
Selesai makan Mentari langsung ikut bersama Tuan Winata ke dalam mobil.
Tuan Winata mengernyit, baru sadar dengan pakaian Mentari. "Kamu masih pakai baju semalam?" tanya Tuan Winata heran melihat Mentari yang tidak berganti pakaian.
"Mentari tidak membawa baju ganti Pa. Ini aja semalam aku nemu di lemari Mas Bintang," ucap Mentari mengatakan apa adanya.
"Papa nggak sadar tadi. Mengapa Nggak bilang biar papa ambilkan baju mama kamu. Turun dulu yuk aku ambilkan baju ganti."
"Ah tidak perlu Pa," cegah Mentari saat Tuan Winata hendak membuka pintu mobil.
"Mama Arumi sudah tidak suka pada Mentari, tolong jangan membuatnya semakin membenciku Pa."
Tuan Winata mengurungkan niatnya untuk keluar. "Baiklah tapi kamu yakin akan pergi dengan pakaian seperti itu?"
"Nanti untuk sementara Mentari pinjam baju teman dulu. Sebelum Mentari mengambil tas dari apartemen."
"Jangan! Jangan ke sana! Kamu tidak boleh bertemu Bintang dulu."
"Tidak Pa Mentari ke sana nanti saja setelah Mas Bintang ada di kantor."
"Jangan dulu Nak di apartemen ada perempuan itu. Bagaimana kalau kita ke toko pakaian dulu?"
"Ah jangan Pa. Nanti kita bisa telat. Katanya papa kan juga mau berdiskusi dengan para pemimpin perusahaan."
"Oh iya, ya Nak."
Mentari mengangguk.
Nanti malam saja kamu beli pakaian. Biar nanti aku suruh Bik Jum atau yang lain untuk mengantarmu berbelanja. Bagaimana sudah siap?"
Mentari mengangguk.
"Kita berangkat." Tuan Winata melajukan mobilnya ke toko milik Sarah terlebih dahulu untuk mengantar Mentari.
Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di depan toko.
"Sudah sampai nanti sore papa jemput. Jangan naik kendaraan umum!"
"Iya Pa. Terima kasih ya Pa."
"Sama-sama." Tuan Winata kembali melajukan mobilnya, kali ini tujuannya adalah ke kantor.
Pagi ini pria setengah baya ini tampak bersemangat memastikan Mentari aman sampai tujuan. Entah mengapa Tuan Winata begitu menyayangi Mentari seperti anaknya sendiri. Apakah mungkin karena dia tidak memiliki anak perempuan? Mungkin saja demikian.
"Yakin Me kamu pakai baju seperti ini di toko?" Baru saja melangkah memasuki toko sudah mendapatkan protes dari Nanik. Bukan karena apa, tidak biasanya Mentari memakai dress pendek di bawah lutut.
"Terpaksa Mbak Nanik. Baju-bajuku masih ada di apartemen."
"Jadi kamu beneran tidak pulang ke apartemen? Berarti yang kamu maksud ada kuntilanak kemarin beneran ada?"
"Ah Mbak Nanik masa nggak ngerti juga. Mbak pinjem hape dong buat nelpon Sarah. Dia belum ke sini, kan?"
"Belum emang mau apa sama Sarah. Mau mengingatkan dia agar berhati-hati karena di apartemen ada Mbak Kunti?"
__ADS_1
"Udah ah, ada-ada saja. Boleh nggak pinjem hape?"
"Ini." Nanik memberikan ponsel dengan tangan kiri karena tangan kanannya belepotan tepung.
"Tapi aku nggak tahu Bu Sarah ada di mana. Yang jelas belum sampai ke sini."
Mentari mengangguk dan memencet nomor Sarah. Dia sedikit menjauh dari Nanik.
"Halo Sarah kamu lagi dimana?"
"Masih di apartemen Kak, memangnya ada apa?"
"Boleh minta tolong nggak?"
"Tolong apa? Kalau bisa pasti saya bantu kok Kak."
"Tolong awasi apartemenku ya. Kalau sudah sepi, Mas Bintang dan Katrina sudah tidak ada di sana telepon aku balik."
"Oke siap." Sarah mengundur kepergiannya ke toko. Demi apa coba dia menurut terhadap karyawannya sendiri? Entahlah yang pasti Sarah memang suka menolong Mentari. Eh, tapi bukan Mentari saja sih. Siapa saja yang membutuhkan pasti akan dia tolong sekiranya dia bisa.
"Oke ditunggu kabarnya ya."
"Iya Kak."
"Oke terima kasih." Mentari kembali mendekati Nanik dan memberikan ponsel wanita itu.
"Terima kasih Mbak Nanik."
"Sama-sama. Kayaknya ada rahasia nih sampai menjauh nelpon nya."
"Aneh, kamu mau pulang ke apartemen sendiri malah menunggu sepi, sampai nggak ada orang."
"Aku cuma mau ambil baju-bajuku di sana."
"Seriusan kamu mau pergi dari tempat itu?"
"Bukan pergi sih tetapi mau pindah ke rumah papa. Semalam aku tinggal di rumah papa nggak ada baju ganti."
"Suamimu tahu bahwa kamu tinggal di sana?"
"Papa tidak memperbolehkan aku memberitahu Mas Bintang."
"Oh begitu ya. Ini Me tolong dibawa ke Mega di belakang. Suruh panggang sebelum pembeli berdatangan."
"Mega siapa?"
"Karyawan baru biar kita nggak sok sibuk." Nanik terkekeh.
"Okelah." Mentari membawa adonan kue tersebut agar dipanggang di atas oven.
Setelah kembali ke ruangan depan ternyata sudah banyak pelanggan yang berdatangan. Mentari pun melayani satu persatu pelanggan atau pembeli yang berdatangan itu.
Dua jam sibuk dengan pekerjaannya, Nanik memberikan ponsel ke tangan Mentari. "Bu Sarah menelpon," lapornya.
__ADS_1
"Katanya dia ingin bicara denganmu," lanjut Nanik.
Mentari pun meraih ponse dari tangan Nanik.
"Baik Sarah saya segera ke sana." Mentari bergegas keluar. Namun, kemudian berbalik.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Nanik heran melihat Mentari kembali.
"Pinjam uang dong Mbak Nanik," ucap Mentari dengan wajah memelas.
"Ya ampun Mentari, menantu orang kaya tidak punya uang? Yang benar saja," kelakar Nanik.
"Ck, nanti aku ganti kok Mbak setelah tasku ada di tangan."
"Iya-iya aku paham. Sebentar aku cuci tangan dulu. Setelah mencuci tangannya Nanik kembali ke kamar dan mengambil dompetnya.
"Nih pakai." Nanik memberikan uang sekaligus dompetnya pada Mentari.
"Aku cuma mau pinjam buat ongkos Mbak Nanik bukan semuanya. Sombong banget mentang-mentang banyak uang." Mentari langsung menutup mulutnya.
"Selama bisa sombong kenapa tidak? Itu motto hidupku."
Mentari menggeleng mendengar ucapan Nanik. "Busyet!"
"Selama dompet belum bolong. Nah kalau dompet kosong jangankan sombong yang ada perlu ditolong," lanjutnya sambil nyengir kuda.
"Yang ada bukan ditolong tapi malah didorong tuh kelapa Mbak Nanik."
"Aku cuma bercanda, sudah ah sana pergi sebelum terlambat. Dompetku bawa saja dulu barangkali kamu ada kebutuhan mendesak."
"Baiklah terima kasih."
***
Sampai di apartemen Sarah sudah menunggu di loby.
"Bagaimana Sarah?" tanya Mentari sambil mendekat ke arah Sarah.
"Aman perempuan itu sudah keluar karena ada yang menjemput tadi."
"Good job." Mentari langsung menuju apartemennya diikuti Sarah di belakang.
"Jangan bilang kamu tidak bawa kuncinya," ucap Sarah khawatir, takut Mentari mengajaknya membuka pintu seperti maling dengan cara mencongkel. Bisa dituduh macam-macam nanti kalau ada yang melihat mereka.
"Tenang Sarah aku masih ingat password-nya," ucap Mentari.
"Semoga tidak dirubah," harap Sarah.
Baru saja memencet nomor tersebut terlihat Katrina dan Arumi melangkah kembali ke apartemen.
"Gawat Kak, kita harus bersembunyi." Mereka berdua lari terbirit-birit. Ketika melihat ada salah satu pintu unit apartemen terbuka mereka langsung masuk tanpa perhitungan.
"Hei kalian mau apa ke sini? Tolong ada penyusup! Tolong ada penyu ...." Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya Sarah langsung membekap mulut pria itu dengan tangannya.
__ADS_1
"Akh, lepaskan!" Pria itu menarik tangan Sarah dari mulutnya.
Bersambung....