
"Siapa yang mengatakan itu padamu Gala? Kamu jangan main-main dengan ucapanmu! Itu akan menjadi masalah," protes Tama.
Kalau sampai Gala menyimpulkan macam-macam tanpa bukti di hadapan Bintang, Tama yakin pria itu akan mengamuk seperti waktu datang ke rumahnya beberapa waktu yang lalu.
"Apakah papa pernah melihat Gala menyimpulkan sesuatu tanpa mencari bukti terlebih dahulu? Papa bahkan tahu sendiri meskipun papa yakin Mentari adalah Cahaya ditambah dengan pengakuan Bu Warni bahwa Mentari memang anak papa, Gala masih melakukan tes DNA untuk membuktikan kevalidannya."
"Jadi kau ...."
"Iya Pa, selain melakukan tes DNA terhadap Mentari, Gala juga melakukan tes DNA terhadap Bintang dan Aldan. Sebenarnya Gala sudah akan mengatakan pada Paman Winata, tetapi sebelum Gala bicara paman mengatakan sudah tidak perduli dengan semuanya," jelas Gala panjang lebar.
"Ya, ya, ya. Kalau sudah begitu berarti kamu benar." Tama tampak mengangguk-angguk sedangkan Mentari menutup mulutnya kaget.
"Jadi bagaimana Tuan, apakah penggalian kuburannya akan tetap dilanjutkan?" tanya bapak-bapak yang mendapat tugas menggali kuburan oleh Tuan Winata.
Tama tampak termenung dan Gala tidak tahu harus memutuskan apa sedangkan itu sudah menyangkut orang mati.
"Apakah akan dihentikan dulu dan menunggu kabar lebih lanjut dari Tuan Winata?" tanya bapak itu lagi karena belum mendapatkan jawaban.
"Lanjutkan saja Pak, toh itu tanahnya sudah digali, kan? Kalau diurungkan siapa yang akan mengisi lubang itu? Kata orang desa jelek kalau dibiarkan kosong, katanya itu bisa saja memanggil keluarga kita untuk mengisi lubang itu." Mentari memutuskan melihat papa dan kakaknya hanya diam saja.
"Ih serem ya Non kalau begitu," ujar bapak-bapak tersebut sambil bergidik ngeri.
"Itu mitos Ummi jangan terlalu dipercaya. Maut itu di tangan Tuhan," protes ustadz Alzam.
"Iya sih Abi, tapi kan kasihan Aldan kalau ditolak dikuburkan di tempat ini. Bagaimanapun anak itu tidak berdosa," ucap Mentari simpati. Mungkin dia masih kesal pada Katrina, tetapi tidak pada anak yang tidak tahu apa-apa itu.
"Kalau begitu saya sih setuju Ummi. Memberikan tempat atau tanah untuk menjadi makam orang lain juga termasuk pahala."
"Iya Abi."
"Kalau begitu lanjutkan saja Pak," ucap Tama memutuskan. "Dan ingat jangan sampai ada yang memberitahukan dulu bahwa Aldan bukanlah anak Bintang sebab saya tidak ingin ada kendala dalam pemakaman anak itu. Biarlah nanti akan kami beritahukan setelah pemakaman selesai."
__ADS_1
"Tapi kalau Tuan Winata protes bagaimana Tuan?"
"Biar saya yang bertanggung jawab sebab ini adalah pemakaman milik keluargaku juga Arumi," tegas Tama.
"Baiklah kalau begitu Tuan." Bapak-bapak itu pun melanjutkan tugasnya sedangkan Tama membawa Mentari dan ustadz Alzam serta Gala kembali ke makam Rosa.
"Kita ngaji dulu sebelum ke rumah Winata," ujar Tama saat langkah mereka telah sampai di samping makam Rosa.
Semua orang mengangguk.
"Ustadz Alzam saja yang memimpin!" perintah Gala dan ustadz Alzam mengangguk dan langsung memimpin. Mereka lalu mengaji bersama.
Setelah menaburkan bunga di atas kuburan Rosa mereka langsung kembali ke mobil dan langsung meluncur ke kediaman Tuan Winata.
Sampai di sana ternyata sudah ramai orang melayat meski jenazahnya belum sampai. Satu jam kemudian akhirnya keluarga dan jenazah tiba di rumah Tuan Winata.
Orang-orang menyambut kedatangan Bintang dan yang lainnya, mencoba menghibur keluarga yang ditinggalkan agar tidak stres.
Mentari menunduk mendapatkan tatapan tak bersahabat dari Bintang. Meski mata Bintang tampak bengkak dan wajahnya terlihat sedih sebab kebuka Aldan, tetapi Mentari mengerti Bintang tidak menyukai kehadiran dirinya yang bersama ustadz Alzam.
Mentari mengeratkan tangannya yang menggenggam tangan ustadz Alzam dan ustadz Alzam pun ikut mengeratkan genggamannya pada tangan Mentari sambil tersenyum ramah pada Bintang.
"Saya ikut berduka cita ya," ucap ustadz Alzam sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Bintang.
Bintang memalingkan muka dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia benci dengan garis hidupnya yang harus kehilangan dua orang yang dicintainya dalam waktu dekat. Mentari dan Aldan sudah bukan miliknya lagi. Bintang benci jika harus mengingatnya.
"Nak Alzam mumpung Nak Alzam ada di sini paman minta tolong ya supaya Nak Alzam menyucikan dan mengkafani cucu saya," pinta Tuan Winata pada ustadz Alzam.
"Baik Paman." Ustad Alzam tidak mungkin menolak permintaan paman dari istrinya itu.
"Saya ke sana ya Ummi," pamitnya pada Mentari.
__ADS_1
Mentari mengangguk sambil tersenyum. Ustadz Alzam membalas dengan anggukan dan senyuman.
"Arrrgh." Bintang melempar bantal sofa sembarangan sebab melihat Mentari dan ustadz Alzam yang tampak bahagia dari balik kaca.
"Ternyata aku salah memilih orang." Bintang mengingat momen dirinya saat meminta ustadz Alzam untuk menjadi muhallil bagi dirinya dan Mentari.
"Ternyata dia lebih berbahaya dari Gala." Bintang benci melihat Mentari yang memandang ustadz Alzam dengan wajah yang cerah dan bahagia.
"Sepertinya ustadz itu tidak akan melepaskan Mentari. Arrgh!" Bantal melayang lagi di tangan Bintang hingga tak sengaja menyentuh dahi dan kepala Arumi.
"Auw, apaan sih Bin?" protes Arumi sambil mengusap dahinya. Bintang diam, tidak menjawab dengan sepatah katapun.
"Ayo keluar putra kamu sudah mau dimandikan! Tidakkah kamu ingin memandikannya untuk yang terakhir kali?"
Bintang mengangguk lemah lalu keluar dari dalam rumah. Sebelum disucikan para keluarga diminta memandikan jenazah terlebih dahulu.
Bintang mendekat, sebelum masuk ke dalam tempat pemandian dia menatap ustadz Alzam dengan raut tidak suka. Seperti biasa ustad Alzam bersikap tenang sambil tersenyum ramah.
Setelah selesai memandikan putranya Bintang keluar dan menatap wajah ustadz Alzam lagi dengan ekspresi seperti tadi.
Ustadz Alzam hanya menghela nafas sambil beristighfar dalam hati.
"Ayo pihak keluarga yang lain mana biar cepat, kasihan jenazah takut kedinginan," ujar ustadz Alzam kemudian.
Katrina yang memang ada di dalam menyisih sebentar saat Tuan Winata, Arumi, juga Tama dan Gala ikut memandikan putranya.
Namun, saat terakhir kali Mentari masuk Katrina malah mendorong Mentari supaya keluar. Katrina tidak sudi kalau Mentari ikut memandikan putranya.
"Sudah Ummi duduk saja!" perintah ustadz Alzam. Mentari mengangguk dan pergi dari tempat itu. Dari tempat yang jauh Mentari melihat Arka masuk ke kerumunan orang-orang demi bisa mendekat ke arah Aldan.
"Apakah dia ayah Aldan yang sebenarnya?" tanya Mentari curiga kala mengingat pria itu pernah makan bersama Katrina di sebuah warung makan.
__ADS_1
Bersambung.