
"Tunggu dulu mengapa Bintang mengatakan Mentari kabur dari rumah. Apa yang sudah dia lakukan sama istrinya itu?" Gala bergumam sendiri.
Setelah menyuapi satu sendok lagi nasi ke mulut sang ayah, dia langsung menelpon Bintang kembali.
"Halo Pak, apakah sekarang Bapak melihatnya?"
Bintang pikir saat ini Gala tiba-tiba melihat Mentari dan segera melapor padanya.
"Katakan apa yang kau lakukan padanya hingga ia memilih kabur?"
Bintang malas menjawab pertanyaan Gala. Bukannya membantu, tetapi orang itu malah terkesan akan mencampuri urusannya.
"Maaf Pak saya sibuk jadi tidak ada waktu untuk menjelaskan." Bintang langsung menutup panggilan telepon dari Gala.
Di seberang sana Gala menggeleng mendengar perkataan Bintang.
"Sepertinya Bintang tidak ingin ada yang ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Well, tidak masalah. Sayangnya dia malah seperti ingin merepotkan orang lain dalam pencarian Mentari." Gala menggeleng-gelengkan kepala lagi agar tidak memikirkan tentang Bintang dan Mentari. Dia fokus kembali melayani sang papa.
"Ayo makan lagi Pa. Ini nasinya di piring masih banyak. Papa harus banyak makan biar sehat kembali."
Tama menjawab perkataan Gala dengan gelengan kepala.
"Papa sudah kenyang?"
Kali ini sang papa mengangguk.
"Kalau begitu sekarang papa istirahat di kamar saja ya. Bibi mengatakan dari pagi tubuh Papa tidak menyentuh kasur sama sekali."
Tama menggeleng.
"Papa jangan terlalu banyak melamun. Papa harus semangat dan bangkit kembali. Papa tahu Gala masih butuh bimbingan Papa untuk kemajuan perusahaan kita."
Tama hanya memandang putranya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pa kalau Papa begini terus Gala yakin mama pun akan sedih di alam sana."
Mendengar Gala menyebut istrinya air mata Tama menetes di pipi.
"Pa, jangan begini terus dong. Kalau seperti ini Gala jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun." Gala jadi ingat perjalanan hidupnya.
Sebenarnya Gala adalah pria yang cerdas, setiap tahun selalu juara kelas sejak TK sampai SMA. Saat berkuliah pun dia selalu menjadi juara di kampus, bahkan dia adalah lulusan terbaik di kampusnya.
__ADS_1
Saat lulus kuliah sebenarnya Gala mendapatkan beasiswa keluar negeri untuk melanjutkan S2 di sana, tetapi tidak dia ambil karena tidak ingin meninggalkan sang papa sendirian hanya bersama dengan para pembantu.
Apalagi saat itu perusahaan dipegang oleh Tuan Winata yang notebene-nya juga punya perusahaan yang harus diurus. Gala yang tidak tega melihat pamannya itu mondar-mandir dalam dua perusahaan akhirnya memutuskan untuk mengambil alih perusahaan milik papanya.
Seiring waktu Gala sempat down melihat sang papa tambah parah. Hal itu karena Tama yang terlihat banyak diam akhirnya tidak mau berbicara lagi. Di saat itu pula sang kekasih ketahuan berselingkuh di belakangnya dan saat ditanyakan alasannya perempuan itu mengatakan kurang perhatian dari Gala. Itu dikarenakan pria itu lebih fokus memberikan perhatian pada sang papa dibandingkan kekasihnya itu.
Bersamaan dengan itu pula sang asisten mengundurkan diri dari perusahaan di saat perusahaan hampir kolep. Tuan Winata memasukkan Bintang ke perusahaan milik Tama untuk membantu Gala menangani krisis di perusahaan sekaligus menyemangati Gala agar bisa bangkit lagi.
Bersama dengan Bintang akhirnya Gala bisa mengembalikan kondisi perusahaan menjadi stabil kembali. Karena melihat perjuangan Bintang yang mati-matian maka Gala sekarang merasa tidak enak kalau sampai harus memecat Bintang dengan alasan apapun. Termasuk juga Katrina yang belakangan juga berperan untuk kemajuan perusahaannya.
"Paman apa kabar?"
Gala menoleh mendengar suara seseorang diiringi derap langkah kaki yang terdengar menuju tempatnya duduk.
Tama masih diam tidak mau menjawab sapaan Bintang.
"Pak Gala bagaimana dengan keadaan paman Tama?"
Gala mengernyit mendengar pertanyaan dari Bintang. Dalam hati berkata tumben Bintang datang hanya ingin menanyakan kabar papanya.
"Ada apa?" tanya Gala datar. Dia menyadari sesuatu yaitu Bintang pasti tidak percaya kalau Mentari tidak bersamanya. Terbukti dengan gaya Bintang yang celingak-celinguk seperti seseorang yang mencari sesuatu.
"Nggak ada, saya cuma ingin menjenguk paman saja. Rasanya sudah lama saya tidak datang kemari. Kau ingat masa kecil kita yang selalu bermain bersama. Menapaki tangga itu sambil berlari ke atas dengan bersiul ria. Ah, aku jadi kangen tempat ini. Sayangnya nasib kita berbeda. Kau sekarang jadi bos dan aku hanya bawahan saja." Mungkin itulah alasan Bintang begitu kuat ingin menggantikan sang ayah cepat-cepat. Dia bosan menjadi bawahan yang setiap saat diperintah.
Mendapat izin dari Gala, Bintang mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah terima kasih." Bintang berjalan menapaki tangga. Sampai di atas dia tidak turun-turun karena masih belum menemukan Mentari.
Setelah yakin Mentari memang benar-benar tidak ada di rumah itu akhirnya Bintang turun kembali.
"Bagaimana, sedikit mengobati rindu akan masa kecil kah?" tanya Gala saat Bintang berjalan ke arahnya.
"Sedikit. Bagaimana perkembangan Paman?"
Gala menggeleng. "Tetap stagnan di tempat, nggak ada kemajuan sama sekali."
"Oh semangat ya Pak Gala." Gala hanya mengangguk.
"Paman semoga sembuh ya." Kali ini Bintang mengusap bahu kakak dari mamanya itu.
"Pak kalau begitu saya pamit dulu ya. Lain kali aku ke sini lagi."
__ADS_1
"Iya Bin, gimana? Ketemu Mentari nya?"
"Belum Pak."
"Oh kalau begitu semoga cepat ketemu ya Mentari nya."
"Terima kasih pak Gala. Doakan saja."
"Pasti."
Bintang pun mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya keluar.
"Papa saya antar ke kamar ya!" Gala mencoba membujuk sang papa supaya mau beristirahat. Namun, pria itu masih saja menggeleng. Tidak mau ke kamar, tidak mau tidur. Dalam sehari-hari pun memang Tama hanya beberapa jam saja tidur. Tidak normal waktu tidurnya. Seperti orang yang tidak memiliki waktu tidur yang dibutuhkan oleh tubuh. Seperti orang insomnia saja.
Karena sang papa tidak mau akhirnya Gala berinisiatif menaruh bantal di belakang tubuh sang papa sebagai sandaran.
"Papa bersandar lah, kalau memungkinkan pejamkan mata dan beristirahatlah."
Tama menurut. Dia menyadarkan tubuhnya di sofa tersebut sambil mencoba untuk tidur.
Beberapa saat kemudian ia terpejam dan tertidur. Gala menghela nafas panjang melihat sang papa akhirnya bisa terlelap meski dengan posisi duduk. Bagi Gala tak masalah asalkan papanya bisa terlelap.
Gala beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar Tama. Beberapa saat kemudian kembali dengan selimut di tangan.
Gala melebarkan kain itu dan menyelimuti tubuh sang papa. Ia kemudian beranjak masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri sekaligus berganti pakaian rumahan.
"Cahaya!"
Terdengar Tama berteriak di bawah sana. Buru-buru Gala turun ke lantai bawah. Terlihat ayahnya sedang mengigau.
"Cahaya!"
Tama membuka mata dengan sorot yang begitu tajam. Tubuhnya dipenuhi peluh. Papa Gala, Pradiatama terlihat ketakutan.
"Papa, ada apa Pa?" Tanpa pikir panjang Gala mendekap sang papa seperti anak kecil yang takut kehilangan orang tuanya. Gala takut hal yang sama akan terulang pada dirinya. Orang tersayang akan meninggalkan dirinya lagi.
"Nak Gala paman boleh minta tolong padamu, Nak?" Tuan Winata berjalan ke arah Gala beriringan dengan Mentari.
Gala terkejut melihat orang yang dicari Bintang tadi datang bersama pamannya yang merupakan papa Bintang sendiri. Namun lebih kaget lagi saat melihat sang papa bicara dalam keadaaan sadar.
"Cahaya, dia itu cahaya kah?" Tama menunjuk Mentari sambil tersenyum penuh harap.
__ADS_1
Bersambung....