HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 162. Mengalah Bukan Berarti Kalah.


__ADS_3

"Baik Pa, Mentari tidak akan memberitahukan pada Papa Tama dan Mas Gala," jawab Mentari. Bagaimana pun Tuan Winata sudah sangat baik padanya. Tidak mungkin dia mengecewakan Tuan Winata dengan menolak permintaannya itu asalkan Bintang tidak lagi mengganggu dirinya seperti janji Tuan Winata tadi.


"Terima kasih ya Me atas pengertiannya." Arumi yang sedari tadi hanya memilih bungkam akhirnya berbicara.


Mentari melepas pelukannya dari tubuh Tuan Winata dan beralih memeluk Arumi. Arumi memeluk Mentari dengan erat.


"Maafkan putraku ya Nak, maafkan mama juga yang selama ini selalu menyakiti hatimu." Arumi mengelus-elus punggung Mentari lalu mengusap air mata Mentari yang berjatuhan.


"Jangan menangis lagi, sekarang saatnya kamu berbahagia. Ustadz Alzam sangat menyayangimu, bukan?"


Mentari tersenyum di tengah air matanya yang masih tidak mau berhenti mengalir.


"Maaf Ma, baju Mama jadi basah karena air mata Mentari. Entah kenapa Mentari hari ini bawaannya pengen nangis terus. Mentari terlalu sensitif."


"Tidak apa-apa kok cuma air mata doang kan, bukan air got."


Mentari hanya tersenyum mendengar perkataan dari Arumi.


"Lagi pula sudah biasa kalau orang hamil itu sensitif."


"Iyakah Ma? Dulu Mama juga begitu?" tanya Mentari penasaran.


"Heeh, dulu pas mama hamil mungkin mama lebih parah dari kamu. Mama kalau lihat papa ngomong sama cewek aja sampai nangis berhari-hari."


"Benarkah?" Mentari tidak percaya masa hanya melihat suami berbicara dengan wanita lain sampai membuat Arumi nangis berhari-hari.


"Iya benar."


"Itu mah bukan sensitif karena hamil Nak, tapi emang dasar mamamu yang pencemburu. Kamu tahu, saat melihat papa meeting dengan seorang klien perempuan di sebuah restoran, mama kamu ini malah menarik kasar tangan wanita itu dan membawanya keluar dari restoran Alhasil proyek seharga milyaran gagal." Tuan Winata mengenang masa lalunya.


"Wah parah Mama ya, kalau begitu terus perusahaan papa bisa bangkrut," ucap Mentari lalu tertawa kecil.


"Ya begitulah mama kamu, untung nikahnya sama papa yang super sabar ini. Kalau nikah sama yang lain sudah ditukar tambah dia." Tuan Winata cekikikan setelah mengatakan hal ini sedangkan Arumi tampak cemberut.


"Emang aku barang second apa pakai ditukar tambah segala," protes Arumi.


"Papa memang ada-ada saja," ujar Mentari.


"Kamu mau tahu apa yang paling parah saat mama kamu ini ngidam?"


"Boleh, boleh Pa. Apa itu Pa? Apa Mama itu ngidam minta dibelikan berlian?" Mentari menebak seperti itu melihat gaya hidup Arumi yang memang suka mengoleksi barang-barang mahal.

__ADS_1


"Kalau itu mah biasa, yang ini malah jorok dan menjijikkan," ucap Tuan Winata membuat Arumi langsung membekap mulut suaminya dengan kedua tangannya.


"Jangan cerita! Jangan cerita! Awas kalau sampai cerita nanti tidak boleh tidur di kamar," ancam Arumi terhadap suaminya.


"Yasudah nggak boleh katanya Nak Me, daripada papa nanti tidur di luar gara-gara istri merajuk mending tutup mulut saja."


"Ya ... padahal Mentari penasaran." Bukan Arumi yang merajuk, tetapi Mentari, dia terlihat cemberut.


Tuan Winata memandang ke arah Arumi seakan meminta persetujuan untuk bercerita dan Arumi terpaksa menyetujui sebab tidak ingin Mentari kembali pada kesedihannya lagi.


"Baiklah cerita saja," ucap Arumi pasrah.


"Baiklah papa akan bercerita." Tuan Winata memulai ceritanya dan wajah Mentari kembali antusias lagi.


"Ngidam teraneh dari mama kamu adalah dia ingin menghirup kentut padahal papa tidak ingin sedang kentut."


Mendengar cerita Tuan Winata Mentari langsung tertawa.


"Papa pasti berbohong, kan? Papa cuma bercanda, kan? Akh Papa melawak saja." Mentari terus tertawa.


Sebenarnya Arumi tidak suka aibnya dibuka oleh suaminya sendiri. Namun, melihat Mentari yang tertawa Arumi merasa lega sebab sepertinya Mentari sudah melupakan perihal Bintang yang hendak menculik dirinya.


"Bintang semoga kamu tidak nekad lagi Nak, aku tidak tahu akan seperti apa Mas Tama nanti kalau sampai terjadi sesuatu pada putrinya," ucap Arumi dalam hati.


"Papa biasanya akan minta Bik Jum untuk mengumpulkan orang-orang dalam rumah. Dari sekian banyak pembantu dari mereka ternyata tidak ada satupun yang mau akhirnya papa paksa Bik Jum yang mewujudkannya," jawab Tuan Winata tanpa rasa berdosa.


"Bagaimana caranya Pa?" Mentari semakin tertawa.


"Nggak tahu tuh pokoknya Bik Jum terus berusaha mengejan seperti orang yang mau melahirkan saja meskipun dia tidak sakit perut sebab papa iming-iming-imingi uang satu juta karena kalau Mama kamu ini tidak dituruti apa yang diinginkan rumah bakal kayak kapal pecah."


"Astaghfirullah hal adzim Ma, sampai segitunya?"


"Ya begitulah Me, dia kayak anak kecil yang harus dituruti setiap kemauannya saat sedang hamil."


Mentari terlihat menggeleng tidak percaya kemudian raut wajahnya berubah menjadi meringis sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa Me?" tanya Arumi khawatir.


"Tidak tahu juga Ma, mungkin karena banyak tertawa tadi jadi perut Mentari terguncang dan akhirnya sakit."


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja biar mama panggilkan dokter dulu." Arumi membantu membaringkan kembali tubuh Mentari.

__ADS_1


"Mama panggilkan dokter dulu ya, kamu sama papa Winata saja." Arumi hendak bangkit dari duduknya, tetapi dicegah oleh Mentari.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa Ma, sudah mendingan jadi tidak perlu memanggil dokter."


"Oke baiklah kalau begitu mama telepon Mas Tama aja ya biar dia juga ke sini?"


Mentari mengangguk.


"Suamimu juga mau mama telepon?"


"Jangan Ma, nanti dia nggak konsen ceramahnya. Biar Mentari telepon Sarah saja untuk pulang ke rumah agar menemani ibu yang sendirian di rumah."


"Baiklah saya telepon Mas Tama dulu." Arumi segera menelpon kakaknya dan memberitahukan perihal Mentari yang dirawat di rumah sakit karena kehamilannya. Tama yang mendengar putrinya dirawat di rumah sakit langsung menyuruh sopir untuk mengantarkannya rumah sakit tersebut.


Setelah menelpon Tama Arumi menyerahkan ponselnya kepala Mentari untuk menelpon Sarah sebab dirinya tidak tahu nomor telepon Sarah.


Sementara Arumi dan Mentari sibuk menelepon, Tuan Winata malah mendapatkan telepon dari Bintang.


"Bintang?" Tuan Winata mengernyit, memikirkan apa yang sekiranya mau disampaikan putranya itu.


Tuan Winata keluar dari ruangan dan menerima telepon dari Bintang.


"Halo ini Tuan Winata?"


"Ya benar, siapa kamu? Kenapa memakai nomor telepon Bintang?"


"Maaf Tuan terpaksa, saya hanya ingin mengabarkan bahwa putra Tuan mabuk berat."


"Ustadz Alzam, aku me ... nye ... rah bu ... kan karena a ... ku ka ... lah. A ... ku ha ... nya me ... nga ... lah ka ... re ... na aku sa ... yang den ... gan Men .. tari dan tidak ingin terjadi sesuatu sama dia." Terdengar suara racaun dari mulut Bintang.


Tuan Winata menggeleng dengan kelakuan Bintang.


"Hoek, hoek, hoek." Bintang terdengar muntah-muntah.


"Kirimkan alamatnya!" Tuan Winata bergegas masuk ke dalam kamar rawat Mentari dan memberitahukan bahwa dia harus pergi karena ada kepentingan mendadak.


"Jaga Mentari ya Ma, sampai Mas Tama datang," pintu Tuan Winata sambil melangkah keluar kamar rawat.


"Baik Pa. Papa hati-hati ya Pa!"

__ADS_1


Tuan Winata mengangguk lalu menutup pintu kemudian berlalu dari kamar rawat Mentari


Bersambung.


__ADS_2