aku sudah mengorbankan banyak hal hanya karena ingin hidup denganmu. Kenapa kau tega Kate?" Suara Bintang terdengar lebih lemah dari sebelumnya, tetapi terdengar begitu menakutkan di telinga Katrina.


"Katakan atau kau berdua mati di sini! Masa depanku sudah hancur dan aku tidak takut masuk penjara seumur hidup." Bintang benar-benar gila.


Nyatanya kemarahan dan rasa putus asa sudah membaur menjadi satu. Untuk apa hidup jika harga dirinya sudah diinjak-injak oleh orang lain? Mendapati dengan mata kepala sendiri sang istri tidur dengan orang lain membuatnya merasa Katrina telah merendahkan harga dirinya.


"Katakan!" teriaknya lagi sambil mengguncang tubuh Arka dimana darah sudah terlihat mengucur dari hidung dan kedua sudut bibirnya, bahkan Arka terdengar meringis. Kekuatan Bintang sedari tadi seperti kekuatan iblis.

__ADS_1


"Baik, aku melakukannya karena kau jarang pulang Bin. Aku butuh kasih sayang dan kamu malah memilih tinggal di rumah orang tuamu dibandingkan dengan tinggal bersamaku di apartemen."


"Bagaimana aku bisa betah di dalam apartemen sedangkan kau sendiri tidak mau melayaniku seperti selayaknya seorang istri."


"Karena aku bukan pembantu dan maaf aku malas melayanimu sebab hari demi hari kau semakin tidak bisa memuaskanku. Maaf jika aku mencari kepuasan dari Arka."


Penjelasan dari Katrina semakin membuat amarah Bintang tersulut. Dia mendorong tubuh Arka ke belakang dengan sekuat tenaga hingga tubuh pria itu terbentur meja.


Saat tubuhnya menyentuh meja, Arka melihat ada pisau di sana yang tertarcap pada sebuah apel. Sepertinya Katrina belum sempat menyelesaikan makan buah apel saat Arka datang tadi.


Arka mencabut pisau itu dan menyerang Bintang. Bintang dengan lihai membalas setiap serangan demi serangan dari Arka hingga pisau itu kini beralih ke tangan Bintang.


"Kau tidak akan pernah bisa membunuhku dan sebaliknya aku yang akan membunuh kalian." Bintang menyeringai.


Katrina ketakutan, tetapi dia tidak ingin kehilangan Arka. Wanita itu langsung mendekap tubuh Arka saat Bintang hendak menghunuskan pisau ke arah Arka.


"Waw benar-benar pasangan sejati. Pasangan sehidup semati." Bintang tertawa menggelegar.


"Arka!"


"Lepaskan, kau menyingkirlah! Selamatkan dirimu dengan cara apapun. Jangan pedulikan aku Kate!"


"Tidak Arka aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Apalagi Bintang sudah berubah jahat seperti itu." Tubuh Katrina gemetar. "Aku takut hidup sendirian.


"Hahaha, sudah berapa kali kau lemparkan kalimat gombalmu itu pada kaum lelaki." Bintang menatap Katrina dengan ekspresi mengejek.


"Sekarang kalian berdua rasakan hukumanku!" Bintang hampir menusuk perut Arka. Jika saja tidak ada yang mendobrak pintu dengan kasar pastilah dua orang di hadapannya sudah menjadi mayat saat ini.


"Bintang! Apa yang kau lakukan Nak? Beristighfarlah Nak." Arumi berlari ke arah sang putra dan mendekap tubuh Bintang dengan erat. Pisau itu terjatuh dari tangan Bintang.


Momen itu digunakan oleh Katrina dan Arka untuk melepaskan diri dan kabur dari tempat itu.


Tuan Winata mencekal lengan keduanya tepat di depan pintu.


"Kalian kubiarkan bebas dengan syarat jangan ganggu Bintang lagi dan jangan pernah macam-macam kepadanya. Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Bintang maka saya akan langsung menangkap kalian berdua, atau rekaman cctv yang ada di kamar ini akan menjadi viral seperti kalian memviralkan video palsu Mentari dan ustadz Alzam waktu itu," ancam Tuan Winata.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2