HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 12. Aku Bukan Pelakor


__ADS_3

"Baiklah." Ustad Alzam duduk di sofa sedang Sarah beranjak ke dapur.


Beberapa saat Mentari mengerjapkan mata lalu melihat keadaan sekitar. "Dimana ini? Mengapa ini berbeda dengan kamarku?" Mentari langsung duduk.


"Dia siapa? Mengapa aku ada di sini?" tanya Mentari saat menoleh ke arah samping, melihat ustad Alzam duduk sambil membaca sebuah buku kecil. Mentari tidak tahu itu apa, lebih tepatnya tidak perduli.


Ia turun dari ranjang dan segera berlari ke luar kamar. Ia risih berada dalam satu kamar dengan seorang pria. Meski dia tidak begitu paham terlalu dalam tentang agama, tetapi dia tahu kalau laki-laki dan perempuan hanya berdua saja, maka ditengah-tengah akan ada setan yang akan menggoda keduanya untuk melakukan perbuatan dosa.


Terlebih dia sudah punya suami yang harus dijaga perasaannya agar tidak salah paham. Dia juga tidak ingin kalau ada yang melihat dia berdua saja di dalam kamar bersama dengan ustadz Alzam stigma buruk akan terus menempel pada dirinya. Mungkin tidak hanya pelakor, tukang selingkuh pun akan menjadi cap selanjutnya.


"Loh mau kemana? Anda sedang tidak baik-baik saja!" seru ustadz Alzam tetapi Mentari sama sekali tidak perduli ia terus berlari ke luar.


"Kakak, kemana wanita itu?" tanya Sarah sambil membawa dua gelas teh hangat di atas nampan.


Ustad Alzam menggeleng. "Tidak tahu, biarkan saja, toh dia sudah sadar."


"Cekk kok dibiarkan sih, kenapa tidak dipanggil dan disuruh tunggu sebentar. Aku sudah membuatkan minuman ini. Mubasir nih jadinya, aku kan tidak suka dengan yang manis-manis."

__ADS_1


"Dia tidak mau, apa harus dipaksa? Kalau masalah teh hangat biar kakak saja yang minum."


Ustadz Alzam mengambil gelas di nampan yang telah diletakkan Sarah di atas meja. Dua gelas teh itu ia teguk sampai habis.


"Sudah habis," ucapnya.


"Kakak tumben kemari ada yang ingin disampaikan?"


"Tidak, hanya ingin mengecek keadaanmu. Apa tidak sebaiknya kamu tinggal bersama ibu?"


"Tetapi ayah malah membiarkanmu tinggal di apartemen seorang diri. Kamu ini anak gadis, kakak dan ibu akan selalu mengkhawatirkanmu."


"Tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku Kak, Sarah bisa jaga diri kok. Jadi Kakak tenang saja."


"Baiklah kalau kamu menolak tapi ingat jaga diri baik-baik."


"Oke siap." Sarah menunjukkan dua jempolnya sambil mengedipkan sebelah mata kepada ustadz Alzam. Laki-laki itu menggeleng melihat tingkah Sarah seperti anak laki-laki meskipun ia memakai kerudung.

__ADS_1


Sarah dan ustadz Alzam adalah saudara kandung tetapi dibesarkan secara terpisah. Setelah kedua orang tuanya bercerai ustadz Alzam ikut ibunya sedang Sarah ikut ayahnya.


***


"Darimana kamu?" tanya Bintang saat melihat Mentari membuka pintu apartemen.


"Dari luar, malas mendengar suara berisik kalian." Mentari melewati Bintang dan Katrina yang ada di balik pintu.


"Cih dasar pelakor kerjaannya keluyuran doang. Bintang, kamu ceraikan saja dia. Istri pergi tanpa pamit pada suami itu adalah salah satu ciri istri yang tidak benar. Hei wanita pelakor enyah kau dari kehidupan Bintang. Bintang menikahimu bukan karena mencintaimu tetapi terpaksa karena desakan papanya. Ngaca Lo, penampilanmu yang seperti ini tidak pantas untuk bersanding dengan Bintang."


Mentari memandang Bintang dengan ekor matanya. Pria itu hanya menggeleng.


"Baiklah karena kamu menganggap aku pelakor dalam kehidupan kalian maka aku akan benar-benar menjadi pelakor dalam hidupmu. Semoga kau tidak menyesal mengatakan itu." Setelah mengatakan itu Mentari berlari ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


Ia membaringkan tubuhnya dengan kasar lalu menatap langit-langit kamar dengan kesal. "Aku benci disebut pelakor."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2