
"Bantu dong Me," rengek Bintang seperti anak kecil.
"Lah kan yang mulai Mas Bintang, akhiri sendiri! Nggak usah bawa-bawa aku, Mas." Mentari tidak mau repot-repot ikut menjelaskan. Suruh siapa Bintang memancing pertanyaan dari Izzam.
"Papi tidak mau menjelaskan, kan Izzam masih penasaran," rengek Izzam.
Mentari memberikan kode dengan matanya agar Bintang segera menjelaskan.
"Oke Papi jelaskan. Sebenarnya semalam Papi memang sengaja memindahkan Izzam ke kamar Izzam sendiri dan meminta ummi untuk mengganti sprei sebab spreinya kena kotoran cicak."
Izzam tampak mengangguk sedangkan Mentari langsung menutup mulut menahan tawa.
"Benar Ummi?" tanya Izzam pada Mentari kemudian.
"Yap benar," jawab Mentari padahal dalam hati merasa tidak nyaman telah membohonginya putranya. Namun, mau bagaimana lagi? Kalau dia mengatakan tidak Izzam pasti akan meminta penjelasan lagi dan Bintang pasti akan menyalahkan dirinya.
"Oh berarti Izzam nggak mimpi dong waktu digendong papi. Kenapa papi nggak pakai baju?"
"Gerah," jawab Bintang.
"Oh." Izzam tidak bertanya lagi membuat Bintang bernafas lega.
"Oh ya Me, nanti kamu tinggal di rumahku saja ya! Kasihan mama sama papa cuma tinggal berdua," pinta Bintang.
"Terserah Mas Bintang saja, tapi nanti aku izin sama papa dulu."
"Iya, tapi saya yakin paman pasti akan mengizinkan."
"Semoga saja Mas, tapi Izzam?" Mentari menatap putranya dengan perasaan sedih.
"Ikut dengan kita lah masa kita tinggal?"
Akhirnya Mentari tersenyum dan bernafas lega.
"Terima kasih."
Bintang hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
"Ada satu lagi Me, aku juga ingin mengajak kamu bulan madu. Aku ingin pernikahan kita berkesan nggak kayak dulu yang kesannya malah buruk."
"Kalau untuk itu sepertinya aku tidak bisa Mas."
"Kenapa? Alasannya masih Izzam?"
Mentari mengangguk lirih. Sebenarnya dia juga malas kemana-mana.
"Jangan pernah khawatir, aku tidak akan pernah melupakan putra kita. Rencananya aku akan membawa bibi juga agar menjaga Izzam di sana. Namun, kalau kamu masih keberatan tidak apa-apa kalau kita tidak jadi pergi," ujar Bintang lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang lalu menarik Izzam ke dalam pangkuannya.
"Izzam mau kan jalan-jalan bersama Ummi dan papi?"
"Kemana Pi?" tanya Izzam penasaran.
"Ke luar negeri."
"Luar negeri ada dimana?"
"Pokoknya jauh, nanti kita akan naik pesawat."
"Pesawat terbang?" tanya anak itu antusias.
"Iya dong."
"Kalau begitu Izzam mau."
"Hmm, kalau begitu ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
__ADS_1
"Bujuk ummi agar mau kita berlibur ke luar negeri!"
Sontak saja Izzam langsung merengek pada Mentari.
"Boleh ya Ummi, Izzam kan ingin tahu seperti apa itu luar negeri. Izzam mau lihat salju." Mata anak itu tampak berbinar-binar membisu Mentari tidak kuasa menolaknya.
"Baiklah Mas Bintang atur saja kapan." Akhirnya Mentari menyanggupi.
"Kemana ya baiknya? Izzam pengen lihat salju berarti harus ke negara yang ada saljunya dong. Bagaimana kalau ke Switzerland?" Bintang meminta pendapat Mentari.
"Terserah Mas Bintang saja, aku nggak pernah sampai di negara Eropa."
"Berarti kamu setuju?"
Mentari mengangguk.
"Tapi nggak aneh ya bulan madu bawa anak?" Mentari terkekeh.
"Ya udah anggap aja liburan keluarga, yang penting kita bahagia," ujar Bintang mantap.
"Benar ya Mas yang penting kita senang."
"Kapan kita berangkat biar Meme siapkan segalanya?"
"Minggu depan sajalah dan kamu cukup siapkan baju-bajumu sama baju Izzam. Yang lain biar aku yang menangani."
"Baik."
Satu Minggu ini kita tinggal di sini dulu dan setelah pulang dari Switzerland kita akan tinggal di rumahku."
Mentari mengangguk, tetapi dari raut wajahnya seperti ada yang dipikirkan.
"Tapi kamu tidak apa-apa, kan? Kenapa jadi murung seperti itu?" tanya Bintang bingung dengan ekspresi istrinya.
"Nggak apa-apa, hanya kepikiran ibu. Dia akan tinggal sendirian di rumah. Sarah tinggal di sini dan Meme ikut Mas Bintang," ucap Mentari lalu menghela nafas berat.
"Hmm, lain kali kita menginap di sana. Kamu kapan-kapan kalau mau nginap berdua sama Izzam juga boleh asal izin dulu padaku."
"Iya. Nanti deh aku berembug dengan Gala juga agar kapan-kapan kita menginap bersama biar ramai di sana."
"Ide bagus Mas."
***
Satu minggu kemudian saat Mentari kembali dari toko bersama Sarah, Gaffi, dan Izzam, dia melihat ada dua travel bag di kamarnya.
"Mas kita mau pergi sekarang?" tanya Mentari kaget sebab Bintang tidak mengatakan sebelumnya. Mentari pikir rencana yang Bintang utarakan minggu yang lalu ditunda atau bahkan dibatalkan begitu saja karena tidak ada pembicaraan lebih lanjut.
"Iya sesuai rencana. Aku sudah memesan tiket. Sebagian baju-bajumu sudah aku masukkan begitu juga dengan baju Izzam aku satukan di dalam tasku. Kau bisa mengecek apa yang kurang dan menambahnya jika mau. Namun, kita juga bisa membeli keperluan kita di sana nanti."
"Kau mengemas ini sendiri?" Mentari menggeleng tidak percaya apalagi saat membuka travel bag itu ada beberapa pakaian dalam miliknya.
"Memang kenapa? Apakah untuk urusan ini harus melibatkan pembantu?"
"Mas Bintang nggak risih dengan baju-baju ini?" tanya Mentari lagi.
"Lah isinya aja aku nggak risih masa sama bungkusnya risih?" Bintang terkekeh membuat Mentari langsung mencubit paha suaminya.
"Aw sakit Me," ringisnya sambil mengusap-usap bekas cubitan Mentari di pahanya.
"Biarin, kalau ada Izzam jangan bicara yang absurd nanti dia banyak tanya, Mas Bintang pusing sendiri nanti," protes Mentari.
"Ummi kok main cubit-cubitan sama papi, kalau Izzam cubit-cubitan sama dedek Gaffi dia nangis."
"Ya ampun Me dia nakal sama Gaffi," ucap Bintang lalu menepuk jidatnya.
"Ummi juga nakal sama papi."
__ADS_1
"Izzam mau ikut nggak?" tanya Mentari mengalihkan pembicaraan.
"Ikut kemana Ummi?"
"Keluar negeri."
"Oh ya? Kita akan berangkat kapan? Izzam nggak sabar pengen naik pesawat."
"Nanti malam sekarang Izzam tidur dulu ya biar nanti malam pas berangkat tidak mengantuk!" perintah Bintang.
"Oke papi."
Bukannya naik ke atas ranjang atau kembali ke kamarnya sendiri, Izzam malah berlari ke kamar Gaffi.
"Dedek Gaffi! Dedek Gaffi!" teriaknya dari arah pintu.
Gaffi yang baru saja bangun dari tidurnya terlihat mengucek mata.
"Bang Izzam!" Gaffi menatap Izzam dengan penasaran.
"Nanti malam Izzam mau naik pesawat terbang. Wuusss!" Anak itu menggerakkan tangannya datar di depan Gaffi seolah meniru pergerakan pesawat.
Gaffi terbelalak tidak percaya.
"Pesawat seperti ini?" tanyanya sambil menunjukan kapal-kapalan miliknya yang berada di samping ranjang.
Izzam mengangguk mantap.
"Izzam mau ke luar negeri, kata papi kami juga akan naik perahu seperti ini di sana." Izzam menunjuk mainan perahu milik Gaffi dengan tangannya.
Gaffi terdiam.
"Nanti Izzam juga akan bermain salju." Izzam masih bercerita dengan antusias.
"Ikut," rengek Gaffi.
"Tidak boleh, kata Ummi akan pergi dengan papi saja."
"Tapi Gaffi pengen ikut," rengek anak itu lagi.
"Nggak boleh Dedek Gaffi. Nanti Dedek Gaffi dimarahi Om Bintang."
"Ikut, ikut, pokoknya!"
Melihat Gaffi memaksa dengan terus merengek akhirnya Izzam berlari meninggalkan kamar saudara sepupunya itu.
Gaffi menangis kencang melihat Izzam meninggalkan dirinya.
"Ada apa sih? Baru tidur juga dah bangun dan tidak biasanya dia menangis saat bangun tidur seperti ini," ujar Sarah lalu menghentikan aksinya memotong kue dan mencuci tangan lalu mengelap hingga kering. Setelah itu dia berlari ke atas tangga untuk menemui putranya di kamar anak itu sendiri.
"Ada apa sayang?" tanya Sarah sambil mendekat ke arah Gaffi.
"Abang Izzam jahat!" Gaffi lalu menghentikan tangisnya dan cemberut.
"Jahat kenapa?" tanya Sarah bingung.
"Dia mau jalan-jalan tapi tidak mau membawa Gaffi, Gaffi kan mau ikut." Anak itu merengek lagi.
"Yasudah nanti kita ikut asal sekarang Gaffi nggak nangis lagi," bujuk Sarah.
"Kata ... Abang ... nggak boleh." Gaffi menatap wajah maminya dengan tatapan memelas.
"Yasudah Gaffi jalan-jalan sama papi dan mami saja nanti dan tunggu papi pulang dari kantor dulu."
"Naik pesawat juga?" tanya Gaffi sumringah.
"Naik mobil," jawab Sarah membuat Gaffi langsung menggeleng dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
"Tidak mau, Gaffi mau naik pesawat terbang dan main salju."
Bersambung.