
Selepas Bintang masuk ke dalam kamar mandi, Mentari menyadari akan ucapannya tadi. Dia paham pasti Bintang sakit hati mendengar perkataannya itu.
Mentari menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang lalu memejamkan mata.
"Maafkan aku Mas," gumam Mentari, tetapi suaranya tetap terdengar ke dalam kamar mandi.
Bintang yang mulai melepaskan pakaiannya tersenyum mendengar kata maaf dari mulut Mentari. Paling tidak Mentari menyadari akan kesalahannya.
"Tidak apa-apa, aku paham tentang perasaanmu. Bukankah aku berjanji untuk tidak memaksakan kehendak dan akan menunggumu," gumam Bintang pula lalu mengguyur tubuhnya dengan air.
Setelah Bintang keluar dari kamar mandi Mentari tampak melamun. Bintang pun lalu mengganti pakaiannya tanpa mengajak Mentari bicara karena takut wanita itu akan terganggu sebab matanya terpejam kembali.
Bintang lalu keluar dari kamar dan Mentari yang kini membuka mata kembali hanya memandang punggung pria itu yang meninggalkan kamar tanpa berucap sepatah katapun padanya.
"Hah, aku sudah keterlaluan padanya. Kalau aku di posisinya pasti akan sakit hati." Mentari meraup wajah dengan kedua tangannya dengan kasar lalu bangkit hendak menyusul Bintang lagi.
Namun, langkahnya tertahan saat melihat foto pernikahannya bersama ustadz Alzam di dinding sebelah pintu itu.
"Sepertinya ini harus dilepaskan," gumam Wanita itu lalu keluar kamar untuk mencari tangga kecil dari besi.
Setelahnya Mentari kembali ke dalam kamar dengan langkah yang berat sebab dirinya belum berganti pakaian dari gaun pengantinnya. Wanita itu membawa tangga besi dengan satu tangan dan menjinjing ujung gaun dengan tangan lainnya.
Sampai di dalam kamar setelah meletakkan tangga Mentari bersiap untuk naik. Namun, dia memandang foto tersebut seolah tidak ingin melepaskannya. Jika tidak bersama Bintang mungkin foto itu akan selamanya terpajang di kamarnya.
"Maafkan aku Abi, tapi mau tidak mau ini harus dilepaskan demi menjaga sebuah hati," ucap Mentari dengan menitikkan air mata lalu mulai menaiki tangga besi itu.
Bintang yang hendak masuk ke dalam kamar berhenti sebentar dan berdiri di pintu melihat pergerakan Mentari saat memandang foto itu dengan sayang sampai istrinya menaiki tangga.
Secara pelan-pelan Bintang melangkah dan menaruh piring berisi makanan di atas meja lalu menghampiri Mentari yang sudah memegang bingkai foto.
Melihat Mentari ragu, Bintang langsung menahan gerakan wanita itu.
"Kalau masih ragu tidak perlu dilepas!" seru Bintang langsung membuat Mentari kaget dan wanita itu tangannya terlepas dari bingkai serta tubuhnya oleng.
Mentari terlepas dari tangga sedangkan ujung gaunnya terjepit pada ujung atas tangga.
"Astaghfirullah haladzim." Bintang langsung menangkap tubuh Mentari dan melepaskan gaunnya dari tangga sebelum tubuh istrinya itu membentur lantai.
Setelahnya Bintang langsung menggendong tubuh Mentari dan membawanya ke atas ranjang dan membaringkannya. Namun, tiba-tiba Bintang terpeleset hingga hampir menindih tubuh Mentari.
Untungnya Bintang segera menumpukan tangannya pada ranjang hingga tubuhnya tertahan di atas tubuh Mentari sedangkan tangan yang satunya tak sengaja memegang pinggang istrinya.
Wajah mereka beradu dalam diam, hanya deru nafas mereka yang terdengar, hangat dan harum hampir membuat mereka lupa dengan keadaan. Untuk sesaat tatapan mata mereka saling terkunci sebelum akhirnya Mentari memalingkan wajah.
__ADS_1
"Maaf," ucap Bintang lalu melepaskan pegangan tangannya pada pinggang Mentari dan memposisikan dirinya untuk duduk di tepi ranjang.
"Tidak apa-apa bukankah sekarang aku sudah menjadi milikmu? Lakukan yang ingin kamu lakukan padaku, aku janji tidak akan memberontak," ujar Mentari pasrah, tetapi tetap saja dia tidak berani memandang wajah Bintang.
Bintang tersenyum lalu berkata, "Ah tidak, tubuhmu memang sudah menjadi milikku, tapi di sini masih belum ada namaku," ujar Bintang sambil menyentuh dada Mentari.
"Maafkan ucapanku tadi, aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu," ucap Mentari kemudian.
"Aku–"
"Sudahlah aku tidak apa-apa. Bangunlah dan makan! Aku sudah membawakan makanan untukmu."
Mentari langsung bangkit dari berbaring dan duduk di samping Bintang sambil berusaha menstabilkan deru nafasnya yang masih belum beraturan.
"Kau mau memaafkan aku, kan?" ulang Mentari dan Bintang mengangguk.
"Ya itu pasti, aku tahu kamu masih butuh waktu."
Mentari mengangguk.
"Makanlah dan jangan banyak pikiran. Aku tidak mau kamu sakit. Kasihan Izzam jika kamu tidak bisa merawatnya lagi."
Sekali lagi Mentari mengangguk. Namun, tidak ada inisiatif untuk mengambil makanan dari atas meja sehingga Bintang yang mengambilnya.
"Perlu aku suapi?" godanya sehingga Mentari langsung merampas piring dari tangan Bintang.
"Makanlah dan setelah itu mandi. Aku mau berkumpul bersama keluarga di luar dulu," pamit Bintang.
"Pergilah! Aku akan menghabiskan makanannya dulu," ucap Mentari dan Bintang mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan kamar dan berkumpul bersama keluarga besar.
"Dimana Kak Mentari, mengapa tidak ikut turun?" tanya Sarah.
"Dia belum mandi dan berganti pakaian, sekarang masih makan, jawab Bintang datar membuat semua orang curiga dengan ekspresi Bintang.
"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya Arumi khawatir. Takut-takut anak dan menantunya itu belum bisa akur.
"Bintang baik-baik saja dan Mentari juga baik-baik saja. Jadi, mama dan yang lainnya tidak perlu khawatir," ucap Bintang tenang lalu mengambil kue kering di dalam toples dan mengunyahnya kemudian duduk disela-sela semua orang.
"Nggak ada kopi?" tanya Bintang kemudian.
"Sudah habis. Sebentar aku minta sama bibi dulu biar pengantin barunya bisa melek sampai pagi," kelakar Gala lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah dapur.
Bintang hanya tersenyum kecut.
__ADS_1
"Hai papi." Dua bocah berlari ke arah merah dengan girang membuat Gala menghentikan langkahnya sebentar.
"Hai, papi mau ke dapur, ikut?"
Gaffi mengangguk-angguk sambil tersenyum senang dan Gala langsung menggendong putranya menuju dapur.
"Papi malam ini tidur bersama Izzam ya! Sekarang Papi Bintang kan sudah jadi ayah yang sebenarnya!" pinta Izzam pada Bintang dan Bintang tersenyum lalu merengkuh anak itu dan mendudukkan Izzam dalam pangkuannya.
"Boleh?" tanya Izzam lagi karena tidak puas dengan jawaban Bintang yang hanya tersenyum saja.
"Izzam lebih baik tidur bareng dedek Gaffi ya, nanti Tante temenin juga," bujuk Sarah.
"Tidak, Izzam mau tidur bertiga sama papi dan Ummi," tolak Izzam sambil menggelengkan kepala.
"Iya nanti kita tidur bareng ya," ucap Bintang sambil mengusap pipi Izzam dan anak itu sekarang tersenyum manis pada Bintang.
"Papi memang yang terbaik," ucap anak itu lalu memeluk erat tubuh Bintang dan Bintang juga mengeratkan pelukan mereka.
"Karena Izzam anak yang baik," ujar Bintang sambil mengusap-usap punggung Izzam.
"Aku berjanji padamu ustadz, akan membuat keduanya bahagia," batin Bintang lalu menghela nafas panjang.
"Kau yakin Bin ingin dia tidur bersama kalian?" tanya Arumi tidak percaya dengan keputusan Bintang.
"Yakin Ma, dia biasa tidur dengan Meme, jadi akan sangat sulit jika harus dipisahkan mendadak seperti ini. Biarlah kami tidur bertiga untuk beberapa hari dulu."
"Ya kau benar," ujar Arumi kemudian sedangkan Tuan Winata seperti mengerti bahwa pernikahan anaknya ini belum sepenuhnya berhasil.
"Sabar ya Bin, semua butuh proses dan memerlukan kesabaran."
"Iya Pa."
"Maaf seharusnya sudah sejak bulan kemarin kami mengajari Izzam untuk tidur terpisah dengan Cahaya. Nyatanya meskipun sudah dibuatkan kamar sendiri anak itu masih terus menempel dengan Cahaya," sambung Tama.
"Tidak apa-apa paman, nanti dia akan mengerti sendiri. Pelan-pelan saya akan berbicara dengan Izzam," sahut Bintang lalu mengecup kening putranya itu.
"Izzam sudah makan?"
Anak itu mengangguk.
"Sudah mengantuk?"
"Nggak."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kita nyemil kue dulu," ucap Bintang dan anak itu mengangguk antusias.
Bersambung.