
"Hm, baiklah Non," sahut Bik Jum sambil berjalan di belakang Mentari.
"Sudah kan ya Bik? Kalau sudah Mentari balik ke kamar dulu."
"Sudah Non tapi sebelum kembali bibi ingin dengar penjelasan tentang yang tadi."
Mentari mengernyit mendengar perkataan Bik Jum.
"Itu loh Non yang dibilang Nyonya tadi hamil?"
"Oh itu Bik." Mentari sebenarnya malas ingin menjelaskan tapi ya sudahlah dia tidak ingin Bik Jum kecewa karena sepertinya wanita itu benar-benar serius bertanya.
"Yang hamil itu Katrina Bik, istrinya Mas Bintang."
"Istri? Bukannya istrinya Den Bintang itu Nona Mentari?"
"Bukan hanya aku Bik tapi Katrina juga. Bahkan mereka menikah sebelum Mas Bintang menikahi Mentari."
Penjelasan Mentari membuat Bik Jum sedikit kaget. "Bagaimana mungkin Non? Mereka tidak mendapatkan restu dari Tuan Winata dan seharusnya bibik tahu tentang semua itu. Saat pernikahan Den Bintang sama Non Mentari saja bibi tahu meski nggak ikut lamaran ke kampung."
"Jangankan Bibik, Papa Winata saja tidak tahu kalau mereka menikah, tetapi kalau Mama Arumi kemungkinan tahu karena dia kan sangat mendukung hubungan mereka."
"Astaghfirullah hal adzim, jadi mereka nekad ya Non. Menikah rahasia.
"Ya begitulah Bik."
"Sabar ya Non Yang penting kan Non Mentari itu adalah istri sah Den bintang. Jadi saya pikir Nona Mentari lebih berhak atas diri Den Bintang dibandingkan wanita itu," ucap Bik Jum menenangkan Mentari.
"Entahlah Bik. Sudah ya Mentari harus kembali ke kamar. Besok harus bangun pagi untuk bekerja."
"Iya Non semangat ya Non."
"Makasih ya Bik." Mentari naik ke atas menuju kamar lalu merebahkan tubuhnya ke kasur.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Esok hari.
Matahari masih bersembunyi malu-malu di ufuk timur sana. Mentari sudah berkutat di dapur membantu Bik Jum dan yang lainnya untuk menyiapkan sarapan pagi. Padahal cuma dua orang saja yang harus mereka layani, tetapi memasak seperti melayani orang banyak.
"Nona mengapa ada di sini? Nanti kami dimarahi loh sama Nyonya Arumi karena membuat istri Den Bintang masuk dapur sendiri."
"Nggak apa-apa Mbak disini saya tuh sama saja sama Mbak dan bibi-bibi semua."
"Tapi Non ...." Mereka khawatir hal yang terjadi dulu terulang kembali, saat Katrina mengadu pada Arumi bahwa para pembantu tidak becus melayaninya.
Hari itu mereka sedang kesal pada Katrina yang datang-datang main nunjuk-nunjuk saja tanpa perhitungan padahal mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Untunglah saat Bintang membawa lagi wanita itu ke rumah ini. Wanita itu ditolak Mentah-mentah oleh Tuan Winata. Semua pembantu yang terkena hukuman massal oleh nyonya tuan rumah langsung sujud syukur bersamaan. Mereka tidak habis pikir apa jadinya kalau Katrina menjadi istri Bintang dan tinggal di rumah besar itu. Sudah dipastikan kekacauan akan terjadi setiap hari.
"Nggak apa-apa Mbak saya ke sini atas isiniatif sendiri bukan karena diminta kalian. Lagipula saya tidak istimewa di mata Mama Arumi."
Semua orang memandang tidak mengerti ke wajah Mentari. Hanya Bik Jum lah yang mengerti akan perkataan Mentari.
"Sudahlah kita kerja semuanya. Kalau makanan telat terhidang di meja bisa habis kita yang dimakan oleh Nyonya," ucap Bik Jum.
Semua orang mengangguk dan dengan cekatan melakukan tugas masing-masing.
Karena semua sudah dikerjakan oleh pembantu Mentari berinisiatif membuat makanan sendiri. Siapa tahu Tuan Winata suka dengan masakannya itu. Dia membuat masakan itu sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuan Winata atas kebaikannya selama ini terhadap keluarganya dan hal itu mendapat dukungan dari para pembantu yang bertugas di dapur.
"Wah enak Non pasti Tuan Winata akan suka," ucap Bik Jum.
__ADS_1
"Iya Non semoga nanti ada sisanya biar nanti kita kebagian," sambung yang lain lalu terkekeh.
"Tenang Bik kalau kalian suka suatu hari nanti saya akan buatkan kalau saya lagi tidak sibuk."
"Benar Non?" tanya mereka sumringah.
"Iya Mbak dan bibik-bibik."
"Wah cocok ini jadi majikan kita," ucap seorang pembantu.
"Jadi majikan atau jadi pembantu sih? Masa majikan yang masak kita yang pembantu yang makan," protes yang lain.
"Nggak apa-apa sekali-kali," ucap Mentari.
"Sekali-kali ya Non, kalau berulang kali tendang saja tuh pembantu ke planet biar kapok," ujar Bik Jum sambil tertawa sedang tangannya masih cekatan memasukkan bahan-bahan ke dalam panci.
Mentari hanya tersenyum menanggapi candaan semua orang.
"Yang ada kalau majikan pinter masak kita mah beneran ditendang karena sudah tidak dibutuhkan," sambung yang lain.
"Nggak sih kenapa malah su'udzon," ucap Mentari dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
"Sudah ya semuanya aku akan membersihkan diri karena harus pergi bekerja."
"Iya Non berbenah lah biar kita semua ya bawa ke meja makan."
Mentari mengangguk dan kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke toko.
Saat turun dari kamar ia sudah mendapati Tuan Winata dan Arumi sudah duduk di meja.
"Pagi Pa, pagi Ma." Mentari menyapa kedua mertuanya sebelum duduk bergabung.
Mentari mengangguk dan Tuan Winata tersenyum sedangkan Arumi tidak menjawab dan menatap tidak suka pada Mentari.
"Bik! Bibik!" teriak Arumi.
"Iya Nyonya." Bik Jum datang dengan tergopoh-gopoh.
"Makanan apa ini?" Arumi menatap pada masakan yang dibuat Mentari.
"Itu masakan ...."
"Siapa yang membuatnya? Bukankah sudah kuberikan daftar masakan yang harus dimasak hari ini. Apa aku memesannya?"
Bik Jum tidak menjawab.
"Jawab Bik!"
"Sudahlah Ma, perkara masakan aja diributin. Suka ya di makan tidak ya sudah. Repot amat. Kalau tidak kemakan kan banyak pembantu kita yang bisa menghabiskannya."
"Tapi Pa, sekarang mereka mengubah daftar makanan suatu saat nanti apa lagi yang akan mereka ubah. Peraturan di rumah ini kah?"
"Maaf Ma itu Mentari yang memasak." Mentari merasa tidak enak pada Bik Jum.
"Singkirkan makanan ini dari hadapanku. Makanan menjijikkan ini tidak pantas aku makan. Jangankan memakannya melihatnya saja aku mau muntah!" Arumi mengibaskan tangannya.
"Ma!" bentak Tuan Winata.
"Bawa ke tempat sampah Bik! Makanan ini tidak layak. Makanan sampah!"
Mentari menunduk. Bagaimana mungkin masakan yang dibuat dari bahan-bahan berkualitas yang ada di dapur dikatakan makanan sampah. Namun, dia mencoba memahami bahwa ini adalah keteledorannya sendiri. Coba saja kalau dia hanya membantu bukan malah membuat masakan sendiri
__ADS_1
Bik Jum terlihat ragu antara mau mengambil atau tidak. Dia merasa tidak enak pada Mentari.
Bik Jum menatap Mentari yang masih tertunduk. Tangannya terulur mengambil mangkok besar yang ada di meja makan.
"Tidak usah Bik, jangan dibuang. Sepertinya masakan itu enak. Biar saya yang makan saja," cegah Tuan Winata.
Bik Jum pun menurut. Arumi memang berkuasa di rumah itu tetapi lebih berkuasa Tuan Winata.
"Pergilah!" perintah Tuan Winata pada Bik Jum. Wanita itupun berlalu pergi.
Tuan Winata menarik mangkok tersebut ke hadapannya. Namun sebelum mengambil makanan itu ke piring Arumi mengingatkan. "Kalau Papa sakit perut mama nggak akan tanggung."
"Mana ada makanan yang bisa bikin papa sakit perut. Cabe level 5 saja nggak ngefek sama papa apalagi makanan yang tidak banyak cabenya."
"Terserah Papa." Karena Tuan Winata tidak menggubris larangannya Arumi bangkit dari duduknya.
"Ma duduk!" perintah Tuan Winata.
"Mama lihat sendiri apakah papa sakit perut atau tidak."
Arumi mendesah kesal. Terpaksa dia duduk kembali.
Tuan Winata mencicipi masakan Mentari. Mentari meringis takut tidak cocok di lidah papa mertuanya. Maklum selera orang kota kadang tidak sama dengan orang kampung.
"Enak kok mengapa mesti dibuang." Mentari mendongak mendengar ucapan Tuan Winata lalu menatap wajah wajah papa mertuanya itu.
"Dimana kamu belajar membuat masakan ini?" tanyanya pada Mentari. Tidak mungkin Mentari membuat masakan seperti itu di rumahnya dulu mengingat ekonomi keluarga Mentari yang seperti apa.
"Di rumah tetangga pas ada hajatan dulu," jawab Mentari sungkan.
"Wah tapi beneran enak." Tuan Winata memberikan jempol tangannya. Arumi terlihat mencebik.
"Bintang seharusnya bersyukur memiliki istri sepertimu yang pinter memasak seperti ini. Tuh orang malah aneh lebih suka pada perempuan manja itu."
Arumi tertohok, ucapan Tuan Winata seolah bukan untuk Katrina, tetapi untuk dirinya sendiri. Dia merasa tersindir.
Arumi berdiri lagi, wajahnya tampak kesal.
"Ma!"
Arumi tidak menggubris ucapan Tuan Winata. Dia hendak melangkah pergi.
"Mama tahu kenapa perusahaan papa saat ini tidak stabil?" Arumi mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Itu karena mama tidak bersyukur. Mama tahu apa salah satu orang ciri orang yang tidak bersyukur?" Arumi tidak menjawab.
"Menyia-nyiakan makanan yang ada di hadapan Mama padahal Mama sedang lapar, dan parahnya lagi Mama ingin membuang-buang makanan. Pernahkah Mama berpikir bahwa di luaran sana banyak orang-orang yang bahkan menahan rasa laparnya karena tidak ada yang bisa dimakan."
Mendengar perkataan Tuan Winata Mentari menitikkan air mata. Dia ingat akan saat-saat kekurangan. Bahkan ia pernah tidak makan dua hari berturut-turut.
Dia jadi berpikir apakah dirinya kini tidak bersyukur mengingat dia selalu mengeluh seorang diri dengan sikap Bintang padahal kalau secara materi Allah telah mencukupkan rezeki untuknya kini.
"Sudah ayo makan atau kalau tidak kamu tidak boleh keluar hari ini," ancam Tuan Winata.
Dengan terpaksa Arumi menurut tidak mau janjinya dengan Katrina batal begitu saja.
"Mentari kamu juga makan. Nanti kita berangkat bersama."
"Iya Pa."
Bersambung....
__ADS_1