HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 38. Kerjasama


__ADS_3

"Dok tolong tangani istriku secepatnya Dok! Selamatkan dia!" Bintang panik dan gelisah.


"Pasti, kami akan melakukan pelayanan yang terbaik pada setiap pasien," jawab dokter yang sudah siap menangani Katrina.


"Bapak silahkan tunggu di luar!"


Bintang mengangguk. Dokter itu berjalan ke arah Katrina yang sudah dibaringkan di atas brankar. Bintang berjalan keluar. Suster menutup pintu sementara UGD.


Saat menunggu dokter menangani Katrina Bintang dan Mentari duduk di kursi depan ruangan tersebut.


Mentari terlihat meringis sambil memegang perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Bintang yang melihat Mentari seolah tersiksa.


Wanita itu menggeleng.


"Yakin?"


"Iya aku nggak apa-apa kok," sahut Mentari. Bintang mengangguk.


Namun semakin lama perut Mentari semangat sakit. Wanita itu terlihat gelisah.


"Ayo kita ke dokter!" Bintang menarik tangan Mentari.


"Nggak usah Mas aku nggak apa-apa," ucap Mentari lagi.


"Tapi wajah kamu pucat tidak mungkin tidak apa-apa." Bintang tidak ingin Mentari ikut sakit. Memikirkan Katrina saja dia sudah sangat stres apalagi kalau ditambah Mentari ikut sakit juga.


"Paling aku cuma kurang darah. Ini kan sudah biasa kalau aku menstruasi," sahut Mentari.


"Menstruasi? Sejak kapan?"


"Sejak tadi siang cuma memang deras aja," jelas Mentari.


"Kalau begitu tunggu aku di sini. Aku akan meminta obat penambah darah pada dokter sekaligus membelikan makan untukmu. Kamu belum makan siang kan?"


Mentari mengangguk mungkin selain sakit perut karena menstruasi dia juga lapar. Mentari baru ingat tadi siang belum sempat makan karena terlalu sibuk di toko.


Saat Sarah memintanya untuk makan dulu dia selalu mengatakan nanti, nanti, dan nanti hingga akhirnya dia benar-benar kelupaan untuk makan. Sempat ingat saat membuatkan makan untuk Bintang, tetapi dia merasa tanggung karena sebentar lagi Bintang datang. Jadi sekalian dia ingin makan bersama sang suami. Makan siang sekaligus makan malam. Namun, apalah daya ternyata ada gangguan sehingga dia mengundur makannya lagi.


"Kamu tolong tungguin Katrina di sini ya, mungkin sebentar lagi Tante Risa datang."


"Iya Mas," ucap Mentari sambil menahan ringis. Entah mengapa kolaborasi antara sakit perut karena menstruasi dan lapar begitu menyiksa. Tak pernah Mentari merasakan sensasi sakit yang seperti ini.


Bintang pergi menemui dokter. Setelah mendapat obat yang diinginkan dia langsung keluar dari rumah sakit dan mencari makan di luar.


Mentari menunduk dan mengelus-elus perutnya. Siapa tahu dengan cara seperti itu bisa sedikit meringankan sakitnya. Meskipun tidak masuk akal, tetapi tetap dia lakukan. Daripada diajak ke dokter oleh Bintang ia malu jika harus mengatakan sakit karena menstruasi. Bagi Mentari itu sangat memalukan, kecuali memang sakitnya parah.


Seorang perempuan dengan mengunakan high heels berjalan ke arahnya. Mentari mengangkat wajah saat suara langkah terdengar jelas di telinganya.


"Maaf mau tanya pasien yang bernama Katrina masih ada di ruang ini apa sudah dipindahkan ke ruang rawat?" Perempuan itu bertanya pada Mentari.

__ADS_1


"Masih di dalam Nyonya," jawab Mentari.


"Oh." Perempuan itu duduk di dekat Mentari.


Mentari menebak-nebak siapa orang yang ada di sampingnya kini. "Apakah ini yang namanya Tante Risa?" tanyanya dalam hati.


"Tapi dia siapa Bintang?" Dalam hati merasa penasaran.


"Maaf kamu siapa?" tanya perempuan tersebut sambil tersenyum ramah.


"Saya Mentari," ucap Mentari memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan pada perempuan tersebut.


"Oh kamu yang namanya Mentari?" Raut wajah perempuan itu berubah, yang tadinya ramah berubah galak. Tangan yang diulurkan tadi tidak bertemu jabat. Mentari menurunkan tangannya lagi.


Mentari menelan ludah. Melihat ekspresi orang di hadapannya ia dapat menyimpulkan perempuan tersebut tidak menyukai dirinya.


"Ini pasti ulah kamu, Katrina begini karena kamu kan? Dasar perempuan murahan!"


"Siapa dia? Apa dia ibunya Katrina?" Mentari masih bertanya-tanya dalam hati.


"Tidak Nyonya Katrina melukai dirinya sendiri bukan saya yang melakukannya." Mentari membela diri kalau tidak perempuan di depannya akan salah paham.


"Saya tahu bodoh, maksud saya kamulah perantaranya. Gara-gara kamu yang masuk ke dalam hubungan Bintang dan Katrina hidup Katrina jadi kacau. Dasar perebut suami orang!" sarkas Risa.


"Tapi Nyonya saya ...." Belum sempat Mentari melanjutkan bicaranya terdengar pintu ruangan terbuka. "Keluarga ibu Katrina?"


"Iya Dok, saya ibunya," sahut perempuan itu membuat rasa penasaran hilang sudah di hati Mentari.


"Suaminya mana? Pasien menanyakan suaminya."


"Lagi keluar Dok sebentar," jawab Mentari.


"Oh kalau begitu mari Nyonya yang masuk saja karena pasien berpesan yang boleh masuk hanya suami dan ibunya saja." Dokter tersebut menunjuk Risa.


"Baik Dok," sahut Risa.


Mentari hanya menunduk. "Maaf Nona pasien bunuh diri tidak boleh dijenguk sembarangan orang untuk menjaga tingkat emosionalnya."


"Iya Dok saya mengerti," sahut Mentari. Kalau melihat dirinya pasti Katrina akan merasa sedih atau bahkan marah dan benci. Hal itu bisa membuat wanita itu akan down dan bisa bunuh diri lagi.


Dokter itu mengangguk dan masuk kembali ke dalam ruangan.


"Dokter tunggu!" Bintang menahan dokter tersebut untuk menutup pintu.


"Bagaimana keadaan istri saya?"


"Kalau lukanya tidak apa-apa sudah saya atasi tapi kalau masalah mental sepertinya perlu saya bicarakan dengan Anda selaku suami pasien. Mari silahkan masuk, kita bicara di dalam saja!"


Bintang mengangguk. "Ini Me kamu makan dulu terus obat penambah darah dan vitaminnya langsung diminum ya. Aku ke dalam dulu," ujar Bintang pada Mentari.


"Iya Mas."

__ADS_1


"Ya sudah." Bintang masuk ke dalam sedangkan Mentari mulai makan.


"Maaf Pak Bintang istri Anda ini sedang hamil dan tingkat emosionalnya juga tidak stabil. Dia banyak pikiran makanya bunuh diri. Oleh karena itu saya minta Pak Bintang benar-benar menjaga perasaannya. Saya berharap jangan pernah meninggalkan dia sendirian karena berpotensi akan melakukan aksi bunuh diri lagi. Selain itu jika ibunya stres juga akan berpengaruh pada janin yang ada dalam kandungannya. Hal ini bisa menjadi pemicu keguguran sebab kandungan istri anda juga lemah."


Saat Bintang mendengarkan penjelasan dokter, Katrina mengedipkan sebelah matanya pada Risa. Wanita itupun membalas dengan senyuman.


"Terus apa yang harus saya lakukan Dok?"


"Sebisa mungkin setiap keinginannya harus dipenuhi."


"Baik Dokter akan saya lakukan sesuai saran dokter."


"Dan untuk sementara jangan membiarkan istri anda melakukan pekerjaan apapun."


"Baik Dokter."


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya Dok terima kasih."


"Sama-sama."


"Eh maaf Dokter apa istriku harus dirawat di rumah sakit dulu?"


"Sepertinya tidak perlu. Dia langsung pulang."


"Baik Dok terima kasih."


"Kamu pulang ke rumah mami dulu ya biar ada yang rawat," kata Risa pada Katrina.


"Iya Kate biar saat aku kerja ada yang rawat kamu."


"Tidak aku tidak mau tinggal sama mami," tolak Katrina.


"Terus kamu akan tinggal di apartemen? Baiklah aku akan temani. Tante Risa juga bisa tinggal di sana untuk memantau keadaanmu saat aku tidak ada."


"Tidak mau Bintang aku tidak ingin tinggal di apartemen itu lagi."


"Terus?"


"Aku ingin tinggal di apartemen yang kamu tinggali bersama Mentari."


"Kate ...." Bintang ingin protes.


"Atau kamu tidak akan pernah melihatku lagi di dunia ini," ancam Katrina lagi.


Bintang tidak mau Katrina mengulang kejadian bunuh diri. Ia terpaksa mengiyakan. "Baiklah kalau itu keinginanmu kita akan tinggal bertiga di sana."


Katrina tersenyum puas.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2