
"Tidak tahu Ma," jawab Katrina karena melihat Bintang tidak menyahut.
"Kenapa sih kamu Bin, anak udah sadar bapaknya malah stres seperti itu. Seharusnya kamu senang putramu sudah lepas dari maut," protes Arumi.
"Sudahlah Ma, jangan banyak bicara Bintang tuh pusing tahu nggak sih Ma." Bintang kesal lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Arumi dan Katrina begitu saja tanpa pamit.
"Aneh, ada apa dengan tuh orang," gumam Arumi benar-benar tidak mengerti dengan sikap putranya.
"Mungkin ada masalah dalam pekerjaan Ma, dia memang biasa begitu. Kalau tidak puas dengan hasil kinerjanya sendiri dia biasanya akan badmood seperti tadi," terang Katrina.
"Mungkin saja. Sudahlah palingan nanti dia juga bakal kembali seperti semula." Setelah berkata seperti itu Arumi duduk di samping ranjang Aldan dan mengajak bayi itu bicara meskipun tahu bayi itu belum mengerti apa-apa.
Bintang pulang ke apartemen, membuka pintu dengan kasar lalu langsung masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa gerah sebab sejak kemarin belum sempat mandi karena pikirannya yang kacau.
Setelah mandi Bintang langsung berangkat ke kantor tanpa makan pagi terlebih dahulu.
"Hei tumben datang pagi, sudah sembuh putranya?" tanya rekan kerjanya saat melihat Bintang termenung sambil menopang dagu di atas meja.
"Sudah lumayan sehat," sahut Bintang.
Lelaki itu membuka kotak makan dan menawarkan pada Bintang. "Belum makan pagi, kan? Nih buatmu saja."
Bintang menggeleng. "Tidak usah kau makan sendiri saja," tolak Bintang.
"Ayolah aku bawa dua kotak kok untuk makan siang juga. Kau boleh memakannya biar nanti siang aku makan di kantin saja. Jarang-jarang aku makan di kantin," pria itu setengah memaksa.
"Aku tidak lapar dan tidak ada nafsu makan," tolak Bintang lagi.
"Kalau tidak makan mana mungkin bisa berpikir konsentrasi nantinya. Aku tidak mau kalau sampai tim kita ditegur lagi oleh atasan."
Akhirnya Bintang mengangguk dan mengambil kotak makan yang ada di hadapan pria itu.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Bintang kemudian.
Pria itu mengangguk dan mengeluarkan kotak makan yang lain dalam tas kerjanya.
Pria itu memandang Bintang yang makan dengan tidak bersemangat.
"Kau ada masalah ya. Bukankah kau bilang putramu sudah sembuh mengapa masih terlihat sedih?"
"Kamu tahu tidak bagaimana caranya mengembalikan istri yang sudah kita talak tiga?" tanya Bintang, berharap temannya itu mempunyai solusi untuk masalahnya itu. Dia tidak tahu sekarang harus curhat dan bertanya pada siapa.
"Maksudnya kau menalak tiga istrimu saat bayimu sakit begitu?" Pria itu tampak heran.
"Bukan, bukan ibunya Aldan, tapi istriku yang lain," terang Bintang.
"Oh istrimu Mentari itu?"
Siapa yang tidak tahu dengan Mentari? Sejak videonya bersama ustadz Alzam mencuat kepermukaan namanya jadi dikenal orang-orang, termasuk nama Bintang sendiri sebagai sang suami.
"Iya, ternyata video itu tidak benar. Ada bagian yang terpotong dan menjelaskan bahwa Mentari tidak bersalah."
"Dan kau sampai menjatuhkan talak 3 hanya karena kasus yang belum kamu selidiki kebenaranya itu?"
"Bukan cuma itu saja, kemarin dia mendorong Katrina hingga bayiku yang berada dalam gendongannya lepas dan jatuh ke lantai. Pria mana yang tidak murka melihat bayinya dibegitukan sampai keadaannya parah. Aku terlalu emosi sehingga kata talak tiga keluar begitu saja dari mulutku," beber Bintang.
"Dan aku yakin kamu juga tidak ada bukti kan?" tebak rekan kerjanya itu.
Bintang menggeleng.
"Sudah jadi rahasia umum apabila kita melakukan poligami, tetapi kita tidak dapat mengontrol perasaan pasangan kita. Pasti akan timbul iri diantara para istri dan hal itu berujung fitnah-memfitnah," ucap pria di hadapan Bintang yang kini mulai mengunyah makanannya.
"Jadi menurutmu ini semua Katrina yang merencanakan?" tanya Bintang menebak arah pikiran rekan kerjanya itu.
__ADS_1
"Hanya kecurigaanku semata. Namun, apapun itu harus dibuktikan dahulu sebelum menuduh sembarangan, tidak boleh gegabah. Nanti jatuhnya malah kita yang memfitnah. Sudah makan lagi sebentar lagi masuk jam kerja."
Bintang mengangguk dan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Pria di sampingnya juga sudah selesai makan. Mereka minum lalu mengelap bibir mereka sebelum menyapa sang atasan yang biasanya tiap pagi lewat di hadapannya.
"Oh ya, solusi satu-satunya agar kamu bisa kembali kepada Mentari adalah dengan cara mencarikan muhallil terlebih dahulu, tapi saya sarankan kalau kamu masih belum bisa bersikap adil ya, fokus saja lah sama satu istri. Hidupmu akan lebih tenang Bin dengan satu istri."
"Muhallil maksudnya seperti apa?" tanya Bintang. Dia yang tidak begitu paham agama hanya tahu talak tiga berarti tidak bisa kembali. Namun, meski demikian dia masih ingin Mentari kembali ke sisinya tanpa melepas Katrina. Sungguh pria yang egois.
"Muhallil itu suami pengganti. Nanti setelah Mentari menikah dengan pria itu dan telah melakukan hubungan suami istri maka pria itu akan menceraikan mantan istrimu ini setelah itu kamu bisa menikahi Mentari
kembali."
Bintang menelan ludah mendengar keduanya harus melakukan hubungan istri terlebih dahulu sebelum bercerai.
"Apa harus ya melakukan hubungan suami istri itu? Tidakkah cukup hanya menikah kemudian bercerai?"
"Tidaklah Bin, itu sudah aturannya. Itu mengapa seorang suami dituntut untuk menjaga ucapannya. Seribu kali istri mengatakan minta cerai tidak akan jatuh talak kalau kita tidak mau. Namun, sekali suami mengatakan kata cerai maka akan jatuh talak meskipun istri tidak mau sekalipun. Mengapa istri harus melakukan hubungan intim dulu dengan suami barunya?Anggaplah sebagai hukuman suami yang sudah lemes mulutnya mengatakan talak tiga ataupun talak berulang-ulang sampai jatuh talak tiga."
Bintang mengangguk paham. Dia tahu dia bersalah, tapi itu tidak lebih penting daripada memikirkan bagaimana caranya membuat Mentari kembali ke pangkuannya. Dia tidak ingin Gala mendapatkan Mentari, sebab kalau itu terjadi Bintang yakin Gala tidak akan mau menceraikan wanita itu.
"Siapa ya kira-kira yang bisa membantuku?" Bintang tampak memikirkan siapa yang mau melakukan itu.
Dia kemudian tersenyum mengingat satu nama terlintas di kepalanya.
"Ustadz Alzam, ya saya rasa dia sangat bisa menolongku. Bukankah mereka sama-sama tidak ada perasaan dan video itu hanya palsu belaka?" Bintang bermonolog dalam hati dan tersenyum senang padahal Mentari belum tentu mau kembali padanya.
"Ekhem, kenapa senyum-senyum sendiri? Apa putramu sudah sehat?"
"Eh Bapak, selamat pagi Pak. Iya putra saya sudah pulih kok Pak," jawab Bintang sambil membungkuk tanda hormat.
"Syukurlah, kalau begitu selamat bekerja." Sang bos langsung meninggalkan Bintang dan rekan kerjanya itu menuju ruangannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.