
"Akh sakit!" Karyawan yang terluka itu mengerang kesakitan. Sebab suaranya begitu keras karyawan yang ada di divisi lain malah berlari ke arah gudang dan mencari sumber suara teriakan itu berasal darimana.
"Kurang ajar sekali ya memukul rekan kerja kami sampai berdarah seperti itu. Kau harus masuk penjara!" Seorang karyawan yang tadi menyaksikan Katrina telah memukul pria itu sampai berdarah mendorong tubuh Katrina ke belakang sampai membentur tembok.
Beberapa karyawan yang bertugas di gudang itu pun ikut mendekat ke arah Katrina dengan wajah yang terlihat murka.
"Kau harus mati!" Perempuan itu mencoba mencekik Katrina hingga wanita itu tidak bisa bernafas.
"Le ... pas ... kan!" Katrina mencoba menarik tangan wanita itu di lehernya. Namun, Katrina sama sekali tidak berhasil sebab dirinya dikeroyok bertiga. Satu perempuan dan dua orang laki-laki.
Satu orang langsung memegang kedua tangan Kartika dan yang lainnya memukul perut Katrina sampai wanita itu terlihat meringis kesakitan.
"Ada apa ini?" Seorang karyawan dari divisi lain masuk ke dalam gudang dan merasa bingung dengan keadaan yang terjadi di sana. Beberapa orang juga menyusul, tetapi hanya diam di pintu. Mereka memilih menyaksikan Katrina yang dihakimi oleh rekannya dibandingkan menolong. Asyik dengan melihat Katrina yang dikeroyok mereka sampai tidak melihat karyawan yang terluka dibalik pintu yang terbuka separuh.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian bisa membunuhnya!" Karyawan yang baru datang itu langsung melerai ketiga orang yang mengeroyok Katrina.
"Wanita ini pantas diperlakukan seperti ini sebab telah membuat rekan kita seperti itu." Salah seorang dari mereka menunjuk teman mereka yang terluka.
"Astaghfirullahal azim, bukannya menolong teman kalian, malah makin keroyokan segala." Wanita itu langsung membawa pria yang terluka tadi ke luar dari ruangan dan hendak membawanya berobat ke dokter tanpa memperdulikan para karyawan tadi yang mengeroyok Katrina kembali.
"Hentikan!" Arka berlari ke arah Katrina dan menarik setiap tangan-tangan yang menyentuh tubuh kekasihnya dengan kasar.
"Apa yang akan kalian lakukan? Mau membunuh dia!" bentak Arka membuat ketiga orang tersebut hanya diam saja.
"Kalian semua mau aku pecat?" ancam Arka kemudian.
Ketiga orang di hadapannya tersebut menjadi menunduk. Mereka tidak mau mereka benar-benar dipecat melihat Arka juga memiliki posisi yang lumayan bagus di perusahaan itu.
"Arka!" Katrina malah merengek dan memeluk Arka sambil menangis. "Kau benar Arka mereka semua mau membunuhku. Mereka mencekik leher dan memukul perutku," adu Katrina sambil bercucuran air mata.
Ketiga orang yang menunduk itu melirik Katrina, tetapi langsung menunduk lagi tatkala melihat tatapan tajam dari Arka.
"Dan kalian kenapa hanya diam saja? Kalian pikir di sini ring tinju hingga kalian malah asyik menyaksikan!" Sekarang Arka murka pada karyawan yang hanya menyaksikan di depan pintu tanpa inisiatif untuk menolong sama sekali.
"Maaf Pak," ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Ada apa Din?" tanya seorang wanita dengan wajah tegasnya.
"Mas Sandi ini terluka Bu dan kata mereka perempuan itu yang memukulnya," lapor Dinda, wanita yang tengah membawa karyawan yang terluka tadi keluar dari ruangan.
"Baik kau bawa dia ke rumah sakit. Pak asisten ada di depanmu dan mintalah tolong untuk mengantarkan kalian."
"Baik Bu."
Setelah berbicara pada Dinda, Bu Bos masuk ke dalam dan berjalan ke arah Katrina dengan wajah murkanya. Dia bertambah murka lagi kala Katrina memeluk erat tubuh Arka.
"Ini yang mau jadi jagoan di sini?" tanyanya sambil membelai rambut Katrina secara kasar.
Katrina hanya terlihat memejamkan mata dalam pelukan Arka.
"Apa kau ingin merasakan nikmatnya tinggal di dalam buih?"
"Tidak Bu. Jangan laporkan saya ke kantor polisi saya mohon! Apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan kenyataannya. Faktanya saya hanya tidak sengaja menjatuhkan dus tersebut di kepala Pak Sandi tadi karena memang saya tidak kuat mengangkatnya, tetapi saya paksakan." Katrina mencoba untuk berkilah.
"Bu saya mohon kebijaksanaanya," pinta Arka.
"Tidak bisa Arka setiap perlakuan buruk harus mendapatkan balasannya." Wanita ini mencoba menahan diri meskipun kenyataannya dia benci dengan posisi Katrina dan Arka saat ini.
"Yang namanya kekerasan wajib dilaporkan Arka biar tidak terulang lagi. Kalau dibiarkan saja mana dia akan jera untuk melukai orang lain."
"Kalau begitu mereka bertiga juga harus dipenjara Bu karena telah melakukan percobaan pembunuhan pada Katrina." Arka menunjuk ketiga orang yang ada di depannya yang masih setia menunduk. Ketiga orang tersebut tampak bergetar mendengar ucapan Arka.
"Boleh tidak masalah. Setiap kejahatan harus dipertanggung jawabkan."
Sontak perkataan pemilik perusahaan itu membuat ketiga orang tadi langsung berlutut di kakinya.
"Ampun Bu jangan laporkan kami ke kantor polisi."
"Kalau mereka bebas Katrina harus bebas. Kalau tidak saya sendiri yang akan melaporkan mereka bertiga ke penjara," ancam Arka.
"Baiklah masalah ini kita anggap selesai saja." Sebenarnya Bu Bos nya ini tidak mau berhubungan dengan kepolisian dan dirinya tadi hanya menakut-nakuti Katrina semata saja. Ketika Arka malah mengatakan akan melaporkan ke polisi nyali perempuan ini malah ciut dan takut sendiri.
__ADS_1
"Tapi dia harus dipecat," imbuhnya.
"Baik aku akan terima dengan senang hati pemecatan ini sebab pekerjaan yang diberikan di tempat ini tidak sepadan dengan keahlianku," ucap Katrina meremehkan.
"Bagus kalau begitu silahkan keluar dari tempat ini!"
"Ayo Arka kita pergi!" Katrina menyeret Arka keluar dari ruangan tersebut membuat Bu Bos tersebut jadi merasa bingung.
"Kau mau kemana Arka?"
"Mau mengundurkan diri juga karena malu punya bos tidak adil." Katrina yang menjawab.
"Aku bertanya pada Arka bukan dirimu!"
"Arka!" seru Katrina dan Arka pun mengerti apa yang diinginkan kekasihnya itu.
"Kalau Ibu tidak memecat ketiga orang ini maka saya pun akan mengundurkan diri dari perusahaan ini." Bu Bos itu terlihat syok. Dalam hati bagaimana mungkin memecat mereka mendadak sedangkan perusahaan belum punya gantinya sedangkan ketiga orang itu tampak menatap bosnya dengan memelas agar bosnya itu memilih mereka dibandingkan Arka yang hanya seorang diri.
Pemilik perusahaan itu menatap Arka dan ketiga karyawan bagian gudang itu secara bergantian dan merasa ragu untuk memilih yang mana.
"Kalau Ibu tidak bisa memilih biarkan saya yang pergi," ancam Arka.
Sebab perempuan itu tidak ingin kembali kesepian saat ditinggal suaminya keluar negeri dirinya memilih Arka.
Perempuan itu tampak menghela nafas berat. "Baik aku akan memecat mereka bertiga." Keputusan wanita ini membuat Arka dan Katrina bahagia.
Meskipun Katrina sudah tidak bisa bekerja di tempat ini lagi dan kehilangan harapan untuk naik jabatan, tetapi dia sangat puas karena ketiga orang yang sering membuat dirinya kesal ini juga kehilangan pekerjaan.
"Bu, apa ibu tidak bisa memikirkan lagi keputusan ibu?" Ketika orang karyawan tadi kembali berlutut di hadapan bosnya.
"Maaf tidak bisa sebab kalau saya masih mempertahankan kalian tetap bekerja di sini khawatir karyawan yang lain akan meniru kelakuan kalian yang tidak benar tadi."
Akhirnya mereka bertiga hanya bisa pasrah menerima keputusan bosnya.
"Fifty-Fifty," ucap Katrina pada ketiga orang tersebut lalu bergegas pergi dengan Arka yang menyusul di belakangnya.
__ADS_1
"Bubar-bubar! Kembali ke posisi masing-masing!" Perempuan itu menyuruh karyawan lainnya untuk kembali ke meja kerja masing-masing.
Bersambung.