HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 82. Akur


__ADS_3

Dokter! Dokter!" teriak Bintang begitu heboh saat dirinya menginjak lantai rumah sakit. beberapa suster langsung berlari menghampiri Bintang.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan? Istri Anda kenapa?" tanya suster memastikan keadaan.


"Istri saya sakit perut dari tadi Sus, mungkin saja dia sudah mau melahirkan," ucap Bintang begitu yakin.


"Mari ikut saya Tuan." Suster menggiring Bintang ke sebuah ruangan sedangkan suster yang lain memanggil dokter kandungan ke ruangannya.


"Baringkan di sana dulu Tuan, sebentar lagi dokter akan segera sampai," ucap suster yang mengantarnya ke dalam ruang persalinan.


"Baik Sus," ucap Bintang lalu meletakkan Katrina di tempat tidur.


Beberapa saat kemudian dokter kandungan berlari ke ruangan tempat Katrina berada dengan setengah berlari.


"Permisi." Dokter melewati Bintang yang berdiri di depan pintu dengan gelisah.


"Dok tolong istriku Dok!" seru Bintang pada dokter yang berjalan mendekati Katrina yang gelisah di atas ranjang. Wanita itu tampak bergerak kasar sambil memegang perutnya.


"Aduh sakit sekali, huh, hah, huh," ringis Katrina.


"Nyonya diam dulu saya akan memeriksanya!" perintah dokter. Dengan menahan rasa sakitnya Katrina mengangguk dan menurut untuk diam.


Dokter terlihat memeriksa Katrina. Dahi wanita itu tampak berkerut setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap istri dari Bintang itu.


"Bagaimana Dokter apakah dia sudah mau melahirkan?" tanya Bintang lagi reflek, dia sudah begitu yakin bahwa Katrina akan melahirkan malam ini.


"Apakah memang sekarang HTP nyonya ya Tuan?" tanya balik dokter kandungan kepada Bintang melihat pria itu begitu yakin istrinya akan melahirkan saat ini.


"Tidak tahu Dok," ucap Bintang dengan jujur karena memang selama ini dia tidak terlalu memperhatikan tentang taksiran persalinan ataupun umur kandungan Katrina. Yang ada dalam otak Bintang adalah bayi yang ada di dalam kandungan Katrina maupun Katrina sehat, itu sudah jauh membuatnya merasa bersyukur.


"Loh kok bisa tidak tahu?" tanya dokter bingung.


"Saya sibuk kerja Dok, jadi tidak sempat untuk memikirkan hal semacam itu. Dokter katakan sajalah istri saya mau melahirkan malam ini apa tidak?" kesal Bintang melihat dokter tersebut terlalu banyak bicara.

__ADS_1


"Belum sampai Dok." Katrina yang menjawab melihat Bintang sudah terlihat marah.


"Iya makanya aku tanya karena Nyonya sekarang tidak ingin melahirkan, ini hanyalah kontraksi palsu," jelas dokter.


"Apakah ini lumrah terjadi dan tidak bahaya Dok?" tanya Bintang masih saja khawatir. Khawatir yang berlebihan hingga membuat kedua tangannya terlihat gemetar.


"Ini kerap kali dialami oleh ibu hamil yang telah memasuki trisemester ketiga dan tidak bahaya asal tidak terlalu sering. Namun, kalau terlalu sering bisa bahaya juga karena ada kemungkinan untuk mengalami keguguran."


Semakin khawatir saja Bintang mendengar penjelasan dokter.


"Tapi tidak apa-apa, saya akan memberikan istri Anda obat untuk menghilangkan rasa sakit juga obat penguat kandungan untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi," ucap dokter lagi sedangkan suster tampak menyodorkan segelas air dan obat kepada Katrina. Katrina meraih lalu menelan pil tersebut kemudian mendorongnya dengan air minum.


Beberapa saat kemudian rasa sakit di perut Katrina menghilang.


"Dok sudah sembuh," ucap Katrina. Ia merasa sangat lega sekarang.


"Bagus, itu artinya obat itu bereaksi dengan baik," ujar sang dokter.


"Apa saya bisa pulang sekarang Dok?" tanya Katrina, dia tidak betah berlama-lama ada di rumah sakit.


"Iya Dok pasti akan saya ingat."


"Bin kita pulang sekarang," ajak Katrina pada Bintang kemudian.


"Beneran tidak apa-apa Dok?" tanya bintang masih ragu.


Dokter mengangguk dan berkata, "Iya."


"Baiklah kita pulang, sekarang mau jalan apa mau gendong lagi?"


"Jalan saja," sahut katrina. Dia malu jika mengatakan ingin gendong di hadapan dokter.


Setelah menyelesaikan administrasi mereka berdua langsung kembali ke apartemen.

__ADS_1


Sampai di sana, setelah Bintang mengantarkan Katrina ke dalam kamarnya, Bintang lalu mengecek ke kamar Mentari. Ternyata istri keduanya itu sudah tertidur pulas.


Bintang menutup kamar Mentari kembali dan malam ini dia memutuskan untuk tidur bersama Katrina dulu. Meskipun dia sangat merindukan Mentari, tetapi dia


takut Katrina akan merasakan sakit perut lagi saat tidak ada dia di sisinya.


Tengah malam Mentari tidak mendapati Bintang di sampingnya. Dia pikir Bintang dan Katrina belum pulang dari rumah sakit. Oleh karena itu Mentari langsung bangun dan bergegas berjalan keluar untuk mengunci pintu unit apartemen yang tadi tidak sempat ia kunci. Rencananya Mentari tidak akan tidur sebelum Bintang pulang, kenyataannya dirinya malah ketiduran terlebih dahulu.


Mentari beranjak menuju pintu unit apartemen. Sampai di sana dia kaget melihat pintunya ternyata sudah terkunci.


"Apa aku lupa tadi ya atau memang Bintang dan Katrina sudah kembali?" tanya Mentari dalam hati, dia kemudian memutuskan untuk memeriksa Katrina di kamarnya.


Mentari membuka pintu kamar Katrina yang ternyata tidak terkunci dengan hati-hati dan pelan sekali. Ternyata dugaannya benar. Katrina dan Bintang sudah pulang dan mereka sekarang sudah tidur sekamar.


"Hah." Mentari menghela nafas panjang. "Yang kedua akan tetap menjadi yang kedua," keluhnya lalu menutup pintu kamar Katrina dan kembali ke kamarnya sendiri. Mentari yang kini tidak ingin berpikir banyak lagi, langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kembali tidur.


Esok hari Mentari terbangun pagi-pagi sekali. Dia langsung bergegas ke dapur untuk memasak, tidak mungkin kan dia harus pesan online terus, bisa habis uang tabungannya. Untung saja Katrina sudah menyiapkan bahan-bahan yang bisa dimasaknya sekarang. Ya bahan-bahan yang digunakan oleh Katrina agar Bintang percaya bahwa Katrina memang memasak sendiri. Nyatanya bahan-bahan dapur itu hanyalah pajangan semata.


Katrina pun terbangun lebih dulu dari Bintang. Melihat Mentari berkutat di dapur, Katrina langsung nimbrung agar Bintang menyangka dirinya juga memasak, padahal Katrina hanya membantu memotong bawang dan pekerjaan kecil lainnya. Mentari yang melihat Katrina membantunya, tidak melarang dan tidak juga menyuruh. Mereka bekerja di dapur tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.


Bintang yang mendapati Katrina sudah tidak ada di sampingnya langsung bangun dan mencari keberadaan Katrina. Takut-takut istrinya sakit perut lagi.


Bintang mencari ke kamar mandi, ke ruang tamu, tetapi tidak melihat keberadaan Katrina di sana. Akhirnya dia pergi ke dapur untuk memeriksa di sana.


Ternyata Katrina memang ada di sana, berkutat dengan bahan-bahan dapur. Bintang hendak berjalan mendekat ke arah Katrina untuk mencegah wanita itu agar tidak memasak dulu mengingat kondisi kesehatan Katrina yang belum sehat benar. Namun, langkahnya terhenti kala dia juga melihat ada Mentari di


di sana.


"Apa aku tidak salah lihat?" Bintang kaget melihat Mentari ada di dapur bersama Katrina. Mereka berdua sama-sama memasak, bekerjasama untuk


menghidangkan masakan di meja makan.


"Nah kalau begini kan adem aku lihatnya," ucap Bintang sambil tersenyum senang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2