HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 185. Kesal


__ADS_3

"Kiki menyukai Sarah dan gadis itu juga menyukai Kiki?" Gala bergumam sendiri sambil berjalan menuju pantry.


"Atau selama ini mereka sudah berpacaran? Akh, sudahlah mengapa aku harus memikirkan mereka? Semua itu bukan urusanku." Mulut bisa berkata seperti itu, tetapi hati tetap tidak bisa menerimanya.


"Ingin saya buatkan apa Pak? Salad, sosis atau ...."


"Aku butuh kopi panas," potong Gala akan pertanyaan karyawannya tersebut.


"Baik." Karyawan tersebut langsung membuatkan kopi panas sesuai permintaan Gala sedangkan Gala sendiri memilih duduk pada sebuah kursi.


"Gulanya sedikit dan beri tambahan susu!" perintah Gala sambil menyandarkan bahunya di sandaran kursi dengan kaki menyilang.


"Siap Pak." Karyawan tersebut sudah hafal dengan kebiasaan Gala dalam meminum kopi. Tidak butuh waktu lama kopi pun terhidang di meja.


"Apa benar ya Sarah sama Kiki ... akh." Bukannya fokus pada kopinya malah pikirannya bercabang kemana-mana.


Gala langsung mengambil gelas di depannya. Sebelum meneguk kopi terlebih dahulu meniup-niupnya. Lama duduk termenung akhirnya Gala memutuskan kembali ke ruangannya sendiri.


Langkahnya terhenti kala melihat ternyata Kiki dan Sarah telah berpindah ke ruangan Kiki.


"Mau apa sih mereka berdua ada disini? Mau menunjukkan kemesraan begitu?"


Awalnya Gala pikir keduanya sedang berpacaran di kantornya. Namun, dia menepis pikirannya saat mendengar Sarah mempresentasikan sesuatu.


"Oh tak kirain mereka pacaran," ucap Gala dan langsung berjalan ke arah keduanya.


"Pakai proyektor sekalian biar kayak persentasi beneran. Aku mau lihat seperti apa kemampuan dia!" perintah Gala pada Kiki. Memang sih Gala menginginkan gadis itu kalah tetapi, Gala juga tidak mau kalau presentasi Sarah akan sangat memalukan nanti. Mau ditaruh dimana image perusahaan kalau itu sampai itu terjadi.


"Baik Pak akan saya siapkan dulu." Kiki bangkit dari duduknya dan menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan sedangkan Gala tampak duduk di kursi Kiki menggantikan sang asisten itu. Sarah pun ikut duduk berhadapan dengan Gala, tetapi Sarah lebih memilih memandang ke arah samping daripada menatap wajah pria yang selalu membuatnya kesal itu. Bisa-bisa moodnya hancur seketika dan presentasinya berantakan. Semoga saja besok Gala tidak memancing keributan.


"Sudah silahkan dimulai Sarah!" perintah Kiki setelah semuanya siap. Laptop pun sudah tersambung dengan alat proyektor tersebut.


"Baik Pak."


Sarah mulai berdiri lagi dan menjelaskan setiap tampilan slide demi slide di pantulan proyektor tersebut.

__ADS_1


Gala menganga melihat tampilan slide yang dibuat oleh Sarah memang benar-benar bagus. Mulai dengan pemilihan background yang menarik, design, dan padu padan warna yang digunakan juga pas. Dalam hati Gala merasa nyalinya ciut seketika.


"Aku tidak boleh kalah," ujar Gala dalam hati sementara Sarah masih terus menjabarkan satu persatu apa pesan presentasinya.


Gala tersenyum mendengar persentasi Sarah yang sedikit berbelit-belit. Dia yakin klien nya nanti akan merasa bosan dan akan menyetop penjelasan Sarah dan meminta dirinya yang akan mengambil alih untuk menjelaskan. Hal ini sudah dua kali dia rasakan. Ketika kliennya merasa tidak puas dengan penjelasan Diandra mereka akan meminta Gala yang langsung menjelaskan sebelum akhirnya mereka mengambil keputusan.


"Bagaimana Pak?" tanya Kiki saat setelah Sarah menyudahi presentasinya.


"Bagus, sangat bagus malah." Gala menjawab pertanyaan Kiki dengan setengah tertawa membuat Sarah curiga saja.


"Bagus? Tumben kau memujiku Pak Gala, biasanya kau akan selalu meremehkan diriku. Jangankan jelek yang bagus pun kau katakan jelek kalau sudah menyangkut diriku," protes Sarah.


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya," sahut Gala sambil berlalu ke ruangannya sendiri.


"Menurut Pak Kiki bagaimana?" tanya Sarah ragu.


"Bagus kok. Pak Gala tadi memang jujur. Persentasi mu hampir sempurna. Hanya saran saja, kurangi penjabaran yang tidak penting sebab yang kamu hadapi nanti adalah pebisnis yang sudah berpengalaman dalam dunia bisnis dan istilah-istilah bisnis bukan anak kuliahan ya masih dalam tahap belajar, jadi tidak perlu dijelaskan secara detail, hanya pokoknya saja."


"Baik Pak," ucap Sarah mantap. Dalam hati berpikir mungkin itu yang ditertawakan Gala tadi.


"Harus benar-benar ringkas, padat dan jelas dan point yang paling penting agar klien mau bekerja sama dengan perusahaan harus semenarik mungkin." Sarah menyimpulkan sendiri.


"Oke siap."


"Kalau kamu ingin menang dari Pak Gala, klien harus sudah yakin untuk bergabung dengan perusahaan ini sebelum Pak Gala mengambil alih meyakinkan mereka," saran Kiki.


"Baik Pak."


"Yasudah kalau begitu kamu boleh pergi dan jangan lupa besok jam 8 pagi sudah harus bersiap-siap ikut Pak Gala ketemu klien di luar kantor. Mungkin besok saya sudah tidak ada di kantor ini sebab sesudah subuh saya akan berangkat ke luar kota. Jadi, kalau ada apa-apa langsung hubungi Pak Gala saja."


"Siap Pak. Kalau begitu saya permisi mau kembali ke ruangan saya lagi," pamit Sarah.


"Iya hati-hati."


Sarah mengganggu dan langsung keluar dari ruangan.

__ADS_1


Selepas Sarah pergi Gala memanggil Kiki.


"Ki sini!" teriaknya dari dalam ruangannya sendiri.


"Iya Pak?" Kiki dengan setengah berlari menuju ruangan Gala.


"Kau ini berpihak padaku apa pada Sarah sih?" semprot Gala langsung sebelum Kiki sempat duduk terlebih dahulu.


"Loh kenapa Bapak berkata seperti itu?" tanya Kiki tidak paham apa yang diinginkan oleh sang bos.


"Yang menggajimu siapa, Sarah atau aku?" tanya Gala lagi dengan suara yang sedikit ditekan.


"Ya Pak Gala lah," sahut Kiki tenang.


"Kenapa kau malah berpihak padanya?" tanya Gala kesal.


"Lah siapa yang memihak, saya hanya membimbing dia agar tidak mempermalukan perusahaan nantinya. Takutnya klien nanti berpikir, masa perusahaan besar utusannya nggak benar?"


"Tapi Sarah itu taruhan denganku Ki, kalau aku kalah tahu sendiri kan hukumannya. Nah kamu malah bantu dia. Jangan-jangan yang bikin slide presentasinya kamu juga," tuduh Gala.


"Kenapa Bapak jadi sembarangan menuduh saya begini? Sumpah Pak bukan saya yang membuat slide presentasi yang ditunjukkan Sarah tadi. Saya di ruangannya pad jam makan siang tadi hanya mengajaknya makan saja, tidak lebih."


"Alasan!"


Kiki terlonjak kaget. Mengapa tiba-tiba sang bos menjadi badmood begini?


"Kalau Bapak tidak percaya cek saja cctv, beres," ucap Kiki.


Gala bangkit dari duduknya dan berkata, "Kalau saya yang kalah kau juga harus dihukum. Anak buah itu harus setia pada atasan. Kalau atasannya dihukum jadi kamu juga harus menemani saya menjalani hukuman."


"Loh-loh sejak kapan peraturan seperti itu ada?" tanya Kiki heran.


"Sejak kapan saja aku mau, karena di perusahaan ini aku presidennya."


Kiki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Haruskah dia mendoakan supaya kerjasama dengan klien barunya itu batal?

__ADS_1


Aneh-aneh saja nih Pak Gala kelakuannya.


Bersambung.


__ADS_2