HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 250. Tidak Pernah Berubah


__ADS_3

"Aku bantu Ma," ujar Mentari saat melihat Arumi mengambil kembali barang-barang perlengkapan bayi yang tadi sempat diletakkan dan hendak membawanya ke kamar bayi Gala.


Arumi hanya mengangguk dan terus melanjutkan langkahnya.


"Diminum Pa, Mas Bintang," ucap Mentari sebelum akhirnya ikut membawa barang-barang menyusul Arumi ke atas.


"Terima kasih Nak Mentari," ucap Tama dan langsung meneguk minuman yang dihidangkan itu.


"Bin kamu nggak mau minum?"


"Nanti saja Pa."


"Baiklah."


Di dalam kamar yang sudah dicat warna biru dengan hiasan gambar-gambar kartun di dindingnya, Arumi dan Mentari terlihat menata barang-barang yang dibelikan untuk putra kecil Gala.


"Bagaimana kalau Sarah tidak suka?" tanya Arumi mulai ragu dengan hasil kerjanya dengan Mentari saat ini.


"Mama tenang saja, Sarah orangnya tidak terlalu ribet. Kalau pun tidak suka biar Mas Gala saja nanti yang benahi sesuai keinginan Sarah. Suruh siapa mereka berdua tidak bersiap-siap dengan semuanya padahal hari kelahiran bayinya sudah mulai dekat. Kalau Mentari dulu sama Abi satu bulan sebelum hari kelahiran kamar Izzam sudah beres."


"Ya kamu benar juga," ucap Arumi.


"Kalau begitu saya keluar duluan ya Ma, mau melihat Izzam dulu sepertinya tadi dia menguap."


"Iya."


Mentari turun ke lantai bawah untuk melihat keadaan Izzam. Tenyata putranya itu sudah tertidur dalam pangkuan Bintang. Bintang tampak mematikan Smart Hafiz yang ada di sampingnya.


"Papa mau naik dulu ya, mau bantu-bantu mamamu siapa tahu tenaga papa dibutuhkan." Alasan saja karena melihat Mentari turun ke bawah dan Bintang terlihat kerepotan hendak mengendong Izzam.


"Iya Pa," ujar Bintang sambil berusaha membenahi posisi Izzam yang merosot sebelum akhirnya akan dia gendong.


"Sepertinya dia harus dipindahkan ke kamar, tapi bagaimana caranya?" Bintang kesulitan bergerak.


"Sudah tidur dia Mas?" tanya Mentari sambil terus melangkah ke arah sofa.


"Pa," sapa Mentari saat berpapasan dengan Tuan Winata.


"Mau melihat-lihat kamar bayinya, boleh, bukan?"


"Boleh Pa, kenapa tidak?"


Tuan Winata mengangguk dan meneruskan langkahnya.


"Saya pindahkan ke kamar saja Mas," ucap Mentari lalu meraih tubuh putranya yang sudah tertidur pulas.


"Biasanya dia bilang kalau mau tidur. Kenapa tadi tidak?" keluh Mentari.

__ADS_1


"Biarkan saja Me."


"Harus dipindahkan Mas, biar Mas Bintang tidak kram nantinya."


Bintang mengangguk dan terus menatap Mentari yang menunduk meraih Izzam dalam pangkuannya.


Aroma Cherry blossom menguar dari tubuh Mentari membuat Bintang sejenak mengingat saat-saat hidup bersama wanita itu. Mentari memang menyukai aroma parfum itu dan saat itu Bintang membelikan parfum dengan kemasan besar.


Tanpa sadar wajah Bintang ikut menunduk dan menciumi aroma tubuh Mentari yang sangat ia rindukan. Bintang menutup mata dan membayangkan saat-saat Mentari masih menjadi istrinya. Hingga saat Mentari mendongak sambil memangku Izzam wajah keduanya tidak sengaja bersentuhan.


"Mas!" protes Mentari dengan ekspresi tidak suka.


"Astagfirullah haladzim, maaf Me tidak sengaja," sesal Bintang.


"Ckk." Mentari berdecak kesal dan langsung membawa Izzam naik ke atas tangga dengan langkah cepat.


"Me maafkan aku." Bintang mengejar Mentari hingga ke depan kamarnya. Namun, Mentari segera menutup pintu dengan keras.


Brak


Dengan sekali hentakan pintu itu langsung tertutup padahal Mentari menutup pintu dengan susah payah karena tangannya memegang Izzam. Untung saja anak itu tidak terbangun sebab bunyi pintu yang keras itu.


Namun, Arumi dan Tuan Winata yang berada di kamar sebelah malah kaget mendengarnya.


"Ada apa itu Pa? Siapa yang membanting pintu dengan keras?"


"Mana saya tahu Ma. Mungkin bukan suara pintu tetapi suara benda lain yang dihasilkan oleh pekerjaan pembantu di bawah sana."


"Kalau begitu kita periksa sekarang."


"Baiklah Pa, ayo!"


Keduanya keluar dari kamar bayi


"Me!" panggil Bintang sekali lagi sambil mengetuk pintu.


Mentari tidak menjawab, dia membaringkan tubuh Izzam di atas ranjang lalu duduk di sampingnya sambil termangu.


"Kenapa Mas Bintang jadi seperti itu? Abi maafkan Ummi yang tidak bisa menjaga diri." Mentari menitikkan air mata.


"Me buka pintunya, biar aku jelaskan!"


Tidak ada jawaban dari dalam.


"Me sebentar saja, aku mohon!"


Tetap tidak ada jawaban dari dalam sehingga terpaksa Bintang memutar handle agar pintunya terbuka.

__ADS_1


"Jangan pernah buka pintu, atau kalau tidak saya tidak akan pernah memaafkan Mas Bintang seumur hidup saya!" ancam Mentari.


Terpaksa Bintang mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


"Biar ku jelaskan disini, apa yang terjadi tadi murni ketidaksengajaan Me."


"Hmm, tidak sengaja? Bukankah Mas Bintang sadar ada saya di bawah wajah Mas Bintang? Mengapa ikut menunduk? Atau memang sengaja karena kesal dengan Mentari selama ini?"


"Itu tidak benar Me, aku melamun tadi, maafkan aku."


"Alasan! Ternyata Mas Bintang masih sama seperti dulu ya. Tidak pernah menghargai wanita dan menganggap wanita itu rendahan."


"Me itu tidak benar Me, saya bersumpah yang tadi itu tidak sengaja. Saya akui saya memang masih mencintaimu, tetapi saya tidak mungkin melakukan kehinaan seperti tadi."


"Mas Bintang tidak pernah mencintaiku, yang ditunjukkan Mas Bintang sedari dulu hanyalah nafsu."


"Apa maksudmu Me? Itu semua tidak benar. Aku bukan laki-laki seperti yang kau kira."


"Tidak usah mengelak Mas! Kalau tidak, mana mungkin menikahi dua wanita secara bersamaan padahal tidak bisa bersikap adil? Apa yang bisa ditunjukkan selain hanya menunjukkan nafsu semata?"


"Tidak perlu mengungkit masa lalu Me karena semua orang punya masa lalu. Yang terpenting bisa memperbaiki diri. Oh ... apakah kamu masih cemburu dengan Katrina hingga kini? Kalau iya berarti kamu masih ada perasaan padaku sampai sekarang."


Bintang mulai terpancing dengan ucapan Mentari, tetapi dia sedikit senang. Dalam pikirannya jika Mentari masih kesal dengan dirinya karena masa lalu berarti Mentari masih ada rasa cemburu dan cinta terhadap dirinya.


"Jangan kegeeran kamu Mas, kau tidak akan pernah menyamai abi di mataku."


"Tidak apa-apa Me tidak bisa menyamai beliau di matamu asal menyamai di hatimu!" teriak Bintang membuat hati Mentari semarah-marahnya, tetapi sekuat hati pula menahan amarah agar tidak meledak.


"Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat ada masalah?" tanya Arumi lalu berjalan mendekat ke arah Bintang setelah sedari tadi hanya mengawasi.


"Mentari salah paham Ma, dan Bintang harus menjelaskan sedangkan dia tidak percaya dengan penjelasan Bintang."


"Memang apa yang sudah kamu lakukan pada Nak Mentari?" tanya Arumi penasaran sebab sebelumnya tidak pernah melihat keduanya bicara panjang lebar dan sekarang malah terlihat adu mulut.


"Saya tidak sengaja mencium dia Ma dan sekarang dia marah."


Mendengar perkataan Bintang Tuan Winata langsung menepuk jidatnya. Padahal dia meninggalkan sofa tadi agar putranya itu punya waktu berdua untuk berbicara dan mengambil hati Mentari kembali. Namun, bukannya mengambil kesempatan yang diberikan Bintang malah membuat masalah.


Mendengar suara Arumi Mentari langsung bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Dengan mantap dia membuka pintu kembali.


"Me akhirnya kau membuka pintu, kau memaafkanku, kan?" tanya Bintang sumringah.


"Sepertinya saya mendukung keinginan Mama untuk menjodohkan Mas Bintang," ujar Mentari menatap Arumi dengan begitu serius tanpa mengindahkan perkataan Bintang.


"Denganmu ya Me!" pinta Bintang penuh harap.


Membuat Tuan Winata menatap wajah keduanya secara bergiliran dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


"Seperti harus dipercepat lagi Ma, agar Mas Bintang tidak menganggu Mentari lagi," pungkas Mentari membuat harapan Bintang lenyap seketika.


Bersambung.


__ADS_2